
Brigita membawa suaminya menemui dokter untuk berkonsultasi dahulu tentang masalah kesehatan setelah melakukan donor ginjal. Candra setuju karena bagaimanapun dia juga sedikit merasa khawatir dengan kualitas hidupnya nanti.
“Jangan khawatir! Bila sebelumnya kondisi, Anda, dinyatakan sehat dan tidak ada masalah maka tidak perlu pengobatan medis khusus, cukup kontrol saja secara berkala. Intinya jika perawatan pasca operasi tepat maka fungsi ginjal akan bekerja dengan baik, meskipun tidak dalam jumlah yang utuh lagi,” terang Dokter.
“Pastinya ada resiko kan, Dok?” tanya Brigita.
“Pasti ada, tapi gak semua pendonor merasakannya bahkan ada yang dapat bertahan hidup sampai tua.”
“Lalu apa saja yang harus saya lakukan?” Giliran Candra yang bertanya.
“Pastinya harus menjalankan gaya hidup sehat dan harus berhati-hati saat beraktivitas. Jangan sampai kelelahan, harus istirahat yang cukup.”
Mendengar hal itu membuat Candra merasa lega. Dirinya masih dapat menikmati hidup bersama sang putri. Tak ada lagi rasa was-was yang sempat merasuki. Kini dia semakin yakin untuk segera melakukan segala prosedur sebelum operasi dilakukan.
“Bisa kita mulai sekarang, Dok?” tanya Candra.
“Baik, kalau memang bapak sudah siap kita mulai pemeriksaan kecocokan terlebih dahulu kalau memang cocok maka, Anda, akan mulai melakukan serangkaian pemeriksaan menyeluruh. Setelah memenuhi syarat medis, Anda, juga harus melengkapi syarat selanjutnya, yaitu administrasi.”
“Siap, Dok.” Candra merasa yakin.
...----------------...
...----------------...
Hugo dan mamanya tiba di Rumah Sakit bersama pengacara yang membawa surat perjanjian penyerahan hak asuh Kama. Sebelum masuk, dia sudah menghubungi Kaina untuk bertemu di restoran dekat sana.
“Anggap saja itu sebagai bayaran karena aku mau memberikan ginjal ini pada anakmu,” kata Hugo.
Sakit rasanya dada Kaina saat mendengar ucapan itu. Jika sadar Kama adalah anaknya lalu buat apa hak asuhnya di ambil. Kalau mau bayaran, minta saja hal lain, mengapa harus ia dipisahkan dengan sang putra.
“Maaf sebelumnya saya gak bermaksud egois. Hanya saja saya memang ingin sekali kalau anak kamu itu bisa menjadi hak penuh atas kami. Tapi tenang, kamu tetap bisa menemuinya kapan saja,” kata Suci.
“Atas izin aku tentunya,” tambah Hugo.
Kaina mengangguk paham. Tak ada guna jika dia bicara atau memohon agar memberikan pilihan lain. Menundukkan kepala untuk membaca surat perjanjian yang ada di atas meja. Merasa semua poin tak terlalu merugikan, ia pun akhirnya membubuhkan goresan tinta hitam di atas materai. Membuat Hugo dan Suci tersenyum senang.
“Bisa sekarang kita lakukan tes kecocokan ginjal?” tanya Kaina.
“Oh, tentu. Mari.” Hugo segera bangkit dan memasang kembali kacamata hitam yang tadi tergantung di dada. Bersama ibunya, pria itu melangkah keluar disusul Kaina sedangkan si kuasa hukum kembali ke kantor.
Tiba di rumah sakit mereka menuju ruang rawat si kembar. Hugo mendekati putranya lalu memperkenalkan sang Mama. “Ini Oma Suci. Selain Ibu Dina, Oma Suci juga neneknya Kama.”
“Nenek aku juga kan, Pa?” tanya Kalila.
Dia tersenyum lalu mengangguk
“Hai, cucu Oma ganteng sekali. Gimana keadaannya?” Suci menyapa.
“Sudah mulai membaik,” jawab Kaina.
__ADS_1
“Kamu pasti sangat kuat, ya, bisa bertahan sampai sekarang. Hebat sekali, nanti kalau sudah sembuh kita tinggal di rumah Oma, ya?!”
“Kalila juga ikut kan, Oma?” tanya Kama.
Suci tersenyum paksa.
