
...Hhhaaiii... 👋👋👋 mulai hari ini sampai satu minggu ke depan MERINDUKAN PURNAMA bakalan crazy up... 🥳🥳...
^^^Buat pembaca setia Fatih dan Kaina jangan lupa tinggalkan jejak dan dukungan kalian semua, ya... ^^^
...Like 👍 komen 💬 hadian 🎁 bintang 🌟 lima sama favorit ❤ biar dapat notif pas up date. ...
...Terima kasih 😍🥰😘...
...----------------...
Siska menghampiri Kaina lalu memeluknya. “Saya harap suatu saat nanti kami bisa membantu Mbak Kaina.”
“Semoga niat baik kalian di dengar Allah," balas ibu si kembar.
Fatih melirik jam yang melingkar di tangannya. “Sudah hampir tengah malam. Kalau begitu kami pamit pulang. Anak-anak harus istirahat.”
“Oh, iya, maaf kami sampai lupa waktu menahan kalian di sini,” tutur Budi.
“Santai saja. Kami hanya khawatir dengan kesehatan si kembar.”
“Kalau begitu saya panggil mereka dulu.” Siska beranjak dari sana menuju ruang main anaknya sedangkan sang suami mengantar tamunya sampai depan teras rumah.
“Terima kasih makan malamnya,” kata Fatih.
“Hanya sekedar makan malam biasa.”
“Tapi kami menikmati.”
Kama dan Kalila akhirnya menghampiri orang tua mereka.
“Sudah pamit sama Robi?” tanya Kaina.
“Sudah, Bun,” jawab Kalila.
“Kalau begitu kami jalan sekarang, Pak, Bu." Kaina berpamitan pada Budi dan Siska.
“Iya. Sampai rumah kabari, ya, Mbak,” balas Siska. Tak lupa para wanita itu berpelukan.
“Pasti.”
Kepergian mobil tamunya di iringi lambaian tangan oleh Budi dan keluarga.
...🦋🦋🦋🦋...
Libur sudah usai. Kini semua orang kembali beraktivitas seperti hari biasa. Kaina yang semakin disibukkan dengan pekerjaan barunya sedikit melupakan masalah hak asuh sang putri. Kini dia memilih menyerahkan segalanya pada yang maha kuasa. Dia tak lagi berharap pada Fatih.
Kalau sampai nanti mereka berpisah hak asuh Kalila juga tak didapat, dia akan mencoba ikhlas. Meski berat tapi harus karena tak ada cara lain yang bisa dilakukan selain berserah diri dan berdoa. Fatih yang disibukkan dengan kasus lainnya juga sampai melupakan janji pada sang istri.
“Pak, di depan ada tamu.” kata Zuri.
“Sudah ada janji?” tanya Fatih dari balik meja kerjanya.
“Belum, tapi dia ngotot pengen ketemu Bapak.”
“Siapa?”
“Namanya Budi Darmawan.”
“Suruh masuk.” Fatih merasa heran dengan kedatangan Budi ke kantornya.
Orang yang di maksud pun muncul bersama Zuri, Fatih mengajaknya duduk di sofa yang ada di ruangannya.
__ADS_1
“Ada keperluan apa, Anda, ke kantor saya? Tumben sekali,” taya Fatih. Sama seperti Fadilah, suami Kaina itu tak begitu suka berbasa-basi. Pertanyaannya langsung pada sasaran.
“Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu,” tutur Budi.
“Apa itu?” Fatih penasaran.
“Begini, Pak Fatih. Setelah saya dan istri bicara seminggu belakangan. Saya berniat untuk membantu istri Anda mendapatkan hak asuhnya Kalila.”
“Maksudnya?”
“Saya tau, kalau klien saya Mbak Brigita melakukan kecurangan dalam mendapatkan hak asuh putri sambung, Anda. Oleh karena itu, saya siap menjadi saksi.”
Fatih terdiam sejenak mencerna ucapan yang dilontarkan rekan seprofesinya itu. “Tunggu?! Anda, gak main-main dengan apa yang Anda katakan? Hal itu bisa menjadi bumerang buat karir Anda kedepannya loh.”
“Saya serius, Pak Fatih. Anggap saja ini sebagai balas budi saya terhadap istri Anda.”
“Tapi Kaina tak meminta apa-apa.”
“Saya tau. Karena hal itu lah saya tak tega menyimpan kebenaran yang saya ketahui.”
Fatih menghembuskan nafas panjang. “Saya gak tau harus bereaksi seperti apa. Di satu sisi jelas berita ini menggembirakan bagi kami sekeluarga.Tapi disisi lain saya takut hal ini akan mengakibatkan karir Anda memburuk.”
“Saya tau apa yang saya lakukan, Pak Fatih. Untuk masalah karir atau pekerjaan, saya yakin rezeki itu datangnya dari Tuhan.”
“Oke, kalau memang itu keputusan Anda, saya ucapkan terima kasih banyak. Saya akan siapkan surat dan dokumen tuntutannya segar. Semoga, Anda tak berubah pikiran.”
“Tenang saja. Saya akan menepati janji.”
