Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 88


__ADS_3

Setelah semua masuk, Adit membawa roda empat itu menuju rumahnya.


“Pantesan belakangan Kaina sering sedih sampai nangis kangen sama kamu, Tih,” ujar Dina yang duduk di bangku depan. “Ternyata lagi hamil, toh.”


“Oh, ya, Bu?” Fatih tak percaya.


“Iya, bahkan sampai gak mau makan. Ibu pikir sakit kenapa.”


“Ibu, ih.” Kaina kesal dan merasa malu.


“Kenapa? Gak masalah dong kalau suami kamu tau.”


“Gak perlu juga kali, Bu,” rengek Kaina.


Fatih tersenyum memperhatikan tingkah istrinya yang tampak malu.


“Sebenarnya rindu tapi gengsi,” celetuk Adit.


“Ih, kamu juga.” Kaina memukul bahu adiknya dari belakang. “Ikut-ikutan segala,” kesalnya.


“Loh, tapi emang benarkan.”


“Tau, ah.” Kaina memasang wajah cemberut.


“Aku juga gitu kok,” ungkap Fatih. Dibawanya sang istri untuk bisa menyandar di bahunya. “Aku cemburu waktu lihat kamu makan siang sama Hugo di cafe.”


“Terus kenapa gak samperin?”


“Benar apa kata Adit, gengsi. Apalagi saat dia ngasih lagu buat kamu. Sesuai judul lagu padi hati aku terbakar cemburu.”


“Cciiee,” ledek Adit. “Pantesan Abang marah sama Zuri.”


“Kamu kenal Zuri?” tanya Fatih.


“Waktu itu aku ketemu dia pas Abang turunin di jalanan. Kami kan sempat ketemu waktu kita makan siang bareng pas sidang aku beres.”


Fatih mengangguk.


“Nah aku ajak bareng aja, terus dia cerita deh. Sampai tuh anak gedek banget ceritain soal bosnya yang jelas-jelas cinta sama istrinya tapi gak mau ngakuin,” tambah saudara Kaina itu.


“Kenapa gak samperin aja sih, Mas, waktu itu,” tanya Kaina. “Jadi aku gak perlu di kunciin Hugo tadi.”


“Hah?” Dina terkejut. “Dikunciin gimana?”


“Dia mau tahan aku, Bu, biar gak hadir di persidangan dan cerai sama Mas Fatih. Tapi untungnya dia sadar dan lepasin aku.”


“Tapi kamu gak di apa-apain kan?”


“Gak, Bu. Cuma dia sempat nyatain perasaannya.”


“Terus?”


“Ya, aku tolak dan jelaskan ke dia kalau aku sampai kapanpun gak akan bersamanya sekalipun aku dan Mas Fatih pisah.”


Nafas panjang dibuang Dina. “Semoga Nak Hugo gak mengganggu rumah tangga kalian.”


“Tenang aja, Bu, saya sudah kasih dia peringatan,” timpal Fatih.


“Bunda?” panggil Kalila yang duduk di pangkuan neneknya.

__ADS_1


“Kata Omdit kita bakalan punya adik. Adiknya satu atau dua?”


 “Hhhm, kenapa emangnya?”


“Cuma tanya aja, Bun. Kalau satu aku maunya adik perempuan biar bisa main masak-masak.”


“Gak bisa gitu dong,” sela Kama yang duduk di pangkuan ayah sambungnya di bangku belakang. “Abang maunya adik cowok.”


“Mau adiknya cowok atau cewek, Kama sama Kalila harus sayang,” imbuh Fatih. “Kalian berdua harus jadi Abang dan Kakak yang bisa jagain adiknya.”


“Iya, Ayah,” kata si kembar.


“Gak boleh berantem lagi,ya,” tambah Kaina. 


“Iya, Bun,” jawab si kembar lagi.


Mobil yang dikemudikan oleh Adit sempat berhenti di salah satu restoran untuk memesan makan malam. Kini mereka semua sudah tiba di kediaman minimalis Dina. Fatih membantu sang istri untuk turun karena kondisi kaki Kaina yang sedikit retak membuatnya khawatir.


“Aku gendong aja, ya, masuk rumahnya.”


“Gak usah, Mas,” tolak Kaina. “Aku masih bisa jalan, kok.”


“Nanti sembuhnya lama, Kai.”


“Udah dikasih penyangga ini, Mas, dan kata dokter tadi juga gak masalah kalau dibawa jalan pelan-pelan.”


