Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 102


__ADS_3

Setelah sarapan pagi sambil menikmati pemandangan yang begitu indah, Fatih dan Kaina menyempatkan berenang sebentar sebelum pulang. Ibu hamil itu begitu senang bisa menghabiskan waktu berdua bersama sang suami. 


Fatih yang selalu memanjakan istrinya juga merasa bahagia melihat senyum di bibir Kaina tak luntur dari kemarin. 


"Habis ini kita makan siang, ya, Mas," kata Kaina. 


"Bunda lapar lagi?" tanya Fatih. 


"Iya.Bawaannya mau makan terus."


"Gak papa. Artinya dedek bayi pasti sehat di dalam sini." Fatih mengelus perut buncit istrinya. 


"Kapan kita belanja perlengkapan baby, Mas?"


"Ayah sih terserah Bunda aja maunya kapan."


"Seharusnya sudah mulai dicicil dari sekarang biar nanti gak ribet kalau sekali beli."


"Ya udah, nanti pas anak-anak udah pulang liburan kita belanja. Biar mereka bisa ikut, pasti mereka senang."


Kaina mengangguk setuju. 


"Udah berenangnya?"


"Udah. Mataharinya juga udah mulai terik."


"Ayo, kita naik! " Fatih membantu sang istri naik ke atas kolam. Dari sana mereka langsung menuju bungalow untuk bersih-bersih dan berganti pakaian. 


Tak lupa Fatih pun mengemasi beberapa barang mereka. Kemudian barulah pasangan itu menuju restoran untuk makan siang. Tiba di sana Kaina memesan beberapa menu yang dirasa mampu memanjakan lidahnya. 


Sambil menunggu pesanan datang, mereka melakukan panggilan video call bersama Kama dan Kalila. Si kembar pun menunjukkan wahana permainan yang sedang mereka jelajahi bersama Adit dan kakek nenek. 


"Gak rewel kan, Nak?" tanya Kaina. 


"Mereka gak rewel kok, Kak," jawab Adit. 


"Yang lain mana?" Giliran Fatih yang bertanya. 


Adit mengarahkan kamera ponselnya pada sang ibu dan Fadilah juga Suci. Para orang tua itu melambaikan tangan mereka. 


"Seru sekali. Capek gak Pak, Bu?"


"Lumayan capek, tapi kita happy," jawab Fadilah. 


"Ya udah kalau gitu, kita makan siang dulu. Lanjut jalan-jalannya di sana."


"Dada sayang." Kaina melambaikan tangan ke arah kamera. 


"Dada Bunda," balas si kembar. "Titip cium buat dedek di perut, ya."


"Iya, nanti Ayah cium," balas Fatih. 


Panggilan diputus mereka pun tersenyum lebar. Pasangan itu segera menyantap hidangan karena Kaina sudah tak sabar untuk segera mengisi perutnya yang kelaparan. 


🦉🦉🦉🦉


Sampai di daratan, Fatih membawa mobilnya menuju suatu tempat. Kaina sudah tak sabar ingin melihat kejutan yang akan diberikan sang suami. 


"Mas, ini bukannya area perumahan elit?" tanya Kaina. 


"Iya."


"Terus ngapain kita ke sini?"


"Ayah mau kasih hadiah rumah buat Bunda."


"Kamu serius, Mas?" Kaina tak menyangka. 


"Serius, Bunda. Ayah udah cari-cari dari beberapa bulan kemarin. Dibantu Zuri juga dan sekarang rumahnya udah dapat."


Mobil mereka pun tiba di satu rumah dengan halaman luas. Fatih gegas turun untuk membantu sang istri. 

__ADS_1


"Mas, ini rumahnya besar sekali," ujar Kaina. Matanya menatap kagum bagunan mewah yang ada di depan mata. 


"Kita masuk." Dibimbingnya Kaina memasuki area rumah. 


Kaina dibuat tak percaya dengan dekorasi serta isi rumah itu. Perabotan mahal menghiasi setiap sudut.


"Mulai sekarang kita tinggal disini," ujar Fatih.


Terus bapak sama siapa?"


"Hugo bakalan nemanin bapak."


"Kenapa gak tinggal disini aja bareng kita?"


"Bapak maunya kita mandiri, Sayang. Lagian nanti kalau beliau mau nginap disini kamarnya sudah aku siapin. Aku juga udah siapin kamar buat ini dan Adit juga."


"Kamu serius, Mas?" Kaina tak menyangka.


Fatih pun mengangguk.


Ibu hamil itu langsung meluk suaminya. "Makasih, ya, Mas."


"Ini semua buat kamu dan anak-anak."


"Kamu juga, Mas."


Fatih mengeratkan pelukannya. "SEkarang Bunda mau lihat apa?"


"Kamar kita."


"Ayo."


Mereka berjalan bergandengan menuju kamar utama yang ada dilantai dasar. Tiba di depan duda daun pintu berwarna hitam, Fatih membukanya.


