Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 78


__ADS_3

Tiba di rumah Dina, Fatih yang turun dari mobilnya langsung disambut oleh Kama dan Kalila. “Udah siapa aja. Ayah pikir kalian masih main.”


“Kita udah dari tadi nungguin Ayah,” jelas Kama.


“Bunda juga udah siap-siap dari tadi,” tambah Kalila.


Mereka kembali berjalan masuk rumah. 


“Emangnya bunda ikut?”


Kama dan Kalila sama-sama mengangguk. 


Tak lupa pertama kali tiba di ruang tamu, Fatih menyalami mertuanya. 


“Ibu pikir kamu pulangnya sore,” ujar Dina.


“Biasanya iya, Bu. Tapi karena tadi sudah janji sama anak-anak, saya pulang lebih awal.”


“Ya, sudah sana berangkat! Nunggu apa lagi? Mereka sudah dari tadi nungguin kamu.”


Fatih mengangguk. “Kalau begitu kami jalan dulu, Bu. Besok saya antar lagi Kaina dan si kembar.”


“Jangan buru-buru, libur kan ada dua hari. Jadi, biarkan Kama dan Kalila main sepuasnya di sana.”


Tak lupa Fatih kembali bersalaman dengan Dina diikuti Kaina yang juga hendak pamit pada sang ibu. Keluar dari rumah, putra kedua Fadillah itu mengambil alih tas yang ditenteng istrinya untuk diletakkan dalam bagasi


“Dada ibu,” kata si kembar.


Dina melambaikan tangan pada cucunya yang sudah duduk di dalam mobil. Di balas oleh Kama dan Kalila juga Kaina. Sebelum keluar dari halaman rumah, Fatih membunyikan klakson mobilnya.


“Katanya tadi gak ikut,” tanya Fatih.


“Di paksa anak-anak. Apa lagi Kalila, katanya dia malu nanti kalau mandi gak sama saya,” jelas Kaina yang duduk di samping suaminya.


Fatih membulatkan mulut. “Gimana perkembangan supermarket kamu?”


“Lumayanlah. Apa lagi sejak kerja sama Candra, saya udah gak pakai uang dari sana untuk kebutuhan sehari-hari. Jadi, uangnya bisa ditabung buat buka cabang lagi.”


“Bagus dong. Artinya, sekarang kamu sibuk, ya?”


“Bisa dibilang begitu. Kamu sendiri gimana, Mas?”


“Hah, saya?” Fatih menunjuk dirinya sendiri. “Ya, sibuk juga di kantor, bahkan sampai pulang malam.”


“Oh, ya?”


“Iya, jadi sampai dirumah langsung istirahat. Gak ada waktu buat mikirin hal lain.”


Kaina hanya mengangguk sambil menikmati jalanan dari balik kaca mobil. Obrolan mereka pun berakhir sampai di sana dan setelahnya hanya sunyi yang menemani perjalanan hingga tiba di tujuan.


...🍡🍡🍡🍡...


Fadilah yang sudah tahu kalau cucunya akan datang ke rumah sore ini sudah menunggu di depan teras. Hingga mobil Fatih masuk halaman, pria tua itu langsung berdiri dari kursi. Kama dan Kalila yang gegas turun buru-buru menghampiri sang kakeh.


“Opa,” seru mereka.


“Cucu Opa akhirnya main juga kesini.” Fadilah merasa sangat senang.


“Kita udah lama pengen kesini, tapi bundanya gak bisa mulu,” jelas Kalila.

__ADS_1


“Kenapa gak telpon opa atau ayah aja?”


“Kata bunda, opa sama ayah lagi sibuk,” jawab Kama.


Kaina menampilkan jejeran gigi putihnya tak lupa menyalami tangan ayah mertua. “Maaf, Pak, bukan maksud saya buat bohongin mereka, cuma takut ganggu Bapak aja.”


“Kamu mau mereka melupakan saya?”


“Bukan gitu, Pak.” Ibu tunggal itu jadi merasa tak enak.


“Lain kali kalau mereka mau kesini kamu bisa minta Hugo buat jemput. Gak perlu cari-cari alasan.”


“Iya, Pak.”


Fadilah kembali menatap cucunya. “Ayo, kita masuk. Opa tadi sempat beli mainan buat kalian.”


“Beneran opa?” Kama tak percaya.


“Benar.”


“Mainan masak-masakkan, Opa?” tanya Kalila.


“Ada.” Fadilah membimbing kedua anak itu menuju ruang tengah.


Kaina hendak mengambil barangnya di tangan suami, tapi Fatih mencegah. Mereka pun melangkah bersama masuk rumah. 


