Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 37


__ADS_3

Fatih tersenyum simpul. Ada rasa tak enak hati kala mulut manisnya berhasil menipu Dina. Semoga suatu saat nanti wanita yang sebaya dengan ibunya ini bisa memahami keadaannya dan tak menaruh rasa benci di kemudian hari.


...🐣🐣🐣🐣...


“Kenapa ibumu dirawat di ruangan biasa?” tanya Fadilah.


“Uang yang saya pinjam waktu itu sisa sedikit, Pak. Sedangkan asuransi pemerintah cuma mampu mengcover obat-obatan saja," jelas Kaina.


“Nanti biar orang saya yang urus perawatan ibu kamu disini.”


“Gak usah, Pak. Ibu sudah mendingan, gak papa beliau dirawat di sana.”


“Saya kan sudah bilang, saya akan berada disisi kamu sepenuhnya kalau kamu sudah menjadi menantu saya.”


“Tapi saya dan Mas Fatih belum menikah.”


“Tapi kamu sudah kami lamar.”


Nafas kasar dibuang Kaina. “Ya sudah terserah Bapak saja.”


“Kamu tunggu saja. Nanti ada orang suruhan saya kemari.”


“Iya, Pak.” Tak terasa mereka pun tiba di area parkiran. Seorang supir datang membukakan pintu mobil untuk Fadillah.


“Oh, ya, besok saya akan urus adik kamu. Untuk sementara kita akan mengajukan penangguhan tahanan sampai proses persidangan dilakukan.”


“Terima kasih, Pak.”


“Tidak perlu, saya sudah berjanji. Cukup kamu jadi istri seperti yang saya minta kemarin buat Fatih.”


“Insya Allah.”


Kepergian Fadilah, Kaina kembali menuju ruang rawat ibunya. Tiba disana dia menemukan Fatih dan Dina sedang tertawa. “Ngobrolin apa sih?”


“Ini, Fatih itu ternyata lucu loh, Kai. Ibu sampai sakit perut ketawa,” jelas Dina.


“Hati-hati loh, Mas, nanti luka operasinya ibu robek lagi karena gak sanggup tahan tawanya.”


“Ah, benar juga, kalau gitu saya pamit deh. Biar ibu sekalian istirahat, capek pasti sudah tertawa dari tadi.”


“Iya, hati-hati di jalan,” pesan Dina.


“Pasti, Bu, kan mau jadi pengantin baru nanti saya bawa mobilnya pelan-pelan saja biar gak lecet kena senggol.”


Dina tertawa sedangkan Kaina mengerutkan dahinya.


“Apa, sih, Mas, kali ini gak lucu.”


“Gitu, ya? Ya, udah artinya saya memang harus balik kantor, soalnya mode serius mau balik.”


Sebelum pergi Fatih mencium punggung tangan calon mertuanya. Kemudian dia diantar Kaina menuju parkiran.

__ADS_1


...🦋🦋🦋🦋...


Dina akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan dengan fasilitas lengkap dan bagus. Termasuk seorang suster pribadi disediakan oleh Fadillah agar calon menantunya dapat istirahat menjelang hari pernikahan tiba. Selesai sholat magrib, Kaina berpamitan pada sang ibu untuk pulang ke rumah.


“Besok pagi aku ke sini," ujar ibu si kembar.


“Bawa Kama dan Kalila, ya,”pinta Dina.


“Insya allah, Bu. Kalau dikasih izin sama Hugo.”


“Kalila?”


“Kalila dibawa Candra jenguk ibunya di luar kota kebetulan lagi sakit juga, tapi sudah di rumah.”


“Ya udah, Ibu tunggu mereka aja. Mudah-mudahan sebelum kamu menikah Ibu bisa pulang.”


“Aamiin.”


Tiba di teras RS ternyata Fadilah mengirim supir pribadinya untuk mengantar calon menantu kemanapun dia pergi. Merasa berlebihan, Kaina menghubungi Fatih.


(Kamu mau protes silahkan ke Bapak aja. Saya gak tau soal itu)


Jelas Fatih.


Panggilan berakhir. Tiba di rumah dia kembali di kagetkan dengan semua barang-barang seserahan yang memenuhi teras rumahnya. Kembali dihubungi Fatih.


(Saya gak tau soal itu. Bapak yang punya kerjaan)


Tanya Kaina.


