Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 92


__ADS_3

“Dit, saya ambil lagi tanggung jawab kamu. Tapi kali ini saya gak akan mengembalikannya.” Fatih berkata pada adik iparnya.


Adit tertawa kecil. “Alhamdulillah, artinya sekarang saya bisa bernafas lega, ya, Bang.”


“Tentu. Kamu sudah bisa fokus cari pacar,” kekeh Fatih.


“Masih ada ibu yang harus di jaga,” sela Kaina.


“Iya, aku tau itu, Kak.”


“Terus kalian berangkat sama apa?” tanya Dina.


“Dijemput sopirnya bapak, Bu,” jawab Fatih.


“Abang sama Kakak pamit dulu sama ibu dan Omdit,” ujar Kaina pada anak-anaknya.


Kama dan Kalila turun dari sofa menghampiri sang nenek dan paman tersayang. “Kita ke rumahnya opa, ya, Bu,” kata Kama.


“Nanti kalau kita kangen mau kesini, Omdit bisa jemputkan?” tanya Kalila.


“Bisa dong,” jawab Adit. “Apa sih yang enggak buat kalian.”


“Cucu Ibu di sana jagan rewel, jangan bikin bundanya capek. Ingat bunda lagi sakit dan sedang hamil dedek bayi.” Dina berpesan pada dua cucunya.


Si kembar pun mengangguk paham.


Sebuah mobil alphard warna hitam memasuki halaman rumah. “Itu jemputan kami sudah tiba,” kata Fatih.


Semuanya berdiri. Adit membantu mengantarkan barang-barang ke mobil dan memasukkannya ke bagasi. 


“Jaga kesehatan, apa kata suamimu jangan di bantah. Ibu harap kamu mengerti perasaannya Fatih,” pesan Dina pada sang putri.


“Iya, Bu. Nanti sering-sering main ke sana, ya,” balas Kaina.


“Insyaallah.”


Setelah anak-anaknya duduk di bangku belakang, Fatih membantu istrinya masuk mobil. “Bu, Adit kami jalan dulu.”


“Iya. Selamat sampai rumah,” jawab Dina.


“Jangan lupa kabari nanti, Bang,” tambah Adit.


Fatih mengangguk lalu dirinya pun masuk ke dalam kereta. Roda empat itu keluar dari halaman rumah Dina. Mereka semua saling melambaikan tangan tanda perpisahan.


...🐸🐸🐸🐸...


Fadilah menyambut kedatangan anak,menantu serta cucunya di depan teras rumah. Kama dan Kalila yang turun duluan langsung memeluk sang kakek.


“Opa,” sapa mereka. Ketiganya saling melepas rasa rindu.


Kemudian Fatih dan Kaina menghampiri orang tua itu dan menyalami tangannya. “Gimana kaki kamu, Kai?” tanya Fadilah.


“Alhamdulillah gak sakit kok, Pak. Cuma yang jalannya memang harus pelan-pelan,” jawab Kaina.


“Ayo, masuk! Kasian kamu kalau berdiri lama-lama.”


Dibimbing suaminya, Kaina berjalan memasuki rumah. 


“Kemarin pas Fatih bilang kalian mau pulang, Bapak langsung pindahkan kamar kalian ke bawah,” jelas Fadilah. “Biar Kaina gak capek naik turun tangga karena lagi hamil.”

__ADS_1


“Makasih, Pak,” ungkap Fatih.


“Terus Bapak juga udah tambah satu ART dan satu baby sitter buat urus si kembar.”


“Loh, Pak, kenapa pakai jasa baby sitter segala?” tanya Kaina. “Saya masih bisa urus si kembar kok.”


“Bapak cuma gak mau kamu kecapekkan ngurus anak-anak. Apa lagi kamar mereka masih di atas, sama aja boong kamar kamu dan Fatih Bapak pindahin ke bawah.”


“Ya, tapi, Pak-”


“Kenapa? Merasa kurang atau mau Bapak sewa satu lagi?”


Kaina menggeleng. “Satu aja udah cukup, Pak.”


“Nah, gitu dong. Kamu itu gak perlu protes, semuanya sudah bapak urus. Kamu itu sekarang cukup jalani kehamilan dengan tenang dan santai. Gak usah capek-capek ke dapur atau urus Kama dan Kalila.”


“Ternyata Bapak sama aja kayak, Mas Fatih,” keluh Kaina. 


“Sama gimana?”


“Terlalu berlebihan. Padahal saya gak sakit parah, masih bisa jalan dan beraktifitas normal.”


Fadilah tertawa kecil. “Bukan berlebihan, Kai. Ini bentuk perhatian Bapak karena kamu lagi hamil cucu Bapak. Cucu yang selama ini Bapak nanti-nantikan.”


