Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 51


__ADS_3

Sebelum berangkat, Kaina menceritakan rencananya tadi pada sang suami dan bapak mertua. Keduanya setuju biar si kembar tak merasa kesepian selama tinggal di rumah ayah biologis mereka.


“Kamu daftarkan saja mereka di sekolah A. Nanti biar Bapak yang urus biayanya,” kata Fadilah.


“Itu sekolah mahal, Pak. Gak perlu, cukup di sekolah biasa saja,” sela Kaina.


“Bagi Bapak yang penting itu sekolahnya bagus. Soal biaya gak masalah.”


“Tapi, Pak-”


“Udah, Kai, besok kamu daftarkan saja anak-anak disana,” potong Fatih. “Kita berangkat sekarang?”


Nafas panjang dihela Kaina. “Ya, sudah, iya besok saya daftarkan mereka di sekolah yang Bapak sarankan.”


“Nah, gitu dong,” seru Fadilah. “Sini peluk Opa dulu,” meminta cucunya mendekat.


Kama dan Kalila melingkarkan tangan kecil mereka di leher sang kakek. Terakhir melabuhkan sebuah kecupan di pipi. “Sampai jumpa minggu depan Opa,” kata mereka.


“Iya, kalian yang sabar, ya. Sekolahnya yang rajin dan semangat, biar bisa juara. Nanti Opa ajak jalan-jalan ke luar negri.”


“Serius, Opa?” Kalila tak percaya.


Fadilah memberikan kelingkingnya. “Nih, Opa janji.” Gadis kecil itu pun menautkan jari kelingking mereka.


“Yuk, jalan keburu malam,” ajak Fatih.


“Pak, kami jalan dulu,” pamit Kaina.


“Iya, hati-hati jalanan agak licin soalnya habis gerimis.”


“Iya, Pak,” balas Fatih.


...🍁🍁🍁🍁...


Tujuan pertama adalah ke rumah Candra dan Brigita. Kaina ingin membahas rencananya tadi.  “Mas, nanti temani saya bicara, ya.”


“Kenapa?”


“Takutnya nanti Brigita punya alasan biar Kalila gak satu sekolah sama Kama. Kasihan kalau mereka sampai pisah.”


Fatih mengangguk. “Sebenarnya hak asuh Kalila gak akan pernah menjadi milik dia sepenuhnya selama kamu masih hidup. Cuma yang jadi masalahnya kini kita gak punya bukti kalau kamu di jebak saat menandatangani surat-surat pernyataan itu,” jelas Fatih.


“Terus gimana dong, Mas? Pasti sulit banget, ya, buat saya menang di persidangan.”


“Lumayan, makanya kini saya fokus dulu sama kasusnya Adit selama cari bukti buat kasus kamu dan anak-anak.”


“Kalau Kama gimana? Bakalan susah juga gak buat ambil hak asuhnya dari Hugo.”


“Karena kamu terpaksa menandatangani surat perjanjian, artinya kita bisa gunakan hal itu untuk menyerangnya. Di tambah kamu juga ada saksi, yaitu ibu, Dokter Tina, dan Candra. Saya juga mau kumpulkan bukti sedikit kalau dia gak pantas untuk mengasuh Kama karena sikapnya yang tak baik.”


“Terus kapan persidangannya dimulai?”


“Sabar, ya, kita ikuti proses. Setidaknya sekarang kamu bisa sama anak-anak tiap weekend.”

__ADS_1


Senyum lebar bergaris di wajah Kaina. “Makasi, ya, Mas.”


“Sama-sama. Seminggu kita berumah tangga jujur saya akui kehidupan saya sedikit banyaknya berubah dan ada warna. Mungkin karena kehadiran mereka.” Fatih melirik si kembar lewat kaca spion tengah. “Saya takut baper sama mereka, kayak yang kamu bilang semalam. Kami nantinya bakalan sulit pisah.”


“Kalau sama saya gimana?” Kaina sengaja menggoda sang suami.


“Dari awal saya sudah jelaskan kalau kita hanya sebatas teman.”


“Artinya kita FWB-an dong!” kekeh Kaina.


“Apa itu?” Fatih mengerutkan kening pertanda tak paham.


“Cari aja di google. Males jelasinnya nanti kedengar anak-anak.”


“Nanti saya cari.”


“Hahaha … gak usah, saya cuma bercanda.”


Fatih jadi penasaran, tapi dia memilih fokus mengemudi terlebih dahulu.


...🍄🍄🍄🍄...


