Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 76


__ADS_3

Kaina menggeleng.


“Tapi aku akui kalau sekarang aku mulai ada rasa dengan Brigita. Lalu kenapa kamu gak coba membuka hati untuk Fatih?” ujar Candra.


“Dari awal kami sudah sepakat gak akan ada rasa diantara kami berdua. Lagian aku ngerasa gak pantas buat dia.”


“Sorry, nih, Kai. Setahuku pernah dengar kabar burung kalau Fatih itu gak bisa punya anak. Jadi, aku rasa kalian saling melengkapi.”


Bibir Kaina tersenyum hambar. “Anak itu rezeki dari Allah. Jadi menurutku Fatih tetap laki-laki sempurna yang tak pantas bersamaku.”


“Sepertinya kita memang cocok jadi sahabat, ya, Kai. Aku mulai merasa kamu semakin terbuka.”


Nafas panjang di hembusan Kaina sambil menikmati jalanan dia berucap, “Bagaimanapun kamu itu ayahnya Kalila. Artinya, aku gak akan bisa menghindari kamu. Makanya aku peringatkan dari awal kalau kita gak bisa kembali. Jadi, ya hubungan kita cukup sebatas teman saja.”


“Aku setuju itu.”


...🍥🍥🍥🍥...


“Ayah.” Kalia menyambut kedatangan Candra bersama bundanya.


Canda memeluk gadis kecilnya itu. “Ayah kangen banget sama kamu.”


“Aku juga.”


“Loh, Go, kok di sini?” sapa Kaina.


“Kebetulan kerjaan di kantor sudah beres sebelum saya jemput anak-anak. Jadi temani mereka main dulu sampai kamu pulang,” jawab Hugo.


“Kalila, bawa ayahnya masuk, sayang.”


“Ayo, Ayah.” Anak perempuan itu menarik ayahnya masuk rumah. 


“Kamu kalau mau balik silahkan,” kata Kaina pada ayahnya Kama.


“Gak papa, Kai. Bentar lagi aja. Ini Kama lagi asik pasang legonya.”


“Kenapa gak di dalam aja mainnya?”


“Di dalam panas, Bun,” jawab Kama. “Kalau di teras seru, adem gitu karena ada pohon.”


“Oh. Ya, udah Bunda tinggal ke kamar dulu.” Kaina melangkah masuk menuju kamarnya. Tak lama dia keluar dengan pakaian rumah. “Sudah pada makan siang?”


“Belum,” jawab Kama dan Kalila.


“Maaf, Kai, saya lupa,” kata Hugo.


“Gak papa. Kalau gitu aku ke dapur dulu.”


Para ayah menemani anak-anak mereka bermain di teras rumah, sedangkan Kaina membantu Dina menyiapkan makan siang untuk mereka semua. Tiga puluh menit kemudian wanita itu kembali. Mengajak mereka semua beralih ke meja makan.


“Ada, Nak Candra, juga,” sapa Dina.


“Iya, Bu. Saya kemari ketemu Kalila.”


“Ayo, duduk! Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri.” Dina menerima para tamunya dengan baik. “Nak Hugo, juga.”


Candra dan Hugo menarik satu kursi di meja makan bundar itu. 


“Silahkan di ambil sendiri makanannya mana yang suka.”


“Iya, Bu,” jawab Candra.


Kaina sendiri sibuk mengambil makanan untuk Kama dan Kalila. Hugo pun menyodorkan piring kosongnya. “Bisa tolong sekalian?”

__ADS_1


Tak banyak kata, Kaina menaruh nasi dan lauk di atasnya. “Udah?”


“Makasi.”


Sesudah itu Kaina mendudukkan diri dan mereka semua makan dalam hening.


...🍰🍰🍰🍰...


Sorenya, ayah biologis dari Kama dan Kalia sama-sama pamit untuk pulang. 


“Besok pagi saya jemput lagi,” kata Hugo sebelum pergi.


“Gak usah,” tolak Kaina.


“Saya cuma menjalankan tugas dari bapak.”


“Ya, udah kalau gitu. Tapi kamu bisa sarapan di rumah dulu, gak usah buru-buru kesini.”


“Gak papa, Kai, kalau Nak Hugo mau sarapan di sini,” sela Dina.


“Ya, tapi gak enak, Bu.”


“Saya gak masalah kok,” terang Hugo.


Kaina tak lagi memperdebatkan hal itu.


“Saya jalan dulu.”


“Silahkan.”


