Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 65


__ADS_3

Tak terasa satu bulan pun berlalu. Fatih belum juga bisa mendapatkan bukti untuk mencabut hak asuh Kalila dari Brigita. Dia pun mulai merasa frustasi. Perjanjiannya dengan Kaina tinggal dua bulan lagi. Jika dalam kurun waktu itu dia belum bisa memenangkan tuntutan. Artinya, dia dan sang istri belum dapat berpisah. 


Kaina merapikan dasi yang baru saja di pasanganya di kerah baju sang suami. “Sudah, Mas.”


“Makasih, Kai.”


“Nanti dari sekolahnya Kama, saya langsung ke supermarket, ya.”


“Iya. Hati-hati.”


“Kalau sempat, makan siangnya saya krim.”


“Iya.”


Keduanya turun menuju meja makan.


“Pagi Bunda, Ayah,” sapa Kama.


“Pagi, sayang,” balas Kaina. “Kamu sama siapa turunnya?”


“Sama Papa. Tadi di ajakin katanya Bunda lagi sibuk bantu ayah di kamar.”


“Ooh.”


“Tumben,” celetuk Fatih. 


“Emang salah,” ketus Hugo.


“Gak. Gak biasa ajak gitu.”


“Udah, Mas, biarin aja,” ujar Kaina. “Siapa tau Hugo mulai mendekatkan diri sama anaknya.”


“Mungkin juga dia mulai iri kali, Tih, Kama bisa dekat sama kamu ketimbang sama dia ayahnya,” tambah Fadilah.


“Siapa juga yang iri, biasa aja,” elak Hugo.


Fadilah dan Fatih pun sedikit menyunggingkan senyuman. Usai menghabiskan sarapan semuanya berangkat menjalankan kesibukan masing-masing. Dari sekolah putranya, Kaina menuju Bank untuk mengantarkan setoran pinjaman yang dibuat Brigita waktu itu. 


Setelah mengisi lembaran setoran tunai, dia menunggu antrian. Giliran namanya dipanggil wanita itu pun menyerahkan sejumlah uang beserta buku tabungan.


“Semua tagihan sudah dibayar lunas, Bu,” kata teller.


“Lunas?”


“Iya.”


“Tapi saya gak merasa sudah membayarnya. Bisa bantu saya cari tau siapa yang sudah melunasi tagihan ini?”


“Baik, mohon ditunggu sebentar, Bu.” Wanita di balik meja itu pun menemui rekan kerjanya untuk memenuhi permintaan Kaina. Tak sampai lima menit dia kembali membawa secarik kertas di tangan. “Disini tertulis kalau yang membayar semua pinjaman ini atas nama Candra Dipta.”


Kaina mengangguk paham. “Terima kasih, Mbak.”


“Sama-sama Bu.”


Dari sana, ibu tunggal itu buru-buru menuju lokasi kantor sang mantan kekasih. Dia mengirim pesan pada Candra untuk bertemu di restoran terdekat. Lima menit menunggu orang nan di nanti pun tiba.

__ADS_1


“Ada apa, Kai?” sapa Candra.


“Kenapa kamu bayar semua tagihan saya di Bank?” ucapnya langsung.


“Itu ulah Brigita dan aku merasa perlu bertanggung jawab.”


“Tapi saya rasa gak butuh.”


“Kenapa? Mentang-mentang kamu punya suami kaya aku kamu anggap rendah?”


“Bukan begitu, Can.” Kaina membuang nafas kasar. “Saya gak mau berhutang budi dan saya gak mau nanti ada kesalahpahaman lagi antara saya dan Brigita.”


“Kamu tenang saja. Dia gak akan tahu kalau kita gak buka mulut.”


“Saya akan bayar uang kamu.”


“Gak perlu. Saya gak butuh uang dari suami kamu itu,” kesal Candra.


“Saya akan bayar pakai uang sendiri. Kamu tenang saja.”


“Kai, kenapa sih kamu sulit banget untuk bisa menerima bantuan dari saya? Saya ikhlas jadi, ya, sudah jangan dipermasalahkan.”


“Jelas ini masalah buat saya. Karena bagaimanapun uang kamu itu adalah uangnya Brigita dan saya gak mau nanti timbul masalah baru gara-gara ini.”


“Oke. Iya, aku kerja sama papanya Brigita dan apa yang aku dapat adalah milik dia. Tapi yang ini benar-benar hasil jerih payahku sendiri, Kai.”


Kaina tersenyum mengejek.


“Aku punya usaha sendiri dan modalnya hasil pinjaman dari Bank. Sekarang usahaku mulai berkembang.”


