
Dirinya tak berhasil membuat sang adik bisa keluar dari balik jeruji besi meski sudah memberikan dirinya sebagai jaminan. Kalau untuk uang, Kaina akui dia sudah tak punya apa-apa lagi. Untuk hidup besok saja dia sedang berpikir. Karena tak mungkin harus menggunakan uang dari supermarket yang belum dibukukan.
Satu-satunya jalan yang nampak, yaitu menjual mobil yang selama ini digunakan. Toh masih ada motor Adit yang dapat dipakai sebagai alat transportasi. Dari kantor Polisi, Kaina menuju Rumah Sakit karena hari sudah mulai sore.
Tiba di sana sang ibu tampak tertidur lelap. Mengistirahatkan diri di sofa sambil memajang foto-foto roda empatnya di situs jual beli kendaraan second online. Pas azan magrib berkumandang, Kaina melakukan kewajibannya sebagai muslim lalu duduk di atas sajadah membaca kitab suci.
Sudah waktu makan malam, seorang petugas dari bagian ahli gizi mengantarkan makanan untuk Dina. Kaina menyudahi kegiatannya lalu membangunkan sang ibu untuk segera mengisi perut dan minum obat.
“Kamu sudah makan, Kai?” tanya Dina.
“Nanti, Bu, habis ini.”
“Kamu bawa makanan?”
Sambil mengulurkan sendok berisi makanan ke mulut ibunya, Kaina menjawab, “Iya, Bu, tadi aku sempat masak di rumah sekalian buat Adit juga.”
“Gimana Adit?” Dina bertanya sambil berusaha menahan kesedihan di hati jika mengingat keadaan sang putra.
“Adit baik kok, Bu. Cuma, ya, namanya di penjara pasti gak senyaman kita bebas dan tinggal di rumah.”
Dina hanya diam mengunyah makanan.
“Ibu gak usah khawatir, nanti setelah operasi Ibu selesai dan Ibu sembuh, aku akan cari pengacara buat bantu Adit bebas.”
“Gak usah, Kai. Ibu yakin, sekarang kamu pasti kesulitan uang kan?!”
“Biar aku yang pikiran bagaimana caranya. Ibu cukup pikirkan saja kesehatan, biar bisa jagain Kama sama Kalila nantinya.”
Makanan habis, Kaina menyiapkan obat yang akan diminum Dina. Setelahnya barulah dia menyantap nasi dingin yang sudah kaku nan di bawa tadi siang dari rumah. Sungguh rasanya dia ingin menangis saja mengingat kehidupan yang tak pernah adil padanya. Tak ingin Dina menjadi khawatir, Kaina berusaha menelan tangisan bersama nasi yang dimakan.
...🍥🍥🍥🍥...
Besok adalah harinya Dina menjalani tindakan operasi. Sebelum itu dia ingin bertemu dengan putranya. Kaina kembali ke kantor polisi untuk meminta sang adik agar bisa menjenguk ibu mereka di Rumah Sakit. Entah apa permasalahannya, dia harus menunggu kabar dari pihak kepolisian.
Pulang ke rumah, Kaina langsung menghempaskan dirinya di sofa ruang tamu. Menumpahkan segala beban di hati yang belakang berusaha di pendam. Hampir satu jam dia membuang air mata, menumpahkan rasa sakit yang seakan menusuk relung hati yang paling dalam. Sendiri, tak ada orang lain yang dapat mengerti. Dipeluk nestapa tersapu derita. Seiring keringnya air mata dia kembali mencoba menahan pedih yang tak ada habisnya.
...🍡🍡🍡🍡...
Sorenya, wanita malang itu kembali ke Rumah Sakit. Mempersiapkan hati dan kata untuk menyampaikan pada ibunda kalau harapannya tak dapat dipenuhi. Namun, baru saja ia tiba di depan pintu ruang rawat Dina, Adit keluar bersama seorang petugas.
“Loh, Dit, kok kamu bisa ke sini.” Kaina heran dan bertanya-tanya.
__ADS_1
“Aku yang bantu, Kai.” Candra muncul dari belakang adiknya.
“Kak, aku sudah ketemu ibu dan aku harus kembali. Sekali lagi maaf kalau aku gak bisa membantu.” Adit segera ditarik oleh petugas agar kembali ke tahanan.
Kaina yang ingin mengejar adiknya, ditahan tangannya oleh Candra. “Kenapa gak cerita soal Adit?”
Jadilah kini mereka berada di kantin Rumah Sakit. Kaina menceritakan masalah Adit pada ayah biologis dari putrinya.
“Tadi Adit sendiri yang menghubungiku. Aku sempat kaget saat tahu dia di penjara. Lalu dia bilang dipersulit untuk bisa datang menjenguk Ibu, aku langsung kesana bersama pengacara,” terang Candra.
Kaina mendengarkan dengan wajah tertunduk.
“Kamu kenapa, Kai? Kamu habis nangis, ya?” Candra menelisik wajah sendu sang mantan. Mata yang merah dan kelopaknya yang sembab, jelas sekali kalau Kaina baru saja mengeluarkan tetesan lara.