Kama hanya melambaikan tangan ketika ayah biologisya meninggalkan halaman rumah.


“Bu, Kaina, saya juga jalan,” izin Candra.


“Terima kasih, Bu.”


“Bilang sama dia, kalau mau ikut ketemu Kalila ikut aja. Gak usah malu atau gengsi, aku sudah maafkan,” terang Kaina.


Candra tertawa. “Iya, nanti aku sampaikan.” lalu di hampiri sang anak. “Ayah jalan dulu, ya.”


“Besok main lagi, ya,” pinta Kalila.


“Kalau Ayah gak sibuk kita jalan-jalan.”


“Hore,” sorak Kalila.


“Kama juga ikut.”


“Yes.” Kama ikut senang.


Candra pun akhirnya meninggalkan kediaman Kaina


...🧊🧊🧊🧊...


Begitulah hari-hari dijalani Kaina dan si kembar setelah perpisahannya dengan Fatih. Kehadiran Hugo dan Candra membuat anak-anaknya sedikit melupakan kerinduan mereka dengan Fatih. Walau sesekali keduanya sering merengek ingin bertemu dengan mantan ayah sambungnya.


Si Ibu berusaha membujuk dan mencari alasan lain agar Kama dan Kalila tak mendesaknya pergi ke rumah Fadilah. Karena kesibukkannya di supermarket serta kerjaan bersama Candra mulai menyita waktu, Kaina benar-benar tak bisa mengantarkan si kemar ke sana.


Tak terasa waktu bergulir hingga satu bulan. 


“Kemana, Go,” sapa Fadilah. 


“Mau jalan, Pa,” jawab Hugo. Pria itu cuma meneguk segelas jus di meja makan.

__ADS_1


“Bapak perhatikan kamu akhir-akhir ini sering jalan duluan. Kemana memangnya?”


“Aku antar Kaina dan anak-anak, Pa.”


“Bapak pikir kamu sudah lupakan tugas itu.”


Hugo meggeleng. “Aku jalan duluan.” Hugo gegas pergi meninggalkan ayah dan saudara tirinya.


“Kamu gak ada ke rumanya Kaina, Tih?” Fadilah bertanya pada putra kedua.


“Ngapain, Pak?”


“Buat jaga silahturahmi lah. Sekalian ketmu Kama dan Kalila. Kamu gak kangen sama mereka?”


Fatih hanya diam mengunyah makanan di mulut.


“Gimana sidang perceraian kalian?”


“Minggu depan sidiang putusan.”


“Sudah yakin benar-benar mau pisah?”


Fatih meyudahi sarapannya. “Saya berangkat duluan, Pak.”


“Loh, kok pertanyaan Bapak gak di jawab?” heran Fadilah.


Fatih melenggang keluar dari rumah menaiki mobil.


...🍣🍣🍣🍣...


Selama di perjalanan, ptia itu kembali teringat akan calon mantan istri yang belakangan berusaha untuk di lupakan. Entah kenapa dirinya kadang-kadang merindukan sosok yang selalu ada di setiap malam. Selalu siap ketika di butuhkan. Di tambah hatinya merasa tak karuan saat tahu kalau sang kakak sering berkunjung ke rumah mantan mertua.


Tak tahan dengan desakan di hati, Fatih memutar kendaraannya menuju kediaman Dina. Tiba di sana dia langsug turun dan menyapa di depan pintu. “Asalamualikum.”


“Waalikumsalam,” sahut yang punya rumah dari arah dapur.


Kaina langsung bangkit untuk menghampiri tamunya. “Mas Fatih.”


Dua orang itu sama-sama terpaku di posisi. Lama tak jumpa ada rasa yang bergejolak di dalam dada.


“Siapa, Kai?” sorak Dina.


“Bentar, Bu,” balas ibu si kembar tapi matanya tak lepas dari sang suami. 


“Apa kabar, Kai?” sapa Fatih.


“Baik, Mas. Kamu?” balas Kaina.


“Saya juga baik.”


“Ada apa? Tumben kesini?”


“Saya cuma mau bilang soal persidangan kita.” Fatih terlihat canggung.


“Masuk dulu,” ajak Kaina.


Fatih melangkah masuk dengan debaran di dada kemudian dia duduk di sofa.


“Sudah sarapan, Mas? Kebetulan di belakang Ibu sama Adit dan anak-anak lagi sarapan.”


“Belum.”


“Kalau begitu ayo sarapan bareng.”

__ADS_1


__ADS_2