
“Durhaka kamu nyindir orang tua." fadilah memperingatkan putranya.
“Gak nyindir, Pak, kenyataan,” balas Fatih.
“Pada asik nih,” timpal Kaina yang datang dari arah dapur.
“Iya, Kai, kita lagi main,” jawab si mertua.
“Makan malam sudah siap, kita ke meja makan.”
“Ayo, kalau gitu.”
“Tapi sebelum makan anak-anak beres mainan dulu.”
“Biarin aja berantakan, Kai, nanti mereka bakal main lagi,” larang Fadilah.
“Gak, Pak, mereka harus diajarkan bertanggung jawab. Mau main lagi nanti boleh, tapi sekarang harus di rapikan dulu.”
Si kembar yang sudah terbiasa dengan didikan Kaina, langsung membereskan segala mainan mereka dan memasukkannya ke dalam kotak.
“Yang ini biarin aja dulu, nanti kita pasang lagi,” kata Fatih pada Kama.
Dari sana mereka berpindah ke meja makan. Kaina mengambilkan makanan untuk suami dan anak-anaknya terakhir baru untuk dirinya sendiri.
“Besok kalian mau jalan-jalan kemana?” tanya Fadilah di sela-sela makan.
“Belum tau, Pak. Saya sih terserah Mas Fatih aja,” jawab Kaina.
“Kemana, Tih?”
“Saya juga bingung mau kemana. Kamu saja yang tentuin, Kai, saya siap antar,” terang Fatih.
“Kalian mau jalan-jalan kemana?” Kaina meminta pendapat pada si kembar.
“Kebun binatang aja, Bun,” jawab Kama yang disetujui saudaranya.
“Artinya kita ke ragunan aja, ya, yang dekat.”
“Seru pasti,” timpal Fadilah.
“Opa mau ikut?” ajak Kama.
“Iya, Pak, ikut aja,” timpal Kaina.
Fadilah awalnya ingin menolak, tapi menantunya itu keburu menawarkan.
“Sekalian ajak ibunya Kaina,” tambah Fatih.
“Hore, kita jalan-jalan sekeluarga,” sorak Kalila.
Kaina menatap putrinya dengan senyuman lebar. “Sayang, kalau mulutnya lagi berisi ngomongnya nanti, ya, pas makanannya sudah habis di mulut.”
“Maaf, Bunda.”
“Bapak setuju. Kita jalan-jalan sekeluarga saja untuk pertama kali,” putus Fadilah.
__ADS_1
“Sekalian kita piknik, gimana?” saran Kaina.
“Ide yang bagus.”
“Oke. Kalau gitu besok pagi saya hubungi ibu sama Adit dan sebelum berangkat saya masak dulu.”
Semuanya mengangguk setuju. Selesai makan, Kaina mengajak anak-anaknya untuk gosok gigi, mencuci muka dan berganti pakaian.
“Kita boleh nonton sebentar gak, Bun?” tanya Kama.
“Boleh. Yuk, kita ke kamar Bunda aja.”
Kama dan Kalila gegas turun dari ranjang. Tiba di kamarnya, Kaina tak menemukan Fatih di sana. Mungkin suaminya itu sibuk di ruang kerja. TV dinyalakan dan ketiganya merangkak ke atas kasur. Setengah jam kemudian, Fatih pun masuk dan kaget melihat keberadaan ibu dan anak itu di sana.
“Saya pikir mereka sudah tidur," ujar Fatih.
“Belum, Mas. Katanya mau nonton sebentar.” Kaina menjawab sambil membelai kepala anak-anaknya.
“Ayah, sini ikut,” ajak Kama.
Fatih tersenyum lalu ikut bergabung. Kama yang merasa lelaki itu jauh lebih baik dari sang papa, mencoba membaringkan kepala di paha ayah tirinya.
“Boleh, ya, Ayah,” izin Kama.
Fatih mengangguk. Mereka berempat menikmati tontonan yang sedang tayang di layar televisi. Entah sadar atau tidak, suami Kaina itu mengelus kepala Kama sama seperti istrinya yang sedang membuat Kalila tertidur di pangkuan.
Karena kedua anaknya sudah tertidur pulas, Kaina igin memindahkan mereka ke kamar sebelah.
“Biar mereka tidur di sini saja. Kamu pasti kangen tidur bareng mereka,” kata Fatih.