Tak mau berdebat, pengacara hebat itu langsung mengangkat tubuh istrinya. Merasa badannya melayang, Kaina melingkarkan lengan di leher sang suami.


“Seharusnya tadi kamu gak perlu pakai tanya dulu, tih,” celetuk Dina.


Setelah pintu rumah dibuka mertuanya, Fatih meletakkan sang istri di atas sofa. “Benar kata ibu, lain kali aku langsung bertindak cepat aja.”


Kaina memonyongkan bibirnya. “Makasi, ya, Mas.”


Kaina hanya mengangguk. 


“Kakinya masih sakit gak, Bun?” Kalila bertanya sambil memperhatikan kaki sang bunda yang di bungkus kain penyangga.


“Gak kok.” Kaina mengelus pipi putrinya. “Anak Bunda gak perlu khawatir, Bunda baik-baik aja.”


“Bunda mau apa? Biar Abang bantu ambilin,” ujar Kama.


“Makasi, ya, Nak. Sekarang Bunda lagi gak mau apa-apa. Ditepuknya sisi kanan dan kiri. “Sini duduk dekat Bunda.”


Kama dan Kalila naik ke atas sofa.”


“Ayah nginap sini, ya Bun?” tanya sang putra.


“Iya.”


“Kenapa kemarin-kemarin gak?” tambah Kalila.


“Soalnya kemarin-kemarin ayah sama bunda lagi-”


“Lagi apa?” Kaina memotong jawaban dari adiknya yang baru saja masuk membawa makanan yang di pesan tadi.


“Hehehe.” Adit jadi cengengesan melihat tatapan tajam kakaknya.


“Lagi apa Omdit?” tanya Kalila.

__ADS_1


“Lagi belajar tinggal sendiri-sendiri,” sahut Fatih yang kembali masuk. “Tapi ternyata ayah gak bisa kalau gak ada bunda, bawaannya galau terus.”


“Galau itu apa?”


“Hhmm, galau itu kayak merasa sedih dan kesepian. Apalagi gak ada kalian, rumah opa jadi sepi.”


“Terus sekarang artinya kita bakalan tinggal di rumah opa lagi dong,” tanya Kama.


Fatih mengangguk.


“Yeaa.” Si kembar bersorak riang.


“Sekarang Abang sama Adik-”


“Bukan adik, Bun.” Kalila memotong ucapan bundanya. “Kakak, kan sebentar lagi aku mau punya adik.”


Kaina tersenyum. “Iya, deh. Sekarang Abang sama Kakak cuci kaki, tangan, dan muka habis itu ganti baju.”


“Ayo, Ayah bantu.” Fatih bangkit dari duduknya.


“Biar ibu saja,” timpal Dina. “Kamu juga pasti mau bersih-bersih, seharian udah cari Kaina.”


“Makasih, ya, Bu,” pinta Kaina.


Dina hanya mengangguk, membimbing cucunya memasuki kamar mereka.


“Yuk, aku gendong lagi ke kamar.” Fatih mengajak istrinya.


“Ngapain, Mas?”


“Kamu gak mau ganti baju juga?”


“Iya, sih. Sekalian mau mandi.”


“Ayo, kalau gitu!”


“Gak deh, duluan aja.”


“Kenapa?” Fatih bertanya sambil tertawa.


“Gak papa.” Kaina memalingkan muka.


“Halah, pakai malu-malu segala.” Tanpa aba-aba Fatih kembali menggendong istrinya menuju kamar.


...🥒🥒🥒🥒...


Mereka semua sudah berkumpul di meja makan. Menyantap makanan dengan rasa penuh bahagia. 


“Kapan kalian mau balik ke rumah Pak Fadilah?” tanya Dina.


“Terserah Kaina aja, Bu,” jawab Fatih. “Saya iku aja.”


“Jangan lama-lama, ya, Kai. Ibu jadi gak enak.”


“Ibu gak perlu merasa begitu. Bapak juga gak mempermasalahkan kalau kami mau tinggal di sini.”


“Gak bisa gitu dong. Bagaimanapun tradisi di sini menantu perempuan akan tinggal di rumah mertuanya.”


“Itu cuma tradisi, Bu, jangan terlalu di ikuti. Bagi saya di mana Kaina dan anak-anak nyaman aja saya akan ikut.”

__ADS_1


“Mau di rumah bapak atau di sini aku nyaman-nyaman aja, Mas,” jelas Kaina.


“Alhamdulillah kalau gitu. Nanti kita bagi waktu kapan di sini dan di rumah bapak.”


__ADS_2