Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 54


__ADS_3

Tina tahu kalau wanita di hadapannya ini memiliki prinsip yang teguh. Dia tidak akan melanggar apa yang sudah disepakati di awal. Pendirian yang begitu kuat membuat Kaina kadang terlihat begitu keras kepala, tapi dia akan mudah goyah jika sudah menyangkut anak-anaknya.


“Kalau memang itu keputusan kamu, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik. Semoga kamu dan Fatih berjodoh.”


“Hahaha, terima kasih atas doanya, Dokter.”


“Di amin-kan, Kai.”


“Gak deh, Dok.” Wanita itu terus tertawa.


“Kenapa? Kamu takut jatuh cinta sendiri?”


“Dokter, bisa aja. Udah, ah, saya balik ke anak-anak dulu." Kaina berkata sambil bangkit dari kursi.


“Silahkan, nanti kita ketemu disana.”


“Iya. Makasih, Dok.”


“Sama-sama, Kai.”


...🍔🍔🍔🍔...


Tak mau ribet dan susah nantinya bolak-balik ke Rumah Sakit, Kaina memutuskan untuk merawat si kembar di rumah saja. Dia tetap bisa mengurus Fatih sambil menjaga anak-anaknya di sana. Dokter Tina pun sudah mengizinkan si kembar untuk dibawa pulang setelah cairan infus yang dipasang habis. 


“Sudah hubungi suamimu, Kai?” tanya Dina.


“Sudah, Bu. Mas Fatih lagi di jalan.”


“Sudah bilang ke Candra sama Hugo?”


“Kata Mas Fatih nanti saja kalau kita sudah di rumah. Dia yang akan bicara sama ayahnya anak-anak.”


Dina mengukir senyuman lebar di wajah. “Alhamdulillah, ya, Kai, Fatih itu bisa jadi suami dan ayah yang baik buat kamu dan si kembar.”


“Iya, Bu,” jawab Kaina dengan rasa canggung.


“Setiap solat Ibu selalu doakan kalian agar dipanjangkan jodohnya bisa sampai akhirat nanti.”


“Hehehe.”


“Kok ketawa, Kai? Doa itu di amin-kan, ini malah ketawa.”


“Iya, Bu.” Bukan ia tak mau doa itu terkabul hanya saja ia takut berharap dan nantinya akan kecewa. Lebih baik jalani saja dan biarkan semuanya mengalir layaknya air. 


Kalau boleh jujur di setiap sujud ia juga selalu memanjatkan doa, meminta dan memohon agar Tuhan mengirimkan seseorang yang dapat hadir di saat yang tepat. Ibarat kata, ia tak perlu matahari yang dapat hadir setiap saat dan menyinari seluruh bumi ini, cukup kirimkan dia purnama yang datang di setiap bulan dengan cahaya yang begitu terang. Mampu membuat langit malam menjadi lebih indah daripada siang hari.


Untuk saat ini ia belum dapat melihat pertanda kapan bulan itu akan muncul untuk menerangi kehidupannya yang terasa suram.


“Kai.” Dina memanggil putrinya yang sedang termenung menatap langit malam di jendela ruang rawat si kembar.


“Iya, Bu?”

__ADS_1


“Malah bengong. Itu infusnya si kembar sudah habis, panggil Dokter Tina sana.”


Kaina beranjak dari posisi, ketika membuka pintu hendak keluar dia berpapasan dengan sang suami. “Pas banget kamu nyampenya, Mas.”


“Pulang sekarang?”


“Iya, tapi saya panggil dokter dulu buat buka jarum infus si kembar.”


“Saya tunggu di dalam.”


“Oke.”


...🍓🍓🍓🍓...


Tiba di kediaman Fadilah, Hugo dan ibunya, Candra beserta istrinya ternyata sudah ada di sana. Mereka ikut ke kamar si kembar saat anak-anak itu dibawa Kaina dan Fatih.


“Silahkan ngobrol sama anak-anak, saya tinggal,” ujar Kaina.


“Bunda sini aja,” rengek Kalila.


“Bunda mau ganti baju sebentar, sayang. Kalila di temani ayah sama Tante Bri dulu, ya.”


“Ya udah deh.”


Dari kamar anaknya, Kaina menuju kamar sebelah. Ternyata suaminya juga ada di sana. “Mas,  kamu sudah bicara sama mereka?”


“Belum. Mereka kayaknya baru tiba.” 


Ibu si kembar mendudukkan dirinya di sofa bed. “Saya takut nanti dibilang gak becus jagain anak-anak dan dijadikan bukti di pengadilan nanti.”


