Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 98


__ADS_3

Malam ini Fatih menemani Kama dan Kalila belajar di ruang keluarga, sedangkan sang istri asik menikmati tontonan kesukaan ditemani cemilan. Tiba-tiba ponselnya yang ada di atas meja berbunyi. "Siapa, Bun?"


Kaina melirik sebentar. "Gak ada namanya."


"Pasti nomor itu lagi?"


"Siapa?"


"Gak tau juga. Dia sering nelpon pas jam-jam istirahat kayak gini."


"Kenapa gak Ayah angkat?"


"Males. Kalau penting pasti bakalan dia kirim pesan," jelas Fatih. "Palingan cuma orang iseng. 


Dering pertama berhenti. Tak sampai satu menit, nomor itu kembali memanggil. 


"Bunda angkat, ya?" kata Kaina. 


Fatih setuju. 


"Hallo," balas si ibu hamil. Namun, sama seperti sebelumnya. Orang yang ada di balik sana hanya diam kemudian sambungan diputus. 


"Gimana?" tanya Fatih. 


"Gak di jawab."


"Kayaknya beneran orang iseng deh."


Kaina mencoba menghafal nomor tersebut untuk nanti dihubungi pakai ponsel sendiri. 


"Ayah antar anak-anak ke atas dulu, ya. Mereka udah pada ngantuk," ujar Fatih. 


"Oh, iya." Sebelum pergi, Kama dan Kalila memeluk dan mencium sang bunda. "Tidur yang nyenyak, ya, Nak. Biar besok pagi bangunnya segar."


"Iya, Bun," jawab si kembar. 


Tak lama kemudian, Fatih turun kembali dan menghampiri sang istri. "Nontonnya lanjut di kamar aja."


"Bunda belum minum susu," kata Kaina. 


"Ya, udah tunggu sini. Ayah bikin dulu."


"Makasih, suami." Kaina tersenyum manis. 


Dari arah dapur Fatih membawa segelas susu di tangan. "Yuk, minumnya di kamar aja."


Kaina berdiri dari sofa dibantu sang suami. Mereka pun berjalan ke arah kamar. "Besok aku izin jemput anak-anak, ya. Soalnya suster mereka mau pulang kampung sehari, ada keluarganya yang sakit."


"Boleh, tapi langsung pulang."


"Iya."


\=\=\=\=\=


Fatih sudah bersiap untuk segera pulang. Namun, Zuri datang mengatakan kalau ada seorang tamu yang ingin bertemu dengannya.


"Siapa? " tanya Fatih. 


"Bu Jina.”


Fatih membuang nafas kasar. “Bilang aja saya lagi sibuk dan gak bisa diganggu.”


“Loh katanya sudah janji sama Bapak mau makan siang, makanya saya minta tunggu sebentar," ujar Zuri. 


Fatih pun terpaksa keluar dari ruang kerja sekalian jalan pulang. “ Jina, kapan kamu janji sama saya?"


"Maaf, Mas, aku bohong sama sekretaris kamu. Tapi aku benar-benar butuh bantuan kamu. Bisa kita bicara?"


"Soal?"


"Masalah suamiku yang sebentar lagi bakalan jadi mantan."


Fatih sebenarnya risih dengan kedatangan sang mantan istri. Apalagi dia tau kalau selama ini yang selalu menghubunginya itu adalah Jina. Dia sengaja berbohong pada sang istri karena tak mau membuat Kaina cemburu. 


"Bukannya kasus kamu itu sudah ditangani oleh rekan saya yang lain?"


"Iya, sih, tapi saya butuh teman buat cerita. Please?"

__ADS_1


"Tapi ini sudah jam makan siang dan saya harus pulang."


"Kalau gitu kita makan siang di restoran dekat sini aja. Aku yang traktir."


Fatih menggeleng. 


"Ayolah, Mas, sekali ini aja."


