Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 36


__ADS_3

“Belum kepikiran sih, Mas. Nantilah saya pikir-pikir dulu," jawab Kaina


“Kenapa gak jujur saja?" Fatih kembali bertanya.


“Gak lah, Mas, saya harus memilah dan memilih mana hal yang harus ibu ketahui dan tidak. Semua demi kesehatan beliau.”


“Oh, gitu. Saya juga pikir-pikir dulu mau jawab apa nanti kalau ibu kamu tanya macam-macam.”


“Hahaha terserah, Mas, mau jawab apa. Lagian ibu orangnya gak kepo, beliau gak suka tanya-tanya.Tapi kalau kita mau cerita beliau akan menjadi pendengar yang baik.”


Tak lama sebuah mobil berwarna merah berhenti tepat di depan halaman rumah Fatih. Mereka yang sedang duduk di teras melangkah menuju mobil tersebut.


“Motor kamu sudah saya antar ke bengkel. Siap servis akan diantar ke rumah,” jelas Fatih.


“Makasih, Mas.”


“Oh, ya, ongkosnya sudah saya bayar.”


“Sekali lagi makasih.”


“Iya.  “Fatih membukakan pintu mobil itu, mempersilahkan Kaina masuk dan ditutupnya kembali. Terakhir tak lupa di lambaikan tangan. Setelahnya dia kembali masuk rumah.


“Kenapa kamu berubah pikiran,” tanya Fadilah.


Anaknya kaget saat sang ayah tiba-tiba saja bersuara. “Cuma mau membantu, Pak, gak lebih. Saya tau bagaimana Bapak kalau seandainya saya tolong dia tanpa pernikahan ini terjadi," terang Fatih.


“Pintar. Kamu memang anak Bapak.” Fadillah mengacungkan jempolnya.


“Kalau gitu saya ke kamar dulu, Pak.”


“Hhmm.”


...🐛🐛🐛🐛...


Pagi-pagi setelah dokter melakukan pemeriksaan, Dina akhirnya dipindahkan ke ruang rawat biasa. Ketika sedang sibuk mengurusi sang ibu dia kedatangan tamu yang tak diundang. “Loh, Mas, kok kesini?”


“Kenapa, gak boleh? Harus gitu izin dulu mau ketemu calon mertua,” jawab Fatih.


“Bukan gitu. Saya kan belum cerita apa-apa soal Mas sama ibu.”


“Memang kamu mau cerita apa soal saya? Kenal juga baru.”


“Ya sudah, tunggu di sini. Ibu lagi mau dipindahkan ke ruang inap biasa.”


Mereka duduk di bangku tunggu depan meja administrasi. Karena seluruh uang yang dipinjamnya pada Brigita hanya tersisa sedikit, Kaina memilih ruang perawatan biasa. 


“Bapak juga mau kesini,” jelas Fatih. “Beliau lagi di jalan, mungkin sebentar lagi juga sampai.”


“Ngapain?”


“Mau ngelamar kamu lah. Masak ia seminggu lagi nikah anak orang gak di lamar. Ya, walau pernikahan kita ini … entah saya gak tau nyebutnya gimana, tapi kami harus menghormati kamu dan orang tua kamu.”

__ADS_1


Kaina membuang nafas panjang. “Mudah-mudahan ibu gak kaget.”


“Gak lah. Saya datang gak bikin kaget kok,” kekeh Fatih.


“Hahaha … ternyata kamu lucu, ya, Mas.”


“Gak juga, saya cuma pintar-pintar menempatkan diri di setiap suasana.”


Tak lama suster pun datang memanggil Kaina. Mengatakan kalau ibunya kini sudah menginap di ruangan yang baru. 


“Yuk, Mas,” ajak Kaina.


“Kamu duluan. Saya nunggu bapak dulu.”


“Iya deh. Sekalian saya mau ngomong sama ibu soal kedatangan kalian.”


...🦋🦋🦋🦋...


Kaina sudah menjelaskan sedikit persoalan tawaran Fadillah waktu itu. Kini dia mengatakan pada Dina siap menikah dengan putranya Fadillah yang sudah di kenal beberapa hari belakangan. Sang ibu tak banyak tanya, dia menyerahkan semua keputusan pada anaknya. Putri yang sudah dewasa dan juga sudah menjadi ibu pasti tau langkah terbaik dalam hidupnya.


“Mana mereka?” tanya Dina.


“Mungkin masih di depan. Aku panggil, ya, Bu.” Kaina beranjak dari bangku plastik nan diduduki. Baru saja dia membuka daun pintu, Fatih dan Fadilah tampak berjalan beriringan ke arah kamar rawat ibunya.


