Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 47


__ADS_3

“Jadikan pelajaran, Kai. Lain kali harus hati-hati." Fatih menasehati istrinya.


“Iya, Mas.”


Keduanya terus saja bercengkrama. Seakan tak ada habisnya hal yang ingin diceritakan. Hingga mobil yang membawa mereka sampai di depan rumah Candra, Kaina gegas turun. Sebelumnya dia sudah menghubungi Candra jadi tiba di sana dia tak perlu lagi berbasa-basi.


Bel ditekan tak lama si tuan rumah pun keluar. “Mana Kalila?”


“Gak masuk dulu, Kai?” ajak Candra.


“Maaf, saya gak punya banyak waktu. Mana anak saya.”


Kalila akhirnya keluar dari balik punggung ayahnya. “Bunda." Gadis kecil itu menghambur ke paha ibunya.


“Anak bunda." Kaina menyambut putrinya dengan penuh kasih sayanh. "Kita jalan sekarang?”


Kalila mengangguk cepat.


“Pamit sama ayah,” kata Kaina pada Kalila.


“Yah, aku pergi sama bunda dulu.”


“Iya, sayang. Hari minggu Ayah jemput.”


“Gak usah! Saya akan antar.”


“Baik kalau begitu.”


Kaina membimbing putrinya memasuki mobil Fatih. 


“Kita jemput abang, ya, Bun?” tanya Kalila.


“Iya, sayang.”


Selama perjalan hanya Kalila dan Kaina yang terlibat obrolan sedangkan Fatih memilih menyimak saja. Hingga mereka pun tiba di rumah Suci. Sebelum turun wanita itu menghubungi nenek dari cucunya.


“Bunda mau turun, adik tunggu di sini apa ikut?” tanya Kaina.


“Ikut aja, deh.”


Ibu dan anak itu turun dan masuk ke dalam rumah Suci. Menunggu Kama yang sedang bersiap-siap.”


“Sama siapa kesini, Kai?” tanya Suci.


“Sama Mas Fatih, Bu.”


“Kok gak turun?”


Kaina merasa tak enak. Dia bingung mau jawab apa. 


“Ayah lagi sakit gigi Oma, kayaknya mau buru-buru pulang,” kata Kalila.


“Oh, kalau gitu ya udah kalian langsung berangkat saja. Itu Kama sudah selesai.”


“Maaf, ya, Bu, saya langsung pulang.”


“Gak papa.” Auci tersenyum ramah.


“Abang, pamit sama oma,” ajak Kaina.

__ADS_1


“Oma, aku pergi, ya," izin Kama pada neneknya.


“Iya, sayang.”


“Bu, bilang ke Hugo saya bawa Kama dulu. Besok gak perlu jemput saya akan antar nanti.”


“Iya, Kai. Hati-hati di jalan.”


Tiba di mobil Fatih, si kembar di dudukkan di bangku belakang oleh ibunya. Mereka kini menuju kediaman Fadillah.


“Ayah, kata adek lagi sakit gigi. Emang iya?” tanya Kama.


“Hah?” Fatih kebingungan. “Gak ada kok, Om, eh, Ayah baik-baik aja.”


“Terus tadi kok Kalila bisa bilang Ayah sakit gigi?”


“Soalnya dari tadi ayah itu diam aja, Kak,” jelas Kalila.


Fatih menyengir sedangkan Kaina membekap mulutnya menahan tawa. 


Sebelum ke rumah, ayah sambung si kembar membelokkan mobilnya ke arah mall terdekat agar anak-anak itu bisa membeli beberapa mainan untuk mereka mainkan nanti. Selama berbelanja, Fatih mencoba membuka diri pada Kama dan Kalila. Merasa cukup, Kaina mengajak anak-anaknya untuk segera membawa belanjaan mereka ke kasir. Setelahnya mereka kembali ke mobil dan pulang.


...🐽🐽🐽🐽...


Fadilah menyambut cucunya di teras rumah. Kama yang sudah bertemu dengannya beberapa kali tampak akrab sedangkan Kalila masih sedikit malu-malu.


“Ayo, ikut Opa! Kita lihat kamar kalian.”


Kama dan Kalila mengekor di belakang Fadilah diikuti oleh Kaina. Sedangkan Fatih memilih duduk di ruang tengah menonton TV.


“Wwaah, kamarnya bagus sekali, Opa,” seru Kama.


“Kalian suka?”