Kaina kembali dibuat tak percaya. Kamar yang cukup luas dengan kaca sebagai atap juga dindingnya. Di luar sana ia dapat menatap kebun bunga yang sedang bermekaran. Jika hujan pastinya dia dapat menikmati rintik air jatuh.


"Suka gak?" tanya Fatih.


"Nanti tiap mau tidur kita bisa lihat langit, bintang, dan bulan." Fatih menunjuk ke atas.


"Makasi, ya."


"Iya."


"Sejak kapan kamu persiapkan ini, Mas? Kaina bertanya sambil memeluk suaminya.


"Waktu kita balikan."


"Hahaha, emangnya kita pacaran?"


"Anggap aja gitu. Sekarang hasil kerja kerasku selama ini ada hasilnya. Aku bisa bikin rumah buat kamu dan anak-anak. Membahagiakan kalian semua, karena bahagiaku itu kalau kalian bahagia."


"Memangnya sebelum ada kami kamu gak bahagia?"


Kepala Fatih menggeleng. Ia membawa istrinya berbaring di atas pembaringan. "Bisa dibilang hidupku sempurna. Tapi apa artinya kalau aku kesepian."


"Aku paham itu."


"Sekarang ada kamu, si kembar, dan sebentar lagi ada si kembar junior. Aku benar-benar bersyukur."


Kaina mengangguk. "Aku juga bersyukur bisa punya suai kayak kamu."


Fatih tersenyum.


"Jadi, sekarang kita tinggal disini?"


"Iya, Bun."


"Terus barang-barang gimana?"


"Sudah dipindahin sama bibik di rumah kemarin. Kan cuma baju-baju aja."

__ADS_1


"Iya juga sih."


"Hari ini kita santai-santai di rumah baru. Besok kita jemput anak-anak, bapak sama ibu ke bandara."


"Akhirnya mereka pulang juga."


"Iya, Ayah udah kangen sama mereka."


"Sama aku juga. Sepi rasanya kalau gak ada si kembar."


Pasangan itu menikmati langit cerah di atas kepala. JIka ada sinar matahari yang menyilaukan atau terlalu panas, atapnya dapat menyesuaikan dan menutup otomatis.


Tanpa sadar pasangan itu pun sama-sama memejamkan mata.


\=\=\=\=\=


Empat hari di negara singa, si kembar bersama kakek, nenek, dan paman pun pulang kembali ke Indonesia. Pagi-pagi Fatih dan Kaina yang sudah tak sabar ingin segera bertemu sang anak gegas ke bandara untuk menjemput.


 


Lima belas menit menunggu, pesawat pribadi Fadilah mendarat dengan mulus. Pasutri itu langsung menghampiri. Kama dan Kalila pun berlari menghampiri orang tuanya.


“Ayah, Bunda,” sorak mereka.


“Hati-hati.” Fatih berkata sambil merentangkan tangan menyambut anak sambungnya.


“Kangen,” ujar Kalila.


“Bunda sama Ayah juga kangen,” balas Kaina.


Tak lupa Kaina dan Fatih melepas rindu dengan para orang tua.


“GImana, Pak?” tanya Fatih


“Seru sekali. Sudah lama Bapak gak jalan-jala sama keluarga. Minus kalian berdua.”


“Nanti kalau Kaina sudah melahirkan kita jalan-jalan ke swiss.”


“Harus.”


“Kita langsung pulang atau mau makan dulu?”


“Kita makan dulu. Bapak kangen masakan Indonesia.”


“Ayo kalau begitu.”


Semua keluarga menuju satu restoran yang menyiapkan sarapan pagi khas Indonesia. Tiba di sana mereka duduk di satu meja besar. Fatih pun memesan seluruh menu yang ada agar keluarga dan anak-anaknya dapat menikmati sarapan sesuai selera tanpa harus bingung memilih menu apa.


“Bunda mau makan apa?” Fatih bertanya pada sang istri.


“Ada bubur ayam, ya, Mas?” tanya Kaina.


“Ada. Bunda mau bubur ayam?”


“Boleh.”


Fatih dengan sigap mengambilkan makanan yang diminta istrinya.


“Gimana rumah baru kalian? Sudah di isi?” tanya Fadilah.


“Kok Bapak tau?” tanya Kaina.


“Kan Bapak yang suruh Fatih buat beli rumah. Biar kalian bisa mandiri. Bagaimana pun kalian butuh privasi.”


“Mau ke rumah baru nanti?” tawa Fatih. “Biar Ibu, Bapak, Adit, dan Ibu Suci bisa lihat-lihat.”


“Boleh,” jawab Dina.


“Ya, udah, kita sarapan dulu habis itu kita lihat rumah baru Kaina sama anak-anak.”


“Rumah kita, Mas,” sela Kaina.

__ADS_1


“Iya, sayang.”


__ADS_2