
Hugo tertawa lebar, sengaja dia ingin mengejek kepercayaan diri wanita di depannya itu. “Silahkan! Saya tunggu.”
“Tertawa saja sepuasmu kini karena besok untuk tersenyum saja kamu belum tentu mampu. Ketika itu, giliran saya yang akan tertawa lebar maka kamu akan merasa sakit melihatnya.”
Senyum masih dikulumnya lalu bertanya, “Dapat keyakinan dari mana sih?”
“Lihat saja nanti. Kamu pasti bakalan kaget dan panik saat tahu.” Sebelum pergi Kaina memberikan senyuman yang lebar agar lawannya bisa yakin kalau perkataannya tadi bukanlah ancaman semata.
Keluar dari gedung apartemen itu, Kaina langsung mengirim pesan pada Fatih agar malam ini dia bisa bertemu dengan Fadillah. Ada hal yang ingin dibicarakan terkait pernikahan mereka. Fatih pun berjanji akan menjemputnya sepulang dari kantor. Akhirnya dikirimlah alamat RS tempat dimana sang Ibu di rawat.
...🍄🍄🍄🍄...
Kaina menunggu mobil Fatih di parkiran RS. Ketika yang ditunggu tiba dia pun segera masuk.
“Gak ajak saya ketemu ibunya dulu,” tanya Fatih.
“Buat?”
“Kenalan. Kan bentar lagi mau jadi mantu,” kekeh lelaki berjambang tipis itu.
Kaina tertawa. “Mas, kita tuh baru aja kenal loh, tapi kamu kok, ya, santai baget gitu. Bercanda bahkan gak segan godain saya kayak udah kenal lama.”
“Terus kamu pikir saya bakalan kayak cowok-cowok di novel gitu?! Serius, cool, cuek, berwibawa, dan irit kata?!”
Kaina menaikkan alisnya.” Mas, suka baca novel?”
“Gak juga cuma itu sekretaris saya yang suka.”
Ibu tunggal itu tersenyum. “Saya belum cerita ke ibu soal pernikahan kita. Nanti kalau beliau sudah pindah dari ICU baru saya bilang dan bawa Mas ketemu ibu.”
“Terserah kamu, saya ikut aja.”
“Ya udah jalan, keburu malam.”
Fatih kembali menjalankan roda empatnya. “Lalu kamu suka saya gimana? Mau kayak gini atau harus seperti yang di novel tadi.”
“Jadi diri Mas sendiri saja.”
“Ya udah, artinya ini saya. Tapi kamu jangan salah menilai! Kalau saya lagi serius bakalan ngerasa kalau saya ini dua orang yang berbeda.”
“Gitu, ya.”
Selama perjalanan dua orang insan itu tak kehabisan bahan untuk bicara. Ada saja yang mereka ceritakan seolah-olah keduanya memang sedang saling menjajaki satu sama lain. Bahkan ketika mobil yang dinaiki terjebak macet, tak ada di antara mereka yang merasa kesal. Malahan mereka enjoy dan menikmati waktu luang.
Tak terasa kemacetan pun akhirnya bisa dilalui dan mobil kembali berjalan lancar menuju perumahan mewah milik Fadillah.
“Bapak sudah pulang. Kayaknya nungguin kita, soalnya tadi saya bilang sama beliau kalau kamu mau ketemu. “Fatih menjelaskan sambil mereka berjalan memasuki rumah.
__ADS_1
Tiba di dalam ternyata benar, Fadillah tampak sibuk dengan tablet di tangannya. Hingga ucapan salam dari sang putra membuatnya mengangkat kepala. “Waalaikumsalam,” jawabnya. “Bapak pikir Kaina gak jadi datang.”
“Jadi, Pak. Kita kejebak macet tadi makanya lama,” jelas calon menantu.
“Kita makan malam dulu. Bibik sudah masak banyak.” Fadilah membuka kaca mata dan meletakkannya di atas meja. Sebelum berdiri beliau kebingungan mencari tongkatnya.
“Cari apa, Pak?” tanya Fatih.
“Tongkat Bapak ketinggalan di kamar kayaknya.”
“Tunggu di sini, saya ambilkan.”
Kepergian Fatih, Kaina mengajak Fadilah untuk dibimbing saja. “Ayo, Pak, saya tuntun saja.”
“Yakin kamu?”
“Bisa kok.”
