Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 53


__ADS_3

Kama dan Kalila di tempatkan di ruang rawat khusu anak-anak. Tiba di sana mereka tampak mulai membaik bahkan kini mengeluh kalau perutnya kelaparan.


“Kita juga belum pada makan,” ucap Kaina.


“Kita pesan aja,” kata sang suami.


“Terus Bapak gimana?”


“Pesan aja,” jawab Fadilah.


“Bapak gak pulang?”


“Nanti saja. Kalau Bapak capek pasti pulang , sekarang mau lihat cucu dulu.”


Sambil duduk di samping Kama, Fatih memesan makanan untuk mereka semua di aplikasi ponselnya.


“Besok permainannya di halaman Opa bongkar aja deh,” kata Fadilah.


“Kok gitu?” tanya Kalila yang sedang di peluk ibunya.


“Habisnya kalian kalau main gak tau waktu, gak mau di ajak istirahat. Sekarang jadi sakit, Opa sedih,” tutur Fadilah.


“Tapikan seru, Opa. Jarang-jarang kita bisa main sepuasnya,” timpal Kama.


“Iya, kalau di rumah Ayah Candra mana ada main kayak gitu. Palingan cuma menggambar sama mewarnai aja di depan TV,” tambah Kalila.


“Sama. Aku juga. Papa Hugo mana mau di ajak main kayak Ayah Fatih.”


Kaina tak berkomentar. Dia memilih mendengarkan keluh kesah anak-anaknya itu selama tinggal di rumah ayah biologis mereka. Dia sendiri sebenarnya sudah tak sabar untuk segera mendapatkan hak asuh putra dan putrinya. Namun, ada rasa sungkan untuk mendesak Fatih karena pasti suaminya itu punya banyak klien dan tanggung jawab yang harus diselesaikan.


“Kalian yang sabar, Ayah janji bakal berjuang biar kalian bisa tinggal sama bunda lagi,” lontar Fatih.


“Sama Ayah juga,” manja Kama.


Diberikan sebuah senyuman simpul karena Fatih tak tahu harus menjawab apa.


“Kai, maafin Bapak, ya, sudah bikin mereka sakit begini. Ngajak mereka main tanpa batas waktu, sungguh Bapak lupa soal kesehatan mereka.” Fadilah yang duduk di tengah-tengah antara ranjang Kama dan Kalila berkata dengan raut wajah sedih.


Kaina tertawa kecil. “Apa sih, Pak, gak perlu ngomong begitu. Bapak kan dengar tadi dokter bilang mereka cuma demam biasa. Lagian Bapak bisa lihat sendiri sekarang, walau sakit mereka masih kelihatan happy. Artinya mereka senang bisa main sama Bapak dan Mas Fatih.”


“Betul,” sahut Kama dan Kalila.


“Apanya yang betul?” Merasa gemas Fatih mencubit pipi putra sambungnya. “Mulai besok jadwal mainnya harus diatur.”

__ADS_1


“Tapi jalan-jalan tiap sabtu boleh, ya, Yah?”


“Nanti kita bicarakan lagi setelah kalian sembuh.”


“Terus ini kita harus kasih kabar Hugo sama Candra gak?” tanya Kaina. “Besok seharusnya mereka sudah pulang ke tempat ayahnya lagi.”


“Kalau mereka masih sakit, sebaiknya di rumah saja dulu, Kai,” saran Fadilah.


“Kalau ayahnya gak setuju gimana, Pak?”


“Nanti Bapak akan bicara sama mereka. Kesembuhan Kama dan Kalila akan lebih terjamin kalau ibunya yang rawat.”


Kaina setuju. “Mudah-mudahan besok mereka boleh pulang. Kalaupun dirawat semoga bisa di rumah saja.”


“Aamiin.”


...🍆🍆🍆🍆...


Walau Kama dan Kalila hanya mengalami demam biasa, Dokter Tina tetap melakukan pemeriksaan menyeluruh. Dia tak mau jika nanti ada sedikit saja hal yang terlewatkan dan akhirnya dapat berakibat fatal. Jadilah pagi ini si kembar menjalani serangkaian tindakan untuk mendapatkan hasil yang maksimal terkait kondisi kesehatan mereka.


Fatih dengan setia mendampingi istri dan anak sambungnya itu di Rumah Sakit, sedangkan sang ayah sudah pulang semalam setelah mereka makan bersama. “Habis ini kamu pulang saja, Kai. Biar saya yang jaga anak-anak.”


“Kamu juga pulang, Mas. Nanti ada ibu yang bakalan jaga mereka,” jelas Kaina.


