Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 55


__ADS_3

"Ngapain?” Suci merasa heran.


“Mau jagain Kama lah.”


“Tumben.” Wanita itu kembali duduk di samping putranya. “Kamu kenapa? Gak biasanya mau jagain Kama.”


“Udah sana, Mama pulang.”


“Kamu gak mau bikin masalah di sini kan, Go?” tanya Fadilah.


“Masalah apa sih, Pa?” decak Hugo.


“Kalau kamu memang mau jagain Kama, saya harap kamu bisa bantu Kaina.”


“Iya, Papa, santai aja. Gak rela amat aku nginap di sini.”


“Bukan gak rela, saya cuma takut kamu nanti cuma bisa bikin repot. Satu lagi, jangan sampai kamu bikin masalah sama Fatih,” tekan Fadilah.


Hugo hanya mengangguk-anggukkan kepala. Karena mantan istri pertamanya akan pulang, Fadilah mengantarkannya sampai mobil.


“Kai, Ibu pulang, ya,” pamit Suci. Mereka bertemu di teras rumah.


“Iya, Bu. Besok kesini lagi.”


“Insyaallah.”


Kepergian wanita itu, Fatih menghampiri sang ayah. “Hugo gak pulang, Pak?”


“Menginap di sini.”


“Ngapain.”


“Katanya mau jagain anaknya,” jawab Fadilah. “Ayo, masuk ngapain masih berdiri di sini.”


Kaina dan Fatih mengikuti langkah Fadilah kembali ke dalam.


...🌿🌿🌿🌿...


Selesai sholat subuh, Kaina menyiapkan baju formal untuk dipakai suaminya hari ini yang akan menghadiri persidangan. Dari kamar dia beralih menemui si kembar. Memeriksa kondisi anak-anaknya sekalian memastikan mereka apakah sudah bangun atau belum. Turun ke dapur menyiapkan sarapan khusus untuk Kama dan Kalila juga suami dan mertua.


“Bi, saya tinggal, ya. Mau lihat anak-anak siapa tau mereka sudah bangun," ujar Kaina


“Baik, Mbak,” jawab Bi Ula.


Tiba di kamar anaknya, ternyata Kama dan Kalila sudah turun dari ranjang dan sedang bermain di atas karpet. “Cuci muka habis itu kita turun buat sarapan,” ajak sang ibu.


Keduanya beranjak dari posisi menuju kamar mandi. Dari sana Kaina membawa anak-anaknya menemui sang suami. “Sudah beres, Mas?”


“Bentar, tinggal pakai dasi,” jawab Fatih yang berdiri di depan cermin.

__ADS_1


Kaina menghampiri. “Sini saya bantu.”


Fatih berbalik mengangkat dagunya agar sang istri bisa dengan mudah menyimpulkan dasi di kerah bajunya.


“Beres.”


“Makasih, Kai.”


“Iya.”


Mereka berempat keluar dari sana menuruni anak tangga.


“Selamat pagi, Opa.” Si kembar menyapa Fadilah yang sudah duduk di meja makan.


“Pagi. Cucu opa mau sarapan di sini? Kenapa gak di kamar aja?”


“Gak papa, Pak. Mereka jangan terlalu di manjakan,” jawab Kaina. Wanita itu membantu anak-anaknya duduk di kursi lalu menyerahkan semangkuk sup yang sudah di bikinnya tadi. “Kalian makan sendiri dan dihabiskan, ya.”


“Makasih, Bunda,” balas si kembar.


Hugo yang sudah duduk di sana hanya menyimak kegiatan keluarga di rumah ini. Dia harus bagun pagi karena sang ayah memaksanya terjaga dari nyenyak nya tidur, sebab di rumah ini tak ada orang yang bangun siang.


“Mas, ini sarapan sama minumnya.” Kaina menyerahkan sepiring roti panggang dengan telur dan alpukat di atasnya serta segelas jus jeruk.


“Makasih, Kai," balas Fatih.


“Sama-sama, Mas. Biar semangat nanti pas sidangnya.”


Kaina menatap bingung pada pria itu.


“Kamu mau apa? Sana minta sama Bi Ula. Kalau Fath itu suaminya, ya, wajar kalau dimasakin Kaina,” tutur Fadilah.


Hugo berdecak kesal sambil meraih dua lembar roti tawar.


“Pak, sarapannya mau di makan sekarang?” tanya Kaina.


“Boleh deh.” Fadilah yang sudah puas menyeruput teh herbal ingin segera mengisi perutnya.


Kaina beranjak ke dapur untuk mengambilkan semangkuk oatmeal yang sudah di diinginkannya di dalam kulkas lalu kembali ke meja makan.


Fadilah tersenyum lebar melihat penampilan makanan itu yang sungguh menggugah seleranya. “Terima kasih, menantu.”