“Pak,” sapa Kaina mengulurkan tangan. Fatih menyambutnya dengan senang hati.


“Gimana ibumu?”


Fadillah dipersilahkan masuk duluan oleh anaknya.  Laki-laki itu tersenyum lebar kala menghampiri Dina yang duduk di atas ranjang. “Saya pikir Ibu masih baringan, ternyata udah sehat ini. Wajahnya tampak semakin segar.”


“Iya, Pak, segar karena kaget baru dikasih tau Kaina kalau Anda datang.”


Dua calon besanan itu saling menjabat tangan. Fatih memberikan bangku plastik pada ayahnya untuk diduduki.


“Hahaha, darah langsung mengalir, ya, Bu.”


Dina mengangguk sambil tersenyum.


“Perkenalkan, ini putra saya yang mau saya jodohkan dengan putri, Ibu.” Fadilah menepuk pundak sang anak.


Fatih pun menyalami Dina dan membawa punggung tangan wanita itu ke keningnya. “Fatih, Bu.”


“Dina.”


“Saya dan dia datang kemari mau melamar putri Ibu.”


“Mendadak sekali, Pak. Saya baru saja beberapa hari di rumah sakit, tapi sepertinya banyak hal yang saya lewatkan.”


“Itu bedanya anak-anak sekarang, Bu, mereka suka gerak cepat,” tawa Fadillah.” 


“Bukan begitu, Bu. Saya dan Kaina sudah sama-sama dewasa jadi, sepertinya gak ada alasan untuk kami pacaran,” sela Fatih. “Setelah beberapa hari kami ketemu dan bicara, kami sepakat menjalani pernikahan ini,” tambahnya.

__ADS_1


“Kalau Ibu terserah kalian berdua. Sebagai orang tua Ibu cuma bisa mendoakan dan merestui. Semoga pernikahan kalian sampai mau memisahkan.”


Kaina dan Fatih saling tatap lalu keduanya terlihat sama-sama canggung.


“Aamiin,” jawab Fadillah.


“Iya, Insya Allah,” balas Kaina.


“Di aminin, Kai,” protes Dina.


“Iya, Bu.”


“Pernikahanya akan digelar seminggu lagi di rumah saya.Mereka maunya acar sederhana saja cuma di hadiri keluarga. Ibu tenang saja, semua persiapan saya yang akan urus. Termasuk seserahan, nanti akan dikirim orang kepercayaan saya ke rumah Ibu,” tutur Fadilah.


“Gak perlu repot-repot, Pak. Datang kesini meminta putri saya dengan baik-baik saja saya sudah senang sekali.”


“Seserahan itu sebagai penghormatan kami pada keluarga Kaina.”


“Terima kasih banyak kalau begitu.”


“Ya sudah, saya datang hanya ingin menyampaikan kabar bahagia ini. Semoga Ibu lekas sembuh dan bisa menghadiri pernikahan anak-anak kita.”


“Pasti, Pak. Saya sudah tak sabar untuk segera keluar dari sini.”


“Kalau begitu saya pamit, ya, Bu. Ada pekerjaan yang menunggu.” Di bantu anaknya, Fadillah bangkit dari posisi.


“Kamu masih mau disini, Tih?”


“Iya, Pak, mau ngobrol sama Bu Dina." Fatih menjawab pertanyaan bapaknya.


“Kalau gitu aku temani Pak Fadilah ke parkiran, ya, Bu,”  izin Kaina.


“Iya.”


“Mas, titip Ibu,” pesan Kaina pada Fatih.


Calon menantu dan mertua itu akhirnya keluar dari ruangan. Sedangkan Fatih kini menempati posisi yang tadi diduduki ayahnya,


“Kenapa Nak Fatih mau menikah dengan putri saya? Padahal kalian baru saja kenal,” selidik Dina.


“Saya yakin, dia terlahir dari seorang ibu yang baik artinya dia merupakan wanita baik. Tak ada alasan saya untuk menolaknya kan, Bu?!”


“Tapi kamu tahu soal masa lalunya Kaina?”


“Setiap orang punya masa lalu, Bu. Saya hadir di masa sekarang jadi, tak pantas rasanya saya menghakimi dia.”


“Alhamdulillah, kamu bisa menerima kekurangan anak saya. Semoga kamu bisa menjadi imam yang baik buat Kaina, menjadi sandarannya, menjadi pelindung dan peneduh bagi anak-anaknya.”


“Insya Allah, Bu.”


“Aminkan, Nak. Itu merupakan doa Ibu buat kalian.”

__ADS_1


“Aamiin.”


__ADS_2