
“Ya udah, makanya terima aja," kata Fatih.
“Makasih, ya.” Kaina terseyum.
“Hhmm, titip salam buat adik kamu. Besok saya bakalan ke rumah biar bisa ketemu dan ngobrol sama dia.”
“Buat apa?”
“Buat diajak bercanda,” kesal Fatih. “Ya, buat kenalan lah sekalian saya mau izin sama dia. Bagaimanapun dia pengganti ayah kamu sekarang.”
“Oh, iya hehehe.” Kaina menggaruk dahinya. Padahal tak gatal sama sekali hanya saja dia merasa malu terlihat bodoh di hadapan Fatih.
Kepergian calon suaminya, Kaina duduk di bangku tunggu. Sepertinya Adit sedang berkemas di dalam sana. Setengah jam kemudian, yang dinanti pun akhirnya keluar jua. Kaina langsung berdiri dan memeluk sang saudara. “Alhamdulillah, akhirnya kamu bisa bebas juga.”
Adit membalas pelukan itu dengan senyum bahagia serta rasa syukur yang tak terhingga. Namun, tak dapat dipungkiri kini dia bertanya-tanya bagaimana cara sang kakak bisa membebaskannya.
“Mau pulang ke rumah atau ketemu ibu?”tanya Kaina.
“Pulang aja dulu, Kak. Aku mau mandi dan bersih-bersih sebelum ketemu ibu,” jawab Adit.
“Ayo, kalau begitu! Diperjalanan aku akan ceritakan sesuatu hingga kebingungan di wajah kamu ini dapat hilang.”
Adit tersenyum sambil mengangguk. Dua saudara itu keluar dari sana dengan senyuman yang tak luntur di bibir.
...🍒🍒🍒🍒...
Kaina menceritakan semua hal apa saja yang sudah dilewatkan Adit. Kini pemuda itu hanya bisa mendukung langkah dan jalan yang dipilih sang kakak.
“Kakak sudah dewasa, pasti tau mana yang baik dan benar. Aku cuma bisa berharap dan berdoa yang terbaik untuk pernikahan itu.”
“Makasih, Dit. Oh, ya, aku harap ibu jangan sampai tahu soal rencana perceraian kami nanti.”
Adit mengangguk. “Kalau gitu aku mandi dulu, Kak, habis itu kita ke RS.”
“Iya.”
Adit merasa tak setuju dengan pilihan saudaranya. Menikah hanya untuk saling membalaskan budi baik lalu ketika semuanya usai maka ikatan suci itu harus diakhiri. Namun, kali ini dia tak mau bicara banyak. Semua akan diserahkannya pada takdir. Jika Kata-kata tak mampu mengubah hati seseorang, tapi doa yang selalu dipanjatkan pada yang maha kuasa dapat membolak balikkan hati serta pikiran manusia.
Selesai mandi dan berpakaian bersih, ia bersama Kaina duduk di meja makan menyantap makanan yang sudah dihangatkan. Setelahnya barulah mereka menuju RS menaiki taxi online.
“Ibu pasti senang ketemu kamu,” seru Kaina.
“Ibu tanyain si kembar gak?”
“Iya, tapi aku kasih banyak alasan.”
“Kenapa gak coba bilang saja apa yang terjadi?”
“Nanti, Dit. Jangan sekarang! Ibu sedang dalam proses penyembuhan.”
__ADS_1
Adit merasa paham dengan kekhawatiran sang kakak. “Terus supermarket kita gimana?”
“Kakak belum tahu, Dit. Besok kamu coba temui Candra di kantornya, aku males berurusan dengan dia.”
“Jadi, setelah malam itu Kakak gak lagi coba kesana buat ketemu Kalila?”
“Gak! Aku sengaja, Dit. Biar aku, Kalila, dan Kama sama-sama kuat. Kalau kami ketemu dan akhirnya gak bisa bersama itu akan semakin terasa sakit.”
Adit mengusap bahu saudaranya.
Tak terasa mobil yang membawa mereka sampai di halaman parkiran gedung RS. Keduanya gegas turun dan melangkah menuju ruang perawatan sang ibu.
“Adit.” Dina tak menyangka kalau putranya akan datang.
“Bu.” Adit segera memeluk ibunda.
Dipegangnya pipi sang putra lalu bertanya, “Kamu baik-baik sajakan? Ibu cemas memikirkan kamu di dalam sana, takut dipukuli.”