“Terima kasih sudah membantu.”
“Kai?”
Kaina mengangkat kepala dan berusaha tersenyum. “Aku baik-baik saja, Can, gak perlu khawatir.”
“Kai, jika kamu butuh bantuan hubungi saja aku. Aku akan selalu ada buat kamu.”
Kaina menggeleng. “Aku bisa sendiri, Can.”
Terbitlah garis keheranan di keningnya Kaina. “Maksud kamu apa?”
Candra berusa meraih jari-jari Kaina, tapi wanita itu menarik tangannya dari atas meja. “Jujur, aku masih cinta sama kamu, Kai. Melihat kamu begini sungguh aku ingin selalu ada disampingmu, membantu kamu, dan menemai kamu.”
“Maaf, Candra, aku gak butuh rasa kasihan dari kamu,” tegas Kaina.
“Aku gak kasihan, Kai. Aku benar-benar merasa sakit melihat kamu seperti ini.”
Nafas kasar di buang Kaina. “Sekarang aku tanya, kalau aku mau menikah dengan kamu, apa kamu akan menceraikan Brigita?”
“Tidak.” Candra menjawab dengan sangat cepat.
“Kenapa?”
“Kalau aku sampai menceraikan Brigita bagaimana aku bisa menghidupi kamu dan anak-anak. Membiayai ibu dan mengeluarkan Adit dari penjara.”
Kaina tertawa sarkastik. “Artinya aku ini akan jadi istri kedua? Begitu! Lalu apa lagi? Pernikahan kita ditutupi dari Brigita?”
__ADS_1
Candra memalingkan muka. “Itu lebih baik.”
Kelima jari Kaina sudah tak sabar ingin segera membelai kasar pipi pria yang duduk di depannya, tapi dia berusaha menahan diri agar tak mempermalukan Candra di depan orang ramai. Bagaimanapun pria ini sudah membantu sang Adik bertemu dengan Ibunda.
“Bajingan kamu, Candra! Dari dulu sampai sekarang ternyata kamu gak berubah.” Kaina berkata pelan tapi wajahnya berada tepat di depan wajah sang mantan. “Aku pikir kamu benar-benar tulus membantu, ternyata ada niat lain di belakangnya.”
“Kai, aku beneran tulus ingin membuat kamu bahagia,” yakin Candra.
“Dengan cara menyakiti Brigita?!”
Candra tak dapat menemukan kata-kata sebagai jawaban.
“Dia baik loh dan kamu tega menyakiti dia?” Kepalanya menggeleng tak percaya. “Cukup aku saja yang pernah kamu khianati, Can, Brigita jangan! Seharusnya kamu bersyukur dia bisa menerima masa lalu serta kesalahan kamu, menerima Kalila dan menyayanginya. Belum tentu ada wanita lain seperti Brigita.”
“Tapi aku tak bahagia bersamanya, Kai.”
“Itu karena kamu berharap bahagia dengan orang lain," sembur Kaina. "Buka mata kamu lebar-lebar dan coba terima Brigita. Aku jamin kamu pasti akan jauh bahagia hidup bersamanya nya ketimbang dengan bayang-bayang kita bersama,” tambahnya.
Candra menarik simpul dasi dari leher. Merasa gerah dengan suasana yang tercipta. Kemeja yang tadi tampil rapi kini sudah berantakan, jas kerja yang membalut tubuhnya menjadi gagah kini sudah di lepas. “Apa kamu benar-benar tak mau melakukannya demi si kembar?”
Kaina memutar bola mata. “Aku memang lemah jika sudah menyangkut anak-anakku, tapi aku tak akan melakukan hal serendah itu demi bisa bahagia bersama mereka.” Merasa terlalu banyak kata yang sudah di buang, ibu tunggal itu segera bangkit dari posisi dan menuju ruang rawat sang Ibu. Meninggalkan Candra seorang diri, toh urusan mereka sudah selesai. Soal bantuannya tadi dia juga sudah mengucapkan terima kasih.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Dukungannya jangan lupa, ya..
like👍 komen 💬 hadiah 🎁 vote 🔖 dan bintang ⭐ lima
Terima kasih 😊🥰
...________________...
jangan lupa singgah di karya author yang satu ini
...😊⏬...
Aldrich Marchdika yang meninggal karena konspirasi paman dan sahabatnya, akhirnya terlahir kembali dalam tubuh seorang pria tampan bernama Kendra Argantara yang berstatus sebagai mahasiswa abadi jurusan Tehnik Arsitektur di sebuah Universitas Negeri ternama di negeri ini, sekaligus sebagai pewaris tunggal Perusahaan besar Argantara Group. Namun, dia harus meninggal dunia akibat konspirasi dari tunangan dan sepupunya sendiri yang menginginkan harta warisan milik Kendra.
Bagaimana seorang Aldrich yang kini menjadi sosok Kendra mengungkapkan kematian si pemilik tubuh?
__ADS_1
Bagaimana pula dia mengatakan pada Allana kalau sebenarnya dia adalah suaminya, sedangkan pertemuan pertama Kendra dan Allana memberikan kesan yang buruk untuk istrinya?