Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 6


__ADS_3

Hugo yang tak biasa bangun pagi, kini sebelum matahari terbit matanya sudah nyalang sempurna. Debaran di dada terus mengusik, membuatnya tak sabar ingin cepat-cepat bertemu dengan darah daging. Sebelum berangkat ke Rumah Sakit ia memperhatikan penampilan di cermin untuk memberikan kesan pertama yang baik.


Selama di perjalanan, ia berdebat dengan pikirannya sendiri. Ia tak tau harus apa dan bersikap seperti apa. Baginya bertemu dengan seorang wanita jauh lebih mudah ketimbang bertemu dengan sang anak. Mungkin karena ia sudah berpengalaman dalam menaklukan wanita, sedangkan dalam urusan mendekati anak-anak ia tak tau apa-apa.


Singgah di sebuah mall, Hugo mengelilingi tempat khusu mainan. Ia bingung harus membeli apa karena tak tau mainan jenis apa yang disukai anaknya. Dalam hati ia sangat yakin kalau anaknya nanti merupakan seorang laki-laki yang tampan dan gagah sepertinya. Namun, karena takut salah ia memilih membeli mainan untuk anak perempuan dan laki-laki.


Tanpa pikir panjang diambil beberapa mainan yang menurutnya paling bagus lalu di masukkan kedalam keranjang. Setelah merasa cukup kakinya melangkah menuju kasir, ternyata di sana ia tak sengaja bertemu dengan Candra.


“Sebanyak ini?” tanya Candra.


“Gue gak tau apa dia laki atau perempuan, makanya beli dua,” jawab Hugo.


“Anak kamu laki-laki dan anak saya perempuan.”


“Benarkah?”


“Iya.”


Hugo tersenyum mekar, tebakannya sangat tepat. Kini hatinya makin tak tahan untuk segera berjumpa.


“Saya juga membelikan mainan untuk anak kamu. Kaina ingin kita berdua bisa adil pada mereka,” jelas Candra.


“Maksudnya?”


“Sudahlah, nanti dia pasti akan menjelaskan. Sekarang kita bayar ini dulu dan segera ke Rumah Sakit.”


Hugo setuju.


...----------------...



...----------------...


Sebelum bertemu dengan para anak-anak, Kaina mengajak dua pria itu bicara enam mata di kantin Rumah Sakit. 


“Aku harap kalian berdua bisa menyayangi kedua anakku dengan adil. Jangan hanya sayang pada anak kandung sendiri, karena yang mereka tau kalian berdua adalah ayahnya.” Kaina berkata dengan lembut sambil menatap dengan penuh harap.


Candra mengangguk setuju.


“Kenapa gak katakan saja yang sebenarnya pada mereka,” tanya Hugo

__ADS_1


“Sekarang belum saatnya, karena mereka masih kecil. Biarkan mereka menikmati masa anak-anaknya dengan bahagia memiliki dua ayah. Untuk hal itu, akan menjadi urusanku nanti jika waktunya sudah tepat. Aku Ibunya dan aku yang akan memutuskan kapan mereka bisa mengetahui ini semua,” tegas Kaina.


“Oh, oke baiklah kalau begitu.”


“Aku akan berusaha menyayangi keduanya, menganggap Kama juga anak kandungku” kata Candra.


“Aku juga,” jawab Hugo. “Jangan terlalu khawatir, berikan kami waktu untuk menyesuaikan diri.”


“Aku juga sudah membuat janji dengan Dokter. Nanti kalian bisa bertemu dengannya untuk mendapatkan penjelasan soal kondisi Kama dan Kalila. Satu lagi, kebetulan hari ini mereka ada jadwal cuci darah, aku harap kalian berdua bisa menemani,” tambah Kaina.


“Oke, aku seharian ini gak ada kerjaan, paling ntar malam bakalan ke klub,” jawab Hugo.


“Baiklah, aku juga akan kosongkan jadwal di kantor siang ini,” sambung Candra.


“Terima kasih. Kalau begitu ayo, sekarang kita temui mereka. Pasti Kama dan Kalila sudah tak sabar ingin bertemu kalian,” ajak Kaina.


 


Mereka bertiga segera pergi dari sana menuju ruang Inap si kembar. Seiring langkah ketiganya merasakan debaran yang sama. Gugup, takut, khawatir, tapi juga ada rasa senang dan bahagia. Semua menjadi satu memenuhi rongga dada yang membuat mereka berkali-kali menghembuskan nafas panjang. 


“Siap?” Kaina bertanya pada dua pria di samping juga pada dirinya sendiri.


