Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 16


__ADS_3

Dua hari sebelum operasi dilakukan, si kembar dan kedua ayahnya sudah berada di Rumah Sakit. Mereka mulai rawat inap untuk pemeriksaan kesehatan terakhir dan persiapan lainnya yang dirasa perlu oleh dokter.


Tepat pukul tujuh pagi dokter dan tim medis sudah bersiap-siap untuk melakukan tindakan. Giliran pertama jatuh pada Candra dan putrinya sedangkan Hugo dan Kama mendapat giliran kedua. Semua keluarga yang hadir sama-sama berdoa demi kelancaran operasi begitu pula dengan tim dokter.


Obat bius sudah disuntikkan pada si pendonor dan si penerima. Dokter memulai melakukan pekerjaannya. Hampir lima jam Kaina dan keluarga Candra menunggu di depan ruang operasi. Akhirnya, lampu merah yang berada di kepala pintu tampak mati menandakan kalau tindakan selesai dilakukan. Tak lama beberapa suster keluar mendorong brankar Candra kemudian Kalila. Keduanya masih belum sadarkan diri dari pengaruh obat bius.


Ayah dan anak biologis itu dipindahkan ke ruang rawat intensif. Untuk sementara waktu Kaina bisa bernafas lega setelah dokter mengatakan operasi berjalan lancar. 


“Satu jam lagi kita akan melakukan operasi kedua,” kata Dokter Andi.


“Baik, Dok. Saya akan temui Kama dulu,” ujar Kaina.


“Silahkan! Kami juga mau istirahat sebelum kembali ke medan perang,” kekeh Dokter nefrologi itu. Dia berusaha menghibur Kaina yang wajahnya masih tampak tegang.


Memastikan Kalila dalam kondisi aman di bawah pengawasan suster, Kaina menemui sang putra yang sedang bermain bersama ayahnya. 


“Sudah siap?” mengelus kepala sang anak.


“Boleh Abang lihat Adek dulu?”


Kaina sedikit ragu. “Apa, Abang yakin? Bunda takut nanti Abang jadi gak berani masuk ruang operasi.”


“Abang mau memastikan keadaan adik dulu, biar Abang tenang saat operasi nanti.”


“Ya sudah kalau begitu. Ayo!”


Kaina mendorong kursi roda nan diduduki putranya. Tiba di ruang intensif, mereka hanya dapat melihat Kalila dari balik kaca.


“Adik masih dalam pengaruh obat bius. Mungkin sebentar lagi dia bakalan sadar,” jelas sang Ibu.


“Pokoknya nanti setelah Abang di operasi, Abang mau satu kamar dengan Adik.”


“Itu sudah pasti sayang. Ayo, kita kembali! Pasti suster sudah menunggu kamu.”


...----------------...



...----------------...

__ADS_1


“Mama telepon Papa, ya.” Suci berkata pada putranya setelah kepergian Kaina dan Kama.


“Ngapain? Ngak usah!” sergah Hugo.


“Setidaknya dia tahu kalau kamu akan menjalani operasi besar. Jadi, nanti kalau terjadi apa-apa sama kamu beliau gak marahin Mama.”


“Palingan dia bakalan senang kalau aku mati.” Pria itu berkata sambil menatap layar ponsel.


“Hhhuusss, kamu ngomong apa sih. Terserah kamu mau setuju atau gak, Mama bakalan tetap hubungi Papa kamu.”


Hugo menatap tak suka pada Ibunya yang sedang menghubungi seseorang di dekat jendela.


Tak lama suster pun tiba bersamaan dengan Kaina dan Kama. Giliran Hugo dan putranya bersiap menuju meja operasi. Suster memastikan beberapa hal terakhir setelahnya mereka dipersilahkan berpindah ke kursi roda untuk didorong menuju ruang tindakan.


Setelah lampu merah kembali menyala nan menandakan kalau operasi mulai dilakukan, Kaina memilih pergi ke mushola. Melakukan sholat sunnah kemudian berdzikir serta melafazkan nama-nama sang maha penguasa. Hanya itu yang bisa diperbuat untuk mengusir rasa gelisah dan kerisauan di hati. Terakhir tak lupa ia kembali menengadahkan tangan. Meminta kesembuhan anak-anaknya juga kesehatan dua syah biologis nan sudah mau memberikan ginjal mereka.


Karena proses yang memakan waktu lama, dia memilih membaca al quran. Dengan begitu ia bisa melewati detik, menit, dan jam yang berlalu. Tanpa terasa sang Ibu tiba memanggilnya.


