
Bersama si kembar, Kaina menunggu sang ibu di depan ruang operasi. Brigita juga ada di sana karena dia sudah berjanji ingin menemani. Suci yang tadi mengantar sang cucu memilih kembali pulang setelah bertemu dengan Dina.
Hampir tiga jam mereka menunggu. Akhirnya dokter pun keluar dari dalam sana, membuat Kaina segera berdiri menghampiri.
“Operasinya berjalan lancar. Ibu, Anda akan segera dipindahkan ke ruang ICU selama 1-2 kali 24 jam. Sampai kondisinya aman maka akan dipindahkan ke ruang inap biasa,” terang Dokter spesialis itu.
“Terima kasih, Dok.” Kaina menjabat tangan si Dokter.
“Sudah tugas, saya. Kalau begitu saya ke ruangan dulu.”
Kepergian dokter, tak lama Dina pun keluar. Masih dalam keadaan belum sadarkan diri, ranjangnya di dorong oleh beberapa suster menuju ruang ICU yang sudah disiapkan. Kaina mengajak Brigita untuk ikut bersamanya dan si kembar.
...🍠🍠🍠🍠...
Karena di ICU ada suster yang akan terus memantau perkembangan Dina, Kaina memilih untuk pulang sore ini. Toh dia juga tak diperbolehkan masuk hanya bisa menunggu di luar saja. Untung ada seorang suster jaga yang siap siaga menghubungi jika terjadi sesuatu pada Dina.
“Bri, malam ini aku bawa Kalila pulang, ya,” kata Kaina.
“Bawa aja, gak perlu minta izin segala.”
“Bun, Abang juga gak pulang, ya,” rengek Kama.
“Kita tanya Papa dulu.”
“Jalan sekarang?” tanya Bigita.
Mereka berempat berjalan di lorong Rumah Sakit menuju parkiran. Tiba di sana Kaina berbelok arah. “Kai, kok kamu ke parkiran motor?” tanya Brigita.
“Mobilku sudah aku jual.”
Merasa prihatin, Brigita kembali mendekat. “Kenapa?”
“Gak papa, cuma lagi butuh pegangan aja.”
“Ya sudah, anak-anak sama aku aja. Biar aku antar ke rumah, kamu sama motor.”
“Duh, Bri, nanti kamu malah repot bolak balik jadinya.” Kaina merasa sungkan.
“Udah, jangan basa-basi! Ayo, anak-anak ikut Tante naik mobil, biar Bunda bawa motor.” Brigita meraih tangan si kembar dan membimbing mereka menuju mobilnya.
...🥭🥭🥭🥭...
Beruntung Hugo sedang tak ada di rumah. Jadi, Suci mengizinkan Kama untuk ikut bersama ibunya malam ini. Tiba di kediaman sederhana Kaina, Brigita tak langsung pulang. Dia seperti ingin menemani wanita itu untuk sebentar. Membantu memandikan si kembar selama ibu mereka memasak makan malam.
“Masak apa?”
__ADS_1
Kaina terkejut dengan kedatangan Brigita di dapur. “Nih, masak Ayam goreng buat si kembar sama telur balado buat kita. Kamu makan di sini? Maaf, ya cuma seadanya.”
“Mau aku pesanin makanan?”
“Gak usah, Bri! Ini saja sudah cukup.”
“Kamu simpan saja buat besok pagi di antar ke Adit. Sekarang buat makan malam aku pesankan makanan, sekalian jajan buat anak-anak.” Brigita menuju ruang tengah mengambil ponselnya dari dalam tas.
Kaina mengikuti langkah kaki wanita itu lalu bertanya,” Kamu gak pulang? Nanti Candra nungguin.”
“Mas Candra lagi lembur di kantor. Aku malas juga kalau sendirian di rumah, mendingan di sini dulu.”
Menunggu pesanan datang, mereka ikut bergabung dengan Kama dan Kalila yang bermain di atas karpet bulu. Sesekali menikmati tontonan acara ana-anak yang di putar di televisi. Tak lama seorang kuring memanggil yang punya rumah dari luar.
Brigita membawa makanan yang dipesannya ke meja makan, si kembar tampak senang melihat cemilan yang begitu banyak. Tanpa berlama-lama mereka langsung menyantap makanan yang begitu lezat dan memanjakan lidah. Hingga perut terasa kenyang, Kama dan Kalila memilih kembali bermain di tempat semula.
