Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 85


__ADS_3

Di perjalanan, Fatih menghubungi seseorang yang bisa di percayanya. “Cari keberadaan istri saya dan kabarkan secepatnya!” perintahnya.


“Siap, Pak,” jawab orang itu di balik telpon


Kemudian dihubungi sang bapak.


“Pak, saya mau bicara. Kita ketemu di rumah.”


Mendengar dari nada bicara putranya, Fadilah tak bertanya, dia langsung mematikan telepon dan berangkat menuju kediaman.


Fatih mencoba menghubungi nomor Kaina. Seperti yang dikatakan Dina, nomor itu tak bisa dihubungi. Dirinya semakin dilanda rasa khawatir di tambah setelah Adit mengabarkan kalau dia tak menemukan kakaknya di pengadilan semakin membuatnya resah.


“Di mana kamu, Kai?” gumam Fatih.


Tiba di rumahnya dia langsung masuk dan bicara dengan sang ayah. “Kaina hilang, Pak,” katanya langsung.


“Hilang?” Fadilah mengerutkan dahi.


“Kata Bu Dina tadi pagi dia sudah berangkat ke pengadilan tapi saya gak bertemu dengannya disana. Sekarang sudah hampir sore dan dia gak pulang. Adit juga sudah mencarinya dan gak ketemu.”


Fadilah diam sejenak. “Kaina berangkat sama siapa? Apa bareng Hugo. Bukannya kakakmu itu tadi mau mengantar si kembar ke sekolah.”


Fatih berdecak karena dirinya tak kepikiran sampai sana. “Saya hubungi Adit dulu.”


Fadilah juga tampak sibuk memerintahkan asisten pribadinya untuk menurunkan beberapa anak buah dalam menemukan menantu kesayangan. “Cari juga di semua rumah sakit. Siapa tau Kaina mengalami kecelakaan. Tapi semoga dia tetap baik-baik saja.”


“Baik, Pak,” jawab asistennya.


“Gimana, Tih?”


“Gak diangkat sama Adit, Pak. Mungkin dia masih di jalan cari Kaina.”


“Sebaiknya kamu kembali ke rumah Kaina.”


Di anggukkan kepala dan Fatih langsung kembali menuju kediaman mertuanya.


...🐛🐛🐛🐛...


“Kemana ini, Go?’ tanya Kaina.

__ADS_1


“Sebelum ketemu Fatih kita singgah di apartemen saya dulu, ya. Mau ambil barang,” jawab Hugo.


“Kenapa gak nanti aja kamu balik lagi. Saya buru-buru sidangnya bentar lagi mulai.”


“Saya tau, cuma sebentar kok, gak lama.”


Kaina terpaksa ikut akhirnya. Tiba di basement gedung bertingkat, Hugo mengajaknya untuk turun dan ikut bersamanya. “Saya tunggu di sini saja.”


“Ayolah, bantu saya bawa barang-barangnya biar saya gak bolak-balik ambilnya nanti.”


Kaina membuang nafas kasar. Mau tak mau dia akhirnya turun juga. Naik lift menuju lantai dimana kediaman pria itu berada. “Mana barangnya?” Ia bertanya saat mereka tiba sana.


“Tunggu di sini. Saya ambil dulu.” Hugo masuk ke kamarnya.


Hampir setengah jam menunggu Kaina mulai merasa resah. Persidangan pasti sudah dimulai dan dirinya sudah terlambat. “Go, kamu ngapain sih? Kalau masih lama saya turun duluan,” soraknya.


Hugo pun keluar. “Saya punya sesuatu buat kamu.”


Kaina mengerutkan dahi.


Dibukanya daun pintu kamar agar lebih lebar hingga tampaklah sebuah gambar hati dengan taburan bunga di atas lantai. “Saya ngajak kamu kesini ingin mengatakan kalau saya cinta sama kamu, Kaina.”


Ibu si kembar menggeleng tak percaya.


“Kamu sadar gak sih kalau saya ini masih istrinya Mas Fatih, adik kamu sendiri?” 


“Saya tau itu dan sebelum kamu memberikan putusan di persidangan perceraian kalian saya ingin mengutarakan isi hati ini agar kamu bisa mempertimbangkan cinta saya.”


