Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 50


__ADS_3

Tiba di kamarnya, Kaina tak menemukan sang suami di sana. Dia yakin kalau laki-laki itu pasti sedang di kamar mandi. Langsung saja di siapkannya baju ganti dan di letakkan di atas kasur. Sambil menunggu, dia memilih membersihkan sisa-sisa make up di wajah.


“Kai,” panggil Fatih. Tampak pria itu menjulurkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi.


“Ya, Mas?”


“Tolongin baju dong.”


“Pakai di sini aja, Mas, saya mau mandi.”


Dengan handuk yang melilit di pinggang, Fatih keluar dari sana. Kaina berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain. 


“Kenapa?”


“Gak papa. Saya mandi dulu.” Gegas Kaina berjalan memasuki kamar mandi. 


Fatih hanya tersenyum kecil melihat sang istri malu menatap dirinya. Merasa lelah, akhirnya dia merebahkan badan di atas pembaringan. Tak lama Kaina pun keluar dari bilik air.  


“Kai?” Fatih mendudukkan diri.


“Ya, Mas?”


“Bisa pijitin gak?”


“Apanya?”


“Kaki sama punggung aja. Capek banget rasanya.”


Kaina setuju, setelah menjemur handuk dia menghampiri sang suami yang sudah menelungkup di atas kasur. 


“Makasih, ya, Mas, hari ini kamu mau main dan temani anak-anak.” Kaina berkata sambil memijat kaki suaminya.


“Sama-sama. Saya juga mau bilang makasih, karena berkat kamu saya bisa mendapatkan pengalaman baru. Merasakan punya anak, bermain, dan menghabiskan waktu bersama mereka.”


“Tapi …” Kaina membuang nafas kasar. Wajahnya langsung berubah sendu. “Saya takut nanti mereka jadi dekat dan terbiasa dengan kamu, Mas. Pasti akan sulit nantinya buat mereka jika kita berpisah.”


Fatih terdiam. Apa yang dikatakan istrinya memang betul. “Untuk sekarang jalani saja dulu, Kai. Saya juga gak mungkin menjauhi mereka. Biarkan semuanya mengalir apa adanya.”


“Baiklah kalau memang seperti itu menurut kamu, Mas. Saya ikut saja.”


Dari kaki, Kaina beralih ke punggung. Memberikan pijatan yang sedikit keras agar dapat mengurangi ketegangan di otot-otot itu. Hingga tanpa sadar Fatih yang merasa rileks mulai memejamkan mata dan tertidur lelap.


Kaina yang sudah mengantuk menyudahi pijatan itu, menarik selimut untuk menutupi tubuh Fatih dan berpindah ke samping suaminya. Dia pun ikut menyusul ke alam mimpi.


...🌴🌴🌴🌴...


Karena seharian kemarin mereka sudah puas melihat berbagai macam hewan serta bermain, hari ini si kembar memilih bersantai di ruang tengah. Menikmati film kartun kesukaan sambil mewarnai gambar yang mereka lukis.

__ADS_1


“Ayah, lihat.” Kama memberikan buku gambarnya pada Fatih. “Aku menggambar kita semua di kebun binatang kemarin.”


“Bagus gambarnya.” Fatih memberikan pujian sambil mengacak rambut pria kecil itu.


“Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi, ya, Yah,” ajak Kalila.


“Boleh. Kalian maunya kemana?”


“Wahana air,” sorak Kama. “Kita belum pernah kesana.”


“Oh, ya?” Fatih tak percaya. “Kalian gak pernah main di kolam gitu?”


Si kembar menggeleng dengan raut wajah sedih. “Waktu kita sakit bunda pernah janji bakalan ajak kita main ke water park, tapi kalau Dokter Tina kasih izin,” jelas Kama.


Merasa Iba, Ayah sambung itu ingin menghibur anak-anaknya. “Bunda mana?”


“Kayaknya lagi di dapur.”


Fatih berdiri. “Tunggu di sini,” katanya sebelum melangkah menemui sang istri.


Tiba di tujuan, ia langsung menghampiri Kaina yang tampak sibuk mengaduk masakan. “Kai?”


“Iya, Mas?”


“Saya boleh bawa anak-anak berenang gak?”


“Katanya mereka gak pernah di bawa main ke wahana air. Makanya sekarang saya mau ajak mereka berenang buat isi waktu sebelum nanti mereka kembali ke ayahnya.”


