Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 67


__ADS_3

Kaina sudah mengabari Candra soal keputusannya atas tawaran kemarin. Ayah biologis Kalila itu pun merasa sangat senang. Dia meminta wanita itu untuk datang ke alamat shorum nya yang dikirim lewat aplikasi chat. 


“Kamu bisa pakai laptop yang biasa aku pakai buat bikin laporan keuangan. Di sini semua datanya sudah lengkap." Candra berkata sambil memberikan perangkat komputer yang di maksud.


“Boleh aku bawa pulang kan? Buat dipelajari,” tanya Kaina.


“Boleh dong.” 


Kaina menjelajahi showroom milik Candra dengan matanya. “Lumayan besar juga, ya. Ada berapa karyawan?”


“Alhamdulillah. Untuk sekarang ada delapan orang. Dua ditugaskan untuk melayani pembeli, tiga montir untuk cek mesin mobil atau motor yang mau kita beli dan tiga lagi tugasnya di kantor.”


Kaina mengangguk paham.


“Mau lihat-lihat?” ajak Candra.


“Boleh. Sekalian pengen kenalan sama karyawan lain.”


“Ayo, kalau begitu.” Candra dan Kaina bangkit dari sofa kecil yang mereka duduki. Keduanya keluar dari ruangan yang ada di showroom itu. 


Hampir satu jam mereka berkeliling dan bercengkrama dengan karyawan lain. Hingga Kaina pun memutuskan untuk undur diri karena harus menjemput anak-anaknya di sekolah.


“Makasi, ya, Kai, kamu mau bantu aku,” ujar Candra.


“Sama-sama. Aku juga makasih karena kamu aku jadi punya penghasilan tambahan.”


Candra merasa ada yang aneh dengan perkataan mantan kekasihnya itu. Ingin bertanya, tapi diurungkan karena takut dikira Kaina dia ingin tahu masalah rumah tangganya.


“Itu taxi pesananku tiba. Aku pergi, Assalamualaikum,” pamit Kaina.


“Waalaikumsalam.”


...🥭🥭🥭🥭...


Sabtu malam, Kaina diundang makan malam oleh orang tua Rob. Teman satu sekolah si kembar, anak yang waktu itu sempat ditolongnya. Setelah memastikan Kama dan Kalila berdandan rapi gilirannya berganti pakaian di kamar. Fatih yang baru saja habis mandi keluar dari bilik air.


“Baju saya mana?” 


Kaina yang habis memakai make up segera menuju lemari memilihkan satu stel pakaian untuk suaminya. “Ini, Mas.”


“Makasih, Kai.” Fatih menerimanya dan kembali ke kamar mandi memakai bajunya di sana. Kepergian suaminya, Kaina pun gegas mengganti baju. Tak lama suaminya pun kembali dengan tampilan yang gagah. 


“Mau di bantu keringkan rambutnya?”


“Boleh.” Fatih duduk di meja rias sang istri kemudian Kaina menyalakan hair dryer. Setelah rambut suaminya kering wanita itu tak lupa menatanya seperti biasa.


“Makasih, Kai.”


“Iya, Mas. Berangkat sekarang?”

__ADS_1


“Anak-anak sudah siap?”


“Mereka sudah nunggu di bawah.”


“Ayo.”


Begitulah pasutri satu ini. Semua mereka jalani tanpa ada sedikitpun rasa di hati. Membuat rumah tangga mereka terasa hambar meski terlihat bahagia. Tak ada kemesraan atau romantisme sedikitpun sebagai bumbu untuk menambah nikmatnya cita rasa hidup berpasangan.


“Pak, kami berangkat,” pamit Fatih.


“Iya, hati-hati di jalan.


“Da da, Opa,” kata si kembar.


“Kalian ingat, kalau di rumah orang lain harus jaga sopan santun.”


“Iya,” jawab Kama.


Kaina membimbing anak-anaknya keluar dari rumah dan memasuki mobil. Setelah istrinya duduk di bangku depan, Fatih pun melajukan roda empatnya.


...🍒🍒🍒🍒...


“Ayo, mari masuk,” ajak ibu dari teman si kembar yang namanya Siska.


Kama dan Kalila pun juga di sapa oleh Robi dan mereka langsung di ajak main bersama.


“Maaf kalau anak-anak saya langsung nyelonong masuk,” pinta Kaina.


Kaina tersenyum ramah. “Oh, ya kenalkan ini suami saya.”


Fatih mengulurkan tangan begitu pula dengan Siska. 