Kaina tertawa sarkastik. “Saya pikir selama ini kamu datang untuk menjemput atau mengantar anak-anak sekolah itu memang tulus. Ternyata hanya karena ingin mendekati saya, begitukan?!”


“Saya pun sedang berusaha untuk mendekatkan diri dengan mereka.”


“Maaf, Hugo, saya gak bisa membalas perasaan kamu itu.”


“Kenapa?” 


“Karena saya mencintai suami saya.”


“Tapi kalian akan bercerai.”

__ADS_1


“Tidak kalau saya datang dan membatalkan perceraian kami.” Kaina melangkan menuju pintu hendak keluar. Namun, saat dibukanya pintu itu terkunci rapat.


“Maafkan saya, Kai,” ujar Hugo.


“Buka gak pintunya,”tekan Kaina.


“Saya harus menahan kamu disini sampai sidang perceraian kalian selesai.”


Di hampiri ayah biologis putranya dan Kaina melayangkan sebuah tamparan di pipi Hugo. “Saya pikir kamu benar-benar sudah berubah ternyata masih sama. Sekali bajingan tetap bajingan,” marahnya.


“Terserah kamu mau bilang apa tapi saya benar tulus cinta sama kamu dan saya ingin bisa hidup bersama kamu dan Kama, Kai.”


“Mimpi!” sembur Kaina. “Silahkan kamu bermimpi tapi tidak di dunia nyata ini karena sampai kapanpun saya hanya mencintai Mas Fatih.”


“Saya tahu saya sudah banyak berbuat salah sama kamu, tapi please beri saya kesempatan,” mohon Hugo.


Kaina mencari ponselnya di dalam tas. Ternyata dia baru ingat kalau semalam alat komunikasinya itu jatuh di kamar mandi dan tak bisa menyala.


“Kai, tolong jawab saya,” desak Hugo.


“Maaf, Hugo. Kamu bisa menemukan wanita yang jauh lebih baik dari pada saya di luar sana. Sekalipun saya dan Mas Fatih bercerai saya tidak akan pernah menikah degan kamu.”


“Segitu bencinya kamu pada saya, Kai?”


Kaina memutar bola matanya. “Iya, karena sikap kamu yang seperti ini membuat saya muak,” marahnya. “Cobalah untuk menjadi laki-laki sejati yang berjuang untuk mendapatkan kebahagiaannya. Bukan menjadi laki-laki cemen menggunakan cara rendahan untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan.”


Hugo tertunduk lesu. 


Kaina melirik jam di tangan membuatnya terduduk lemas di atas sofa karena persidangan pasti sudah selesai. Kini dia resmi menyandang status janda. Ibu tunggal itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan lalu menangis. 


“Ya allah, kenapa sulit sekali rasanya untuk bisa menggapai kehidupan yang bahagia,” isaknya.


Kali ini Hugo merasakan hatinya tersayat sembilu ketika mendengar wanita yang di cintainya meneteskan lara. Mungkin dulu dia bisa bersikap acuh tak acuh dan tak peduli, tapi sekarang sungguh tak sanggup rasanya membiarkan Kaina meratap. “Pergilah, Kai.” Pintu apartemennya di buka lebar. “Maaf kalau saya sudah menghancurkan harapan kamu untuk bisa bersama Fatih, tapi ini masih belum terlambat.”


Kaina menegakkan kepalanya.


“Kejarlah cinta kamu. Saya akan ikut bahagia melihat kamu bahagia.” Meski hatinya terasa sakit melepaskan cinta pertama, tapi Hugo mampu tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya dalam hidup dia membuat sebuah keputusan yang benar.


Ibu si kembar lekas berdiri sambil menyeka pipinya yang basah. “Terima kasih,” katanya sebelum pergi.

__ADS_1


Hugo hanya mengangguk. 


'Aku hanya ingin membayar air mata duka yang pernah kamu teteskan karenaku. Namun, jika memang aku tak memiliki kesempatan itu semoga orang yang kamu cintai bisa memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya.'


__ADS_2