
Sekali lagi maafkan kami, Bu,” ujar Fatih tertunduk. “Besok saya akan antar Kaina pulang. Ibu tenang saja, saya akan kembalikan putri ibu secara baik-baik.”
“Ibu memang marah, Tih, bukan berarti Ibu membenci kamu. Ibu yakin kamu adalah pria yang baik. Semoga kamu bisa mendapatkan jodoh yang jauh lebih baik dari anak ibu.”
“Kaina wanita yang baik kok, Bu,” jelas Fatih sambil menatap istrinya. “Hanya saja saya merasa tidak bisa membuatnya bahagia. Jadi, lebih baik kami berpisah agar dia bisa bertemu dengan laki-laki yang mampu membahagiakannya.”
“Kamu juga baik dan sempurna, Mas. Tapi saya yang merasa tak pantas berada disamping kamu,” balas Kaina.
Kepala Fatih menggeleng. “Saya jauh dari kata sempurna, Kai. Kamu tau itu.”
Ibu si kembar cuma terdiam.
“Kalian mau balik ke rumah Pak Fadilah kan?” tanya Dina.
“Iya, Bu,” jawab si menantu.
“Kalau begitu Ibu boleh ikut? Mau bicara sama besan.”
“Tentu boleh.”
“Ibu tinggal ke kamar mau siap-siap. Kalian silahkan ngobrol.”
Kaina dan Fatih mengangguk setuju.
...🥭🥭🥭🥭...
Seluruh keluarga tengah berkumpul di meja makan kediaman Fadilah. Termasuk Suci yang diajak Kaina untuk ikut bergabung.
“Menginap di sini, Bu?” tanya ibu Hugo pada Dina.
“Gak, Bu. Setelah ini saya dan Adit pulang.”
“Kenapa gak bermalam di sini saja? Jadi kita bisa ngobrol-ngobrol lebih lama.”
“Iya, jarang-jarang loh, Besan,” tambah Fadilah.
“Lihat nanti saja, Pak.” Dina merasa sungkan. “Lagian bsok pagi saya ada jadwal kontrol ke Rumah sakit,” tambahnya.
Suci dan Fadilah megangguk paham.
“Nanti biar di antar supir,” kata Fadilah.
“Terima kasih, Besan.”
Suci melirik pasangan suami istri di depannya. Tampak Kaina melayani anak tirinya dengan baik. Apa yang diminta Fatih selalu diberikan sedangkan wanita itu juga sibuk membantu kedua anaknya. “Kamu gak iri lihat Fatih di urus sama istrinya, Go,” celetuknya.
Hugo yang diam-diam juga memperhatikan Kaina tersedak makanan yang di kunyang. Sang ibu pun gegas memberikan segelas air minum. “Iri kenapa, Ma?” bertanya setelah tenggorokannya lega.
“Memangnya kamu gak mau punya istri seperti Kaina? Pinter masak, pinter urus suami, pinter urus anak juga. Kalau Mama sih udah pasti pengen banget punya mantu kayak Kaina.”
Fadilah berdehem.
“Maaf, loh, Mas, bukan saya bermaksud gak menganggap Fatih sebagai anak. Tapi pengennya saya Kaina bisa jadi istrinya Hugo biar dia bisa berubah. Tapi sayang Kaina udah milik Fatih.”
“Mama apa-apaan sih,” kesal ayah biologisnya Kama.
“Itu namanya Mama berharap agar kamu bisa mendapatkan pendamping yang baik.”
__ADS_1
“Wanita sebaik Kaina gak pantas buat dia,” ungkap Fadilah.
“Jangan gitu dong, Mas,” balas Suci. “Bagaimanapun Hugo butuh sosok istri yang bisa menuntunnya ke arah yang lebih baik.”
“Suruh dulu anakmu belajar memperbaiki dirinya. Nanti baru ada wanita baik yang mau sama dia.”
Sosok yang dibicarakan tak memberikan tanggapan sedikitpun. Kaina memilih diam menghabiskan isi piringnya sedangkan Hugo sesekali matanya memperhatikan wanita itu.
Dari meja persegi panjang berbahan keramik, mereka berlari ke ruang tengah. Di mana si kembar dapat menggelar semua permainan mereka dan bermain sepuasnya. Kali ini Hugo mencoba untuk berbaur bersama Kama dan Kalila.
“Kedatangan saya ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan Besan dan menantu,” jelas Dina.
“Sudah, Bu. Tak perlu terlalu sering berterima kasihnya. Seperti yang saya bilang kita ini keluarga jadi sudah wajar saling membantu," ujar Fadilah.
“Tapi, Pak-”
“Apapun yang terjadi nanti, bagi saya kita tetap keluarga. Karena ada Kama di antara kita artinya dia pererat hubungan silaturahmi.”