Nafas kasar dibuang Fatih. "Oke, tapi gak lama."


Jina tersenyum puas. Akhirnya, Fatih mau diajak makan siang bersama. Mereka pun beranjak menuju restoran terdekat. 


🐛🐛🐛🐛


Dari sekolah anak-anak, Kaina menuju kantor sang suami. Karena dia gak masak di rumah wanita itu ingin mengajak Fatih makan siang di luar. Tiba di depan gedung kantor suaminya, ia langsung turun. "Kalian tunggu di mobil aja. Bunda cuma sebentar," katanya pada si kembar. 


"Iya, Bun," jawab Kama dab Kalila. 


Tiba di dalam, ibu hamil itu disapa oleh Zuri yang hendak keluar bersama rekan kerjanya. "Mas Fatih ada?"


"Baru aja keluar, Bu," jawab Zuri. 


"Kemana?"


"Makan siang sama klien."


"Jauh gak?"


"Gak, kok. Cuma restoran dekat sini. Dekat belokan itu loh, Bu."


Kaina mengangguk. "Oh, ya, Zuri, saya mau tanya kira-kira kamu tau gak nomor ini." Wanita itu memperlihatkan nomor yang selalu menghubungi Fatih belakangan. 


Zuri bergegas ke meja kerjanya lalu memeriksa di komputer. "Ini nomor klien yang lagi makan siang sama Pak Fatih, Bu. Dia belakangan sering kesini."


"Laki apa perempuan?"


"Perempuan."


"Kira-kira Mas Fatih tau gak ini nomor kliennya?"


"Taulah, Bu, kan Pak Fatih sendiri yang nyuruh saya ngasih nomor dia ke mantan istrinya."


"Santai aja, Bu."


"Kalau gitu saya jalan."


Zuri menemani kepergian istri bosnya di depan kantor. 


"Pak, kita ke restoran dekat belokan depan," ujar Kaina pada supir pribadi. 


"Baik, Bu."


"Mana ayah, Bun," tanya Kama. 


"Ini kita susul ayah, ya."


Di perjalanan, Kaina menghubungi Fatih. Panggilan pertama tak di angkat. Dia kembali mencoba. Hingga sampai di parkiran dia masih menunggu sang suami menjawab telponnya. 


🦛🦛🦛🦛


"Jin, saya harap kamu jangan lagi menghubungi atau menemui saya di kantor?" kata Fatih. 


"Kenapa, Mas?" tanya Jina. 


"Saya cuma mau menjaga jarak aja. Bagaimanapun kita punya hubungan di masa lalu. Takut nanti orang-orang jadi salah paham."


Jina mengangguk sambil mengunyah makanan. Tiba-tiba ponsel Fatih berdering. 


📞Dimana, Mas?


Tanya Kaina


📞Lagi makan sama klien. Bentar lagi ayah pulang, ya. Da, Bunda. 


Fatih langsung menutup sambungan. 


Kesal dengan tingkah sang suami, Kaina membawa si kembar turun dan masuk ke dalam restoran. "Hai, katanya saat tiba di meja sang suami. 

__ADS_1


Fatih kaget tiba-tiba saja istri dan anak-anaknya ada di hadapan. "Loh, kok kalian ada di sini?"


"Kenapa? Ganggu, ya, Mas?" 


"Bukan gitu."


"Kita gak di suruh duduk nih? Capek loh, Mas, aku berdiri bawa anak kamu lagi." Kaina mengelus perut besarnya. 


Dengan cepat Fatih mengambilkan bangku untuk istri dan anak-anaknya. 


Jina yang tak tau apa-apa cuma menatap heran pada wanita hamil itu. 


"Kenalkan, saya Kaina istrinya Mas Fatih."


Jina membalas uluran tangan ibu si kembar diiringi segaris senyuman palsu. "Saya Jina, mantan istrinya Mas Fatih."


"Kedatangan saya dan anak-anak gak ganggu kan?"


