Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 62


__ADS_3

"Bunda,” seru Kama memeluk sang ibu.


“Kenapa, sayang?”


“Kasihan Kalila, dia gak bisa ikut pulang sama Abang.”


Deru nafas panjang keluar dari mulut ibu si kembar. “Sabar, ya sayang. Kita tunggu ayah selesaikan persidangan.”


“Tapi kapan?” rengek Kama.


Fatih menyudahi makannya lalu ikut membujuk sang anak sambung. “Minggu depan Ayah bakalan sidang hak asuhnya Kama. Kita doa sama-sama semoga hak asuhnya Kalila juga bisa langsung jatuh ke tangannya Bunda.”


Kama mengangguk. Semua orang berusaha membujuk anak itu agar bisa mengurangi kesedihannya.


Selesai makan, mereka semua berpisah di area parkiran. “Nanti malam aku masak makanan kesukaannya kamu, Mas. Jangan telat pulang,” kata Kaina.


“Iya. Kamu hati-hati di jalan.”


“Mas, juga. Kerjanya yang semangat.”


Fatih mendekat lalu berbisik di telinga istrinya, “Saya bakalan semangat kalau nanti malam dapat sesuatu yang spesial.”


Kaina membulatkan bola mata. Ia tak menyangka kalau Fatih menuntut sesuatu yang lebih dari biasanya. “Oke.”


Senyuman lebar bergaris di bibir si pengacara. “Saya tunggu.”


Semuanya masuk kedalam mobil masing-masing. Sebelum pulang Kaina mengantar sang ibu dan adiknya terlebih dahulu.


“Jadi istri yang nurut ya, Kai. Apa kata suami usahakan jangan di bantah. Fatih itu suami yang baik.”  Dina memberi nasehat selama di dalam mobil.


“Iya, Bu,” jawab Kaina.


...🦋🦋🦋🦋...


Di perjalanan menuju kantor, Zuri menggoda bos nya itu. “Cie, yang katanya temenan tapi minta sesuatu yang spesial.”


"Kamu nguping pembicaraan saya?" tanya Fatih.


"Gak kok," elak Zuri. "Cuma gak sengaja dengar aja."


“Dia kan istri saya, wajar dong suami minta sesuatu sama istrinya,” jawab Fatih.


Zuri mencibir. “Awas, loh, Pak, nanti jatuh cinta dan gak jadi cerai. Suratnya sudah ditandatangani loh. Tinggal goresan dari Bu Kaina aja.”


“Ini anak kecil ikut campur, ya. Mau kamu saya pecat?” ancam Fatih.


“Pecat aja, tapi nanti saya bakalan bilang sama Pak Fadhilah soal surat cerai itu.” Zuri balik mengancam.


Fatih menggeleng tak percaya. “Setelah saya cerai sama Kaina, kamu saya pecat.”


“Oh, ya? Kalau jadi cerai, ya, Pak. Kalau gak jangan.”


“Siapa kamu ngatur-ngatur saya.”


“Gini aja deh. Kita taruhan, yuk! Kalau Bapak jadi cerai sama Bu Kaina saya bakalan berhenti kerja, tapi kalau gak saya bakalan jadi sekretaris Bapak selamanya. Gimana?”

__ADS_1


“Oke, deal.” Fatih menjabat tangan sekretarisnya.


Zuri pun tersenyum lebar karena dia yakin kalau dirinya akan memenangkan pertaruhan ini. “Enak, ya, Pak, bisa FBW-an tanpa dosa. Malah halal lagi.”


“Apa itu FWB?”


“Bapak gak tau?”


“Saya pernah dengar, tapi lupa di mana.”


Zuri mengetik tiga huru itu di mesin pencarian kemudian menyerahkan ponselnya pada Fatih. “Nih, baca! Biar Bapak up date sedikit sama bahasa gaul anak-anak jaman sekarang.”


“Hahahaha.” Setelah membaca artikel itu Fatih pun tertawa lebar.


“Kenapa?”


“Sekarang saya baru ingat. Ternyata Kaina pernah bilang hal ini.”


“Serius?”


Fatih mengangguk.


“Dasar orang aneh. Bisa, ya, gitu mesra-mesraan tanpa perasaan.” Zuri menggeleng tak percaya.


“Bisa lah.”


“Saya doakan kalian berdua nanti habis cerai bakalan saling rindu.”


“Gak lah,” yakin Fatih.


“Jangan terlalu percaya diri, Pak. Yang punya hati memang manusia tapi yang punya kendali itu Allah.”


“Sejak kerja sama Bapak lah.”