“Sama-sama, Pak,” jawab Kaina kembali duduk. Sesekali dia membantu anak-anaknya.


“Itu, Bapak juga di bikinin sarapan,” sela Hugo.


“Kamu siapa?” tanya Fadilah.


Yang ditanya cuma diam dan sadar diri kalau memang dirinya di sini bukan siapa-siapa yang harus dilayani atau diurus Kaina.

__ADS_1


Semua menikmati makanan mereka dengan hikmat. Begitu pula Kama dan Kalila yang sudah menghabiskan semangkuk sup kesukaan.


“Pintarnya cucu opa,” puji Fadilah.


“Kai, saya berangkat, ya.” Fatih berkata setelah menghabiskan sisa jus jeruknya.


“Iya, Mas,” jawabnya sambil berdiri.


“Pak, saya sidang dulu. Doa kan lancar,” pamit Fatih.


Dari sana, Kaina mengantarkan sang suami sampai depan teras diikuti oleh si kembar. “Kali ini saya gak ikut, ya, Mas.”


“Gak papa, gak harus juga.” Kemudian Fatih menatap Kama dan Kalila. “Ayah ke kantor dulu, kalian hari ini gak boleh main di luar rumah.”


“Iya, Ayah,” jawab anak-anak.


Kepergian Fatih diiringi lambaian tangan serta senyum bahagia dari anak dan istrinya. Mereka bagaikan keluarga kecil yang sempurna dan harmonis. Namun, Fatih dan Kaina sadar, itu semua dilakukan hanya sebatas menjalankan kewajiban untuk menjaga kesucian pernikahan yang mereka jalani. 


...🌽🌽🌽🌽...


Tiga hari di rumah ayahnya, Hugo sama sekali tak membantu apa-apa. Sesekali dia cuma menemai si kembar menonton TV atau mewarnai di teras samping rumah. Selebihnya dia biarkan Kaina yang mengurus dan merawat Kama dan Kalila. Memang ada suster yang membantu cuma dia hanya bertugas dari jam sepuluh pagi sampai jam empat sore. 


Kadang tampak wanita itu sedikit kesulitan, tapi dia enggan untuk menolong. Sejak Kaina menjadi menantu kesayangan bapaknya, Hugo jadi membencinya. Kalau nanti jika hak asuh Kama berhasil didapat Fatih di pengadilan, dia khawatir akan dipisahkan dari sang putra. Otomatis dia tidak akan dapat menguasai harta yang Fadilah wariskan pada anaknya.


“Bu, saya pulang dulu,” pamit suster yang menjaga si kembar.


“Sudah habis infus nya, Suster?”


“Sudah, Bu, dan si kembar ketiduran.”


“Oh, gak papa. Makasih, ya Sus.” Kaina yang baru saja habis melaksanakan sholat ashar di kamar, mengantarkan perwat itu sampai depan teras. Dia hendak kembali masuk menuju dapur, tapi di ruang tengah Hugo mencegatnya.


“Bisa bicara?” tanya ayahnya Kama.


“Bicara soal apa?”


“Soal Kama.”


“Saya rasa gak ada yang perlu kita bicarakan,” tegas Kaina. “Permisi.” Kakinya kembali di langkahkan, tapi Hugo menarik tangannya.


“Duduk.” Dihempaskannya Kaina ke atas sofa. “Saya cuma mau memperingatkan kalau sampai kapan pun kamu tidak akan bisa memisahkan saya dengan Kama,” tekan Hugo.


“Siapa yang memisahkan kamu dengan dia?” Kaina merasa bingung.


“Kamu! Kamu sengaja mengambil hati papa saya agar kamu bisa menjadi menantu satu-satunya di rumah ini, bisa mendapatkan hak asuhnya Kama lalu memisahkan saya dari dia .”


Garis di kening ibu si kembar pun terbit. “Apa sih sebenarnya yang ingin kamu bicarakan? Saya benar-benar gak mengerti sama sekali. Kalau kamu memang gak mau di pisahkan dengan Kama, ya, seharusnya kamu bertingkah selayaknya seorang ayah yang sayang pada anaknya. Nyatanya, malahan Mas Fatih yang cuma ayah sambung lebih perhatian sama dia,” tutur Kaina. “Sebenarnya apa sih alasan kamu mau mempertahankan hak asuh putra saya?”


“Gak ada alasan apa-apa,” ketus Hugo.

__ADS_1


“Gak ada?” Wanita berbulu mata lentik itu tertawa sinis. “Lalu untuk apa kamu memisahkan saya dengan anak saya? Jangan mainkan perasaan putra saya kalau kamu gak punya tujuan yang gak jelas,” marah Kaina.


__ADS_2