
Setelah si kembar diterima di sekolah internasional nan terkenal di kota ini, Kaina mulai disibukkan dengan kegiatan mengantar dan menjemput anak-anaknya. Hari-hari terus dijalani, tak terasa sudah dua bulan terlewati. Semua masih tetap sama, tak ada yang berubah. Hubungannya dengan Fatih pun masih tetap sebatas rasa saling menghormati dan menghargai antara suami dan istri. Hanya saja hubungan si kembar dengan keluarga sambungnya semakin dekat dan erat.
Setiap hari libur akan selalu mereka isi dengan kegiatan yang menyenangkan dan menggembirakan bagi anak-anak. Seperti hari ini, Kama dan Kalila sedang bermain pistol air bersama Fatih dan Fadilah di halaman rumah. Mereka tampak sangat gembira sekali membuat Kaina tersenyum bahagia menyaksikan darah dagingnya bisa menjalani hidup seperti anak-anak lain yang memiliki keluarga lengkap.
“Anak-anak, mainnya udahan, ya,” ajaknya.
“Yah, nanti dong, Bun, lagi seru,” rengek Kama.
“Bunda cuma takut nanti Abang sama Kalila kecapean, sayang.”
Fadilah yang sudah ngos-ngosan mengajak cucu-cucunya itu untuk istirahat ke teras rumah. “Opa juga udah capek.”
“Besok lagi mainnya. Kita ganti baju dan waktunya nonton,” ajak Fatih.
“Oke, deh.” Kalila setuju.
Mereka duduk diatas lantai meluruskan kaki sekalian menormalkan kembali pernafasan.
“Kalian dari kemarin terlalu banyak main, Bunda takut nanti malah pada sakit,” cemas Kaina.
“Kapan terakhir mereka kontrol, Kai?” tanya sang suami. Mengingat kondisi si kembar, Fatih jadi ikut khawatir.
“Dua bulan yang lalu, Mas, sebelum masuk sekolah.”
“Bawa mereka ke dalam untuk bersih-bersih dan ajak istirahat.”
Setuju dengan perkataan suaminya, Kaina membawa Kama dan Kalila masuk rumah.
“Saking asiknya Bapak sampai lupa soal kesehatan mereka,” tutur Fadilah.
“Bapak juga sampai lupa sama kesehatan sendiri,” balas Fatih.
Fadilah tertawa lebar. “Iya, sampai-sampai Bapak bisa ikut lari gak pakai tongkat.”
“Sekarang gimana kakinya?”
“Sudah mulai terasa sakit.” Namun pria tua itu tetap tersenyum lebar. “Yang penting Bapak happy, Tih. Kapan lagi Bapak bisa habiskan waktu sama cucu seperti ini.”
Suami Kaina itu tersenyum simpul. Dia sedikit merasa bersalah. Kalau seandainya sang bapak tahu jika nanti dia dan Kaina akan berpisah, otomatis beliau juga akan berpisah dengan si kembar. “Maaf, ya, Pak, kalau saya gak bisa membuat masa tuanya Bapak terasa menyenangkan.”
Ditepuknya bahu sang putra lalu Fadilah berucap, “Dengan kamu menikahi Kaina dan menerima kehadiran anak-anaknya, Bapak merasa ini sudah cukup. Semoga kalian tetap bersama.”
__ADS_1
“Insyaallah, Pak.”
“Aamiin.”
Karena lelahnya sudah berkurang, Fatih pun berdiri. “Mari saya bantu, Pak, kita ke dalam.”
Fadilah mengulurkan tangannya untuk dibimbing sang putra menuju kamar.
...🍄🍄🍄🍄...
Ketika sedang asik menunggu makan malam terhidang di atas meja, Fatih dan Fadilh menemai Kama dan Kalila menonton film kartun favorit mereka di ruang keluarga. Namun, ada yang sedikit berbeda dari si kembar. Mereka tampak lesu dan tak bersemangat, malah Kama maunya berbaring di samping sang ayah, sedangkan Kalila memilih menemui ibunya di dapur.
“Ada apa, sayang?” tanya Kaina.
“Mau gendong,” rengek gadis kecil itu.
Kaina gegas membawa putrinya duduk di pangkuan lalu memeriksa suhu tubuhnya. “Panas, kayaknya Adek demam. Kita lihat Abang, yuk.” Digendongnya Kalila kembali ke ruang tengah.