Kaina dan Brigita membersihkan sisa-sisa sampah makanan dari atas meja dan mencuci piring kotor.
“Kamu lagi kesulitan ekonomi?” Jiwa ingin tahunya sudah meronta-ronta sejak tadi, membuat Brigita langsung bertanya pada intinya.
“Bisa dibilang begitu,” jawab Kaina.
“Bukannya supermarket kamu masih jalan?”
“Masih, tapi untuk biaya hidup sehari-hari aku gak punya pegangan. Gak mungkin aku langsung pakai pemasukan toko sebelum dibukukan.”
Kaina tersenyum sambil menggeleng kepala. “Gak usah, Bri. Aku bisa usahakan sendiri.”
“Kai, aku serius. Kamu butuh apa bilang aja, gak usah sungkan.”
Selesai mencuci semua piring, Kaina membilas tangannya dengan air bersih. “Kenapa kamu mau membantu aku? Sedangkan kita gak ada hubungan apa-apa.”
Brigita berjalan ke meja makan, menarik kursi dan duduk di sana, diikuti oleh Kaina. “Sejak ada Kalila, aku merasa rumah tanggaku mulai berwarna. Apalagi beberapa hari kemarin dia tinggal di rumah, aku semangat sekali setiap bangun pagi. Memandikannya, mendandaninya dan menyiapkan sarapan. Aku merasa lengkap, Kai, dan Mas Candra mulai banyak bicara denganku. Membahas soal Kalila sedang apa saja di rumah ketika dia sedang di kantor.” Wanita itu bercerita dengan mata yang berbinar. Seakan Kalila membawa sebuah kebahagiaan dalam kehidupannya.
“Syukurlah kalau begitu. Aku sempat berpikir kalau putriku akan menjadi masalah dalam rumah tangga kamu.”
“Gak sama sekali. Justru aku mau berterima kasih sama kamu. Jadi, boleh, ya, aku bantu kamu. Anggap saja sekarang kita keluarga.”
Kepala Kaina mengangguk. “Nanti kalau aku butuh apa-apa aku bilang ke kamu, tapi jangan kasih tau Candra.”
“Kenapa?”
“Gak papa. Menurut aku hal ini dia gak perlu tahu kan?!”
“Oke. Kalau gitu aku pulang, ya. Sudah malam.”
__ADS_1
Kaina berdiri dari duduknya. “Hati-hati di jalan.”
“Besok pagi mau aku yang jemput Kalila?”
“Gak usah! Aku antar aja.”
“Sama motor?”
“Kalau pagi aku rasa gak masalahkan.”
Brigita tersenyum simpul. “Aku pulang, ya.”
Kaina bersama si kembar mengantarkan wanita itu menuju mobilnya. “Dada Tante dulu.”
“Ddaa, Tante.” Si kembar melambaikan tangan di balas Brigita dari dalam mobil.
...🌽🌽🌽🌽...
Jam tujuh pagi, Kaina sudah tiba di rumah Suci. Mengantarkan Kama sebelum ayah biologisnya tiba di sana.
“Gimana kondisi Ibu kamu?” tanya Suci.
“Dirawat di ICU, Bu, dan sepertinya belum sadarkan diri.”
“Semoga lekas membaik, ya.”
“Aamiin. Kalau begitu saya jalan lagi, gak bisa lama-lama.”
“Hati-hati,Kai.”
Kaina menatap sang putra. “Abang, Bunda pergi, ya. Nurut sama Oma dan Papa.”
“Iya, Bunda.”
Bersama putrinya, Kaina keluar dari rumah gedongan Suci. Menaiki motor Adit yang mulai kemarin jadi alat transportasinya. Melaju menuju komplek perumahan Brigita dan Candra. Tiba di sana mereka pun disambut oleh Brigita yang tampaknya sudah rindu dengan Kalila.
“Masuk, Kai,” ajak istri Candra itu.
“Gak bisa, Bri, aku mau buru-buru ke RS. Mau tau kondisi Ibu.”
“Oh, gitu. Nanti kabari, ya, kalau Bu Dina sudah sadar.”
“Iya, aku pamit.” Lalu Kaina membelai kepala anaknya dan berkata, “Dek, Bunda ke tempat Ibu, kamu jadi anak baik di sini.”
“Iya, Bunda. Bawa motornya hati-hati.”
__ADS_1
“Oke, sayang.”
Buru-buru Kaina menaiki roda duanya dan langsung menancap gas menuju Rumah Sakit.