“Bilang apa sama opa, Nak?” tanya Kaina.


“Terima kasih, Opa.”


“Opa senang kalau kalian senang. Apa rencana sore ini?”


Si kembar menatap ibunda.


“Belum tau, Pak, kayaknya anak-anak bakalan main di bawah sembari saya siapkan makan malam. Mungkin besok kami akan pergi jalan-jalan.”


“Ikut opa. Kita main di bawah sama …” Fadilah tak tau Fatih dipanggil dengan sebutan apa oleh cucunya.


“Ayah, mereka bilang mau panggil Mas Fatih dengan sebutan ayah," jelas Kaina.


“Oke,  ayo kita main di bawah sama ayah.”


Kembali si kembar mengikuti kaki Fadilah menuruni anak tangga dan Kaina setia mendampingi.


“Tih, ganti channel anak-anak,” kata Fadillah.


Fatih kaget saat sedang asik menikmati film. 


“Maaf, ya, Mas, anak-anak ganggu. Kamu kalau mau lanjut nontonnya di kamar aja,” ujar Kaina.


“Fatih tetap disini aja,” sela Fadilah.

__ADS_1


“Iya, Kai, saya di sini aja main sama anak-anak kamu.”


“Kalau gitu saya tinggal ke dapur mau masak.”


Suaminya setuju. Kaina pun berlalu dari sana.


...🐸🐸🐸🐸...


Di ruang tengah, si kembar bersama Fadilah sedang merakit mainan yang tadi mereka beli. Ketiganya tampak kebingungan karena mainan itu tak sesuai dengan gambarnya.


“Kayaknya Opa salah deh,” ujar Fadillah. “Tih, bantuin.”


Fatih akhirnya ikut bergabung di atas karpet. “Coba sini lihat gambarnya.”


Kama menyerahkan buku instruksi pada ayah tirinya.


“Jelas Bapak salah. Ini tuh gak begini. Sini saya aja yang pasang,” tutur Fatih.


“Yah, di buka lagi dong, Yah?” tanya Kalila.


“Iya, opa itu gak bisa rakit beginian.” Fatih sedikit kesal melihat mainan itu tak sesuai bentuknya.


“Sini, aku bantu.” Kama menawarkan diri.


“Selama ayah pasang mainannya, Kalila main sama opa, yuk.” Fadilah mencoba mendekati gadis kecil itu.


“Emang Opa mau main masak-masak?”


“Mau. Ayo, sini!” menepuk sisi kirinya yang kosong.


Keluarga baru itu sedang menyesuaikan diri satu sama lain. Pasti ada rasa canggung dan asing, tapi mereka berusaha menepisnya. Apa lagi Fadilah, dia sangat ingin kedua anak Kaina bisa dekat dengannya layak cucu dan kakek kandung. Setidaknya hal itu bisa mengobati keinginan hati untuk bisa bermain bersama cucu di usia senja.


Kalila asik mengaduk-aduk masakan khayalannya di kompor mainan bersama Fadillah. Kemudian mereka pura-pura memakannya. Sedangkan Kama dan Fatih asik merakit mainan tadi, keduanya bekerja sama dengan sangat baik.


“Kalila mau jadi koki?” tanya Fadilah


“Gak Opa, aku mau jadi dokter supaya nanti kalau ada teman-teman yang sakit kayak aku kemarin aku bisa diobati.” 


“Anak baik. Nanti mau, ya, opa sekolahin jadi dokter.”


“Boleh.”


“Tapi harus janji belajar yang rajin.”


“Janji.” Kalila memberikan kelingkingnya. “Opa bisa silangkan kelingkingnya sama aku, artinya kita sama-sama janji.”


Fadilah mengikuti ajakan gadis kecil itu. “Kalau Kama apa?” Fadilah menatap cucu laki-lakinya.


“Aku mau bisa nembak orang jahat, Opa.” Kama menjawab sambil fokus membantu Fatih.


“Mau jadi Tentara?”


“Mau!”


“Cita-cita itu harus sesuai sama keinginan hati kita sendiri jangan kata orang lain,” sela Fatih.


“Kamu nyindir bapak?” Fadilah merasa tersinggung.


“Gak juga, tapi kalau Bapak merasa, ya, bagus.”

__ADS_1


Fadilah melempar anaknya itu dengan bantal sofa.


“Apa sih, Pak?” Fatih merasa kesal.


__ADS_2