"Gak kok," jawab Jina. "Senang bisa berkenalan dengan istrinya Mas Fatih. Ngomong-ngomong kapan kalian menikah, Mas? Kok aku gak tau?"


"Beberapa bulan ini lah," jawab Fatih. Lelaki itu terlihat canggung. 


"Istrinya lagi hamil? Bukannya kamu … " Jina tak melanjutkan ucapannya. 


"Mas Fatih subur, kok," jelas Kaina. "Malahan anak kami kembar loh."


"Wah selamat, ya, Mas."


Fatih hanya mengangguk. 


"Kamu gak pesanin aku sama anak-anak makan, Mas?" tanya Kaina. 


"Ah, oh, iya, maaf aku lupa."


"Sudah berapa bulan?" tanya Jina. 


"Jalan lima bulan."


"Wah, cepat sekali. Dulu saya sama Mas Fatih dua tahun menikah gak kunjung dapat."


"Mungkin rezekinya Mas Fatih punya anak gak sama kamu, tapi sama saya."


"Haha, iya juga." Jina merasa tersinggung. "Terus yang kembar ini anak siapa?"


"Anak bawaan dari saya."


"Ooh."


Makanan yang dipesan Fatih pun tiba. "Makan dulu, Bun," ajaknya. "Biar ayah yang suapin anak-anak."


"Wah, beruntung, ya, kamu dapat, Mas Fatih. Sudah tampan, kaya, penyayang lagi," ujar Jina. 


"Maksudnya apa, ya?" Kaina tersulut emosi. "Maksudnya Mas Fatih gak beruntung gitu sama saya?"


"Loh, aku gak ngomong gitu, ya."


Kaina menyudahi santap siangnya. "Sepertinya Bunda kenyang. Anak-anak, kita pulang, ya."


"Loh, Bun," cehat Fatih. 


"Gak sama ayah aja, Bun?" tanya Kalila. 


"Ayah masih sibuk. Jadi kita jalan duluan." Wanita hamil itu buru-buru keluar dari meja dan membimbing si kembar keluar restoran. 


"Jin, sepertinya saya juga harus pulang." Fatih meletakkan sepuluh lembar uang kertas berwarna merah di atas meja. "Maaf, lain kali jangan hubungi saya atau datang temuin saya."


"Mas." Jina mengejar mantan suaminya. "Aku kan cuma pengen ngobrol aja sama kamu, Mas."


"Ya, tapi saya gak bisa." Fatih terlambat mengejar Kaina. Istrinya itu sudah pergi bersama anak-anaknya. 


"Kenapa?" Kamu takut istri kamu marah?" Jina melipat tangan di dada. "Apa spesialnya sih dia? Cuma janda anak dua. Lebih dari dia bisa kamu dapetin loh, Mas."


"Maksud kamu apa? Kamu menghina istri saya?" Fatih tak terima. "Atas apa yang kamu lakukan dulu saya berusaha bersikap baik sama kamu. Sebenarnya saya malas ketemu sama kamu lagi. Tapi karena hidup saya sudah sempurna, saya mencoba memaafkan dan menerima kedatangan kamu dengan baik. Tapi sepertinya kamu sengaja mau mengganggu ketenangan hidup saya."


"Ya, maaf, Mas."


"Lalu buat apa kamu sengaja menghubungi saya ketika sedang di rumah. Sengaja biar istri saya curiga!?"

__ADS_1


"Gak, Mas. Aku gak bermaksud seperti itu."


"Saya peringatkan, ya, jangan sembarangan kamu dalam menilai istri saya. Dia wanita yang jauh lebih baik dari kamu. Setelah ini stop telpon dan datang ke kantor saya. Soal kasus kamu, silahkan bicara di tempat lain." Fatih berbalik meninggalkan mantan istrinya. Dia terus berjalan menuju mobil di parkiran. 


__ADS_2