“Sebaiknya hal itu tidak dibahas sekarang, Buk. Saya ingin secepatnya putra Ibu mendonorkan ginjalnya untuk anak saya. Setelahnya saya juga ingin memastikan dulu sampai anak saya sembuh. Baru kita bicarakan hal itu.”
“Oke, baiklah sekarang aku akan menemui dokter.” Hugo keluar dari sana, tapi di depan pintu dia bertemu dengan Candra dan istrinya.
“Datang juga,” ujar Candra.
“Tentu. Kaina sudah menandatangani surat perjanjian maka waktunya gue menepati janji.” Hugo berkata dengan gaya santainya. Seolah tak merasa bersalah sedikitpun.
Malas berdebat, Candra tak lagi peduli dia memilih masuk menemui putri cantiknya.
“Gimana kondisi Kalila?” bertanya pada Kaina.
“Sudah membaik.”
“Syukurlah.” Ditatapnya sang putri yang tertidur lelap di atas ranjang. “Oh, ya, kenalkan ini istriku.”
Brigita tersenyum sambil mengulurkan tangan dan Kaina pun membalasnya.
“Maaf kalau saya membuat suami kamu harus berkorban,” pinta Kaina.
“Gak papa, saya paham kok. Saya juga akan berusaha menyayanginya,” balas Brigita.
“Boleh saya hampiri?”
“Silahkan, tapi dia sedang tidur.”
“Saya cuma mau melihat lebih dekat saja.”
Kaina setuju lalu membiarkan Brigita dan Candra ke ranjang Kalila sedangkan dia memilih duduk di dekat Kama yang masih mengobrol dengan Suci.
“Bunda, tadi kata Oma aku bakalan di beliin mainan apa saja asalkan mau tinggal di rumahnya. Bolehkan, Bunda?” tanya Kama.
“Iya, sayang, boleh kok.”
“Tapi Bunda juga boleh ikut kan, Oma?”
“Boleh tapi gak bisa setiap hari,” jawab Suci.
“Kenapa?”
“Kan Bunda kerja, sayang.Harus jagain toko, pas Omdit kuliah," terang Kaina.
“Oh, iya juga.”
Obrolan terus berlanjut sampai Kalila terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
“Bunda,” gadis kecil itu memanggil Ibunya nan tak nampak di pandangan.
“Bunda di sini, sayang,” jawab Kaina menghampiri.
“Anak Ayah akhirnya bangun juga,” sapa Candra.
Kalila mendekap Kaina dengan erat sambil sesekali melirik ke arah Brigita.
“Gak papa sayang. Tante itu istrinya Ayah Candra jadi, secara tidak langsung Tante Bri juga ibunya Kalila,” jelas Kaina.
Brigita mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi bulat anak biologis suaminya. “Hai, cantik! Kenalan, dong,” ajaknya.
“Salim dulu, sayang, sama tantenya,” tuntut Kaina.
Ragu-ragu Kalila melepaskan satu tangan dari pinggang sang Ibu lalu membalas uluran tangan Brigita. “Nama aku Kalila.”
“Nama Tante Brigita. Kamu boleh panggil Tante tapi kalau bisa Mama aja biar lebih akrab.” Brigita menampilkan jejeran giginya.
“Panggil Tante aja. Ibu aku cuma Bunda.”
“Oh, yaudah gak papa.” Sedikit kecewa tapi istri dari Candra itu berusaha memaklumi. Mendekati anak kecil memanglah tak mudah apalagi dia belum mempunyai seorang anak. Jadi, naluri sebagai ibu itu belum ada.
“Kalila sudah makan?” tanya Candra.
Gadis itu menggeleng.
“Mau makan apa? Ayah beliin.”
Kalila menatap sang Bunda.
“Adek mau apa? Bilang aja gak papa kok, tapi ingat gak boleh berlebihan.”
“Aku mau makan pizza, boleh gak?” terang Kalila.
Candra menatap Kaina, meminta persetujuan apakah makanan itu boleh di konsumsi putrinya.
“Yang kecil aja, ya, satu. Nanti makan berdua sama Abang Kama.” Kaina membujuk anaknya.
“Iya.”
“Oke. Ayah pesan dulu. Adek mau rasa apa?”
“Apa saja asalkan gak pedas.”
Candra tersenyum lebar lalu memesan makanan bundar nan memiliki banyak taburan di atasnya. Menunggu makanan itu datang dia mengajak sang putri duduk di pangkuan sambil bercerita. Sesekali Brigita berusaha ikut menimpali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa intip karya author satu ini, ya, 😊
__ADS_1