
"Abang,dengar Bunda! Sekarang Abang harus sabar dan kuat, gak boleh cengeng atau nangis. Anggap aja sekarang kita lagi latihan karena sebentar lagi kamu mau sekolah. Artinya, kamu sudah mulai besar. Apa kata Oma Suci kamu harus dengar begitu juga sama papa.”
Kama yang duduk di pangkuan ibunya menganggukkan kepala.
“Kama itu laki-laki dan kamu juga kekuatannya Bunda. Kalau kamu lemah dan sedih artinya apa?”
“Bunda juga bakalan lemah dan sedih.”
“Nah, itu tau. Jadi sekarang Abang sabar, ya, terus berdoa semoga Bunda bisa berjuang.”
“Aamiin. Tapi jangan lama-lama, ya, Bun. Abang takut sama Papa.”
Mata Kaina melirik Suci yang duduk di depannya lalu bertanya pada sang anak, “Takut kenapa?”
“Papa baiknya cuma didepan Bunda aja kalau gak ada Bunda Papa suka marah.”
“Mungkin Papa lagi ada masalah di luar jadi gak sengaja marah sama Abang. Coba nanti kamu dengar omongan papa, ya, biar papanya gak makin emosi.”
“Oke deh.” Kama menjawab dengan tampang pasrah.
Sayup-sayup terdengar suara Kalila dari luar. Kama pun bergegas turun dari pangkuan sang ibu dan berlari menghampiri kembarannya ke halaman.
“Abang?” ujar Kalila kaget.
Pelukan rindu dari Kama langsung dibalas Kalila dengan sangat erat.
Kaina yang ikut menyusul membantu ibunya membawa barang belanjaan sedangkan Suci menyapa Dina yang tampak gegas menghampiri sang cucu.
“Sudah lama, Bu?” tanya Dina.
“Baru juga sepuluh menitan,” jawa Suci.
“Masuk, yuk, Ibu kangen ama si ganteng.” Dina membimbing kedua cucunya kembali kedalam rumah.
Kembalinya dari dapur, Kaina membawakan empat gelas minuman segar. “Silahkan diminum, Bu. Maaf baru saya tawarkan.”
“Terima kasih,” balas Suci.
“Ngomong-ngomong, cucu saya gak dibawa pergi lagi kan, Bu?” Dina mulai bertanya.
Akhirnya Kaina pun menjelaskan hal yang tadi disampaikan Suci pada ibunya. Orang tua itu tampak kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Kini satu-satunya cara ikuti saja dulu alurnya. Toh Suci juga akan berusaha mencuri waktu untuk mereka bisa bertemu dengan Kama.
“Saya juga gak tega, Bu, memisahkan Kama dengan kalian,” jelas Suci.
__ADS_1
“Kalau saya perjuangkan kembali hak asuhnya Kama, Ibu gak keberatan kan?” tanya Kaina.
“Tentu saja tidak. Meski saya memang ingin Kama bersama kami di rumah, tapi saya gak mau egois.”
“Mohon untuk hal ini dirahasiakan dari Hugo. Saya akan pikirkan cara lain untuk bisa kembali ke meja hijau.”
“Silahkan. Semoga nanti kamu gak salah jalan lagi, Kai.”
Takut anaknya bagun dan tahu akan keberadaannya, Suci pun meminta Kaina untuk membujuk Kama agar bisa kembali ikut pulang bersamanya. Agak susah memang, Kaina harus memberikan penjelasan dulu pada Kalila yang bersikukuh ingin ikut dan tak mau jika saudaranya pergi lagi. Akhirnya, dengan seribu macam alasan si kembar beda ayah itu bisa mengerti juga dengan kondisi.
Di iringi suasana haru, Kama dan Kalila kembali berpisah melalui malam mereka tidur sendiri-sendiri. Tentu hati keduanya berharap agar esok segera kembali dan mereka bisa bertemu lagi. Lambaian tangan kecil Kalila di balas oleh Kama dari balik kaca jendela mobil dengan raut wajah sendu dan pilu.
“Ayo, kita masuk.” Kaina mengajak putrinya yang masih terpaku di depan pagar rumah.
...----------------...
...----------------...
Seminggu berlalu, baik Kaina dan si kembar masih berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan. Biar Kalila tak merasa kesepian kadang di bawa Candra bermain di rumahnya atau pergi jalan-jalan bersama Brigita. Kama sendiri kadang di antar Suci ke rumah ibunya atau kalau Hugo di rumah maka dia akan menghabiskan waktu bersamanya.
