Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 104


__ADS_3

Kembali dari kamar mandi, Fatih membantu Kaina melepas pakaiannya. “Ayah gak sabar nunggu mereka lahir,” katanya sambil mengelus perut sang istri.”


“Tiga bulan lagi, Mas.”


“Rasanya lama, Bun.”


Kaina tersenyum. “Untuk mengisi waktu gimana kalau kita mulai dekor kamar buat mereka.”


“Ide yang bagus. Nanti malam kita cari referensi dulu di google.”


“Iya. Setelah kamarnya jadi kita mulai belanja.”


“Siap. Ayah akan bantu bikin catatan apa saja yang mereka butuhkan.”


Ibu hamil itu tersenyum lebar lalu mengelus rahang suaminya sambil menatap dalam. “Makasih, ya, Mas, sudah jadi suami dan ayah yang baik buat aku dan anak-anak.”


“Makasih juga sudah membawa dua bintang kecil kedalam kehidupanku dan sekarang kamu bawa dua lagi. Apa yang kuberikan gak akan pernah cukup buat membalasnya, Kai.”


“Sudah lebih, Mas. Kamu bagaikan matahari yang mampu menyinari tata suryaku. Padahal aku cuma minta sama Tuhan sebuah purnama yang cukup menyinari malamku yang penuh bintang.”


“Aku lebih memilih jadi purnama buat kamu, Kai. Bulan yang selalu ditunggu akan kehadirannya oleh kamu. Bulan yang tak akan ada artinya tanpa langit malam penuh bintang. Hidupku selama ini bagaikan bersinar di siang hari. Tampak tapi tak dianggap dan tak berarti. Kini aku memiliki langit kelam ku sendiri ditemani bintang kecil yang akan selalu berkedip menghiasi kehidupanku.”


Tanpa sadar keduanya sama-sama meneteskan air mata bahagia. Fatih pun mengecup mata istrinya yang basah dengan segenap cinta dan kasih sayang yang dalam dari palung hatinya. “Aku gak akan bosan-bosannya bilang I love you. Aku cinta kamu, Kai. Ayah sayang Bunda.”


“Love you to, Mas. Bunda juga sayang Ayah.


Fatih tersenyum. “Yuk, mandi. Nanti keburu air hangatnya dingin.”


“Bantu aku pakai sabun, ya. Mas.”


“Iya, sayang.”


Keduanya berjalan menuju kamar mandi dan Fatih memegangi istrinya masuk ke dalam bathup. 


\=\=\=\=\=


Keluarga kecil Fatih dan Kaina tengah mempersiapkan kamar untuk si baby kembar yang beberapa bulan lagi akan lahir ke dunia. Semuanya tampak antusias dan semangat dalam mendekorasi. Mulai dari mengecat, memasang stiker, menata lemari serta peralatan lainnya.


Tak ketinggalan Kama dan Kalila juga ikut berpartisipasi dalam membantu sang ayah mengecat. Bahkan keduanya sampai meninggalkan cap tangan mereka di dinding sebagai kenang-kenangan nanti untuk ditunjukkan pada sang adik. Rumah baru dan megah dipenuhi canda dan tawa bahagia pemiliknya.


“Besok kita belanja keperluan dedek bayi,” ujar Kaian.


“Aku ikut,” sorak Kama.


“Aku juga,” timpal Kalila.


“Iya, semuanya bakalan ikut,” kata Fatih.


“Ibu di ajak gak, Yah?” tanya Kama lagi.

__ADS_1


“Kalau mau nanti kita ajak Ibu, Opa, sama Omdit.”


“Yeeeaaaahhh.”


“Nanti aku mau pilih baju yang warna pink,” kata Kalila.


“Jangan pink semua dong, dek,” sela Kama.


“Nanti kita beli semua warna.” Kaina pun menengahi anak-anaknya itu sebelum terjadi perdebatan yang akan berujung pertengkaran.


“Kan Ayah udah bilang, Abang sama Kakak gak boleh sayang sama adik cewek atau adik cowok aja. Mau adiknya cewek-cowok harus sama-sama di sayang,” tutur Fatih.


“Iya, Ayah,” sahut si kembar.


“Ya udah, masuk kamar gih. Sudah malam kalian harus istirahat karena besok kita bakalan capek seharian keliling mall buat beli keperluan dedek bayi.”