“Sodakaulahhulazim.” Kaina Menutup kitab suci lalu menyapukannya ke wajah. Bergegas melipat mukena dan segera berlari kembali ke depan ruang operasi.


“Selamat Kaina, operasi terakhir kita berjalan lancar.” Dokter Andi menyalami Ibu muda itu.


Kemudian dia berganti memeluk Dokter Tina. “Terima kasih”


“Sama-sama, Kai, sudah tugas kami. Terima kasih juga atas doa yang sudah kamu panjatkan sehingga atas izinnya kami berhasil melakukan tindakan dengan sangat lancar,” kata Dokter Tina.


Kaina tak dapat menahan tangis haru bahagia. 


“Kalau begitu kami permisi,” izin Dokter Andi.


“Sekali lagi terima kasih, Dok,” tambah Dina.


“Sama-sama, Bu. Sekarang kita tinggal memantau proses kesembuhan si kembar.” Dokter Andi menepuk pelan tangan Bu Dina yang menggenggam erat tangan emasnya.


Kepergian Dokter Andi, Dina juga menumpahkan tangis harunya di pelukan Dokter Tina. “Ibu, jangan nangis!”


“Saya gak tau harus bilang apa sama Dokter,” gugu Dina.


“Cukup bawakan saja saya makan siang setiap hari sampai si kembar sembuh,” kelakar Dokter Tina.

__ADS_1


Dina menyusut air mata lalu meregangkan pelukannya. “Akan saya penuhi.” 


“Gak usah! Saya cuma bercanda.”


“Serius juga gak papa.”


Tina tersenyum lebar. “Ya sudah, saya tunggu. Kalau begitu saya ke ruangan dulu mau istirahat. Ibu sama Kaina juga istirahat mumpung si kembar belum bangun.”


“Iya. Sekali lagi terima kasih banyak, Dok,” kata Kaina.


...🍆🍆🍆🍆...


Satu minggu usai menjalani transplantasi ginjal, si kembar sudah diperbolehkan pulang. Mereka diminta beristirahat di rumah selama setidaknya 6 minggu. Menghindari aktivitas fisik berat atau mengangkat benda berat sebelum dokter mengizinkan. Begitu pula dengan kedua ayah biologis mereka.


“Umumnya, organ ginjal yang baru akan langsung bekerja sesuai fungsinya. Namun, terkadang ada juga yang memerlukan waktu hingga beberapa hari atau beberapa minggu, sehingga pasien masih perlu menjalani cuci darah sampai ginjal baru bekerja secara normal,” jelas Dokter Andi.


“Untuk menekan potensi penolakan organ ginjal donor, saya akan berikan obat imunosupresan, merupakan obat yang dapat menekan sistem kekebalan tubuh, sehingga sistem kekebalan tubuh tidak menyerang organ ginjal donor yang dapat dianggapnya sebagai benda asing. Selain pemberian imunosupresan, saya juga dapat memberikan obat antibiotik, antivirus, atau antijamur untuk mencegah timbulnya infeksi akibat sistem kekebalan tubuh yang ditekan. Untuk melancarkan proses pemulihan, pasien diharuskan melakukan kontrol rutin dan mengonsumsi obat-obatan yang sudah saya resepkan.”


Kaina mengangguk paham. Sebelum membawa anak-anaknya pulang dia meminta penjelasan terlebih dahulu pada Dokter Nefrologi agar dia dapat merasa tenang dan tak ada lagi pertanyaan yang mengganjal di hati terkait kondisi si kembar.


“Terima kasih banyak atas bantuan Dokter,” pintanya.


“Kamu terlalu sering berterima kasih.”


“Soalnya saya gak tau harus apa untuk membalas jasa, Dokter.”


“Sudah tugas saya, toh. Jadi, sudahlah.”


“Kalau begitu saya izin mau ketemu Dokter Tina.”


“Silahkan. Nanti saya akan aturkan jadwal si kembar untuk cuci darah. Suster pasti akan menghubungi kamu, telponnya harus standby, ya.”


“Siap, Dok.”


Dari ruangan Dokter Nefrologi, Kaina menuju ruangan Dokter anak.Ternyata yang di cari tak ada di sana dia pun kembali ke ruangan rawat anaknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yuk mampir di karya satu ini. Jangan lupa tinggalkan dukungan ya 😊

__ADS_1



__ADS_2