Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 9


__ADS_3

...Minta dukungannya, ya, dengan cara like 👍 komen 💬 beri hadiah 🎁 vote 🔖 serta bintang ⭐ lima. Itu semua sangat berarti buat author biar makin semangat nulis dan up date....


...Terima kasih...


...🥰🥰😍😍💐💐...


......................


Dina  ikut membawa sang anak untuk bangkit dari lantai dan menuntunnya menuju bangku yang ada di sana. “Minum dulu.” Disodorkan sebotol air mineral.


“Bu, keputusanku gak salahkan?” tanya Kaina.


Dihapus air mata yang masih saja mengalir di pipi sang putri lalu Dina berkata, “Sekarang yang paling penting adalah kesembuhan Kama. Soal hak asuh nanti kita pikirkan lagi bagaimana jalan keluarnya.”


Akhirnya Kaina meneguk air mineral yang dipegang. Membasahi tenggorokan yang terasa kering karena tak berhenti menangis. Ia pun mulai sedikit tenang meski masih tersedu-sedu, tapi berusaha menyusut air mata.  


“Kai, aku pulang dulu. Besok pagi aku akan kesini untuk melakukan tes kecocokan ginjal,” kata Candra.


“Iya. Maaf kalau ini semua terlalu cepat buat kamu, tapi Kalila memang sangat membutuhkan ginjal baru sekarang.”


“Aku paham, Kai.”


“Sekali lagi terima kasih.”


“Anggap saja ini bentuk pengorbananku buat Kalila jadi, kamu gak perlu berterima kasih.”


Kaina memaksakan sebuah senyum di bibirnya.


“Bu, saya pulang,”pamit Candra.


“Hati-hati di jalan,” balas Dina.


...🍀🍀🍀🍀...


“Seharian kamu kemana, Mas? Kata sekretaris, kamu gak ada di kantor.”  Brigita bertanya kala suaminya sampai di rumah.


“Nanti kita cerita. Sekarang aku mau mandi dulu,” jawab Candra.


“Baiklah kalau begitu. Aku siapkan makan malam dulu.”


Candra tak menggubris istrinya itu. Ia memilih segera memasuki kamar mandi. Dibawah guyuran air shower, ia mencoba mengingat kembali memori lama bersama Kaina. Meski sudah menikah bukan berarti ia bisa melupakan wanita itu. Usai hubungan mereka berakhir, ia masih berharap kalau Kaina mau memberikannya kesempatan kedua.


Namun, nyatanya tidak. Wanita yang dicintai ternyata sudah menutup pintu maaf. Membuatnya menyesal teramat dalam karena sudah berkhianat. Sejak saat itu Candra tak dapat melupakan Kaina, ia terus berharap kalau suatu saat nanti dapat mengobati luka yang pernah ditoreh.


Badan terasa segar Canda pun keluar dari kamar menuju meja makan. Bersama sang istri ia menyantap hidangan dalam diam hanya dentingan sendok dan piring yang terdengar. Brigita terus saja menatap sang suami, berharap Candra mulai membuka suara atas pertanyaan yang tadi belum sempat terjawab.


“Aku keruangan kerja mau mengerjakan pekerjaan yang tadi sempat terbengkalai.” Candra pergi dari sana setelah menyelesaikan makan malam.


Hanya anggukan kepala yang diberikan Brigita. Kepergian suaminya helaan nafas panjang pun terdengar. “Sampai kapan kamu terus begini, Mas?”

__ADS_1


...----------------...



...----------------...


“Ma, aku pulang,” sorak Hugo. Dihempaskannya badan di atas sofa besar di ruang tengah.


“Mama pikir kamu gak tau jalan pulang.” Suci yang tengah berada di dapur menyahut panggilan anaknya.


“Ah, Mama, aku pulang salah, gak pulang juga salah.”


“Mama gak nyalahin kamu kok. Ada apa? Tumben pulang kesini, pasti butuh sesuatu?” 


Sudah kebiasaan memang Hugo akan pulang ke rumah orang tuanya jika ia sedang membutuhkan bantuan. Apapun itu, tapi kalau lagi happy-happy maka dia akan lupa pada keluarganya.


“Aku punya anak,” ucapnya to the point.


Membuat Suci terbelalak kaget. “Kamu hamilin anak orang?”


“Dulu dan sekarang anaknya sudah lahir.”


“Ya ampun Hugo, kamu bikin ulah apa lagi sih? Mama tuh capek tau beresin semua masalah kamu. Kamu itu sudah besar, belajarlah untuk bertanggung jawab.” Suci memukul anaknya itu dengan bantal sofa.


“Ma, dengerin aku dulu bisa gak?” Hugo hanya duduk diam menerima pukulan itu, toh gak sakit juga.