“Tasnya saya taruh di kamar anak-anak, ya,” kata Fatih.


“Iya, Mas, makasih.” Kaina pun memilih bergabung bersama si kembar dan Fadilah.


“Hugo mana, Pak?”


“Ah, iya, saya sampai lupa bawa Kama main-main kesana.”


“Bapak paham. Kamu pasti sibuk bekerja dan urus supermarket. Adit sering cerita soalnya.”


“Begitulah, Pak. Saya lagi berjuanh buat kembalikan usaha yang dirintis bapak saya biar bisa bangkit lagi.


“Bagus itu, Bapak salut sama kamu. Kalau butuh apa-apa jangan sungkan bilang sama Bapak.”


“Insyaallah.”


Tak lama, Fatih pun ikut bergabung disana.


“Kalau gitu saya bantu-bantu bibik masak makan malam, ya, Pak,” izin Kaina.


“Kamu gak perlu capek-capek di sini.”


“Gak papa, Pak.” Ibu tunggal itu beranjak menuju dapur.


...🧁🧁🧁🧁...


Suci yang tiba di kediaman Fadilah, langsung menghampiri sang cucu. Setelah melepas rindu wanita itu pun menuju dapur untuk menemui calon menantu idaman. Apa lagi sejak tahu kalau Kaina dan Fatih akan akan bercerai, dirinya semakin berharap sang putra bisa berjodoh dengan ibunya Kama.


“Lagi masak apa,Kai?” sapa Suci.


“Bu,” Kaina menghampiri nenek dari putranya. “Baru sampai?” Di ajaknya wanita itu untuk duduk di kursi meja makan.


“Gak juga. Udah dari tadi cuma main sama Kama dulu. Kenapa repot-repot ikut masak sih?”

__ADS_1


“Gak papa, Bu. Cuma bantu-bantu Bi Ula, gak repot kok,” jelas Kaina.


Suci terseyum senang. “Eh, ibu mau bilang terima kasih sama kamu.”


“Soal apa, ya, Bu.”


“Soal Hugo.”


Dahi Kaina mengeryit.


“Sejak sering ketemu sama kamu, dia ibu lihat mulai berubah loh. Malahan perubahannya itu cukup besar.”


“Ah, mungkin dinasehati bapak kali, Bu,” sanggah Kaina.


“Gak. Ibu yakin ini pasti berkat kamu juga. Bahkan dia juga sering ceritain soal kebaikan kamu yang suka ngasih dia nasehat,” tutur Suci. “Katanya belakangan ini dia hampir setiap hari sarapan di rumah kamu, ya?!”


“Iya, dia suka datang kepagian buat jemput anak-anak ke sekolah. Makanya saya ajak sarapan dulu.”


“Makasi, ya, udah perhatian sama anak Ibu.”


“Hahaha, itu hanya hal biasa saja kok, Bu. Gak perlu berterima kasih segala.”


Suci menggenggam sebentar tangan Kaina. “Kapan putusan cerai kamu sama Fatih keluar?”


“Seminggu lagi, Bu. Kenapa memangnya?”


“Gak, ibu cuma tanya aja. Siapa tahu setelah itu anak ibu punya kesempatan.”


“Maksudnya?”


“Hahaha, Ibu cuma bercanda,” kilah Suci. “Ibu kedepan lagi, ya.”


Kaina mengangguk dengan raut wajah bingung memikirkan perkataan Suci barusan.


...🥗🥗🥗🥗...


Selesai makan malam, semuanya beralih ke ruang tengah kecuali Kaina yang masih membatu ART di rumah itu membereskan piring kotor. Setelahnya dia mulai membuka laptop untuk mengerjakan laporan keuangan showroomnya Candra. 


“Kok di sini, Kai?” sapa Hugo. “Gak ikut gabung sama anak-anak?”


“Lagi bikin laporan,” jawab Kaina.


Hugo yang hendak mengambil minuman dingin di kulkas malah ikut duduk di sana. “Gak bisa di kerjain besok?”


“Gak bisa, soalnya Candra butuh secepatnya.”


“Mau dibantuin, gak?”


Kening Kaina mengerut. “Emang bisa?”


“Bisa lah. Aku di kantor kan kerjaannya juga bikin laporan.”


“Gak deh, kamu balik aja sana.”


 Hugo menyandarkan punggung di kursi. “Kama asik amin sama Fatih, aku di cuekin.”


“Hukuman buat kamu.” Kaina berkata dengan mata yang tak beranjak dari layar laptopnya.


“Iya, aku tahu. Aku akui sekarang sudah terlambat untuk mendekatkan diri sama Kama karena Fatih berhasil mengisi hatinya.”

__ADS_1


__ADS_2