“Semua karena kamu, Kai.” Candra menatap sang mantan yang kini terlihat semakin cantik. “Aku ingin membuktikan sama kamu kalau aku bisa mandiri, bisa hidup tanpa bayang-bayang kekayaan keluarga Brigita.”


Ibu tunggal itu menggeleng. “Kamu gak perlu membuktikan apa-apa sama saya, Can.”


“Perlu! Karena aku akan bertanggung jawab terhadap Kalila. Aku mau uang yang nanti akan aku berikan padanya bukan dari hasil perusahaan orangtuanya Brigita. Tapi benar-benar hasil jerih payahku sendiri.”


“Kalau memang itu tekad kamu, silahkan. Tapi saya tetap akan membayar uang itu nanti.”


Candra mengalah dan memilih memberikan solusi lain. “Oke, begini saja. Kalau kamu mau bayar uang itu gak papa, tapi jadikan sebagai tabungan Kalila. Gimana?”


Kaina berpikir sejenak. Setelah di pertimbangkan baik buruknya akhirnya dia setuju.


...🐽🐽🐽🐽...


Tepat jam pulang sekolah si kembar, Kaina sudah menunggu anak anaknya di halaman Taman Kanak-kanak itu. Bel pun berbunyi seluruh siswa keluar dari dalam kelasnya menghampiri para orang tua yang sudah menanti. Begitu pula dengan Kama dan Kalila.


“Abang sama adek boleh main dulu gak? Sebelum pulang,” tanya Kama.


“Oke, tapi gak lama-lama. Kita harus antar adik ke rumah ayahnya.”


“Siap, Bunda,” jawab si kembar.


Kedua anak itu menikmati waktu mereka di wahana permainan yang ada di halaman sekolah. Satu jam menunggu dan rasanya sudah cukup, Kaina mengajak mereka untuk menyudahi keseruan.


Sembari menunggu taxi online pesanan, Kaina mengajak kedua anaknya duduk di depan gerbang. 

__ADS_1


“Bukannya itu teman sekelas kita ya, La?” tanya Kama pada sang adik. Dia menunjuk seorang teman sebaya yang sedang termenung di gerbang sisi lainnya.


“Iya, Bang,” jawab Kalila. 


“Kayaknya dia lagi nunggu jemputan.”


“Bukannya ada bus yang antar kalau orang tua gak bisa jemput,” kata Kaina.


“Gak tau, Bun. Biasanya dia pulang dijemput mamanya.”  


“Tuh ada mobil berhenti, Bang. Siapa tau mamanya,” sela Kalila.


Mereka memperhatikan bocah lelaki itu berinteraksi dengan orang yang disangka  keluarganya. Merasa ada yang aneh dengan tingkah anak itu, Kaina menghampiri.


“Maaf, Anda siapa anak ini, ya?” bertanya pada orang asing yang menghampiri teman anaknya.


“Saya paman anak ini. Disuruh jemput sama ibunya karena gak bisa datang.”


“Kamu kenal sama Om ini, Nak?” Kaina bertanya pada anak laki-laki yang dimaksud orang itu.


“Gak, Tante. Saya gak kenal sama sekali.”


“Kalau begitu sebaiknya, Anda pulang dan bilang sama ibu anak ini dia gak mau pulang kalau gak ibunya yang jemput.”


“Tapi saya benar pamannya.”


“Kalau memang silahkan hubungi saudara Anda itu.”


Orang asing itu terus berdebat dengan Kaina hingga sebuah mobil pun berhenti di dekat mereka. 


“Mama,” seru bocah laki-laki tadi.


“Robi,” seru sang ibu.


“Anda kenal dengan pria ini?” tanya Kaina pada ibunya Robi.


Ibunya Robi menggeleng dan seketika orang asing itu segera masuk mobil lalu lekas pergi dari sana.


“Memangnya siapa dia, Mbak?”


“Katanya dia paman anak ibu. Mau dibawa pulang karena Anda yang menyuruh.”


“Astagfirullah. Saya gak pernah nyuruh siapa-siapa buat jemput anak saya. Memang saya sedikit terlambat karena terjebak macet tadi.”


“Alhamdulillah kalau begitu, Bu. Untung ada saya, kalau gak mungkin putranya sudah di bawa orang tadi.”


...----------------...


Hai, hai... author kembali...


pasti udah gak sabar nungguin, ya..


hari ini up satu bab aja dulu, sampai nanti dapat konfirmasi dari editor baru crazy up, ya.


Tetap tungguin dan jangan lupa like 👍 komen 💬 hadiah 🎁 vote 🔖 dan bintang 🌟 limanya.

__ADS_1


Terima kasih 🥰😘


__ADS_2