Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 7


__ADS_3

“Bunda, lihat deh, sekarang Abang punya mainan yang kemarin mau dibeli, tapi gak jadi gara-gara, Bunda gak punya uang,” seru Kama.


“Iya, Nak. Bilang apa sama papa?” jawab Kaina.


“Alhamdulillah. Terimakasih, Papa.”


“Sama-sama,” jawab Hugo.


“Aku juga, sekarang punya istana buat boneka barbie di rumah,” timpal Kalila.


“Bilang apa sama Ayah?”


“Makasih, Ayah.”


Candra tersenyum lebar sambil mengelus pipi anaknya yang terlihat menggemaskan.


“Ibu, Bunda, Ayo ikut kita! Main sama kita di sini,” ajak Kama.


“Iya, ayo, Bu, sekalian kita ngobrol-ngobrol. Kami kan belum kenal sama Ibu, maaf kalau dari tadi gak memperhatikan,” tambah Candra.


Dina akhirnya ikut bergabung di sana sedangkan Kaina izin keluar sebentar.


“Saya Candra,” ucapnya.


“Saya Hugo.”


Dua pria itu memperkenalkan diri pada Ibu Kaina--nenek dari anak mereka. Dibalas senyuman ramah oleh Dina.


“Setau Ibu hasil tes DNA-nya Nak Hugo belum keluarkan, kok bisa yakin?” tanya Dina.


Yang ditanya langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana lalu membuka galeri dan mencari foto dirinya waktu masih kecil. “Ibu, bisa lihatkan?” menunjukkan gambar yang ada di layar.


“Oh, iya, kalian mirip sekali,” seru Dina senang.


Sebagian Ibu yang bertemu dengan laki-laki nan telah menghamili putrinya mungkin akan marah dan mencaci maki. Namun, tidak dengan Dina, ia sama sekali tak murka atau benci pada dua pria itu. Bahkan sikapnya sangat ramah dan menyambut kedatangan mereka. 


Baik Candra dan Hugo tetap merasa tak enak, bahkan seakan kalau mereka adalah seorang pecundang. Sudah enak-enak dengan putrinya lalu ketika hamil dibiarkan begitu saja hingga benih yang disemburkan kini sudah tumbuh besar.


“Santai saja, gak usah tegang begitu dengan Ibu. Kalian disini demi Kama dan Kalila. Ibu gak akan membahas apapun dengan kalian selain tentang mereka berdua. Apa yang terjadi, Ibu sudah maafkan.”


“Terima kasih banyak, Bu. Maaf kalau saya membuat hati Ibu terluka,” pinta Candra.


“Sudah, jangan bahas hal ini depan cucu Ibu. Kita bicarakan soal mereka saja,” balas Dina tersenyum.


Sedangkan Hugo hanya tertunduk, ia masih ragu apakah ini memang salahnya sebab ia saja tak tau kalau Kaina hamil akibat kejadian malam itu.

__ADS_1


...----------------...



...----------------...


Kaina kembali bersama seorang suster. “Abang, Adik, mainnya udahan, ya. Kita harus cuci darah dulu.”


Karena memang sudah biasa dan dua anak itu pun sudah paham, tanpa diminta mereka mengemasi mainannya.


“Biar Papa aja, kalian ikut Bunda sana,” sela Hugo.


“Iya, Biar Ayah dan Papa yang bereskan mainannya,” tambah Candra.


“Bu, tolong antar Kama sama Kalila cuci darah. Aku mau bicara dulu sama Ayah mereka,” kata Kaina.


Dina mengajak dua cucunya menuju ruangan khusus bersama suster tadi.


“Ayah sama Papa gak akan kemana-mana kan?” tanya Kalila.


“Gak kok, sayang, Ayah sama Papa mau ketemu Dokter Tina dulu, baru nemenin kalian berdua,” jawab Kaina. Membuat bibir mungil sang anak mengembangkan senyuman.


Kepergian si kembar berulah Kaina membuka obrolan. “Aku akan antar kalian ketemu Dokter Tina. Dia akan menjelaskan kondisi Kama dan Kalila, setelah itu kalian berdua bisa putuskan kapan transplantasi ginjal akan dilakukan.”


“Lebih cepat lebih baik kan. Aku gak mau melihat mereka menderita. Kalau permintaanku dikabulkan oleh Tuhan, mungkin sekarang aku sudah menanggung sakit yang mereka rasakan.”


“Hugo, sebaiknya kita temui Dokter dulu, mungkin setelah mendapatkan penjelasan kita bisa memikirkan apa yang terbaik untuk si kembar,” sela Candra.


Nafas panjang dihela pria bertumbuh tegap itu. “Baiklah.”


Kaina menuju ruangan Dokter Tina dan memperkenalkan dua pria itu padanya.


“Ganteng juga, pantesan Kama sama Kalila tampan dan Cantik,” puji Tina.


“Langsung ke intinya aja, Dok,” ujar Kaina. Karena sering bertemu, Kaina dan Dokter itu memang jadi akrab.


“Santai dong, Kai, jangan terlalu serius.”