“Gak. Kasur kita muat buat tidur berempat.”
“Makasih, Mas, atas pengertiannya.”
Kaina membetulkan posisi tidur Kama dan Kalila, sedangkan Fatih mematikan televisi dan lampu utama. Barulah dia ikut membaringkan badan di samping putra sambungnya.
...🐣🐣🐣🐣...
Usai sholat subuh, pasutri itu keluar dari kamar mereka. Membiarkan si kembar yang masih terlelap dengan nyenyaknya. Kaina menuju dapur mempersiapkan sarapan pagi serta makanan untuk dibawa piknik nanti dan Fatih melakukan pemanasan di halaman samping rumah sebelum memulai olahraga.
Fadilah yang baru saja keluar dari kamar ikut melakukan pemanasan bersama sang putra.
“Anak-anak gak dibagunin, Tih?”
“Buat apa, Pak?”
“Biar ikut olahraga.”
“Mereka tidurnya nyenyak bangaet, Pak. Kasihan kalau di bagunin.” Fatih menjawab sambil melakukan gerakan pemanasan. “Lagian mereka pasti butuh energi yang banyak buat jalan-jalan nanti.”
Fadilah setuju. Dia tak lagi bertanya dan ikut melakukan gerakan yang sedang dikerjakan putranya.
Kaina di bantu ART sedang menata sarapan pagi di meja makan.
“Mbak, anak-anak mau dibikin minum apa?” tanya Bi Ula.
__ADS_1
“Susu panas aja, Bik.”
“Saya panasin dulu.”
“Makasih, Bik. Saya ke kamar mau bagunin mereka.”
Setelah si kembar mencuci muka, Ibu dan anak itu turun segera ke meja makan.
“Opa sama Ayah mana, Bun?” tanya Kama.
“Kalau ayah lari pagi, kalau opa jalan aja soalnya kaki beliau kan sakit. Kita sarapan duluan, ya, kalian habis ini mandi dan siap-siap.”
“Oke.” Kedua anak itu mengacungkan jempolnya.
...🦛🦛🦛🦛...
Keluarga baru di rumah Fadilah tampak sudah bersiap untuk melakukan perjalanan sesuai rencana semalam. Semua barang-barang untuk piknik sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil oleh Kaina yang dibantu suaminya.
“Jalan sekarang?”
Kaina hanya mengangguk pada Fatih. Dia memanggil si kembar yang menunggu di ruang tamu bersama Fadilah, sedangkan Fatih langsung duduk di bangku kemudi. Si kembar tampak bahagia ketika mereka memasuki mobil bersama sang ibu.
“Kita jemput ibu sama Adit dulu, Mas,” ujar Kaina. “Nanti kamu bisa gantian nyetirnya sama Adit.”
Fatih mengangguk lalu menginjak pedal gas keluar dari komplek perumahan. Beruntung jalanan pagi ini belum terlalu ramai. Mereka tiba di rumah Dina tiga puluh menit waktu tempuh.
“Assalamualaikum,” panggil Kaina.
“Waalaikumsalam,” jawab Dina.
“Yuk, Bu, berangkat sekarang.”
Fatih turun dari balik kemudi untuk menyapa dan bersalaman dengan ibu mertuanya. “Sehat, Bu?”
“Alhamdulillah,” jawab Dina. “Kamu gimana?”
“Tentu makin sehat, Bu, kan sekarang ada yang urusin.”
“Hahaha, iya, ibu lupa.” Wanita itu segera masuk ke dalam mobil dan memilih duduk di bangku belakang bersama sang cucu.
Adit yang buru-buru setelah mengunci rumah segera menghampiri Fadilah. “Apa kabar, Pak?”
“Senang pastinya, Dit, mau jalan-jalan sama keluarga baru.”
“Wah, pasti seru nanti, Pak.”
“Pasti. Ayo, masuk!”
Adit menyapa kakak iparnya terlebih dahulu. “Saya aja yang nyetir, Bang.”
“Bener, nih? Sampai pulang, ya?”
“Boleh deh.”
Perjalanan liburan untuk yang pertama kalinya bagi keluarga itu pun dimulai. Semua merasa sangat antusias dan tak sabar untuk menghabiskan waktu mereka bersama-sama.
__ADS_1