Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 19


__ADS_3

Hari ini Candra datang menemui putrinya. Dia berencana mengajak gadis kecil itu jalan-jalan karena setelah proses masa pemulihan mereka belum pergi kemana-mana untuk menghabiskan waktu bersama. 


“Kama ikut juga, ya,” ajaknya.


“Aku bantu anak-anak siap-siap dulu,” izin Kaina.


“Aku bantu,” kata Brigita mengikuti langkah Kaina.


Selama menunggu, Candra ditemani Bu Dina. 


“Gimana persidangannya, Bu, lancar?”


“Seharusnya sekarang sidang putusannya, tapi gak tau deh mungkin Kaina belum dikabari pengacaranya.”


“Semoga Kaina memenangkan hak asuhnya Kama, ya, Bu.”


“Aamiin.”


Tiba-tiba sebuah mobil range rover memasuki halaman rumah. Dina dan Candra melirik ternyata Hugo yang datang. Sampai di ambang pintu pria itu sudah berkacak pinggang dan sebuah amplop coklat ada di tangan. “Mana Kaina?”


“Bisa gak, lo masuk dulu terus ngomong baik-baik?” tanya Candra. “Gak punya sopan santun banget sih lo.”


“Gue gak ada urusan sama Lo!” Menunjuk Candra dengan angkuh. Mana Kaina? Kaina” soraknya memanggil.


Yang dipanggil pun akhirnya menampakkan diri.


Senyum kemenangan terbit di bibir Hugo dengan tampang meremehkan. “Pengadilan memutuskan kalau gue lebih berhak atas Kama.” Dilemparkan map persegi panjang yang di bawanya tepat ke wajah Kaina yang kebingungan.


“Gak mungkin!”


“Baca! Gue bawakan buktinya biar lo percaya dan silahkan lo hubungi pengacara lo nan bodoh itu.”


Gegas Kaina mengeluarkan isi amplop itu. Bola matanya bergerak kekiri dan kekanan membaca setiap baris ketikan huruf nan menjadi kalimat. Menyatakan kalau perjanjiannya dengan Hugo bersifat sah dimata hukum dan dia tak bisa melakukan gugatan. 


“Apa-apaan ini,” geramnya meremas kertas putih itu.


“Mana anak gue?” Hugo melangkah masuk mencari Kama di kamarnya.

__ADS_1


“Gak bisa.” Kaina menghadang tubuh tegap lelaki itu. “Dalam agama lo gak ada hak terhadap anak gue!”


“Terserah! Yang penting secara hukum hak asuhnya sudah lo berikan pada gue. Minggir!” Hugo mendorong Kaina hingga wanita itu jatuh tersungkur di atas lantai.


“Kama.” Akhirnya ia menemukan sang putra di dalam kamar yang baru saja berganti pakaian. “Ikut Papa, kita tinggal di rumah Oma.” 


Yang ditarik merasa bingung apalagi saat menemukan sang bunda terduduk di lantai. “Bunda kenapa?”


“Lepasin anak gue,” teriak Kaina menarik lengan anaknya.”


“Gue sudah peringatkan dari awal jangan main-main sama gue dan sekarang lo terima akibatnya.” Dilepaskan tangan kecil sang anak dari cengkraman Kaina lalu Hugo segera menggendong Kama menuju mobil.


“Bunda,” teriak Kama. 


“Diam!” jerit Hugo.


“Lepasin aku! Aku gak mau pisah sama Bunda.” Kama meronta-ronta sambil memukul punggung ayah biologisnya dengan kepalan tangan.


“Hugo, jangan paksa Kama kalau dia belum mau.” Kaina berteriak sambil mengejar anaknya.


“Gue sudah sabar selama ini dan sekarang jangan harap gue mau bermurah hati.” Kama dimasukkan kedalam mobil. Pintu ditutup dengan sangat keras lalu dia segera beralih ke balik kemudi.


“Kasih Kama dan Kalila waktu.” Berlinang air mata Kaina meminta pada Hugo sambil memukul-mukul kaca bagian kemudi.


Tak peduli, Hugo menghidupkan mesin lalu melajukan mobilnya menuju jalan raya. 


“Hugo, balikin anak gue!” teriak Kaina berusaha mengejar.


“Bbbuuunndddaaa.” panggilan Kama teredam dalam mobil.


