
...Hay 👋 author punya kabar gembira buat pembaca setia semua. Mulai hari ini sampai tanggal tujuh besok, MERINDUKAN PURNAMA akan carzy up 3 bab setiap hari. Jadi, jangan lupa dukungan kalian semua biar author terus semangat buat nulis 😊. Tinggalkan jempolnya 👍 berikan komentar terbaik kalian 💬 kasih setangkai bunga 🌹 yang wangi terus tiap awal minggu berikan vote 🔖 dan yang terakhir bintang 🌟 limanya....
...TERIMA KASIH 🥰😘...
...****************...
"Begini, sebenarnya saya bisa saja bantu kamu tanpa kita harus menikah. Tapi saya tahu betul sikap bapak maka dari itu saya putuskan untuk menikahi kamu.”
Kaina hanya diam dan menunduk.
“Kenapa?”
“Saya hanya bingung, apakah saya harus bersyukur atau sedih. Karena masalah saya, Mas jadi ikut kena imbasnya.”
“Santai saja.”
Kaina mengangkat kepalanya. “Mas tenang saja, saya akan menjadi istri yang baik, patuh dan menurut apa kata suami, menjalankan segala kewajiban sebagai istri.”
“Termasuk memberikan saya nafkah batin?”
Kaget, tentu saja Kaina terkejut. Dia tak kepikiran sampai sana.
“Hahaha, santai jangan tegang gitu mukanya,” ledek Fatih. “Saya cuma bercanda biar suasana sedikit cair. Pernikahan kita hanya terjalin selama enam bulan. Selama itu saya akan bantu kamu mendapatkan kembali hak asuh anakmu. Setelah semua permasalahan mu selesai kita bercerai. Bagaimana?”
“Hhmm terserah, Mas, saja.”
“Oke, kayaknya kamu sudah mulai nurut,” kekeh pria itu. “Nanti malam akan saya sampaikan sama bapak soal pernikahan ini. Tapi beliau jangan sampai tau rencana perceraian kita.”
“Siap, Mas.”
Kemudian Fatih meninggalkan kartu namanya di atas meja. “Mulai sekarang kalau ada apa-apa hubungi saya. Kita harus saling kenal, anggap saja kita temenan.”
Kaina hanya mengangguk.
“Kalau gitu saya pamit ke kantor. Mau sarapan dulu di restoran soalnya kesini buru-buru. Takut kamu bunuh diri.” Fatih kembali tertawa.
“Gak lah, Mas. Nggak mungkin saya sepicik itu.”
“Alhamdulillah kalau gitu.”
“Katanya mau sarapan? Di sini aja, kebetulan saya habis masak.”
“Benar nih?”
“Ayo, kalau mau. Sekalian kita ngobrol-ngobrol, katanya temankan.”
“Ah iya, tapi kita belum kenalan.” Fatih mengulurkan tangannya dan dibalas Kaina.
“Fatih.”
__ADS_1
“Kaina.”
Berucap dalam waktu yang sama. Mereka pun tertawa. Suasana yang tadinya agak kaku kini mulai terasa mengalir.
“Ayo, Mas, ke meja makan,” ajak Kaina.
Tiba di dapur, Fatih mendudukkan diri di meja makan yang kecil itu. Kaina tampak sibuk menyajikan masakan yang baru saja matang tapi belum sempat diangkat dari kompor.
“Maaf, ya, Mas, rumah saya kecil. Gak sebesar rumahnya, Mas.”
“Mau besar atau kecil gak masalah, yang penting nyaman.”
“Ngomong-ngomong, Mas, kerja di mana?”
“Kebetulan saya ini pengacara makanya saya bilang tadi bisa saja bantu kamu tanpa kita harus menikah. Tapi saya gak mau nanti bapak malah menggagalkan segala usaha saya. Biar masalah kamu gak makin rumit, ya, sudah kita menikah sajalah. Bapak senang dan pekerjaan saya nanti juga gampang.”
“Kok gitu?”
“Kamu belum tau aja siapa Bapak Fadillah itu. Nantilah kapan-kapan kita ngobrol banyak.”
Kaina memberikan satu piring keramik pada pria itu dan Fatih menerimanya.
“Silahkan di ambil sendiri, Mas, jangan sungkan.”
“Iya.”
“Kalau kita menikah, artinya saya harus ada walinya sedangkan adik saya masih di penjara,” tutur ibu si kembar.
Mereka memang baru saja bertemu, tak sampai dua puluh empat jam. Namun, karena sikap Fatih yang santai membuat Kaina merasa nyaman.
“Makasi, ya, Mas, mau direpotin gara-gara saya.”