Dua lelaki itu akhirnya saling berjabat tangan.
...🐸🐸🐸🐸...
Sorenya, lelaki berusia 33 tahun itu gegas pulang untuk menyampaikan kabar gembira tadi pada sang istri. Setibanya di rumah Fatih gegas mencari Kaina di kamar.
“Ya, Mas,” sahut sang istri yang baru saja habis mandi.
“Saya punya kabar penting buat kamu.”
“Apa itu?”
“Pengacaranya Brigita bersedia menjadi saksi di kasus pencabutan hak asuh Kalila,” jelas Fatih dengan wajah berseri.
“Kamu serius, Mas?” Kaina tak percaya.
"Serius."
"Pak Budi ayahnya Robi temannya anak-anak itu kan?"
“Iya, suaminya teman kamu. Tadi dia datang ke kantor saya dan mengatakan siap dipanggil kapanpun persidangan dilakukan," terang Fatih. "Katanya ini sebagai balas budi karena kamu sudah menyelamatkan anaknya."
Ibu si kembar langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya. Keduanya sama-sama bahagia karena sedikit lagi tujuan mereka tercapai.
“Akhirnya, Mas, apa yang aku tunggu-tunggu datang juga. Allah mendengar doa-doa ku, Mas.”
“Iya, Kai. Kamu sama Kama sabar, ya. Besok saya akan ajukan tuntutannya.”
“Pasti, Mas. Kami akan sabar menunggu sampai hari di mana hakim mengetukkan palunya.”
Fatih kembali memeluk tubuh sang istri yang hanya terbungkus handuk. Saking senangnya dia membawa Kaina berputar.
“Mas, bisa lepasin saya?”
__ADS_1
“Kenapa?”
“Saya mau pakai baju.”
Fatih menggeleng lalu diangkatnya sang istri menuju pembaringan. “Kita rayakan dulu kebahagiaan ini.”
“Tapi saya baru saja habis mandi, Mas,” rengek Kaina.
“Kamu bisa mandi lagi nanti.” Tanpa izin Fatih membuka handuk yang melilit di badan istrinya.
“Mari kita menikmati waktu terakhir kita bersama, Mas.”
Fatih terpaku sejenak.
“Kenapa?” tanya Kaina.
“Kamu benar. Setelah hak asuh kalila di cabut maka kesepakatan kita berlaku.”
“Ya, kalau begitu tunggu apa lagi?”
Fatih mengangkat sudut bibirnya sambil membuka kemeja yang melekat di badan. “Jangan protes kedepannya kalau saya akan lebih sering meminta hak sama kamu.”
“Hahaha, silahkan, Mas. Sepuas kamu.”
Kaina menyambut cumbuan dari suaminya. Keduanya meluapkan rasa bahagia mereka lewat kegiatan nikmat di sore ini.
...🐤🐤🐤🐤...
Esok harinya, Kaina menyampaikan kabar gembira itu pada ibu dan adiknya. Dari sekolahan si kembar dia langsung meluncur ke rumahnya.
"Alhamdulillah, Kai, ini semua buah dari kesabaran kamu," kata Dina.
"Iya, Bu. Ternyata Allah mengabulkan doa-doa kita dalam waktu dekat." Kaina berucap sambil memeluk sang ibu.
"Terus kapan persidangannya, Kak?" tanya Adit.
"Kata Mas Fatih kita tunggu laporannya diproses dulu."
"Semoga dalam waktu dekat sidangnya sudah digelar."
"Aamiin."
"Ya udah, kalau gitu aku pamit ke kampus dulu. Assalamualaikum." Tak lupa Adit bersalaman dengan ibu dan saudaranya.
"Waalaikumsalam," jawab Dina dan Kaina.
"Oh, ya, Bu, aku sekarang kerja sama Candra. Bantu-bantu dia bikin laporan keuangan showroom mobil dan motor bekasnya," tutur Kaina setelah kepergian sang adik.
"Gak papa sama suami kamu?"
"Mas Fatih sudah kasih izin, Bu. Rencananya nanti keuntungan supermarket akan aku gunakan untuk buka cabang baru. Supaya usaha yang di bangun ayah bisa bangkit lagi."
"Kalau memang itu niatan kamu, Ibu dukung sepenuhnya asalkan suami kamu merestui dan kamu gak mengabaikan Fatih."
"Ibu tenang aja, apa yang aku lakukan semua pasti sudah aku bicarakan sama Mas Fatih. Aku juga akan berusaha membagi waktu."
"Lalu untuk apa kamu bekerja? Bukannya Fatih ngasih uang belanja tiap bulan."
Kaina sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini. Jadi, dia tak bingung lagi memikirkannya. "Aku juga harus punya penghasilan sendiri, Bu. Buat bantu-bantu Ibu dan Adit."
"Oh, iya juga sih. Ibu kadang merasa gak enak kalau kamu kasih uang dari Fatih."
__ADS_1
"Nah, karena aku tau Ibu kayak gitu makanya aku terima pekerjaan dari Candra. Lagian aku bisa kerja dari rumah kok, gak perlu datang ke kantor tiap hari."