Kaina sendiri masih mencari cara untuk bisa kembali mendapatkan hak asuh sang putra. Menjaga supermarket sejak Adit memutuskan untuk bekerja di luar membuatnya sibuk akhir-akhir ini. Apalagi ada beberapa karyawan yang harus dirumahkan demi menghemat pengeluaran. Semakin membuat waktunya habis di sana.
(Hallo, Bu)
( … )
(Iya, baik aku pulang sekarang.)
Panggilan di putus, Kaina menitipkan toko pada karyawan. Cepat-cepat dia meraih tas yang ada di dekat meja kasir lalu keluar dan segera masuk mobil. Lima belas menit perjalanan, akhirnya dia pun tiba di rumah. Dengan tampang khawatir ia segera turun dan gegas masuk.
“Akhirnya kamu tiba juga,” seru Dina.
“Ada apa, Bu?” Cemas Kaina bertanya.
“Begini, Mbak, kami dari pihak kepolisian datang kemari membawa surat perintah untuk menahan saudara Adit, yaitu adik Anda,” terang seorang polisi.
Garis di kening Kaina muncul. “Memangnya adik saya berbuat apa? Sampai di tahan segala.”
“Memangnya Anda tidak tahu kalau saudara Adit sudah menganiaya seorang pengacara. Kalau gak salah pengacara itu sempat membantu Anda dalam sebuah kasus.”
Dina yang sudah tampak pucat hanya bisa menggenggam tangan putrinya dengan erat. Kaina pun berusaha menenangkan sang Ibu agar tak merasa khawatir.
__ADS_1
“Kami sama sekali gak tau masalah ini, Pak,” jelas Kaina. Dia berusaha bersikap tenang meski sebenarnya sudah merasa panik dengan masalah baru ini.
“Begini saja, Anda bisa datang ke kantor kami dan meminta penjelasan di sana. Untuk sekarang kami ingin tahu dimana saudara Adit berada.”
“Adit gak ada di rumah. Sudah satu bulan ini dia bekerja di luar.”
“Bisa beri tahu kami alamatnya?”
Dina menggelengkan kepala agar Kaina tak membiarkan pihak berwajib memenjarakan putranya.
“Gak papa, Bu. Kalau kita gak kasih alamatnya Adit, kita bisa dituntut juga,” jelasnya.
Singkat cerita alamat tempat Adit bekerja sudah dikantongi, polisi pun langsung bergerak ke sana.
“Ya allah, Kai, apa yang sudah dilakukan adikmu? Sampai-sampai dia berurusan dengan polisi.” Dina meraung di atas sofa.
“Bu, sudah. Jangan seperti ini. Kita ke kantor polisi dulu, siapa tau nanti di sana kita bisa ketemu Adit dan minta penjelasan sama dia.”
“Ibu gak sanggup, Kai, kalau Adit harus mendekam di penjara.”
“Makanya kita pergi sekarang. Biar semuanya jelas, aku yakin Adit pasti gak salah.”
Kaina memacu keretanya menuju kantor polisi. Tiba di sana mereka langsung menanyakan soal kasus yang menimpa sang adik. Tak lama Adit pun tiba di sana bersama petugas yang tadi datang ke rumah dengan keadaan tangan di borgol. Adit hanya bisa menundukkan kepala, tak berani menatap ibu dan kakaknya.
“Pak, bisa kami bicara?” tanya Kaina.
“Boleh, tapi tak bisa lama-lama,” jawab petugas.
“Terima kasih.”
Duduk di kursi yang ada, Kaina menatap lama sang adik yang tak membuka suara sejak tadi.
“Kamu gak mikir apa, Dit, sebelum bertindak?” Dina akhirnya meluapkan kemarahannya. “Kamu gak kasihan sama kakakmu? Dia sedang banyak masalah dan sekarang kamu tambah lagi.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Meluncur ke sini ⏬, ya 😊...
Berhasilkah Luxia menyelamatkan dunia dan tidak harus menjadi seorang iblis penghancur?
Apakah yang akan Luxia hadapi nanti? dan bagaimana cara Luxia menyelamatkan dunia dan menjaga dirinya agar tak menjadi iblis sang penghancur? saksikan perjalanan Luxia
__ADS_1