Akhirnya Fadilah menyambut uluran tangan calon menantunya. Menuju meja makan mereka bicara ringan seputar keadaan Dina.
“Loh, sudah di sini,” ujar Fatih.
“Kamu lama. Seharusnya kamu gak perlu ambil tongkat. Dibimbing Bapaknya dulu baru nanti di cari.”
“Gak papa, Pak. Siapa tau Bapak butuh tongkatnya cepat,” sela Kaina.
Dari meja makan, Fadilah dan Kaina menuju ruang tengah sedangkan Fatih izin untuk mandi dan berganti pakaian.
“Mau bicara apa?” tanya Fadillah.
“Bapak sudah tau kalau Mas Fatih menerima permintaan Bapak kemarin?”
Fadilah hanya mengangguk.
“Saya mau secepatnya pernikahan itu dilakukan?”
“Kenapa?”
“Biar secepatnya juga saya bisa mengambil kembali anak-anak saya.”
“Oh, itu kamu tenang saja. Fatih bisa mendapatkannya dalam waktu singkat.”
“Tapi bukan hanya itu saja masalahnya.”
“Apa lagi?”
“Bapak tau sendiri kan kalau Hugo adalah ayahnya Kama-- putra saya dan dia merupakan anak Bapak. Apa Bapak juga akan membantunya nanti dalam mempertahankan Kama? Jujur saya takut soal itu.”
__ADS_1
“Kalau kamu dan Fatih gak jadi menikah, mungkin saya akan lakukan itu. Tapi karena kamu dan Fatih sudah sepakat untuk menikah maka saya akan sepenuhnya berada di sisi Fatih.”
“Maksud Bapak, akan melawan Hugo demi saya?”
“Kenapa tidak. Toh nanti kamu akan menjadi menantu saya.”
Kaina turun dari sofa dan segera meraih tangan pria tua itu dan menyalaminya. “Terima kasih banyak, Pak. Saya gak tau harus membalasnya dengan apa.”
“Jadilah istri yang baik dan soleh buat Fatih. Saya hanya ingin ada seseorang yang bisa menjaga, mendampingi, menemani dan mengurusnya. Umur saya sudah tua, tinggal menunggu ajal menjemput. Di saat itu tiba saya akan merasa tenang ada kamu di sisinya.”
Kaina tercekat saliva. Dia dan Fatih berencana akan bercerai setelah semua permasalahan selesai, tapi kini permintaan orang tua ini membuatnya menjadi bimbang di persimpangan. “Insyaallah, Pak, doakan saja.”
“Ini buktinya Bapak selalu berdoa. Akhirnya Fatih mau menikah.”
Hanya senyum palsu yang diberikan Kaina sebagai balasan.
Fatih pun tiba di sana dan ikut bergabung. Mereka akan membahas soal pernikahan yang akan segera dilakukan.
“Kaina mau secepatnya,” jelas Fadillah.
“Satu lagi, Pak, gak perlu ada acara besar. Sah saja sudah cukup,” tambah calon pengantin wanita.
“Satu bulan lagi gimana?” usul Fatih.
“Satu minggu,” putus Fadilah.
Membuat anak dan calon menantunya ternganga.
“Katanya mau lebih cepat, satu minggu masih lama. Kalau cepat itu besok,” terang pria tua itu.
“Iya deh, satu minggu lagi aja.” Kaina setuju.
“Acaranya di rumah aja, Pak,” tambah Fatih. “Cukup dihadiri keluarga kita dan Kaina.”
“Bapak setuju saja. Yang penting buat Bapak kalian itu menikah.”
“Terus persiapannya gimana?” tanya Kaina.
“Biar nanti asisten Bapak yang urus. Kamu sama Fatih tinggal beres.”
“Satu lagi, Pak, adiknya Kaina kan masih di tahanan. Dia kan harus jadi wali nanti,” tutur Fatih.
“Biar asisten Bapak yang urus.”
Semua persiapan pernikahan akan ditangani oleh Fadilah. Kaina maupun Fatih merasa tak perlu pusing. Urusannya selesai, ibu tunggal itu pamit kembali ke RS menjaga sang ibu di sana. Awalnya Fatih ingin mengantarkan kembali, tapi ditolak Kaina dan ia meminta dipesankan taxi online saja.
“Kalau Ibu kamu tanya alasan nikah sama saya apa, gimana jawabnya?” tanya Fatih. Dia menemani Kaina yang menunggu tumpangannya datang.
__ADS_1