“Udah, kamu mendingan gak usah protes atau debat,” sela Fatih. “Nikmati aja, dan bersyukur punya suami dan mertua yang sayang sama kamu.”


Kaina memaksakan senyum lebar di wajah. “Makasih, Pak, Mas.”


“Sama-sama,” balas Fadilah.


“Kalau gitu saya bawa Kaina ke kamar dulu, Pak, biar dia bisa istirahat,” ujar Fatih.


Kaina dan Fatih mengangguk setuju.


“Ayo, kita lihat kolam ikan! Opa punya kolam ikan baru.” Fadilah mengajak cucunya beranjak dari sana.


Ketika masuk kamar, Kaina merasa takjub dengan dekorasinya. Semua tampak berbeda dari kamar yang kemarin. “Ini sih namanya bapak bikin kamar baru deh, Mas,” ujar ibu hamil itu.


“Aku yang minta, Kai,” jelas Fatih. “Biar kamu gak bosan dan bisa ganti suasana.”


Fatih menumpuk bantal agar sang istri dapat menyandar dengan nyaman.


“Aku ngantuk deh, Mas.”


“Ya udah tidur aja.”


“Gak enak lah, masak baru nyampe langsung tidur.”


“Gak papa, namanya ibu hamil itu ya pasti pengen tidur aja.”


“Kok kamu tau?”


“Belajar dong, Kai. Semalam aku baca-baca artikel soal wanita hamil biar aku bisa paham.”


Kaina mengelus pipi suaminya. “Makasih, ya, mau mengerti kondisi aku.”


“Sudah kewajiban seorang suami.” Fatih menarik selimut sebatas pinggang istrinya. “Kamu tidur aja, aku tinggal, ya.”


“Mas, mau kemana?”

__ADS_1


“Mau ke depan aja lihat anak-anak sama bapak. Sekalian mau beresin beberapa kerjaan.”


“Ya udah deh.”


Sebelum keluar, Fatih mendaratkan sebuah kecupan di dahi istrinya.


...🐽🐽🐽🐽...


Malamnya, Candra dan Brigita datang ke rumah Fadilah ingin bertemu dengan Kalila sekaligus menjenguk Kaina. 


“Tadi kami pikir kamu masih di rumahnya Bu Dina. Sempat kesana terus kata beliau kamu sudah kembali kesini jadi kami samperin deh,” kata Candra.


“Aku dan Mas Fatih gak jadi pisah,” jelas Kaina.


“Alhamdulillah kalau gitu.”


“Ternyata kami saling mencintai,” tambah Fatih. “Ditambah Kaina lagi hamil.”


“Wah, selamat kalau begitu. Kami ikut bahagia mendengarkan,” ujar Brigita.


“Terima kasih.”


“Doakan juga kami bisa di kasih rezeki yang satu itu sama Allah.”


Kaina dan Fatih mengangguk. "Aamiin."


“Oh, ya, Kai, kalau kamu memutuskan untuk berhenti bekerja di showroom nggak papa,” ungkap Candra.


“Kebetulan tadi aku juga mau bahas masalah itu. Terus nanti siapa yang bakalan bantu kamu?” tanya Kaina.


“Sebelum aku punya karyawan baru, Brigita akan menggantikan posisi kamu.”


“Bagus kalau begitu. Besok laptopnya aku minta di antar Adit ke kantor kamu.”


“Boleh.”


Kalila yang tadinya duduk di pangkuan sang ayah, turun menghampiri ibunda. “Bun, ngantuk. Aku mau bobok.”


“Ya udah, bilang sama ayah dulu,” ajak Kaina.


“Anak Ayah mau istirahat?” tanya Candra. “Kalau begitu saya dan istri juga pulang Pak Fatih.”


“Panggil Fatih saja,” balas suami Kaina.


Candra merasa sungkan. “Maaf kami sudah mengganggu waktu istirahat Anda dan keluarga.”


“Tidak sama sekali. Kami senang menyambut kedatangan ayahnya Kalila.”


“Terima kasih. Kalila, Ayah sama Tante Bri pulang, ya.”


Gadis kecil itu hanya mengangguk.


“Mari saya antar ke depan,” ajak Fatih.


Sebelum anak-anaknya masuk kamar, Kaina memeluk dan mencium keduanya sebagai ucapan selamat tidur. “Maaf, ya, Bunda gak bisa temanin soalnya kaki Bunda masih sakit sedikit.”


“Gak papa,” jawab Kama.


“Bobok sama suster, ya.”

__ADS_1


“Da, Bunda.” kata si kembar. Mereka berdua menuju kamar bersama pengasuh.


__ADS_2