Dina setuju. “Kalau begitu kami pulang dulu, sudah malam rupanya.”
“Baik besan. Selalu jaga kesehatan.”
Adit pun tak lupa bersalaman dengan orang tua itu. “Kapan-kapan saya akan mampir, Pak.”
“Harus, Dit.” Fadilah menepuk bahu saudara dari menantunya.
Kaina dan Fatih ikut berdiri dari duduk mereka untuk mengantar kepergian Dina dan Adit.
Puas bermain, si kembar pun akhirnya tertidur di atas karpet bersama Hugo dan Fatih yang menemani mereka menonton TV. Kaina yang sedang sibuk dengan laptopnya di atas meja segera menyudahi pekerjaan. “Mas, bisa bantu angkat mereka ke kamar?”
Kaina yang hendak mengangkat Kama dicegah oleh Hugo. “Biar saya saja.”
“Makasih.”
Dua saudara tiri itu sama-sama menaiki anak tangga menuju kamar si kembar. Tiba di sana mereka membaringkan Kama dan Kalila di ranjang masing-masing.
“Saya duluan ke kamar, Kai,”kata Fatih.
“Iya, Mas.”
“Saya boleh di sini sebentar?” tanya Hugo.
“Ngapaian?” Kaina merasa heran.
“Cuma mau temani mereka.”
“Oh, silahkan. Tapi nanti jangan lupa matikan lampu utama dan nyalakan lampu tidurnya.”
“Iya.”
Kaina keluar dari bilik itu.
Baru saja dia sampai di ambang pintu Hugo memanggilnya. “Maafkan perkataan Mama saya tadi.”
“Itu hanya harapan seorang ibu buat anaknya. Gak ada yang salah dari hal itu.”
“Artinya kamu gak keberatan kalau mama saya berharap kamu jadi menantunya?”
__ADS_1
Kaina tertawa kecil. “Mungkin maksud beliau berharap kamu bisa menikah dengan wanita seperti saya. Tapi siapa saya yang harus menjadi contoh untuk kamu dalam mencari sosok istri. Saya doakan semoga kamu bisa bertemu dengan wanita baik.”
“Terima kasih.”
“Aamiin. Sebuah doa dan harapan harus di amin-kan.”
Hugo tersenyum. “Aamiin.”
“Saya duluan.”
“Silahkan.”
Kepergian wanita yang sudah melahirkan putranya, Hugo duduk didekat jendela kamar si kembar. Matanya menatap langit malam yang tak berbintang.
...🍒🍒🍒🍒...
Fatih menunggu istrinya yang sedang bersih-bersih di bilik air. Ada sesuatu yang ingin disampaikan setelah belakangan di pertimbangkannya.
“Kok belum tidur, Mas,” sapa Kaina menghampiri.
Ditepuknya pinggir kasur agar sang istri duduk di sana.
“Ada apa? Mau saya layani lagi malam ini, sebagai malam terakhir kita?”
“Bukan!” tegas Fatih.
“Lalu?”
Ditariknya nafas dalam lalu berkata, “Apa gak sebaiknya kita pikirkan ulang perpisahan ini, Kai?”
“Kamu ragu, Mas?” tanya Kaina. “Beri saya alasannya agar saya dapat mempertimbangkan.”
“Demi Kama dan Kalila.”
Kaina tersenyum kecewa. “Jangan jadikan anak-anak sebagai alasan, Mas”
“Lalu? Saya harus memberikan alasan apa.”
Si istri pun jadi bingung sendiri. “Entah, Mas,” ragunya. “Saya pun tak tau. Kalau kita sampai mempertahan rumah tangga ini saya ingin ada satu alasan yang kuat.”
“Kalau begitu kita tunda sampai bulan depan. Bagaimana? Selama itu kita pikirkan kembali matang-matang.”
“Gak, Mas,” tolak Kaina. “Tetap ajukan gugatan itu ke pengadilan. Saya akan pulang ke rumah ibu besok dan kita bertemu di sidang putusan nanti.”
“Kamu yakin, Kai?”
“Kalau memang ada hal yang perlu kita pertahankan maka kita akan bertemu di pengadilan. Kalau tidak maka kita juga gak akan bertemu, Mas,” putus ibu si kembar.
“Baiklah kalu begitu.” Fatih setuju. “Lalu bagaimana kamu akan menjelaskan pada Kama dan Kalila?”
“Nanti akan aku pikirkan caranya.” Wanita itu beranjak dari posisi. “Boleh malam ini saya tidur duluan?”
“Silahkan! Saya gak akan menuntut tanggung jawab kamu lagi.”
“Terima kasih.”
Fatih memutuskan keluar dari sana menuju ruang kerjanya. Kepergian sang suami, Kaina kembali meluruhkan air mata.
__ADS_1