“Anggap saja ini bentuk balas budi saya karena kamu sudah tolongin bapak. Sayang, ya, kita gak sempat ketemu di RS waktu itu.”
“Saya buru-buru pulang soalnya.”
Keduanya menikmati makanan mereka dalam obrolan yang ringan. Mereka saling melempar pertanyaan soal keluarga masing-masing. Setelah perutnya terasa kenyang, Fatih segera pergi dari sana. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih.
...🐣🐣🐣🐣...
Hari ini kondisi Dina mulia membaik. Ventilator dan selang NGT sudah dilepas, tapi dia belum pindah ke ruang perawatan biasa. Mungkin besok jika keadaannya benar-benar sudah pulih. Kaina tiba dengan raut wajah gembira setelah mendengar penjelasan dari dokter terkait kesehatan sang Ibu.
“Gimana, Bu, ada yang sakit?”
“Dada Ibu sedikit nyeri,” jawab Dina.
“Kata Dokter itu normal kok, Bu.”
“Mana cucu Ibu?”
__ADS_1
Kaina terpaksa harus berbohong demi menutupi kenyataan. “Ibu harus pindah ke ruang inap biasa dulu, baru ketemu Kama sama Kalila. Anak-anak belum aku bawa takut nanti mereka terkontaminasi bakteri. Ibu kan tahu kondisi imun mereka gimana.”
Dina akhirnya mengangguk lemah. “Adit gimana?”
“Adit aman, sebentar lagi dia juga bakalan bisa dibebaskan. Kita harus tunggu proses, ya.”
“Ibu mau ketemu.”
“Nanti aku bicara sama pengacaranya dulu.” Kaina turun dari sisi ranjang sang ibu. “Udah, jangan mikir yang lain-lain. Sekarang Ibu makan, ya, aku suapin habis itu minum obat.”
Dina menerima suapan dari putrinya. Selama makan, banyak pertanyaan yang mulai muncul di kepala, tapi semua berusaha dipendam. Lebih baik kini dia fokus dulu pada kesehatan dan setelah itu mungkin Kaina mau bercerita.
Selesai minum obatnya, Dina perlahan-lahan mulai merasakan kantuk menyerang mata. Kaina pun memutuskan keluar dari sana dan duduk di ruang tunggu. Ia mencoba menghubungi Suci agar hari ini bisa bertemu dengan Kama.
Tut … tut …
Panggilannya terhubung hingga yang di seberang sana menjawab
(Hallo)
(Bu, hari ini saya boleh ketemu Kama?)
(Gimana, ya, Kai. Hugo kemarin bawa Kama tinggal di apartemennya. Kalau kamu mau ketemu, kesana aja saya kirimkan alamatnya)
(Boleh, Bu)
(Tapi saya gak yakin kamu bisa ketemu anak kamu)
(Gak papa, saya coba dulu)
Sambungan diputus, dia pun menitipkan ibunya pada suter jaga. Kaina bergegas mencari angkutan umum menuju alamat yang baru saja diterima.
...🐸🐸🐸🐸...
Tiba di gedung bertingkat tempat Hugo bersemayam, Kaina langsung menuju meja resepsionis. Namun, wanita yang ada di balik meja memintanya untuk menunggu sejenak selama dia menghubungi si pemilik nomor kamar nan dituju.
Lima menit kemudian, Hugo turun dengan gaya santainya menemui ibu dari anaknya. “Ngapain kamu kesini?”
“Mau ketemu Kama,” jawab Kaina sambil berdiri.
“Gak bisa!”
“Loh, kenapa? Kamu tega memisahkan Kama dari saya.”
“Saya kan sudah pernah peringatkan, tapi kamu masih mencari cara agar dapat membawa Kama pergi. Kamu pikir saya gak tau?!” sinis Hugo sambil berkacak pinggang. “Mulai sekarang jangan harap kamu bisa bebas seperti kemarin bertemu dengan Kama. Kini dia ada dalam pengawasan saya.”
“Gak bisa gitu, Hogo. Setidaknya kamu kasih saya sedikit waktu untuk bisa melepas rindu dengan anak saya.”
Hugo menarik tangannya yang dipegang oleh Kaina. “Lepas!” geramnya. “Silahkan kamu mau nangis, mau sujud, mau memohon sampai mata itu keluar darah sekalipun saya gak akan kasih kesempatan.”
__ADS_1
Cukup baginya merendahkan harga diri di depan pria satu ini. Kaina tak lagi bercucuran air mata. Kepalanya diangkat agar dapat menantang wajah ayah biologis putranya itu. “Silahkan kamu nikmati waktu terakhir bersama putra saya. Saya akan mengambil kembali Kama dan jika saat itu tiba, akan saya pastikan kamu menyesal sudah berbuat seperti ini.”