Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 12


__ADS_3

Hasil tes kecocokan ginjal dari Candra dan Hugo sudah keluar. Sesuai harapan, mereka berdua dapat menjadi pendonor bagi anak-anaknya. Kaina bersyukur karena sebentar lagi Kama dan Kalila bisa sembuh dan tak lagi merasa kesakitan.


“Kita mulai melakukan pemeriksaan keseluruhan dari status kesehatan kalian berdua,” jelas Dokter.


“Baik, Dok,” jawab Candra. Hugo pun ikut beranjak dari sana.


“Kai, selamat. Akhirnya penantian kamu membuahkan hasil,” ucap Dokter Tini.


“Alhamdulillah, Allah mengabulkan doa aku, Ibu dan juga Adit.”


“Kamu harus sabar sedikit lagi sampai hasil pemeriksaan selesai dan kita lihat apakah mereka berdua memenuhi syarat medis untuk bisa jadi pendonor.”


Seketika raut wajah Kaina langsung berubah sendu. Dipikir proses operasi akan segera dilakukan, nyatanya dia harus menunggu lagi. “Kalau seandainya salah satu dari mereka tak memenuhi syarat bagaimana, Dok?”


“Artinya dia tidak bisa jadi pendonor.”


Hembusan nafas panjang keluar dari mulut Kaina.


“Jadi, meskipun ginjalnya cocok dengan anak saya, bukan berarti mereka bisa langsung jadi pendonor.”


“Tidak, Kai, kita harus melalui semua proses. Ginjal yang akan di donorkan harus memenuhi standar.”


“Artinya aku kembali digantung harapan.” Kaina menundukkan kepala di kursi yang didudukinya.


“Berdoa.” 


Wanita itu hanya mengangguk.


Tini mengajak Kaina keluar dari ruang dokter Nefrologi, kembali ke si kembar yang sudah tampak lebih baik dari kemarin.


“Percayalah, Allah akan mendengarkan doa seorang Ibu.” Tini memegangi bahu Kaina sambil memperhatikan Kama dan Kalila dari kaca pintu ruang rawat.


Kaina hanya tersenyum simpul. Jika memang salah satu dari dua ayah biologis anaknya tak memenuhi syarat sebagai pendonor, semoga itu adalah Hugo agar dia tak jadi berpisah dengan sang putra. Namun, di hati kecilnya yang paling dalam dia tetap berharap semoga kedua pria itu bisa jadi pendonor untuk anak-anaknya. Bagaimanapun kesehatan Kama dan Kalila di atas segala-galanya meskipun dia harus mengorbankan nyawa.


“Kalau begitu saya keruangan dulu,” pamit Tini.


“Iya, Dok. Terima kasih.”


“Sama-sama. Kamu Ibu muda yang banyak memberikan saya inspirasi. Semoga setelah ini kehidupanmu selalu terang.”


“Aamiin.”


...----------------...


__ADS_1


...----------------...


Hari penentuan tiba. Jika hasil kesehatan Candra dan Hugo memenuhi syarat medis artinya mereka berdua bisa mendonorkan ginjalnya. Seluruh keluarga sudah berkumpul di rumah sakit. Ada rasa cemas dan khawatir tapi pastinya terselip harapan yang sangat besar.


Dokter Nefrologi bersama Dokter Tini menemui mereka semua di ruang meeting.


“Sebelum saya membacakan hasil pemeriksaannya, saya ingin menjelaskan sesuatu terlebih dahulu,” kata Dokter Andi. “Jika hasilnya memenuhi syarat medis maka Pak Candra dan Pak Hugo akan memenuhi persyaratan terakhir yaitu administrasi. Setelahnya kami akan mengatur jadwal operasi.Saya harap kalian berdua dapat mempersiapkan diri dengan baik, mulai dari kesehatan serta mental.”


Kedua belah pihak mengangguk paham beserta keluarga yang datang mendampingi. Sedangkan Kaina dan Dina sudah tak sabar ingin segera tahu akan nasib anak dan cucu.


“Baik, kalau begitu saya mulai saja karena sepertinya suasana disini sudah sangat tegang,” ucap Dokter berusia 50 itu. “Dari evaluasi serangkaian tes kesehatan yang kami lakukan terhadap calon pendonor yang juga merupakan ayah biologis dari kedua penerima donor, dapat dinyatakan kalau Candra Dipta dan Hugo Adika memenuhi syarat medis.”


Semua orang yang ada di sana sama-sama menghembuskan nafas panjang. Menandakan kalau mereka merasa lega dan bersyukur atas berita bagus itu. Namun, berbeda dengan Kaina, dia merasakan dua hal sekaligus yaitu, rasa senang dan sedih. Senang karena akhirnya sang anak dapat menjalankan transplantasi ginjal, sedih karena setelah ini dia akan berpisah dengan putranya.


“Saya harap Pak Candra dan Pak Hugo serta keluarga dapat menandatangani surat-surat yang termasuk kedalam bagian administrasi,” ujar Andi.


Dokter Tini pun beralih duduk ke dekat Kaina. Wanita itu sudah seperti adik baginya. “Setelah ini perjuanganmu dan penderitaan si kembar akan berakhir.”


