
Libur sekolah pun tiba. Kama dan Kalila menuntut janji sang opa yang akan mengajak mereka jalan-jalan keluar negeri.
“Memangnya kalian mau kemana?” tanya Fadilah.
“Gak tau. Kita kan belum pernah keluar negeri,” jawa Kalila.
“Kalau kalian pergi terus Bunda gimana?” timpal Kaina.
“Bunda sama Ayah di rumah aja,” ujar Kama.
“Yakin kita gak di ajak?” tanya Fatih.
Si kembar mengangguk dengan kompak.
“Bagaimana kalau kita ke universal studio yang ada di Singapura,” saran Fadilah. “Kita liburan ke luar negeri tapi gak jauh-jauh amat.”
“Opa serius?” Kalila tak percaya.
“Iya, besok kita bisa berangkat.”
“Besok?” tanya Kama.
“Pokoknya kapan kalian mau pergi Opa siap.”
“Yes, asik,” sorak Kama dan Kalila. “Jalan-jalan keluar negri.”
“Berangkat sama siapa, Pak?” tanya Kaina.
“Coba kamu telpon Adit sekalian ajak ibu kamu. Nanti di sini Bapak ajak Mamanya Hugo.”
“Nanti aku telpon dia. Serius berangkat besok?”
“Bagusnya gimana?”
“Besoknya lagi aja, Pak. Masak mendadak,” timpal Fatih.
“Oke, Bapak setuju. Terus kalian gimana?”
“Kita di sini aja, Pak. Kaina masih belum diizinkan dokter buat jalan jauh.”
Oh, ya sudah nanti kalian berdua bisa nginap di hotel atau ke pulau mana gitu yang dekat-dekat sini aja.”
Fatih dan Kaina mengangguk setuju.
\=\=\=\=\=
Hari keberangkatan pun tiba. Semuanya menuju bandara. Fadilah sudah menyiapkan satu pesawat pribadi untuk keluarganya menuju Singapura. Kaina dan Fatih hanya pergi mengantar karena mereka pun sudah punya rencana.
“Have Fun, ya,” kata Kaina pada anak-anaknya.
“Nanti jangan lupa telpon kami,” tambah Fatih.
“Iya, Ayah,” jawab Kama.
__ADS_1
“Kalila, nanti telpon Ayah juga,” ujar Candra. Pria itu ikut melepas kepergian putrinya.
“Iya,” jawab Kalila.
Terakhir Dina dan Fadilah memeluk anak dan menantu mereka.
“Kalian juga nikmati waktu berdua,” pesan Fadilah.
“Iya, Pak. Makasih udah mau ngajak anak-anak jalan,” sambut Kaina.
“Mereka cucu Bapak kamu gak perlu berterima kasih. Kami jalan, ya.”
“Kalau sudah landing jangan lupa kasih kabar, Pak,” lontar Fatih.
“Pasti.”
Fadilah pun masuk kedalam pesawat. Fatih membawa istrinya untuk segera keluar dari landasan. Dari dalam mobil pasangan itu melepas kepergian keluarga mereka.
“Sekarang kita kemana, Mas?” tanya Kaina.
“Bunda santai aja dan nikmati perjalanan. Ayah sudah siapkan liburan khusus buat kita berdua.”
“Oke, kalau gitu ayo jalan!”
Fatih membawa mobilnya menuju Dermaga Ancol. Tiba di sana dia mengajak sang istri menyebrang ke pulau Ayer. Hanya sekitar 25 menit perjalanan mereka pun sampai.
Keduanya pun memutuskan berkeliling sebentar sebelum menuju resor mereka.
“Berapa hari kita disini, Mas?” Kaina bertanya sambil bergandengan dengan sang suami.
“Cukup sih. Ngapain juga lama-lama di sini. Cuma bisa lihat sun rise sama sun set aja.”
“Iya. Ayah bukan gak mau ajak Bunda ke Bali. Tapi karena dokter gak kasih izin, Ayah cuma bisa bawa Bunda jalan-jalan kesini.”
“Gak papa, Mas. Aku udah senang kok, bisa habisin waktu berdua sama kamu.”
“Kita ke bungalow biar Bunda istirahat sekalian makan siang.”