(Taruh aja di rumah tetangga kalau gak muat di rumah)


(Mas, saya serius kamunya malah becanda)


(Kamu bingung, apalagi saya)


(Iya juga sih. Ya udah saya tutup dulu telponnya)


Sore ini, jadilah Kaina menata barang-barang seserahan yang entah apa saja isinya dia pun tak memeriksanya satu persatu. Setelah semuanya selesai dia memutuskan mandi dan berganti pakaian lalu memasak makan malam sederhana untuknya sendiri.


...🥝🥝🥝🥝...


Sebelum berangkat ke kantor polisi, Fatih menjemput Kaina terlebih dahulu. Tiba di sana dia dipersilahkan masuk. Pas di ruang tamu ia sungguh kaget melihat barang seserahan nan memenuhi tempat itu. “Saya pikir gak sebanyak ini.”


“Makanya saya bingung mau ditaruh mana," sahut Kaina.


Pria itu mengintip beberapa isi dari seserahan yang dikirim bapaknya. “Kamu buka aja dan jual, lumayan uangnya.”


“Ih, calon suami kok ajarannya gak baik? Namanya saya gak menghargai pemberian bapak itu.”


“Hehehe, bercanda, Kai.”

__ADS_1


“Berangkat sekarang?”


“Ayo, lebih cepat lebih baik. Saya nanti juga mau ketemu klien.”


Calon pengantin itu gegas memasuki mobil yang terparkir di halaman rumah. Hari ini Fatih akan mengurus kebebasan Adit. Untuk kasusnya mungkin setelah pernikahan selesai baru akan dibawa ke persidangan.


Selama perjalanan Kaina tak hentinya dibuat tertawa oleh Fatih dengan lelucon recehnya. Meski kadang ada yang garing tapi dia sangat menikmati waktu bersama pria itu. Fatih tak menciptakan jarak di antara mereka, begitu pula sebaliknya. 


Hingga terciptalah hubungan yang sangat nyaman di antara keduanya. Namun, mereka sama-sama tak berniat ingin mencoba sesuatu yang lebih dari ini. Mereka punya alasan masing-masing kenapa pernikahan itu nantinya harus di akhiri.


Bagi Kaina, Fatih terlalu baik untuk bisa menerima masa lalu dan kedua anak-anaknya yang memiliki dua ayah biologis. Sedangkan bagi Fatih, Kaina tak akan hidup bahagia bersama lelaki mandul sepertinya. 


...🍆🍆🍆🍆...


“Mas, kamu yakin Adit bisa keluar penjara sebelum pernikahan kita?” tanya Kaina. “Bukannya kita harus menunggu beberapa minggu setelah semua prosesnya diurus?”


“Kamu tenang saja semua sudah di urus bapak. Sekarang kita kesini cuma buat memeuhi persayaran dan menandatangani beberapa dokumen penting.”


“Kalau gitu bapak hebat dong, Mas.”


“Kamu beneran gak tau siapa bapak?”


Kaina menggeleng sambil memperhatikan calon suaminya sedang membaca beberapa lembar kertas yang ada di tangan.


“Nanti kalau kita udah nikah saya bakalan kasih tahu kamu siapa Pak Fadilah.”


Setelah semuanya dianggap sesuai barulah Fatih membubuhkan goresan tangannya diatas kertas nan dibaca tadi. Semua persyaratan lengkap dan terpenuhi mereka diizinkan untuk menjemput Adit di rumah tahanan.


“Yuk, kita ketemu Adit.” Fatih menarik tangan Kaina untuk keluar dari ruangan tempat mereka berada. 


“Sekarang?”


“Iya, bawel baget sih. Ayo!”


Kaina dengan cepat mengikuti langkah lebar calon suaminya. 


...🥬🥬🥬🥬...


Fatih hanya bisa membantu calon istrinya menyerahkan surat-surat penangguhan untuk Adit pada bagian pihak lapas. Setelahnya dia izin ke kantor karena klien sudah menunggu di sana.


“Nih, pegangan buat kamu,” menyerahkan sepuluh lembar uang merah.


Dahi Kaina mengerut. “Buat apa, Mas?”


“Saya tahu kalau kamu pasti butuh pegangan buat ongkos pulang pergi ke RS. Motor kamu ternyata rusak parah dan sepertinya masih lama di bengkel.”


“Gak usah, Mas. Untuk ongkos Alhamdulillah saya masih ada.” Menolak halus sambil mendorong tangan Fatih.


“Kamu mau ambil ini atau saya telpon bapak?” ancam Fatih.


Dengan muka cemberut Kaina terpaksa menerima pemberian calon suaminya sambil berkata, “Gak seru kalau pakai ngadu ke bapak. Nanti saya dikirim supir sama mobil lagi.”

__ADS_1


__ADS_2