
"Iya, aku egois karena aku gak mau kehilangan mereka,” balas Kaina tak mau kalah.
Merasa jadi pusat perhatian orang di sana, mereka terdiam.
“Sebaiknya kita cari tempat lain untuk bicara,” ajak Hugo.
“Bicara apa lagi? Soal kalian yang butuh waktu untuk mendonorkan ginjal?” ketus Kaina.
Mungkin karena atmosfer disana sudah sangat panas membuat Hugo juga ikut terpancing emosi. “Dengar, ini semua terlalu cepat buat kami. Kamu datang dengan tiba-tiba lalu memaksa. Di sini jelas kami butuh waktu atas semua ini. Butuh waktu menerima kehadiran mereka dan butuh waktu memikirkan soal mendonorkan ginjal karena sebelumnya kami tak tau apa-apa soal mereka. Kamu yang salah! Kenapa dulu gak datang dari awal? Mau kami bertanggung jawab atau tidak, setidaknya kamu sudah mengatakan pada kami kalau kamu tengah mengandung.”
“Ini juga gak adil buat kami. Kamu seakan-akan gak butuh kami dari awal lalu sekarang ketika keadaan tak lagi bisa kamu kuasai, kamu datang dan memaksa. Mana? Katanya mau memohon jika aku ayah kandung mereka. Sekarang apa? Kamu malah meminta dengan tampang angkuh bahkan setelah mendapatkan ginjal dari kami kamu dengan gampangnya mendepak kami agar jauh dari mereka,” tambah Candra.
Apa yang keluar dari mulut kedua pria itu semuanya benar. Membuat Kaina tersudut. Ia terdiam memikirkan rangkaian kata sebagai balasan. Harga dirinya yang tinggi tak bisa menerima kekalahan begitu saja. “Ya, aku memang salah sudah menutupi mereka dari kalian berdua, aku juga salah datang tiba-tiba lalu memaksa kalian untuk segera memberikan ginjal. Tapi asal kalian tau, di sini yang paling membutuhkan ginjal itu adalah mereka bukan aku. Aku melakukan ini semua karena naluri seorang Ibu yang tak ingin kehilangan anak-anaknya. Kalau ginjalku bisa diberikan pada mereka aku gak akan menemui kalian berdua.” Telunjuknya diluruskan tepat di depan wajah Candra dan Hugo.
...----------------...
...----------------...
“Astaga kenapa kalian malah bertengkar di sini?” Dina datang tiba-tiba membawa raut wajah cemas.
“Ada apa, Bu?” tanya Kaina.
“Panggil Dokter Tina cepat, Kama dan Kalila kesakitan.”
Kaina segera kembali menemui Dokter Tina di ruangannya. “Kama sama Kalila, Dok.” Ia mulai terisak. Jika sudah menyangkut si kembar maka Kaina akan menjadi lemah.
“Mereka kenapa?” Dokter Tina jadi khawatir.
“Gak tau, kata Ibu mereka kesakitan.”
Langkah seribu mereka ambil menuju ruang tempat melakukan cuci darah. Tiba disana Kama tampak meraung kesakitan memegangi kepalanya. Sedangkan Kalila mengeluarkan cairan muntah yang tampak kuning dan kehijauan.
“Baringkan mereka di atas ranjang” seru Dokter Tina.
“Bunda, sakit ,Bunda.” Tangisan anaknya bagaikan mata pisau yang menyayat hati bagi Kaina.
“Bunda, aku gak kuat,” tambah Kalila. Semakin lemah setiap persendiannya untuk menopang tubuh agar bisa berdiri.
__ADS_1
“Dok, tolong anak-anak saya, Dok,” mohon Kaina.
“Kai, kamu sebaiknya tunggu diluar. Saya akan memeriksa mereka,”kata Dokter Tina.
Candra dan Hugo sejak tadi hanya mengikuti dan mengamati. Bagaikan orang bodoh yang tak tau apa-apa mereka masih kebingungan dengan apa yang tengah terjadi pada darah dagingnya.
“Bagaimana ini, Bu?” Kaina terus menangis di depan pintu ruangan itu. Sesekali matanya mencuri tatap ke dalam sana lewat celah kaca.
“Berdoa, Kai, semoga mereka bisa bertahan,” jawab Dina.
“Kalau mereka sampai kenapa-kenapa artinya aku gagal merawat mereka, Bu.”
“Kamu gak pernah gagal, Kai. Kamu Ibu yang paling hebat, bisa mengurus dan menjaga mereka seorang diri.” Dina berusaha meyakinkan sang anak.
Lama menunggu, akhirnya Dokter Tina pun keluar.
“Bagaimana, Dok?” tanya Kaina.
“Maaf, Kai, sepertinya si kembar sudah tak bisa lagi melakukan proses cuci darah. Secepatnya mereka harus melakukan transplantasi ginjal,” jelas Dokter.