Tiba di penginapan, mereka disambut dengan dekorasi spesial. Penuh bunga dan taburan kelopak mawar serta lilin-lilin kecil sebagai pemanis dan penambah suasana agar terkesan romantis.
“Gimana, Bunda suka gak?” Fatih bertanya sambil memeluk sang istri dari belakang.
“Suka dong. Ya, seharusnya momen seperti ini waktu kita baru-baru nikah, tapi gak telat sih. Cuma aku malu aja kalau harus tmpil **** depan kamu dengan perut dan tubuh yang sudah sebesar ini.”
“Eh, jangan ngomong gitu.” Fatih mendudukkan dirinya di pinggir ranjang lalu menatap istrinya. “Buat Ayah Bunda itu **** kok. Setiap lihat perut Bunda makin besar ada rasa yang gak bisa Ayah jelasin. Dan itu semakin buat Ayah cinta sama Bunda.”
“Kamu gombal, Mas.”
“Jujur, Ayah gak gombal, Bun. Pokoknya dalam hati ini semakin banyak bunga yang terus bermekaran setiap harinya dan mereka gak pernah layu sama sekali.”
Kaina tersipu malu.
Fatih berdiri lalu mengangkat dagu sang istri. “Mau makan siang dulu atau Ayah makan Bunda sekarang.”
__ADS_1
“Apaan sih, Mas. Emangnya aku makanan mau di makan.”
“Habis Bunda gemes. Malu-malu segala.”
“Ya, wajar dong, Mas. Kita gak pernah pacaran dan momen-momen seperti ini tuh baru pertama kalinya.”
“Iya juga sih. Nanti kalau si kembar sudah lahir, Ayah bakalan sering ajak-ajak Bunda honeymoon. Anggap aja bayar bulan madu kita yang gak pernah terlaksana.”
“Aku ikut aja apa kata kamu.”
Keduanya pun berpelukan.
“Mau makan siang dimana?” tanya Fatih.
“Di restoran terapung aja.”
“Ayo!”
\=\=\=\=\=\=
Malamnya pasangan itu menikmati waktu mereka hanya di dalam penginapan. Berdua diatas ranjang saling membelai, menyentuh,dan mengecup satu sama lain. Bermesraan ala pengantin baru. Fatih memberikan sentuhan-sentuhan lembut yang dapat memanjakan sang istri.
Membuat Kaina dapat menikmati kenikmatan dan membangun rasa percaya dirinya atas perubahan bentuk tubuh yang signifikan. Pujian dan ungkapan rasa cinta terus lontarkan Fatih dari mulutnya. Membuat istrinya merasa bagaikan ratu malam ini.
“Besok habis dari sini Ayah punya kejutan buat Bunda,” kata Fatih.
“Apa itu?” Kaina bertanya di sela-sela nikmatnya permainan tangan sang suami.
“Kalau Ayah kasih tau sekarang namanya bukan kejutan.”
Ibu hamil itu tersenyum lalu membelai surai hitam suaminya.
Fatih mengecup berkali-kali perut besar sang istri. Seakan masih mimpi kalau dia bisa memiliki anak. “Dedek bayinya makin aktif, ya, Bun.”
“Iya, karena kamu dan anak-anak sering aja dia bicara. Sekarang mereka pasti kesepian karena Abang dan Kakaknya pergi.”
“Nanti bakalan Ayah tengokin.”
“Kenapa nanti?”
“Bunda mau sekarang?”
Dengan rona merah di pipi, Kaina mengangguk.
Fatih tersenyum lebar sambil merangkak ke atas mensejajarkan dirinya dengan sang istri.
“I love you Kaina Ratnaduhita,” ucap Fatih sambil menatap dalam mata sang istri.
“Love you to Fatih Faeza,” balas Kaina sambil membelai lembut rahang suaminya.
“Jangan curigaan lagi, ya.”
“Aku cuma takut kehilangan kamu, Mas. Maaf kalau belakangan caraku sedikit buat kamu gak nyaman.”
__ADS_1
Fatih langsung memagut bibir ranum istrinya dengan penuh cinta, kasih sayang, dan kehangatan. Kaina yang sudah berada di bawah kurungan badan Fatih memasrahkan diri untuk segera dibawa sang suami terbang melayang menuju surga dunia.