Candra menyambut tamunya dengan ramah, sedangkan sang istri tampak memasang wajah juteknya. 


“Maaf, agak sore soalnya tadi mereka pada gak mau balik,” jelas Kaina.


“Gak papa, Kai, santai aja,” balas Candra.


“Kapan?” tanya Brigita.


“Rencananya besok. Saya akan jemput mereka buat daftar sekalian lihat-lihat sekolahnya.”


“Kalau aku sih terserah kamu, Kai. Bagaimanapun kamu ibunya dan kamu berhak menentukan yang terbaik buat mereka,” tutur Candra.


“Kok mendadak?” tanya Brigita lagi.


“Kita juga baru bicarakan tadi sore,” jelas Kaina. “Gimana?”


Brigita terdiam tampak sedang memikirkan hal itu.


“Anda, tenang saja. Kaina cuma akan mengantarkan anak-anaknya ke sekolah dan menjemputnya, tapi tetap akan mengantarkan pulang kesini,” celetuk Fatih.


“Sudah, Bri, setuju saja. Kalau kamu keberatan Kaina yang akan mengantarkan Kalila kamu bisa ikut kan.” Candra berusaha membujuk istrinya.


“Oke deh. Besok kita ketemu saja di sekolah itu, kirim alamat lengkapnya,” ketus Brigita.


Merasa senang, Kaina memeluk sang putri. “Yes, besok Adik daftar sekolah.”


“Yeeaaa … .” Kalila bersorak riang.


“Kami cuma mau menyampaikan hal itu. Kalau begitu kami pamit mau antar Kama ke rumah papanya,” izin Kaina. Sebelum pergi wanita itu kembali mengingatkan anaknya. “Jadi anak yang baik, dengar kata ayah dan Tante Bri.”


“Iya, Bunda.”

__ADS_1


“Pintar.”


Kemudian Kalila menghampiri ayah sambungnya. “Ayah semangat, ya, buat perjuangin aku supaya bisa sama bunda lagi.”


“Insyaallah. Gadis pintar jangan sedih, harus kuat.” Mereka pun berpelukan. 


Terakhir dua saudara kembar itu pun saling memeluk erat sebagai tanda perpisahan. “Besok kita ketemu lagi,” kata Kama.


Kalila hanya mengangguk. Bersama Candra dia melepas kepergian ibu dan saudaranya.


...🍒🍒🍒🍒...


Tiba di rumah Hugo, mereka disambut oleh Suci di depan teras rumah. 


“Maaf, Bu, sampainya agak malam soalnya tadi kita antar Kalila dulu,” jelas Kaina.


“Ibu tau. Yuk, masuk!”


“Hugo kemana, Bu?” tanya Fatih. Walu dulu wanita itu pernah membencinya, Fatih tetap berusaha bersikap baik.


“Biasa, lagi kumpul sama teman-temannya.”


Mereka pun duduk di ruang tamu.


“Begini, Bu, tadi saya sama Mas Fatih dan bapak sepakat mau daftarkan Kama di sekolah A. Jadi besok pagi saya akan jemput Kama buat lihat-lihat sekolahnya,” terang Kaina.


“Boleh dong tentu saja Ibu setuju,”sambut Suci senang.


“Tapi saya takut nanti Hugo mempermasalahkan karena gak izin sama dia.”


“Untuk soal ini biar Ibu yang bicara sama dia. Masak anaknya mau sekolah di permasalahkan.”


“Benar, ya, Bu?  Biar besok pagi Kaina gak debat sama dia pas bawa Kama,” tuntut Fatih.


“Ibu bakal pasang badan kalau Hugo cari gara-gara.” Suci meyakinkan.


“Kami cuma mau bilang itu saja. Karena sudah malam, saya dan Mas Fatih pulang, titip Kama, Bu,” pamit Kaina.


“Iya, titip salam buat bapak.”


“Nanti saya sampaikan,” jawab Fatih.


“Abang, Bunda sama Ayah pulang, ya,” kata Kaina pada putranya.


“Iya, Bunda.” Tak lupa pria kecil itu mendekap sang ibu juga ayah sambungnya.


“Ayo, kita antar Bunda sama Ayah ke mobil,” ajak Suci. Membimbing sang cucu mengantarkan kepulangan ibunya.


“Dada, Abang,” sorak Kaina dari dalam mobil.


“Dada, Bunda, Ayah,” balas Kama.


Keluar dari rumah Suci, Fatih membunyikan klakson mobil dan membalas lambaian tangan anak sambungnya.

__ADS_1


__ADS_2