
"Gak bisa, Kai. Udah kamu ke salon aja, ya."
Karena ibunya terus memaksa, Kaina akhirnya setuju. Dari rumah nanti dia akan ke salon untuk melakukan perawatan.
...💐💐💐💐...
Dirumah mewah Fadillah, orang-orang tampak sibuk mendekor halaman rumah yang sangat luas itu dengan tenda serta dekorasi lainnya. Walaupun pernikahan Fatih dan Kaina akan digelar dengan sederhana, tapi pria tua itu tetap memberikan yang terbaik. Dia akan mengundang beberapa rekan bisnisnya yang palin dekat.
Jadi, sederhana yang dibayangkan Kaina tak seperti yang dibayangkan Fadillah. Pasti nanti calon menantunya itu akan kaget dengan dekorasi mewah ini.
“Pak, ini bukan sederhana namanya,” ujar Fatih. Ayah dan anak itu sedang menikmati sarapan mereka di teras rumah.
“Bagi bapak ini sederhana.”
“Ini termasuk mewah, Pak. Bedanya cuma gak di hotel saja.”
“Bawel banget sih, Tih. Udah sana kamu berangkat kerja, tapi ingat H-1 kamu sudah cuti hingga tiga hari kedepannya.”
“Buat apa?” tanya Fatih sambil membawa cangkir teh ke mulut.
“Memangnya kamu gak mau pergi bulan madu?”
Fatih tersedak hingga dia terbatuk-batuk cukup lama.
“Makanya minum itu hati-hati.” Fadilah menepuk-nepuk punggung putranya.
“Udah, ah. Saya males ngomong sama Bapak.” Fatih bangkit dari duduknya sambil meraih tas kerja di samping bangku.
“Loh kenapa?”
“Bapak mulai ngaco,” katanya berlalu.
“Ngaco dari mana? Kamu yang ngaco pengantin baru gak pergi bulan madu.”
“Assalamualaikum,” balas Fatih sebelum masuk mobil.
"Waalaikumsalam."
...🌸🌸🌸🌸...
Atas permintaan kakaknya, hari ini Adit akan menemui Candra dan bicara dengannya. Dia sudah menghubungi ayah biologis Kalila itu untuk membuat janji. Candra pun setuju dan mereka akan bertemu di salah satu restoran dekat kantornya. Sepuluh menit sebelum waktu janjian mereka, Adit sudah sampai di tempat.
Tak berselang lama, Candra pun tiba di sana. “Sudah bebas, Dit?”
“Belum, Bang, cuma dapat jaminan saja.”
“Siapa yang jamin kamu? Bukannya Kaina sudah bangkrut?”
Adit tersenyum. “Calon suaminya.”
Candra langsung memasang wajah bingung tak percaya. “Maksud kamu?”
__ADS_1
“Beberapa hari lagi Kak Kaina bakalan menikah. Saya datang mau mengantarkan undangan ini.” Memberikan kertas yang di bungkus dengan elegan bertuliskan inisial F dan K. “Semoga, Abang, bisa datang bersama Kalila. Bagaimanapun dia sangat rindu dengan anaknya begitu juga sebaliknya bukan.”
Candra tertunduk, tapi matanya tak lepas dari undangan itu. Ingin hati membuka dan membacanya, tapi dia takut jika ini nyata adanya.
“Tolong kali ini pertemukan Kalila dengan ibunya,” tambah Adit.
“Akan saya usahakan.”
“Satu lagi, Bang, saya mau tahu tentang supermarket kami yang dijadikan jaminan oleh kakak untuk pinjamannya pada istrimu.”
“Oke, nanti saya coba tanya dulu sama Brigita. Kalau dapat info akan saya kabari.”
“Terima kasih, Bang. Kalau gitu saya pamit.”
“Tunggu, Dit,” tahan Candra.
“Ya, Bang?” Adit kembali duduk di kursi tadi.
“Ini serius kakakmu mau menikah?”
“Serius, Bang, memangnya kenapa?”
Candra menggeleng. “Gak papa, cuma mau memastikan saja. Titip salam buat dia.”
“Siap. Saya pergi, ya, Bang.”
“Iya.”
“Cari siapa, Mas?” sapa seseorang di depan halaman rumah.
“Saya mau ketemu Pak Fadilah.”
“Masuk aja, Mas. Kayaknya yang dicari sedang memantau dekorasi di dalam.”
