
Selesai sarapan, Kaina mengemasi rantang makanannya. Setelah itu ia mengambil beberapa baju kotor Dina untuk dibawa pulang.
“Kakak pulang, ya, Dit,” pamit Kaina. Kemudian ia memberikan dua lembar uang seratus ribu pada adiknya. “Buat ongkos kamu nanti.”
“Makasih, Kak.”
...🍭🍭🍭🍭...
Tiba dari pasar, Kaina mulai pertempurannya di dapur. Wanita itu tampak sangat cekatan dalam mengolah bahan-bahan mentah menjadi masakan rumah yang lezat. Sejak menjadi ibu tunggal ia memang banyak belajar dari sang ibu tentang mengurus sebuah rumah tangga. Meski tak memiliki suami, tapi sebagai wanita nan memiliki anak dia merasa bertanggung jawab untuk bisa menyajikan makanan sehat untuk putra dan putrinya.
Ketika adzan ashar berkumandang, dihentikannya dulu segala aktifitas. Dilaksanakannya kewajiban setelahnya barulah dia kembali menyelesaikan pekerjaan. Tak lama Adit pun pulang. Pria itu segera membersihkan diri dan membantu kakaknya membersihkan halaman rumah nan tampak kotor karena daun yang berguguran.
Tit … tit …
Sebuah mobil sedan berwarna putih berada di balik pagar, Adit tau siapa yang datang. Pasti tamu yang ditunggu, segera saja dia bukakan pagar besi itu.
Ketika Fatih turun dari mobilnya, Adit langsung mengajak calon kakak iparnya itu masuk. Memanggilkan Kaina yang masih sibuk di dapur.
“Kalian ngobrol saja dulu, saya mau bersih-bersih sebentar,” katanya sambil meletakkan dua gelas minuman.
“Makasi,” kata Fatih.
Kepergian wanita itu Fatih pun membuka suara. “Maaf kemarin saya gak ikut kakak kamu.”
“Santai, Bang, kakak sudah jelaskan sama saya alasannya.”
Fatih menarik nafas dalam. “Begini, Kaina pasti sudah menceritakan tentang rencana pernikahan kami pada kamu. Jadi, maksud kedatangan saya kemari ingin meminta saudara perempuan kamu juga doa restu . Kemarin saya dan bapak sudah datang menemui Bu Dina untuk melamar.”
“Awalnya saya kaget, semua diputuskan dalam waktu yang sangat singkat, tapi Kak Kaina menjelaskan alasannya kenapa, saya pun paham. Abang dan Kakak sudah sama-sama dewasa, saya harap kalian tak salah dalam mengambil keputusan. Jujur, besar harapan saya Abang bisa menjadi suami dan ayah yang baik buat Kak Kaina juga si kembar.”
Fatih tergugu kala ingin berkata.
“Santai, Bang! Omongan saya gak perlu dipikirkan. Itu hanya harapan seorang saudara laki-laki. Karena bagaimanapun Kak Kaina dan anaknya adalah tanggung jawab saya sampai nanti dia benar-benar di pinang oleh jodohnya.”
“Begitu. Semoga nanti kakak kamu bisa bertemu dengan laki-laki yang bisa memenuhi harapanmu itu.”
Kedua pria itu akhirnya mengganti topik pembahasan dan mereka terlihat lebih santai. Hingga Kaina datang menyapa dan mengajak ke meja makan.
“Silahkan di ambil, Bang, jangan sungkan. Sekarang ambil sendiri dulu, nanti kalau sudah nikah baru minta di ambilkan sama istrinya,” kata Adit. Dia sengaja menggoda kedua calon pengantin itu.
__ADS_1
“Benar tuh,” balas Fatih.
Kaina yang ditatap cuma menampilkan jejeran giginya yang putih.
“Gimana Ibu Dina, kapan pulang?”
“Besok pagi,” jawab Adit.
“Besok saya kirim mobil buat jemput, ya.”
“Gak usah, Bang. Untuk hal itu biar saya yang urus. Saya gak mau merepotkan Abang terlalu banyak. Cukup bantu kakak saya saja. Yang lain selagi saya bisa selesaikan sendiri, akan saya tangani.”
Fatih tersenyum. “Jarang loh ada anak muda seperti kamu ini. Bertanggung jawab sekali.”
Adit menyunggingkan senyuman. “Gak juga, Bang, saya malah kemarin bikin masalah besar yang membuat ibu akhirnya jatuh sakit.”