“Saya aja yang balik, Mas. Kamu istirahat saja dirumah.”


Fatih pun setuju. Setelah si kembar selesai diperiksa dan Dina tiba di sana, ia dan sang istri gegas pulang untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Tiba di rumah hal pertama yang dikerjakan Kaina yaitu menyiapkan baju ganti untuk suaminya kemudian barulah dia mengambil beberapa baju salin untuk anak-anaknya nanti di RS.


Turun ke bawah menemui ART dia meminta untuk di masakan makanan yang akan dibawanya nanti sebagai bekal. Sebelum Fatih selesai mandi, dia menghangatkan makanan yang sempat di masa bibik tadi pagi dan dihidangkan di atas meja makan.


“Mas, makanannya sudah saya siapkan di bawah,” jelasnya pada suami yang tampak segar.


“Makasih, Kai. Kamu sudah makan?” Fatih bertanya sambil mengeringkan rambutnya.


“Nanti aja, Mas. Saya mau mandi dulu.”


“Kamu langsung balik, gak istirahat?”


“Saya harus buru-buru, Mas, takutnya nanti Dokter Tin anyariin mau jelasin hasil tes kesehatannya Kama sama Kalila.” Kaina sedang memilih beberapa baju untuk dibawanya ke RS.


“Saya antar.”


“Gak usah. Kamu istirahat saja, Mas. Saya bisa kok sendiri, nanti kalau saya butuh bantuan baru saya hubungi.”

__ADS_1


“Oke. Kalau begitu saya ke bawah.”


“Iya.”


Kepergian Fatih dari kamar, Kaina masuk ke bilik air untuk membersihkan badan.


...🍉🍉🍉🍉...


“Jadi, bagaimana, Dok?” tanya Kaina. Setibanya di RS dia langsung diminta untuk menemui Dokter.


“Secara garis besar tak ada yang perlu dikhawatirkan, tapi Kama dan Kalila mengalami sedikit dehidrasi. Biar nanti tak mempengaruhi ginjalnya sebaiknya mereka tetap di rawat sambil kita berikan cairan infus,” terang Dokter Tina.


“Tapi mereka sehat kan, Dok?”


“Sehat, Kai. Mereka dehidrasi mungkin karena kurang minum atau terlalu banyak aktivitas yang menguras keringat.”


“Mereka belakangan memang banyak main di luar rumah.”


“Nah, mungkin itu salah satu penyebabnya. Apalagi Kama sama Kalila sudah sekolah, mereka kadang lari-larian sama teman-temannya dan habis itu lupa minum. Itu wajar kok, Kai.”


“Apa mereka boleh di rawat di rumah saja?”


“Boleh, asalkan nanti ada satu suster yang mengawasi.”


“Oke. Nanti saya bicarakan dulu sama Mas Fatih.”


Dokter Tina berdehem. “Ngomong-ngomong Fatih, kamu yakin setelah nanti dia bisa mendapatkan hak asuh si kembar kalian akan bercerai?”


Kaina sendiri memang sudah menceritakan soal kesepakatan pernikahannya dengan Fatih pada dokter anaknya ini. Bisa dibilang Dokter Tina menjadi tempat curhat baginya maka tak ada rasa asing di antara mereka.


“Kenapa?”


“Maaf sebelumnya, bukan maksud saya ikut campur. Saya hanya ingin menanyakan, apa tak sebaiknya kamu coba untuk menjalankan rumah tangga kalian ini? Saya lihat kamu dan Fatih selayaknya suami istri lainya lalu untuk apa kalian harus berpisah kalau kalian bisa membina rumah tangga yang bahagia dan harmonis.”


“Untuk saat ini saya belum kepikiran sampai kesana, Dokter. Mungkin nanti setelah masalah saya terselesaikan, baru saya akan coba bicarakan dengan Mas Fatih.”


“Apa hati kamu gak tersentuh melihat perlakuan Fatih pada anak-anak? Gak ada gitu sedikitpun rasa yang muncul? ”


“Saya gak mau bawa perasaan, Dok. Semua sikap baik Mas Fatih saya anggap hanya sebatas tanggung jawab dia sebagai suami.”


Tina menghembuskan nafas panjang. “Kalau seandainya nanti anak-anak membutuhkan dia bagaimana? Mereka sudah dekat loh, Kai.”


“Mereka hanya terbiasa, Dok. Toh dulu mereka hidup hanya dengan saya, Ibu, dan Adit. Pasti nantinya juga bisa terbiasa tanpa Mas Fatih.”

__ADS_1


__ADS_2