“Apa? Mama mau dengerin apa dari kamu. Gak ada sedikitpun hal baik yang bisa bikin Mama bangga dari kamu.” Ibu yang sudah menginjak kepala lima itu pun akhirnya duduk kembali.


“Kamu yakin bisa mengurus anak itu nantinya? Ngurus anak itu gak gampang loh, Go.”


“Mama aja yang ngurus dia. Kalau aku sih bakalan sibuk nge-DJ.”


“Kalau gitu buat apa kamu ambil hak asuhnya. Biarkan dia dirawat Ibunya, itu jauh lebih baik.”


“Mama, mau punya cucu kan?”


“Iya, tapi-,”


“Ma, aku tuh gak mau berumah tangga. Aku lebih senang hidup seperti ini jadi, sewa pengacara untuk buat surat perjanjian kalau wanita itu akan menyerahkan hak asuhnya pada kita. Mama dapat cucu dan aku bisa bebas dari teror Mama yang setiap hari minta aku menikah secepatnya,” potong Hugo.


Suci sepertinya termakan omongan sang putra.


“Lagian sampai kapan Mama hidup sendiri? Mau balik sama Papa? Dia aja sibuk ngurus anak selingkuhannya.”


“Hhuss! Gak boleh ngomong gitu, bagaimanapun dia saudara kamu.”


“Saudara tiri. Pokoknya aku mau besok pagi surat perjanjiannya sudah ada. Biar operasi segera dilakukan, kasihan juga Kama kalau kesakitan terus.”


“Siapa Kama?”

__ADS_1


“Namanya Kama.”


“Boleh Mama ketemu besok?”


“Boleh asalkan apa yang aku minta tadi ada besok pagi. Dah, aku mau ke kamar istirahat, seharian capek.”


Hugo meninggalkan sang Mama yang masih mempertimbangkan permintaannya tadi.


...🌾🌾🌾🌾...


Badan sudah  lelah, punggung juga terasa kaku akibat duduk terlalu lama. Bola matanya melirik jam di dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Candra segera mematikan laptop dan kembali ke kamar. Tiba di sana ternyata sang istri masih belum tidur. Wanita itu menunggunya di atas sofa bed.


“Mas, tadi kamu janjikan mau cerita sama aku?” tanya Brigita.


Canda pun duduk di pinggir kasur. Mereka saling bersebrangan. “Aku punya anak, Bri.”


“Kamu selingkuh?”


“Bukan. Mantan yang pernah aku ceritakan dulu ternyata hamil anak aku tujuh tahun yang lalu dan kemarin dia datang.”


“Kamu yakin itu anak kamu?” Brigita berusaha tetap tenang meski dalam hati sudah bergemuruh hebat kala mendengar penuturan sang suami.


“Aku sudah melakukan tes DNA dan benar anak itu anakku.”


“Lalu?”


“Anak itu sedang menderita penyakit ginjal dan besok aku mau melakukan tes kecocokan sebelum melakukan donor ginjal.”


“Besok? Kenapa tiba-tiba, Mas? Kamu gak cerita sama aku.”


“Semua juga mendadak, Bri. Kaina datang beberapa hari yang lalu dan tadi Dokter mengatakan kalau anakku sudah tak bisa lagi bertahan dengan cuci darah. Secepatnya dia harus melakukan transplantasi.”


“Mas, kenapa kamu memutuskan semuanya sepihak sih? Kenapa gak tanya sama aku dulu? Aku ini istri kamu loh, Mas.” Di sini Brigita merasa tak dihargai.


“Dia anakku dan aku gak butuh pendapat dari kamu.Besok aku mau ke Rumah Sakit,” tekan Candra.


“Iya, aku tau, tapi kamu itu suami aku dan aku khawatir sama kamu, Mas. Apa kamu sudah tau apa akibatnya jika nanti kamu punya satu ginjal? Jangan mudah mengambil keputusan, Mas, kita harus konsultasi dulu dengan Dokter,” terang Brigita.


“Oke, besok kamu ikut dan kita konsultasi dulu dengan Dokter. Tapi apapun nanti yang dikatakan Dokter aku akan tetap mendonorkan ginjal ini buat putriku,” tegas Candra.


Nafas panjang dibuang Brigita.


“Matikan lampunya aku mau tidur.” Candra sudah merebahkan diri di atas kasur dan membungkus badan dengan selimut. Sedangkan sang istri masih menatap punggungnya dengan raut wajah kecewa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan bosan kalau setiap hari author bawa rekomendasi novel dari sesama penulis. Ini sebagai bentuk dukungan kami.


Jika berkenan jangan lupa mampir, ya, dan tinggalkan dukungan kalian di sana 😊

__ADS_1



__ADS_2