Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 81


__ADS_3

Malamnya, Fatih merasa khawatir akan kesehatan wanita yang pernah menemani hidupnya meski hanya sebentar. Ingin hati menghubungi dan menanyakan kabar, tapi ada rasa gengsi nan begitu besar menghasut pikiran untuk tak melakukan hal itu.


“Telpon gak, ya,” guamamnya seorang diri.


“Kalau gue telpon terus nanti disangka perhatian gak, ya? Padahalkan cuma pengen tau aja.”


Fatih mengacak rambutnya. Hingga desakan yang terus mengusik pikiran membuatnya memutuskan untuk menghubungi Kaina. Dering pertama dadanya terasa berdegup. Dering kedua degup jantungnya semakin kencang hingga dering ketiga tangannya mulai gemetar.


📞Hallo


Akhirnya di dering keempat Kaina menjawab panggilan itu.


📞Saya mau tau gimana keadaan kamu.


Karena gugup, Fatih langsung menanyakan hal yang sejak tadi mengganggu ketenangan hatinya.


📞Baik kok, Mas. Saya cuma gak biasa aja makanya tadi kedinginan.


📞Oh, syukurlah kalau begitu. Ya udah teleponnya saya tutup dulu mau bilang sama bapak kalau kamu gak sampai demam.


📞Iya. Bilang sama bapak makasih perhatiannya.


📞Hhmm


Panggilan itu terputus, Fatih menghempaskan badannya ke atas ranjang. Entah kenapa dia sampai harus berbohong agar Kaina tak menyangka kalau dirinyalah yang perhatian.


“Lama-lama gue bisa gila,” umpatnya menarik selimut dan menutupi seluruh badan.


...🚙🚙🚙🚙...


Jam sepuluh pagi, Candra dan Brigita tiba di kediaman Kaina. Awalnya wanita nan sudah menipu ibu si kembar itu tak ingin ikut, tapi karena suaminya terus membujuk maka dia pun terpaksa menurut. 


“Lepaskan rasa gengsi di hati. Terima kesalahan yang sudah kamu lakukan dan utarakanlah permintaan maaf dengan tulus. Saya yakin Kaina dan keluarganya sudah memaafkan kamu sebelum kamu meminta maaf. Tapi sebagai orang yang baik kita tetap harus meminta ampun atas kesalahan yang sudah kita lakukan.” Candra berkata pada sang istri sebelum mereka turun dari mobil.


“Iya, Mas.”


“Ya sudah, kita turun sekarang.”


Brigita mengangguk. Sebelum membuka pintu mobil dia menarik nafas panjang dan dihembuskan.


Kalila yang sudah tahu ayahnya akan datang langsung menyambutnya dengan senang di teras rumah. “Ayah,” seru gadis kecil itu memangku kaki ayahnya.


“Gimana kabar anak Ayah?” Candra bertanya sambil berjongkok.


“Baik dong. Kemarin aku sama Abang main wahana salju sama Ayah Fatih.”


“Oh, ya, pasti seru sekali.”


“Seru banget, tapi sayang kita mainnya cuma sebentar soalnya bunda udah bersin-bersin.”


Candra tertawa dia sudah tau kalau mantan kekasihnya itu alergi akan suhu dingin. “Kapan-kapan pergi sama Ayah dan Tante Bri. Oh, ya, sapa Tante Bri dulu.”


Kaila mengulurkan tangannya.


“Kamu tambah gemuk sejak kita gak ketemu,” balas Brigita menyalami tangan putri dari suaminya.


“Terima kasih, Tante.”


“Bawa ayahnya masuk, sayang,” sorak Kaina dari dalam.

__ADS_1


“Iya, Bunda,” balas Kalila. “Ayo, Ayah, Tante, kita masuk rumah.”


Candra yang ditarik tangannya mengikuti langkah sang putri bersama Brigita. Tiba di ruang tamu Kaina sedikit terkejut akan kehadiran wanita nan pernah merebut anaknya.


“Mari duduk,” ajak Dina yang tiba di sana.


Candra dan Brigita tersenyum ramah.


“Bikinin minum, Kai.”


“Gak usah, Kai,” tolak Candra. “Kita habis sarapan di rumah dan masih kenyang.”


“Nak Candra, basa basi segala.”


“Bukan basa-basi, Bu. Beneran gak usah.”


Kaina yang hendak ke dapur kembali duduk di sofa dekat ibunya.


“Sesuai janji saya kemarin sama Kaina, hari ini mau ajak si kembar jalan-jalan.”


“Kaina sudah bilang ke Ibu. Tuh mereka sudah siap dari tadi.” Dina menunjuk kedua cucunya yang sudah tampak rapi.


“Mereka pasti udah gak sabar.”