Kaki yang tadi sudah terasa lemas kini benar-benar tak bisa lagi tegak sempurna. Membuat Kaina menjatuhkan diri di atas lantai keramik Rumah Sakit. Dia merasa putus asa. Disatukan kedua telapak tangan di depan dada lalu ia menatap penuh harap pada Hugo dan Candra dengan linangan air mata di pipi. “Aku mohon tolong selamatkan nyawa anakku, tolong mereka, selamatkan mereka. Hanya kalian satu-satunya harapanku untuk kesembuhan mereka.” Bahkan kini ia sampai bersujud.
“Kai, apa yang kamu lakukan?” Dini meraih sang anak agar berdiri kembali.
“Bangun, Kai, tak seharusnya kamu begini,” kata Candra.
Kaina berusaha menjangkau wajah mantannya itu dengan mengangkat kepala. “Lalu aku harus apa agar kalian mau mendonorkan ginjal?”
“Setelah operasi selesai, hak asuh Kama akan jatuh ke tanganku,” jawab Hugo.
Membuat Kaina, Dina, dan Candra menatap kaget ke arahnya.
“Maksud kamu apa?” tanya Candra.
“Selama ini kan dia menyembunyikan anak-anak itu dari kita jadi, sekarang waktunya kita ambil mereka.”
Dengan penuh air mata Kaina menggosok kedua telapak tangannya lalu menengadah menatap Hugo. “Aku mohon jangan pisahkan aku dari mereka. Mereka hidupku, nyawaku, mereka kekuatanku. Aku tak sanggup berpisah dari mereka.”
“Terserah! Kalau kamu gak mau maka jangan harap saya mau mendonorkan ginjal.” Tak sedikitpun hati Hugo tersentuh melihat Kaina yang bersimpuh dan memohon dengan iba padanya. Setelah berkata, diangkatnya kaki untuk pergi dari sana.
__ADS_1
Tertatih-tatih Kaina mengejar Hugo lalu memeluk satu kaki pria itu. Sampai membuat dirinya ikut terseret di atas lantai. Sebagai seorang ibu yang tak mau anaknya terus menderita karena menahan rasa sakit, ia pun akhirnya mengalah jua. “Baik, aku akan lakukan apapun yang kamu mau asalkan Kama bisa mendapatkan donor ginjal.”
Senyum kemenangan terbit di bibir Hugo. “Baiklah, kamu harus menandatangani surat perjanjian besok.”
Terisak-isak Kaina mencoba untuk menganggukan kepala meski sebenarnya ia tak rela jika harus berpisah dengan sang putra. Tak ada pilihan lain, kesembuhan anaknya lebih utama dibandingkan perasaannya sendiri. Ia sudah pasrah pada keadaan yang membuatnya tersudut dan tak dapat memilih jalan lain. Dilepaskannya kaki Hugo dengan tatapan nanar. Kepergian pria itu tak lantas membuatnya kembali berdiri. Ia masih saja duduk di lantai dingin itu dengan derai air mata yang semakin banjir berjatuhan.
“Ya Allah, kenapa sekarang jadi begini?” tangis Kaina.
Candra yang ada di sana merasa iba lalu mendekatinya dan berjongkok. “Kai, sudah. Sebaiknya kamu sekarang tenangkan diri dulu.”
“Can, apa kamu juga akan melakukan hal yang sama seperti Hugo? Aku mohon, Can, jangan pisahkan aku dengan putriku. Kalau kamu sampai melakukan itu juga, mungkin aku bisa mati, Can,” pintanya memohon dengan tersedu-sedu.
Candra menggeleng. “Aku gak akan memisahkan kamu dengan Kalila. Gak usah khawatir aku akan mendonorkan ginjal buat Kalila tanpa persyaratan.”
“Terima kasih, Can, terima kasih banyak. Kaina menundukkan kepalanya berkali-kali.
“Ayo, aku bantu berdiri!”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Bagaimana takdir membolak balikkan cinta, atau sebenarnya cintakah yang telah membolak-balikkan takdir?
...
...Sebuah buku note berisi puisi mempertemukan Abra, (Abraham Natawijaya 24 tahun) seorang CEO muda pada seorang gadis bertopeng yang misterius di sebuah pesta topeng yang dihadirinya. Gadis itu mampu memikat hatinya karena mampu tampil beda dengan berjilbab hingga ia mencari tahu siapa gadis itu sebenarnya.
...
...Shasa (Shanum Andina Prawira 19 tahun) gadis yatim piatu yang diduga sebagai gadis bertopeng itu terpaksa menyangkal, karena permintaan sepupunya Rika, yang iri padanya. Ia dipaksa pacaran dengan pria yang sedang dekat dengan sepupunya itu(Bima) hingga memupus harapan Abra untuk mendekatinya.
...
...Namun begitu, dunia kerja mendekatkan mereka walaupun kemudian keberadaan Kevin, kakak tiri Abra yang juga menyukai Shasa memperkeruh hubungan mereka.
...
...Lalu dapatkan Abra mendapatkan cinta Shasa seutuhnya? Kawal terus perjuangan Abra untuk mendapatkan pujaan hati....
^^^Penasaran sama kelanjutannya?^^^
__ADS_1
Silahkan langsung ke novel aslinya dan jangan lupa tinggalkan jejak di sana 😊