Tiba di sana, Kaina langsung menghampiri suaminya. “Mas, coba cek. suhubadannya Kama, panas apa gak?”
Fatih menempelkan telapak tangannya di dahi dan leher sang putra. “Lumayan, Kai.”
Wajah wanita itu langsung tampak cemas. “Mereka pasti kecapekan, Mas, dan sekarang demam.”
“Saya telpon Dokter Tina dulu.”
Fatih segera berdiri mengambil Kalila dari sang istri agar wanita itu bisa menghubungi dokter anak sambungnya.
“Bapak panggil supir biar siapin mobil,” ujar Fadilah beranjak dari sana.
“Makasih, Pak.” Fatih merasa bersalah karena terlalu menuruti kemauan anak-anak itu untuk terus bermain.
Tak lama, Kaina tampak turun dari lantai dua dengan tergesa-gesa. “Kata Dokter Tina kita langsung ke RS aja. Dia bakalan nunggu di sana.”
“Oke, kamu sudah bawa perlengkapan mereka?” tanya Fatih.
“Aduh, kok saya lupa, ya, Mas.”
“Kamu ambil dulu, biar saya antar mereka ke mobil. Kebetulan Bapak sudah bilang sama supir buat siapin mobil.”
Karena kondisi tubuh Kama dan Kalila tak seperti anak-anak lainnya, membuat keluarga itu jadi panik ketika tahu kalau mereka demam. Kaina buru-buru memasukkan beberapa pakaian serta perlengkapan yang dirasa perlu kalau anak-anaknya harus menjalani rawat inap.
__ADS_1
Setelah semuanya dirasa cukup, dia bergegas kembali turun dan masuk kedalam mobil. Selama perjalanan suhu tubuh si kembar terus meningkat. Itu disadari Kaina saat menempelkan termometer di ketiak anak-anaknya.
“Tenang, Kai, kita bentar lagi sampai.” Fatih berusaha menenangkan istrinya meski dirinya juga ikut merasa khawatir.
“Mereka pasti kuat,” timpal Fadilah yang duduk di bangku depan.
Tiba di depan Rumah Sakit, Fatih yang menggendong Kama dan Kaina yang menggendong Kalila melarikan anak-anak itu ke IGD. Di sana Dokter Tina sudah menunggu. Selama pemeriksaan berlangsung mereka sekeluarga diminta untuk menunggu di luar.
Kaina yang takut jika sesuatu yang buruk menimpa anak-anaknya tak dapat duduk dengan tenang. Dia resah dan gelisa sambil sesekali mengintip lewat celah kaca yang ada di pintu IGD. Karena terlalu tegang dia sampai kaget saat dokter keluar dari dalam sana.
“Mereka cuma demam biasa,” jelas Dokter Tina.
“Alhamdulillah.” Merasa lega, ibu si kembar itu mengucapkan syukur.
“Ginjalnya gak bermasalahkan, Dok?” tanya Fadilah.
“Baik-baik saja kok, Pak. Semua dalam keadaan normal, cuma mereka terlalu kelelahan makanya demam,” tambah Dokter Tina.
“Kami takut kalau ginjalnya bermasalah,” tutur Fatih.
“Gak kok. Selama pola makan dan aktivitasnya teratur, Kama dan Kalila akan baik-baik saja. Tapi tetap ingat jangan sampai mereka kecapekan.”
“Terus gimana, Dok? Mereka perlu rawat inap?”
“Sepertinya harus, ya, Pak, biar saya dapat memantau perkembangan mereka 24 jam kedepan. Kalau semuanya baik-baik saja sampai besok mereka boleh pulang.”
“Oke. Terima kasih kalau begitu. Maaf kalau kami merepotkan Anda malam-malam begini.”
“Tidak sama sekali. Kaina dan si kembar sudah seperti keluarga buat saya. Kalau begitu saya kembali ke ruangan nanti suster akan memindahkan mereka ke ruang perawatan.” Dokter wanita itu pun mengundurkan diri dari sana.
“Kai, saya urus administrasi dulu,” ujar Fatih.
“Iya, Mas.”
“Kamu bawa dompet saya?”
Kaina mengangguk sambil membuka tas ransel yang dibawanya. “Untung tadi saya ingat.”
“Kamu sama Bapak langsung ikut si kembar kalau mereka sudah dibawa suster.”
“Iya, Mas.”
__ADS_1
Selama anak-anaknya diurus oleh perawat, Kaina dan Fadilah menunggu di kursi depan ruang IGD