Membuat Kaina tertawa sumbang.


“Kenapa?”


“Entahlah, Dok. Aku pun tak yakin, tapi semoga apa yang ,Dokter, katakan itu benar terjadi.” 


“Baiklah kalau begitu saya dan Dokter Andi akan menemui si kembar. Memastikan keadaan mereka untuk siap melakukan operasi.”


Kaina dan Ibunya bersama keluarga dari dua Ayah biologis si kembar masih berada di ruang meeting. Mereka akan membicarakan perihal keuangan.


“Aku akan membantu Kaina membayar tagihan Rumah Sakit,” kata Candra. Semalam dia sudah berunding dengan istrinya dan Brigita pun setuju.


“Tidak usah,” sela Kaina.


“Tidak apa, Kai, anggap saja ini giliran Mas Candra yang bertanggung jawab,” timpal Brigita. “Aku pun ikhlas kok.”


“Ya sudah kalau itu memang sudah menjadi keputusan kalian berdua. Terima kasih.”


“Sama-sama. Sekarang Kalila juga sudah aku anggap sebagai putriku, semoga kamu tak keberatan.”


“Tidak sama sekali.”


“Kami juga akan menanggung setengah biayanya,” tutur Suci.


“Mama, serius?” tanya Hugo.


“Kenapa tidak?! Anggap saja ini juga bentuk tanggung jawab kamu sebagai ayahnya. Selama ini kamu gak ada buat mereka.”

__ADS_1


“Bukan salah aku. Kenapa dia gak datang menemui aku waktu itu.” Hugo seakan tak melakukan kesalahan apa-apa sebab yang mengajaknya untuk tidur bersama waktu itu adalah Kaina. Tujuannya datang malam itu hanya untuk memenuhi undangan dan bersenang-senang. Tak ada maksud mau menghamili lalu lari begitu saja melepas tanggung jawab. Jadi,menurutnya wajar kalau wanita itu menanggung semua ini sendirian. 


“Gak usah,Buk, kalau Hugo merasa keberatan. Toh memang ini bukan tanggung jawabnya.” Kaina langsung menjawab karena merasa harga dirinya mulai direndahkan. “Apa perlu saya juga harus menanggung biaya Rumah Sakit ini untuk kamu?”


“Har-.”


“Gak usah, Kai! Suci memotong perkataan anaknya. “Biar Ibu yang tanggung setengah biaya dari Rumah sakit. Artinya kamu gak perlu lagi mengeluarkan uang kali ini.”


“Terima kasih. Semoga Ibu ikhlas,” jawab Kaina sedikit ketus.


“Saya ikhlas, toh juga ini demi cucu saya."


Kaina mendengus kesal. Dalam hati sungguh dia sangat mengumpat dua orang yang duduk di depannya itu. Si anak seakan tak mau bertanggung jawab, tapi kenapa malah memaksa mengambil hak asuh putranya. Si Ibu sok bilang ikhlas segala, tapi nyatanya Kaina harus membayar mahal untuk itu semua, yaitu berpisah dengan Kama. 


Jadwal operasi di tetapkan satu minggu lagi. Artinya Candra dan Hugo sudah mulai mempersiapkan diri. Istirahat yang cukup dan makan-makanan yang sehat. Begitu pula dengan si kembar. Dokter Tini sudah memeriksa kondisi mereka. Tampak jauh lebih baik dan pastinya siap untuk menerima transplantasi.


“Apa boleh saya bawa mereka pulang dan mengajaknya jalan-jalan?” tanya Kaina.


“Duh, bagaimana, ya, Kai, saya takut menjelang operasi nanti kondisi mereka malah drop,” jawab Dokter Tini.


“Ke pantai sebentar saja,” mohon Kaina. Dia tau anak-anaknya pasti merasa bosan sejak di Rumah Sakit.


“Oke, deh, tapi ingat mereka gak boleh kecapekan, istirahat yang cukup dan harus kontrol setiap hari. Dua hari sebelum tindakan operasi mereka sudah menginap di RS. Saya gak mau jadwal operasi ditunda, Kai."


“Iya, Dokter, makasih sudah di izinin. Anak-anak pasi senang.”


“Pasti dan itu juga bagus untuk mental mereka sebelum menghadapi operasi.”


“Ya sudah kalau begitu aku beres-beres dulu dan sampaikan kabar bahagia ini.”


“Iya. Jaga mereka tetap sehat.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selamat hari raya idul adha 1443 H.


Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin semua 😇.


Eits, jangan lupa dukungannya, ya...


like 👍 komen 💬 hadiah 🎁 vote 🔖 dan bintang ⭐ lima.


...****************...


__ADS_1


Mampukan Mika menahan hasratnya terhadap mantan kekasihnya yang kini telah menjadi anak tirinya? Dan bisakah Mika tetap setia terhadap suaminya yang telah mencintainya dengan tulus dan penuh dengan kesabaran, sementara dirinya juga harus tinggal serumah dengan mantan kekasihnya tersebut.


__ADS_2