Kaina tampak membuang nafas kasar sambil melorotkan bahu. 


“Udah, sana mandi habis itu kita bicara sama mereka di bawah.”


Melangkahkan kaki menuju lemari untuk mengambil baju ganti. “Kamu lagi apa, Mas?” tanya Kaina.


“Ini lagi siapin bahan buat persidangan terakhir kasusnya Adit. Minggu depan kita bakalan hadiri sidang putusannya.”


“Serius?” Kaina menghampiri Fatih yang duduk di meja kecil dekat jendela kamar. “Terus Adit bakalan bebas gak?”


“Intinya Adit memang bersalah cuma untuk hukuman saya sudah ajukan seringan mungkin dan juga kalau bisa dia gak ditahan. Tapi nanti kita lihat gimana keputusan hakim, mudah-mudahan Adit bisa jadi tahanan kota aja.”


“Makasi, ya, Mas,” ucap Kaina diiringi senyuman tulus.


“Sama-sama.”


“Saya mandi dulu.”


“Iya.”


...🍭🍭🍭🍭...

__ADS_1


Para ayah biologis si kembar bersama keluarga Kaina sedang berkumpul di ruang tengah. Mereka akan membicarakan persoalan anak-anak yang akan tinggal bersama sang ibu selama lima hari kedepan. 


“Kama dan Kalila akan saya rawat di sini. Sesuai kata dokter mereka harus istirahat lima hari kedepan,” jelas Kaina.


“Kenapa gak di Rumah sakit saja, Kai?” tanya Suci.


“Saya juga harus urus Mas Fatih, Bu. Biar saya gak capek bolak-balik mending mereka di sini saja. Sekalian saya dapat memastikan makanan mereka.”


Suci merasa paham. “Kalau Ibu sih setuju, ya, Kama dirawat ibunya. Kalau di bawa pulang palingan nanti ibu juga yang bakalan repot urus sendiri,” katanya sambil melirik sang anak.


“Apa sih, Ma?” kesal Hugo.


“Artinya kamu gak masalah, ya, kalau anak kamu minggu ini gak pulang ke rumah?” tanya Fadilah.


“Iya.” Hugo menjawab dengan tampang jutek.


“Kalau ayahnya Kalila gimana?” Fadilah menatap sepasang suami istri di depannya.


“Saya pasti setuju, Pak. Soalnya saya juga belum tentu bisa merawat Kalila. Kalau istri, palingan nanti dia dibantu suster. Jadi memang lebih baik Kaina yang rawat anak saya,” terang Candra.


“Artinya seminggu kedepan Kama dan Kalila akan di sini. Saya harap gak ada masalah nantinya. Jika, Nak Candra dan istri mau datang menjenguk atau bertemu, rumah ini akan selalu terbuka,” putus Fadilah.


“Baik, Pak. Terima kasih.” 


Candra menghormati mertua Kaina sebab beliau termasuk rekan bisnis yang berpengaruh di perusahaannya. Oleh sebab itu, Brigita tak berani banyak cakap di sini.


“Karena gak ada lagi yang perlu dibahas, jika ada yang ingin kembali ke rumah di persilahkan.”


Candra dan Brigita bangkit dari posisi. “Sudah malam, kami pulang dulu. Terima kasih sudah dikabari soal Kalila.”


Kaina membalasnya dengan senyuman simpul. Kepergian pasutri itu, giliran Dina yang izin pulang.  “Besan, saya juga mau balik. Besok pagi insyaallah bakalan kesini lagi.”


“Oh, iya.” Fadilah berdiri dari duduknya. “Hati-hati kalau begitu, Besan.” Mereka pun bersalaman.


“Ibu pulang sama siapa?” tanya Kaina.


“Sama Adit. Dia sudah nunggu di teras, tadi gak enak masuk takut ganggu katanya.”


“Ayo, aku antar.” 


Fatih pun ikut menemani mertuanya sampai ke teras rumah.


“Kalau begitu kami juga pulang, Mas,” pamit Suci.


“Oh, ya.”


“Mama saja yang pulang, aku mau menginap disini,” sela Hugo.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai 👋👋 buat semuanya ini terakhir author crazy up. Mulai besok MERINDUKAN PURNAMA akan up date 1 bab per hari.

__ADS_1


Insyaallah jika author bisa nulis banyak akan up date 2 bab. Maka dari itu jangan lupa dukungan kalian semua, ya, like 👍 komen 💬 hadiah 🎁 vote 🔖 dan bintang 🌟 limanya jangan lupa.


Terima kasih 😍🥰


__ADS_2