“Oh, boleh deh, tapi jangan lama-lama, ya, Mas.”


Si suami mengangguk. “Ikut?”


“Gak deh, saya mau siapin makan siang.”


Fatih kembali menemui si kembar. “Ayo, kita berenang,” ajaknya.


“Ayah serius?” tanya Kama.


“Iya. Ayo! Sebelum jam makan siang, kita berenang dulu.”


“Yyyeeaaa …” Kedua anak kecil itu meloncat kegirangan dan gegas menuju kolam renang bersama sang ayah.


Sebelum masuk ke dalam kolam, Kaina mengajak mereka mengganti pakaian dulu, sedangkan sang suami sudah membuka baju kaosnya di dekat pinggir kolam.


“Nanti kalau Bunda panggil, berenangnya udahan, ya,” pesannya pada Kama dan Kalila.


“Iya, Bunda,” jawab dua anak itu.

__ADS_1


“Mas,” panggil Kaina. “Saya ke dapur lagi, titip anak-anak.”


Fatih mengangguk lalu membimbing si kembar memasuki kolam.


...🐝🐝🐝🐝...


Pas tengah hari, Fadilah yang baru saja menghadiri suatu acara segera mencari cucunya. Tak menemukan seorangpun di ruang tengah, dia menuju ruang makan. “Fatih sama anak-naka mana, Kai?” 


Kaina yang sedang menata makanan di meja menatap sang mertua yang baru pulang. “Lagi berenang, Pak.” 


“Tumben. Biasanya Fatih gak suka berenang.”


“Mungkin di ajak anak-anak. Bapak sudah makan?”


Fadilah menarik kursi untuk duduk. “Belum makanya Bapak langsung pulang habis acara.”


“Kalau gitu saya panggil mereka dulu, biar kita bisa makan bareng.”


“Ya sudah, Bapak juga ke kamar dulu deh mau ganti baju.”


Kaina menuju kolam renang, membawakan handuk untuk anak dan suaminya. Dari pinggir dia meminta mereka agar menyudahi kegiatan. Fatih pun mengangkat satu persatu anak-anak itu lalu disambut sang istri. Dari sana mereka semua menaiki lantai dua untuk mengeringkan badan dan berpakaian bersih di kamar.


...🌿🌿🌿🌿...


Sore hari yang mendung ini, Kama dan Kalila sedang menekuk wajah di atas kasur. Mereka tak mau diantarkan pulang ke rumah ayah biologisnya. Inginnya mereka tetap tinggal di sini bersama sang bunda dan ayah sambung. Kembali, Kaina harus memberikan pengertian agar keduanya mau bersabar menunggu Fatih mendapatkan hak asuh kembali.


“Minggu besok kan kesini lagi,” bujuk Kaina.


“Tapi kita maunya setiap hari di sini,” rengek Kama.


“Abang.” Kaina memeluk sang putra. “Kemarin bisa sabar, kuat, dan ngerti Bunda sekarang kok gini?”


“Abang gak suka sama Papa Hugo. Dia sukanya marah-marah, kadang kalau di ajak main dia bilang sibuk. Gak kayak ayah Fatih.”


Dielusnya punggung sang anak oleh Kaina. Membiarkan putra kecilnya menumpahkan kesedihan yang dirasa. Setelah sedikit reda, dia kembali mengajak anaknya itu bicara. “Biar waktu Abang dan Adik cepat berlalu selama di rumah ayah dan papa, gimana kalau mulai besok kalian berdua sekolah?”


“Sekolah?” tanya Kalila.


“Iya. Pagi-pagi kalian sudah harus bangun dan bersiap-siap berangkat ke sekolah. Nanti disana kalian bisa ketemu teman banyak juga ketemu ibu guru yang akan mengajarkan kalian membaca, menulis, dan berhitung. Terakhir kalian bisa bermain sepuasnya karena disana banyak permainan.”


“Mau-mau.” Wajah kedua anak-anak itu langsung berubah ceria.


“Oke. Kalau begitu kita berangkat sekarang. Biar Bunda bisa bicara sama ayahnya Kalila dan Papanya Kama. Besok kita bisa pergi daftar sekolah.”


“Ayo, Bunda. Abang sudah gak sabar.” Kama dan Kalila menarik tangan ibu mereka untuk segera keluar dari kamar.


“Kita pamit sama opa dulu, ya.”

__ADS_1


“Siap,” jawab si kembar.


__ADS_2