Kama dan Kalila mengangguk setuju. Sebelum beranjak kedua anak itu memberikan kecupan sayang pada ayah dan bunda terakhir di perut Kaina. “Selamat malam dede,” bisik kama.


“Kakak sama Abang bobok dulu, ya. Kalian juga bobo di dalam sana,” tambah Kalila.


Kepergian si kembar, Fatih dan Kaina pun beranjak ke kamar mereka.


\=\=\=\=\=\=


Ditemani Dina, Kaina dan Fatih juga si kembar menuju salah satu mall terbesar di kota ini. Mereka memasuki toko perlengkapan bayi. Tiba di sana ibu hamil itu tampak kebingungan memilih baju yang tampak lucu dan menggemaskan.


“Duh, Mas, rasanya aku pengen beli semua deh,” ujar Kaina.


“Eh, jangan boros,” sela Dina. “Ayo, pilih apa aja yang perlu!”


Kaina mengikuti langkah kaki ibunya. Dua wanita itu mulai memeriksa daftar catatan keperluan baby twin, sedangkan Fatih menemani Kama dan Kalila berkeliling memilih mainan untuk adik mereka. Kemudian mereka pun bergabung bersama bunda dan sang nenek.


“Lucu, ya, Kai,” kata Fatih saat melihat baju kecil yang dipilih istrinya.


“Iya, kamu suka gak Mas?”


“Suka. Benar kata kamu, lucu, gemes jadi pengen beli semua.”


“Itu cuma nafsu aja, Mas, jangan di ikutin.”


“Apa lagi, Kai?” tanya Dina.


“Untuk pakaian sih kayaknya udah cukup deh, Bu.”


“Lihat-lihat aja dulu, Bun,” sela Fatih. “Siapa tau nanti ingat.”


“Oh, iya, Mas. Pompa asi sama bouncer belum masuk daftar.”


“Tuh, kan. Untung belum pulang. Yuk, cari dulu.”

__ADS_1


Kaina dan Fatih berkeliling toko demi mencari keperluan lain yang tak ada di daftar belanjaan. Ternyata masih banyak printilan yang dibutuhkan membuat ibu hamil itu merasa kewalahan.


“Capek, Mas,” kata Kaina.


“Ya, sudah, kita bayar dulu belanjaannya habis itu pulang. Besok lagi aja belajarnya dilanjutkan kalau ada yang kurang.”


Kaina mengangguk setuju. 


\=\=\=\=\=\=


Besoknya barang belanjaan Kaina kemarin dikirim ke rumah oleh pihak toko. Ibu hamil itu tampak senang karena sudah tak sabar ingin segera mengisi lemari kecil calon anak keduanya. Fatih membantu sang istri membawa barang-barang ke kamar baby twins.


“Mas, yang baju-baju di pisah dulu biar di cuci sama Bibik,” jelas Kaina.


“Kok di cuci sih, Kai? Kan masih baru.”


“Anak bayi kulitnya sensitif, Mas. Jadi biar gak iritasi makanya di cuci dulu.”


“Oh, aku baru tau.”


“Memangnya kamu beli baju baru gak dicuci?”


“Gak, langsung pake aja.”


“Untung kulit kamu gak sensitif.”


Fatih cuma tertawa.


“Ternyata masih ada juga yang kurang, Mas.”


“Apa aja, sayang?”


“Dot, botol susu, alat steril, pokoknya masih banyak lagi deh.”


“Ya udah, catat aja dulu. Besok kita belanja lagi.”


“Temenin, ya.”


“Memangnya kapan aku gak nemenin kamu? Aku selalu stay di samping kamu kan.”


“Hehehe, iya. Makasih, ya, Mas, kamu selalu siaga.”


“Aku mau menikmati momen kehamilan ini bareng-bareng, Kai. Aku pengen tau gimana seorang istri itu menjalani kehamilannya.”


“Bikin repot, ya,” kekeh Kaina.


“Gak kok, sayang. Aku senang karena momen seperti itu yang selalu aku impikan selama ini.”


Kaina merangkul suaminya. “Beruntungnya aku punya suami kamu, Mas.”

__ADS_1


“Aku juga beruntung punya istri kamu.”


Mereka berpelukan sambil melihat isi kamar si kembar yang sudah memenuhi ruangan luas itu.


__ADS_2