“Itu mah biasa. Saya aja kalau emosi gak segan juga mukul orang.”
“Kamu enak, Mas, ada bapak yang bakal belain. Lah Adit,” sela Kaina.
“Sekarang ada saya yang bakalan belain dia. Kamu tenang saja.”
Mereka menyudahi pembicaraan itu, memilih fokus menyantap makanan yang terhidang.
Tiba di rumahnya, Fatih hendak langsung menuju kamar. Baru saja tiba di ruang tengah suara sang ayah yang memanggil mengagetkannya. “Dari mana, Tih?”
“Dari rumahnya Kaina, Pak, ketemu adiknya.”
“Duduk dulu, bapak mau bicara.”
Kakinya dibawa melangkah ke arah sofa sambil bertanya, “Bicara soal apa, Pak?”
Fadillah mematikan tablet yang dipegang lalu melepas kacamatanya. “Bapak merasa aneh dengan kamu. Gak sampai satu hari tiba-tiba kamu memutuskan mau menikah dengan Kaina. Padahal sebelumnya kamu menentang dengan sangat keras.”
“Itu lagi.” Fatih berdecak sambil menghempaskan punggung ke sofa. “Bapak aneh deh. Saya gak mau nikah kemarin malah di paksa, sekarang saya setuju malah dicurigai kayak begini.”
“Jawab jujur saja! Pasti kamu punya rencana dibalik keputusan mendadak ini.”
“Terserah Bapak saja lah, mau percaya atau gak sama saya.” Kemudian Fatih bangkit dari duduknya. “Saya permisi ke kamar dulu mau mandi.”
__ADS_1
“Untuk sementara kamu pakai kamar tamu aja. Kamar kamu lagi bapak renovasi.”
“Sejak kapan?” tanya Fatih dengan kening mengkerut.
“Tadi pagi setelah kamu berangkat kerja Bapak tugaskan orang-orang buat renovasi kamar kamu. Masak kamar pengantin gak di benahi. Semua perabotannya bapak ganti baru.”
“Terserah bapak deh.” Akhirnya Fatih memutar arah tujuan. Kakinya dibawa melangkah ke kamar tamu yang ada di lantai dasar.
...🥭🥭🥭🥭...
Kaina dan Adit sudah tiba di RS pagi sekali. Mereka tak sabar untuk segera membawa sang ibu pulang ke rumah. Setelah mengurus segala administrasi kepulangan Dina dan menebus obat-obatan di apotik, Adit kembali ke ruang rawat ibunya.
“Beres, Kak. Ayo, kita pulang.”
“Pakai apa, Dit?” tanya Kaina.
“Aku sudah pesan taxi online.” Adit mengambil alih kursi roda yang diduduki ibunya dari tangan sang kakak. Dia mendorong Dina melalui lorong sampai tiba di teras RS, taxi online pun tiba.
“Pelan-pelan, Bu.”
“Ibu bisa, Dit. Ibu cuma habis operasi,” kata Dina.
“Iya, aku tahu. Takutnya ibu pusing makanya di pegangin.” Memastikan wanita yang sudah melahirkannya duduk dengan nyaman di bangku penumpang, Adit mempersilahkan sang saudara menemani sang ibu dan dia akan duduk di depan samping sopir.
“Nanti jemput si kembar, ya, Kai,” pinta Dina.
“Insyaallah, Bu.”
“Ibu sudah kangen sekali sama mereka.”
“Nanti aku coba izin dulu sama ayahnya Kama. Ibu jangan terlalu berharap, ya.”
“Ya, sudah kalau memang gak bisa kamu gak perlu repot-repot ke sana. Kasihan anak ibu, bentar lagi mau nikah tapi masih sibuk sana-sini. Seharusnya kamu itu santai, perawatan dan memanjakan diri.”
Kaina menahan tawa.” Gak perlu, Bu.”
“Gak perlu gimana. Calon pengantin itu harus tampil cantik dan segera pas hari H. Biar suaminya pangling nanti.”
Adit hanya menyimak obrolan ibu dan kakaknya itu. Sesekali dia melirik ke belakang pada Kaina. Sedangkan yang ditatap hanya bisa menertawakan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kebetulan di rumah ibu ada simpanan. Kamu pakai buat pergi ke salon, ya."
"Gak usah, Bu! Uangnya simpan aja, biar nanti aku perawatan sendiri di rumah."