“Fatih.”


“Siska,” balas wanita berambut petak itu. “Saya kayak kenal sama suaminya. Pernah dengar nama sama pernah lihat wajah, tapi di mana.”


“Mungkin pernah ketemu di suatu tempat tapi kita gak tau,” jawab Fatih.


“Iya juga sih. Oh, ya, suami saya masih di jalan. Sebentar lagi nyampe,” jelas Siska.


“Oh, gak papa. Kita tunggu saja.”


“Kalau begitu saya tinggal sebentar buat ambil minuman.” Teman baru Kaina itu beranjak dari sana tak lama kemudian dia tiba kembali dengan dua gelas teh hangat. Mendengar deru mesin mobil di garasi rumah, Siska yakin itu suaminya. “Sebentar, saya kedepan dulu.”


Kaina mengangguk.


Benar saja, suami yang di tunggunya baru turun dari mobil. “Ayo, Pa, tamu kita sudah datang. Gak enak bikin mereka menunggu,” ajak Siska.


Bersama suaminya wanita itu berjalan memasuki ruang tamu. 

__ADS_1


“Perkenalkan, ini Mbak Kaina dan suaminya Pak Fatih,” kata Siska pada sang suami.


Kaina dan Fatih menatap tak percaya. Keduanya saling melempar pandang kemudian bangkit dari posisi untuk berjabat tangan dengan si tuan rumah. Ketiganya terlihat sama-sama canggung.


“Silahkan duduk kembali,” ajak Siska. “Pa, temani tamu kita ngobrol, ya, Mama mau siapkan makan malam kita.”


Budi mengangguk. Selepas kepergian istrinya dia menyapa, “Apa kabar Pak Fatih dan Bu Kaina?”


“Kami baik,” jawab Fatih.


“Saya tidak menyangka kita akan bertemu dalam rangka ucapan terima kasih kami karena Bu Kaina sudah membantu menyelamatkan anak saya.”


Fatih tersenyum simpul. “Kami juga gak menyangka anak yang di tolong istri saya adalah putra, Anda.”


“Kalau pun saya tahu itu putra, Anda, saya tetap akan membantu,” jelas Kaina.


Budi memaksakan senyum di wajah. 


Tak lama Siska pun kembali. “Ayo, kita beralih ke meja makan. Anak-anak sudah menunggu di sana.”


“Ayo, Pak, Bu,” ajak Budi.


Kaina dan Fatih pun mengikuti langkah kaki pemilik rumah.


Di meja makan, Budi mencoba menghalau rasa canggung. Beruntung istrinya yang banyak bicara dapat mencairkan suasana hingga Fatih dan Kaina pun jadi bersikap biasa. Tak lupa dia menjelaskan pada sang istri kalau tamunya ini merupakan lawannya di persidangan.


“Santai saja, Pak, kami datang ingin menjalin silaturahmi,” kata Fatih.


“Saya jadi merasa gak enak dengan Bu Kaina.”


“Saya paham dengan tugas, Anda. Jadi, sekarang kita lupakan masalah di pengadilan,” jawab Kaina.


Obrolan terus berlanjut sampai makanan penutup yang tersaji di habiskan oleh para anak-anak.


“Bunda, kami boleh main lagi?” tanya Kama.


“Boleh, sayang. Tapi nanti kalau Bunda ajak pulang gak rewel, ya,” jawab Kaina.


Si kembar mengangguk setuju. Mereka bersama teman barunya beranjak dari meja makan menuju ruang bermain.


“Sekali lagi saya dan istri ucapkan terima kasih karena Bu Kaina sudah menyelamatkan anak saya,” kata Budi.


“Saya rasa terlalu banyak ucapan terima kasih yang saya terima,” jawab Kaina.


“Cuma ini yang bisa kami utarakan.”


“Saya ikhlas membantu dan saya sudah sangat senang bisa di jamu malam ini.”


“Kami gak tau harus membalasnya dengan apa,” tambah Siska.

__ADS_1


Kaina menggelang. “Gak perlu. Saya gak mengharapkan apa-apa dari kalian. Melihat Robi bermain bersama Kalila dan Kama malam ini saya bahagia sudah menyelamatkannya hari itu. Jadi, saya harap kalian tak merasa berhutang budi. Sesama ibu saya pasti akan merasa sedih kalau Robi sampai benar-benar diculik hari itu.”


Siska menghampiri Kaina lalu memeluknya. “Saya harap suatu saat nanti kami bisa membantu Mbak Kaina.”


__ADS_2