“Sudah pasti. Tadi habis sarapan langsung heboh minta mandi dan ganti baju sama bundanya.”


Candra tersenyum lebar, tapi tangannya yang ada di samping badan mencolek sang istri untuk membuka suara.


“Hhmm, Kai dan Bu Dina sebelum kami pergi saya ingin menyampaikan permintaan maaf atas apa yang pernah saya lakukan,” ungkap Brigita. “Saya juga mau mengucapkan terima kasih karena kalian masih mengizinkan saya untuk bisa bertemu dengan Kalila.”


Dina dan Kaina saling tatap. “Saya sudah maafkan kamu ketika saya berhasil memenangkan hak ashnya Kalila,” jawab ibu si kembar.


“Sekali lagi maafkan saya, Bu, Kai.”


Kaina dan Ibunya mengangguk.


“Saya juga minta maaf karena tak bisa membantu Kaina saat itu,” sambung Candra.


“Aku paham posisi kamu, Can,” ujar Kaina.


“Sudah-sudah, masih pada ngomong. Sebaiknya kalian berangkat sekarang, tuh cucu ibu suduah gak sabar ingin segera pergi,” sela Dina.


“Ah, iya.” Candra sedikit tertawa. “Kalau begiu kami bawa Kama dan Kalila dulu, Bu, Kaina.”


“Silahkan, tapi jangan cucu Ibu, ya.”


“Pasti.”


Mereka semua sama-sama keluar dari rumah menuju mobil yang terparkir, sedangkan Dina bersama sang putri hanya mengantar sampai depan teras. 


“Pulangnya jangan malam, ya,” sorak Kaina sambil melambaikan tangan.


Candra yang sudah mengemudikan mobil hanya mengacungkan jempol.


...🚖🚖🚖🚖...


Sebelum makan siang, Hugo pun tiba di rumah Kaina. Dengan tampilannya yang santai laki-laki itu langsung melangkah menghampiri Dina nan tengah duduk di teras bersama putrinya.


“Loh, Nak Hugo,” sapa Dina.

__ADS_1


“Siang, Bu, Kamanya ada?”


“Baru aja pergi sama Candra. Nak Hugo terlambat.”


“Yah, saya gak tau. Rencananya mau ngajak dia main.”


“Kenapa gak telpon saya?” tanya Kaina.


“Saya pikir hari ini kalian bakalan di rumah aja”


“Minggu besok lagi aja.”


“Kira-kira kamu tahu mereka kemana gak, biar saya susul aja.”


“Gak tau kemana.”


“Kamu bisa hubungi Nak Candra kan, Kai,” sela Dina.


“Iya, tapi gak enak, Bu, ganggu waktunya mereka.”


“Saya gak akan ganggu kok. Cuma mau ketemu aja, habis itu kalau Kama masih mau sama Candra saya pulang,” tutur Hugo.


Dengan terpaksa Kaina menghubungi ayah biologis putranya. “Gak diangkat. Palingan lagi sibuk jagain anak-anak main.”


“Kalau gitu kamu bisa ikut saya cari mereka,” ajak Hugo.


“Saya gak tau mereka kemana, Go.”


“Ya, makanya kamu ikut saya aja sambil nanti di jalan hubungi Candra lagi.”


“Udah, ikut sana sama Hugo. Kasihan dia kalau emang lagi kangen anaknya,” ujar Dina. “Lagian besok Hugo pasti bakalan sibuk kerja.”


Kaina nan sedang asik menikmati waktu di rumah merasa terganggu dengan kedatangan ayah biologis putranya itu. Ditambah sekarang dia harus ikut dengannya pergi entah kemana. “Ya udah saya ganti baju dulu,” kesalnya bangkit dari kursi.


Hugo mengangguk dengan senyum lebar di bibir.


Tak lama ibu si kembar kembali dengan tampilan yang lebih rapi dan cantik. Sebelum pergi tak lupa dia berpamitan dengan ibunda yang juga diikuti Hugo. Setelahnya mereka sama-sama berjalan masuk mobil.


“Kita makan siang dulu, ya,” ajak Hugo yang sedang mengemudi.


Kaina hanya megangguk.


“Sambil nunggu kabar dari Candra.”


“Iya, terserah.”


“Kenapa, Kai? Kok kamu kayak kesal gitu sama saya?”


“Lagi gak mood aja.” Kaina menjawab dengan sedikit ketus.


“Sorry kalau saya ganggu waktu kamu.”


Dihembuskan nafas kasar. “Gak papa, udah jalan ini juga.”


“Kamu mau makan di mana?”


“Hhmm terserah aja sih. Saya gak pilih-pilih makanan kok.”


Hugo memutar laju kemudinya menuju satu cafe yang sedang ramai di kunjungi banyak orang belakangan ini.

__ADS_1


__ADS_2