Asik bercengkrama, mobil yang membawa mereka akhirnya sampai di depan kantor. Fatih dan sekretarisnya segera turun dan melangkah menuju ruang kerja.


...🐽🐽🐽🐽...


Dari menemani sang putra tidur, Kaina turun ke dapur untuk merebus obat herbal yang tadi sempat dibelinya di online shop. Setelah mendidih dituangkan kedalam gelas lalu dibawa menuju ruang kerja sang suami.


“Mas.”


“Ya, Kai,” sahut Fatih.


“Nih, diminum.” Menyerahkan gelas yang ada di tangan.


“Apa ini?”


“Itu obat herbal yang dulu pernah saya janjikan. Siapa tau bisa bikin kamu subur lagi.”


Fatih mengangkat satu alisnya. “Kamu mau saya bikin hamil?”


“Maksudnya?”


“Kalau saya minum sekarang dan obatnya manjur gimana?”

__ADS_1


“Eh, iya, juga. Ya, udah gak usah di minum, buang aja. Nanti aja minumnya kalau kita sudah pisah.”


Fatih tersenyum. “Udah gak papa. Yang ini saya minum karena sudah kamu bikin. Tapi besok di simpan dulu obatnya.”


Kaina memperlihatkan jejeran giginya yang rapi.


“Makasih niat baiknya.”


“Cuma ini yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan, Mas.”


“Oke. Tapi kamu gak lupa permintaan saya tadi kan?” 


“Gak. Kalau gitu saya ke kamar dulu mau siap-siap.”


“Setengah jam lagi saya nyusul.”


Kaina mengangguk lalu beranjak dari sana menuju kamar. Untuk pertama kalinya dia memakai pakaian seksi demi memuaskan keinginan sang suami. Dia hanya menjalankan nasehat sang ibu, menjadi istri penurut dan baik. Hanya itu. Bukan untuk menggoda Fatih agar jatuh kedalam jurang hatinya. Toh dia juga tak ingin salah satu di antara mereka ada yang sampai menyimpan rasa. 


“Totalitas sekali,” kata Fatih yang baru saja tiba.


“Saya hanya memenuhi permintaan kamu, Mas.”


Fatih menjelajahi tubuh molek istrinya dengan mata. “Sekarang saya mengerti apa yang pernah kamu bicarakan dulu tentang hubungan kita.”


“Tau dari mana?” Kaina yang berdiri di depan sang suami mencoba menikmati setiap sentuhan tangan Fatih.


“Dari google.”


“Lebih enak seperti ini kan, Mas?! Gak ada masalah yang akan menyakitkan hati kita, gak ada hal yang akan bikin kita kecewa.”


“Setuju. Tetap jaga hati masing-masing agar tak masuk kelembah cinta sampai perpisahan tiba.”


Kaina mengangguk. Malam ini wanita itu memenuhi tugasnya sebagai seorang istri. Memanjakan sang suami dan memuaskan keinginan laki-laki itu. Di sela-sela hembusan nafas keduanya saling tertawa menikmati kesenangan yang mereka ciptakan. Tanpa terasa malam pun mulai beranjak pagi.


...🐥🐥🐥🐥...


Hugo sudah menjalani perjanjiannya dengan Fatih. Pria berambut gondrong itu tampak sudah memangkas mahkotanya. Tampilannya jadi sedikit lebih rapi dari biasa. Hari-harinya kini dihabiskan menemani sang ayah bekerja di kantor atau bertemu dengan klien. 


Dunianya yang biasa dijalani sudah ditinggalkan demi diri sendiri agar tak mendekam di jeruji besi. Setiap pagi dirinya akan bagun dan bersiap untuk menjadi supir pribadi Kama dan Kaina ke sekolahan. Siangnya sibuk di kantor menjalankan tugas yang diberikan oleh asisten ayahnya.


Benar-benar menyita waktu dan pikiran, tapi mau bilang apa? Protes tak bisa karena sang ibu pun sudah mewanti-wanti kalau dirinya sampai bikin ulah beliau tak mau menolong lagi.


“Di makan sarapannya,” kata Kaina.


“Makasih, Kai,” balas Hugo.


Kaina cuma tersenyum simpul.


“Kai,” panggil Fatih dari lantai atas.


Kaina mengangkat kepalanya untuk melihat sang suami begitu pula dengan Hugo yang sudah duduk di meja makan.


“Pasangin dasinya dong.”


“Bentar, Mas, saya bantu Kama dulu,” jawab Kaina.

__ADS_1


Fatih pun memilih turun kebawah.


“Habisin sarapannya, ya. Bunda bantu ayah sebentar,” ujar Kaina pada anaknya.


__ADS_2