Adit tersenyum menumpuk tangannya dengan tangan sang ibu. “Ibu lihat sendiri kan, aku gak papa. Aku baik-baik saja. Penjara tak seseram yang ibu bayangkan.”
“Alhamdulillah kalau gitu.”
“Ibu gimana? Gara-gara aku Ibu jadi sakit dan terbaring di sini.”
Dina sedikit tertawa. “Bukan! Ibu sudah tua, pasti di umur segini mudah sakit.”
“Iya, deh aku percaya.”
“Kai, gimana? Si kembar gak jadi dibawa kesini,” tanya Dina.
“Mereka hari ini ada jadwal kontrol, Bu, jadi gak bisa ikut,” jelas Kaina.
“Yah, padahal Ibu sudah kangen sekali sama mereka.”
“Sabar, ya, Bu,” ujar Adit.
Kaina dan Adit akhirnya mencari topik pembicaraan lain agar Dina dapat teralihkan dari Kama dan Kalila.
...🌶🌶🌶🌶...
Semalam Adit memutuskan untuk menginap di RS sedangkan kakaknya sengaja di suruh pulang biar dapat istirahat lebih. Pagi ini Kaina buru-buru ke RS untuk menggantikan adiknya. Sebelum berangkat tak lupa dia sudah memasukkan sarapan ke dalam rantang untuk disantap bersama saudaranya.
Di perjalanan, ponselnya terdengar berdering. Tertera nama calon suami di layar, langsung saja tombol hijau di gesernya.
(Assalamualaikum, Mas)
(Waalaikumsalam. Kai, nanti pulang dari kantor saya singgah di rumah, ya. Sesuai janji kemarin mau ketemu sama Adit)
(Oh, iya, nanti aku blang ke Adit)
__ADS_1
(Ya sudah, saya cuma mau bilang itu saja, takut nanti kalian gak di rumah)
(Iya, Mas)
(Aku tutup telponnya. Assalamualaikum)
(Waalaikumsalam)
Karena hal itu, Kaina jadi berpikir mau memasak makan malam yang lezat untuk disuguhkan pada Fatih nanti. Tak enak rasanya pria itu pulang kerja hanya di suguhkan minuman dan cemilan saja. Mungkin nanti dia harus ke pasar dulu untuk belanja bahan masakan.
...🍤🍤🍤🍤...
Tiba di ruang rawat Dina, dokter baru saja keluar dari sana setelah melakukan pemeriksaan. Kaina hanya menyapa tak bertanya sebab nanti dia bisa meminta penjelasan dari Adit.
“Assalamualaikum,” ucapnya di ambang pintu.
“Waalaikumsalam.” Adit dan Dina menjawab serempak.
“Ibu habis periksa, ya? Gimana kata dokter, Dit?”
“Ibu makin membaik besok juga boleh pulang.”
“Alhamdulillah kalau gitu.”
“Iya, Ibu senang akhirnya bisa pulang. Sudah gak betah di sini,” kata Dina.
“Ibu sudah sarapan?”
“Sudah, Kak, tadi aku yang suapin,” jawab Adit
“Kalau gitu waktunya kita sarapan, yuk, Dit. Aku sengaja gak sarapan di rumah biar bisa makan bareng kamu.”
“Pas banget, aku juga sudah lapar,” seru Adit.
“Ibu istirahat dulu, aku sama Adit sarapan.” Kaina berkata pada ibunda sambil merapikan selimut beliau.
Di sela-sela menyuap makanan, Kaina membahas kedatangan Fatih ke rumah nanti dan Adit menyambutnya dengan senang hati.
“Hari ini kamu temani ibu dulu, ya. Besok aja ketemu Candranya. Aku mau ke pasar beli bahan masakan. Sekalian kita makan malam di rumah nanti.”
“Oke, deh. Terus nanti malam ibu di jaga siapa?”
“Ada suster yang di siapkan Pak Fadillah. Kemarin dia sengaja aku suruh libur kan ada kamu.”
Adit mengangguk sambil menyuap makanan ke mulut.
“Nanti kamu pulangnya jam lima sore aja.”
“Apa gak kesorean?”
__ADS_1
“Iya, juga. Terserah deh, mau pulang jam berapa, tapi pastikan dulu nanti suster yang bakalan jagain ibu sudah ada di sini.”
“Siap.”