“Oh, baik. Makasi.”
Adit terus melangkah dengan matanya yang menyapu setiap sudut halaman nan sudah didekorasi. Hingga dirinya tiba di dalam rumah, seorang ART menyapanya. “Cari siapa, Mas?”
“Pak Fadilah. Tadi saya langsung disuruh masuk saja.”
“Ayo, mari. Bapak sudah menunggu.”
Adik Kaina itu diajak menuju lantai dua dimana Fadilla sedang menikmati pemandangan rumahnya dari sana.
“Pak, Mas Aditnya suduah tiba,” jelas ART.
“Akhirnya, sampai juga. Duduk,” ajak Fadilah. “Gimana? Susah gak cari alamat sini.”
“Gak Pak, saya tadi naik taxi online dan kebetulan supirnya tahu daerah sini.”
“Bagus kalau gitu. Gimana ibumu?”
__ADS_1
“Sudah sembuh, Pak, cuma nanti beliau harus kontrol sekali sebulan.”
“Ya, namanya usia senja. Saya kelihatan sehat begini tiap bulan juga harus kontrol ke RS.”
“Mudah-mudahan Bapak panjang umur.”
“Aamin. Ada perlu apa?”
“Itu, ibu nyuruh saya kemari buat bantu-bantu, tapi kayaknya tenaga saya gak dibutuhkan,” kekeh Adit.
“Semua hampir beres. Bilang sama ibu kamu gak perlu khawatir.”
“Sekalian saya mau bicara sesuatu sama Bapak.”
“Soal?”
Adit menarik nafas dalam. Setelah di pikirnya, Fadilah harus tahu rencana percerain yang disepakati kakaknya dengan Fatih. Ini semua ia lakukan agar nantinya tidak terjadi kesalahpahaman antara Fadillah dengan Kaina.
“Apa, Bapak, tahu kalau Bang Fatih dan kakak saya berencana akan bercerai setelah hak asuh Kama dan Kalila di dapat?”
Fadilah terdiam sejenak.
Adit sudah bisa menangkap jawaban dari raut wajah pria tua yang duduk di depannya ini.
“Saya gak tahu, Dit. Tapi saya memang menduga-duga ada sesuatu yang direncanakan Fatih kenapa dia dengan mudahnya menerima pernikahan ini padahal awalnya dia tak mau.”
“Maaf, kalau saya datang membawa sebuah kekecewaan.”
“Gak, justru saya berterima kasih karena kamu memberikan saya jawaban atas keraguan yang selama ini selalu mengusik pikiran.”
“Terus, apa Bapak akan tetap membiarkan pernikahan ini berlangsung?”
“Kenapa kamu bertanya begitu?”
“Saya cuma gak mau nantinya Bapak merasa dimanfaatkan saja oleh kakak saya.”
Fadillah menyandarkan diri di sofa. Duduk dengan nyaman agar pembicaraan ini juga terkesan santai. “Anggap saja ini usaha saya untuk mempersatukan mereka. Siapa tahu kebersamaan mereka setelah menikah nanti dapat menumbuhkan rasa di hati.”
“Kalau boleh saya tahu, apa alasan Bapak begitu yakin dengan kakak saya. Sedangkan dia punya masa lalu yang mungkin akan sulit untuk bisa diterima.”
“Setiap orang punya masa lalu yang buruk, tapi bukan berarti dia bukan orang baik. Saya yakin setelah Kaina membantu saya waktu itu dia adalah wanita yang pas untuk Fatih.”
“Tapi bagi kakak saya Bang Fatih terlalu baik untuknya. Karena itu dia sepakat dengan perceraian nanti.”
“Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, begitu juga dengan anak saya. Semoga nanti mereka berdua bisa saling melengkapi. Walau pernikahan ini terjadi karena paksaan oleh keadaan, saya harap perceraian itu tak benar terjadi.”
“Aamiin.”
Fadilah tersenyum. “Ternyata kamu lelaki muda yang dewasa. Saya gak nyangka kamu datang dan mau membicarakan hal ini dengan saya. Walau ada resiko saya akan membatalkan pernikahan ini dan tak jadi membantu Kaina.”
“Saya percaya Bapak orang yang sangat bijak maka saya tak ragu untuk mengatakannya. Lebih baik kita bicarakan di awal daripada nanti ketahuan di akhir. Saya gak mau ada penyesalan.”
__ADS_1