Karena gugup, hanya kepala yang bisa mereka anggukan. Kaina pun membuka daun pintu yang ada di depannya, tampak di dalam sana dua anaknya sudah menanti. Dia masuk dan di susul dua pria.


Candra pun tersenyum ke arah mereka sedangkan Hugo melambaikan tangannya. Mereka belum berani mendekat karena takut anak-anak itu belum mau bersama mereka.


Namun, semua diluar dugaan, Kama dan Kalila bergegas turun dari ranjang lalu segera menghampiri. Menarik celana Hugo dan Candra agar sejajar dengan mereka dan keduanya memeluk pria itu secara bergantian. 


“Aku Kama dan ini Kalila, adik ku,” jelas Kama pada dua pria itu.


“Bawa Ayahnya duduk dong, sayang,” kata Kaina.


Si kembar menarik masing-masing Ayah biologi mereka menuju karpet bulu yang memang disediakan di sana untuk mereka bermain. Baik Canda dan Hugo hanya tersenyum lebar. Mereka menatap tak percaya pada darah dagingnya masing-masing.


“Ayah Candra maunya tetap dipanggil Ayah atau diganti?” tanya Kalila.


“Ayah aja,” jawab Candra.


“Kalau Ayah Hugo?”


“Kama maunya panggil apa?” Hugo balik bertanya pada putranya.

__ADS_1


“Papa aja, biar beda.”


“Setuju.”


“Oh, iya, tadi Ayah dan Papa sempat beli hadiah buat kalian berdua. Kami gak tau mau beli apa, jadi cuma bisa kasih mainan.” Candra memberikan plastik besar yang dibawanya tadi diikuti oleh Hugo.


“Wwwaahh … banyak sekali, terima kasih Ayah, Papa,” seru si kembar lalu memeluk kedua pria itu bergantian.


“Kita buka, yuk!” ajak Hugo.


Para Ayah dan Anak itu tampak asik membuka semua mainan yang ada. Mereka mulai merakitnya bersama-sama. Tanpa sadar, Kaina yang sedari tadi memperhatikan merasa matanya mulai berembun. Ada  haru dan bahagia yang menyentuh hati. Senyum mekar di wajah sang anak sangat menggambarkan kalau mereka tengah merasa bahagia akhirnya bertemu jua dengan sosok yang selama ini dipertanyakan. 


Meskipun selama ini ia sudah berusaha memberikan kasih sayang penuh pada dua anaknya , tapi kehadiran sosok Ayah melengkapi hidup mereka. Dini yang juga ada di sana paham betul apa yang tengah dirasakan sang putri. “Semoga anak-anak kamu bisa mendapatkan apa yang selama ini mereka inginkan.”


“Entahlah, Bu, aku tak yakin kedua pria itu bisa menyayangi mereka dengan tulus, layaknya seorang Ayah.”


“Jangan berpikir seperti itu. Meskipun ini mengejutkan buat mereka, tapi Ibu yakin Candra dan Hugo bisa menyesuaikan diri.”


“Aku gak berharap banyak, Bu. Hanya satu yang ku minta, yaitu ginjalnya. Setelah itu, mau mereka sayang atau tidak pada Kama dan Kalila, itu pilihan mereka.”


Dini mengerti lalu dielusnya punggung sang anak.


...****************...


Penasaran dong, di atas kok ada iklan sih?!


Yap, itu iklan novel dari salah satu teman sesama penulis.


Kalian bisa mampir di sana dan tinggalkan jejak. Aku kasih sedikit bocoran biar makin penasaran


...Aleta Winandra. gadis ceria yang suka membuat kegaduhan dimana pun dia berada bersama dengan teman-teman semaksiatan nya....


...Mereka suka melakukan sesuatu hal diluar kewarasan manusia lainnya, dan selalu membuat orang lain sial saat berada di dekat mereka....


...Namun suatu ketika, terjadi masalah dalam keluarga Aleta yang membuatnya harus melakukan sebuah rencana besar....


...Dalam rencananya itu, Aleta melibatkan seorang pengusaha terkenal bernama Agra Mahesa....


..."lihat saja. aku akan menjeratmu dan mengikatkan rantai diseluruh kehidupanmu," ucap Aleta disuatu malam....


...Apakah Aleta bisa menjerat Agra ? atau malah Agra yang akan membakarnya dengan sifat liciknya ?...

__ADS_1


...Yuuk ikuti kisah mereka yang penuh dengan tawa dan kegaduhan....



__ADS_2