“Baiklah para Bapak-bapak, saya akan menjelaskan penyebab Kama dan Kalila bisa menderita penyakit ginjal kronis. Awalnya mereka mengalami penyumbatan pada saluran kemih lalu saya dan Dokter Nefrologi memberikan perawatan pada mereka untuk bisa pulih dan ginjalnya dapat berfungsi dengan normal kembali. Namun, semua tak sesuai harapan. Kondisi mereka menjadi lebih serius dan berlangsung lama, yaitu sudah jalan setahun belakangan. Semua metode pengobatan sudah kami lakukan tapi ternyata tak ada hasil yang berarti. Akhirnya saya memutuskan untuk menempuh pilihan terakhir, yaitu transplantasi ginjal,” terang Dokter Tina. “Sampai disini ada yang mau dipertanyakan?” 


Candra dan Hugo serempak menggelengkan kepala.


“Kaina beserta Ibunya dan keluarga lain sudah melakukan tes kecocokan ginjal, ternyata tak ada satupun dari mereka bisa menjadi pendonor sebab tak ada yang cocok. Akhirnya saya meminta Kaina untuk mencari kalian dan membawanya ke sini. Secara garis besar Kaina sudah menceritakan sedikit hubungan kalian bertiga dengan si kembar. Jadi, di sini sebagai dokter Kama dan Kalila, saya hanya ingin menyampaikan kalau mereka sangat membutuhkan donor ginjal dari ayahnya.”


“Apa di Rumah sakit ini tak bisa memberikannya?” tanya Candra.

__ADS_1


Tina melirik Kaina menduga kalau wanita itu belum bicara apa-apa sama sekali dan ia harus menjelaskan kembali pada dua pria ini. “Kalau kita mengharapkan donor ginjal dari Rumah Sakit, Kama dan Kalila harus masuk daftar antrian. Saya pernah jelasakn ini pada Kaina. Jika kita menunggu maka kemungkinan si kembar tak bisa bertahan. Sebab banyak pasien yang sudah mengantri untuk mendapatkan pendonor.”


“Lalu untuk apa mereka cuci darah?” tanya Hugo.


“Itu salah satu pengobatan yang kami lakukan. Cuci darah sendiri berfungsi untuk mencuci darah yang biasanya dilakukan oleh ginjal kini digantikan oleh mesin.”


“Apa ada efek sampingnya?” giliran Candra yang bertanya.


“Biasanya Kama dan Kalila akan mual atau muntah bahkan kadang sakit kepala ringan. Tapi gak selalu. Biasanya selama proses berlangsung mereka akan tidur pulas dan besoknya kembali seperti biasa.”


Lama dua pria itu terdiam. Entah apa yang sedang mereka pikirkan membuat Kaina merasa tak sabar. Dia ingin anak-anaknya segera melakukan operasi agar bisa sehat dan menjalani hidup dengan normal layaknya anak-anak seumuran mereka.


“Saya tau, mungkin ini semua serba mendadak buat kalian, tapi sekali lagi coba pikirkan kesembuhan Kama dan Kalila. Meski selama ini kalian tak pernah tau soal keberadaan mereka, tapi tetap bagaimanapun mereka adalah darah daging kalian sendiri.”


“Bisa beri kami waktu?” tanya Hugo.


“Oh, kalau itu sebaiknya kalian bicarakan bertiga dengan Kaina. Tugas saya hanya sampai di sini,” jawab Tini.


Merasa kecewa, Kaina memilih keluar dari sana terlebih dahulu membawa rasa marah dan murka. Candra berusaha mengejar.


“Kai,” panggilnya.


“Apa? Kenapa susah sekali buat kalian mendonorkan satu ginjal untuk anak-anakku?” heran Kaina.


“Kai, kamu harusnya paham dong , kalau ini semua seakan mimpi buat kami. Wajar dong kalau kami butuh waktu karena mendonorkan ginjal itu sebuah keputusan yang-”


“Sulit!” potong Kaina. Ia membuang nafas panjang. “Aku cuma minta satu ginjal dari kalian, apa sulitnya sih? Kalian gak perlu mengurus mereka, kalian gak perlu merawat mereka, kalian gak perlu memikirkan biaya pengobatan mereka, cuma satu ginjal itu saja yang aku minta. Setelah itu kalian bisa kembali menjalani hidup seperti biasa.” Dada Kaina tampak naik turun menahan emosi.


“Masalahnya ini menyangkut kesehatan kami setelah ini, Kai,” sela Hugo.


“Lalu bagaimana dengan kesehatan anakku? Kenapa kalian begitu egois?” Kaina mendengus.


“Egois? Kamu yang egois, Kai! Tiba-tiba datang dan meminta kami melakukan tes DNA lalu mengajak kami bertemu mereka dan sekarang langsung meminta ginjal.” Tak sadar Candra menggunakan nada tinggi.


...----------------...


Yuhu... terima kasih sudah mampir di karya author yang ke-4 ini. Mohon dukungan kalian semua dengan cara like 👍 komen 💬 hadiah 🎁 vote 🔖 serta bintang ⭐ lima.


...----------------...


Hampir lupa, hari ini aku bawa rekomendasi dari teman sesama penulis. Jangan lupa kalian mampir di sana dan tinggalkan jejak.


Biar penasaran aku kasih sedikit blurbnya...


__ADS_1


__ADS_2