“Kkkaammmaaa.” Kaina berlari sambil berusaha menggapai sang putra yang semakin menjauh. Akhirnya ia tak sanggup lagi, kaki telanjangnya tak mampu berlari melebihi kecepatan roda empat itu. Sakit di hati tak sebanding dengan sakit telapak kaki nan telanjang tanpa alas. Tubuhnya seketika jatuh di aspal nan begitu panas. 


Dina yang tadi ingin mengejar sang putri di tahan Candra agar tetap di rumah bersama Kalila dan dia yang akan menyusul Kaina.


“Kai,” panggilnya terengah-engah.


“Bantu aku, Can, bantu aku mendapatkan Kama,” desak Kaina menangis.

__ADS_1


“Iya, tapi sekarang kita kembali ke rumah.” Membawa wanita itu untuk kembali berdiri.


“Can, aku akan lakukan apapun asalkan kamu mau membantu merebut Kama dari Hugo.”


Candra hanya mengangguk sambil menuntun mantannya kembali ke rumah. Tiba di teras, Kalila langsung menghambur dan mendekap Ibunya. “Abang mau dibawa kemana, Bunda?”


Gegas Kaina menyeka pipi dan matanya yang basah dengan punggung tangan. Ia berjongkok lalu menyeka air mata sang putri yang ikut merasa sedih ketika berpisah dengan saudara kembarnya. “Abang cuma dibawa Papa ke rumahnya. Besok Abang pasti pulang.”


“Abang gak lama di sana kan, Bunda?” isak Kalila.


“Gak, sayang. Bunda janji secepatnya Abang akan pulang.” Dipeluknya sang putri dengan erat seakan menyerap kekuatan untuk membuatnya lebih tegar lagi.


...💐💐💐💐...


Adit yang kepalang emosi tak mampu lagi berpikir dengan jernih. Tujuannya hanya satu yaitu menghabisi pengacara nan sudah menipu keluarganya mentah-mentah. Dijanjikan akan menang di pengadilan nyatanya dia tak melakukan apa-apa. Hanya menjalankan prosedur setelahnya tidak melakukan pembelaan sedikitpun.


Motor beat putih yang selalu dipakai untuk berangkat ke toko, kini di tunggangi menuju alamat si pengacara tersebut. Tiba di sana dia masuk tanpa permisi memecahkan meja nan terbuat dari kaca lalu berkata, “Keluar lo pengecut! Kalau lo gak berani hadapi gue secara jantan bakalan gue hancurin ini kantor,” geramnya.


Adit datang bukan hanya bermodalkan emosi sesaat, tapi dia membawa nyali yang menyala dan berani. Jika sudah seperti itu tak ada orang yang ia takuti. 


Tangan kosongnya yang sudah dibalut dengan kain khusus nan biasa dipakai untuk bertinju kini memukul semua kaca jendela nan ada. Bahkan pintu tempat ruangan si pengacara berada di tendangan dengan kaki. Membuat orang nan ada di dalam menunduk takut dan bersembunyi di balik meja.


“Keluar!” bentak Adit.


Dengan kedua tangan melindungi wajah, laki-laki itu akhirnya keluar juga. 


“Lo balikin uang yang Kakak gue kasih atau gue bikin lo hancur babak belur?”


“Silahkan! Saya gak takut,” katanya dengan suara bergetar.


Adit tersenyum miring. Mendekati pria yang kira-kira berumur tiga puluh tujuh tahun itu lalu meremas kemejanya di bagian dada. “Lo pikir gue takut? Walaupun setelah ini gue masuk penjara setidaknya gue udah berhasil bikin muka sama badan lo ini bonyok.”


“Akan saya pastikan juga kamu mendekam di sana selamanya,” tantang si pengacara.


“Bajingan!” Kemarahan Adit sudah di ubun-ubun. Tanpa ampun kedua kepalan tangannya menumbuk tubuh pria yang hanya menyandar di dinding tanpa perlawanan sama sekali.


Beberapa orang yang ada di sana tak berani melerai sebab takut kalau nanti jadi ikut di hajar. Puas, Adit menendang lawannya nan sudah terkapar di lantai.

__ADS_1


“Cuih!” Membuang ludah ke sembarang arah. “Untung aja lo gak gue bikin mati.”


Setelahnya dia pergi dari sana tanpa rasa sesal sedikitpun. Malahan wajahnya tampak sangat puas.


__ADS_2