
Tiba di kamar hendak istirahat, Fatih memeluk istrinya dari belakang yang sedang menutup gorden.
“Makasih, ya, tadi udah dimasakin makanan enak.”
“Sudah tugas aku kok, Mas, jadi kamu gak perlu berterima kasih.”
Di baliknya tubuh Kaina agar mereka saling berhadapan. “Harus, karena kamu lagi hamil begini masih sempat-sempatnya ngurusin aku, anak-anak kadang juga Bapak. Kalau aku gak tegur pasti kamu bakal lakuin semua tugas.”
“Ya, karena kehamilan ini bukan suatu alasan buat aku berleha-leha, Mas. Justru lagi hamil ini aku harus banyak gerak biar nanti anak kita aktif. Kalau capek aku pasti bakaln istirahat kok. Jadi jangan khawatir lagi, ya.”
Fatih memeluk istrinya itu. “Malam ini Ayah boleh lepasin kangen gak?”
“Aku capek, besok aja, ya.”
“Yyaah.” Fatih sedikit kecewa. “Tapi gak papa deh, kita tidur aja.”
Kaina tertawa di dalam dekapan suaminya. “Aku bercanda, Mas. Ayo, kalau gitu.”
“Serius? Tapi kalau kamu beneran capek gak usah. Besok aja gak papa.”
“Kalau mau, ayo!” ajak Kaina melangkah ke kasur. “Tapi kalau masih ragu aku tinggal tidur nih.”
Fatih mematikan lampu utama kamar mereka. Karena sudah gak sabar langsung di bukanya kaos yang melekat di badan dan merangkak ke atas kasur. Mengurung sang istri dengan badannya yang kekar. “Aku bingung mulainya dari mana.”
“Hahaha,” tawa Kaina pecah. “Ya udah kalau begitu belajar dulu sana.”
“Aku takut, Kai nanti anak kita kenapa-kenapa. Tapi aku juga mau.”
“Ya udah, santai aja, Mas. Kayak biasa tapi nanti kalau aku gak nyaman pasti aku bilang.”
“Oke deh.”
“Baca doa dulu.”
“Ah, iya hampir lupa.”
Fatih membaca doa tepat di atas kepala istrinya kemudian dilabuhkan sebuah kecupan hangat dan dalam di kening Kaina. “Kali ini kita lakukan atas dasar cinta.”
Kaina mengangguk, memejamkan mata menikmati sentuhan lembut dari suaminya. Jujur kali ini ada debaran yang terasa. Tak seperti sebelumnya mereka diburu gelora dan hasrat, kali ini Fatih mencoba menikmati dengan perlahan.
Meski dirinya harus menahan nafas melihat perubahan di tubuh sang istri, Fatih tak mau buru-buru. Mungkin kemarin mereka melakukannya sekedar memberikan sebuah kepuasan, tapi kali ini bisa jadi sebagai pembuktian rasa yang ada di dalam hati masing-masing. Lewat sentuhan, cumbuan, dan *******, baik Kaina dan Fatih akan merasakan betapa mereka saling mencintai satu sama lain dan tak akan berpisah lagi.
Setelah melepas seluruh kain yang melekat di tubuh istrinya Fatih menatap tak percaya pada perut buncit yang ada di hadapannya. “Ini beneran anak kita, Kai?”
“Kenapa, Mas?”
“Aku rasa sedang bermimpi. Kadang pas bangun tidur selalu periksa perut kamu dan ternayta benar kamu hamil anak aku.”
Dibelainya surai hitam sang suami. “Ini rezeki kamu, Mas. Jadi jangan berpikir lagi kalau sekarang kamu itu mandul, ya.”
__ADS_1
Fatih mengangguk. “Ayah bakalan jenguk kalian,” katanya. Kemudian dikecup lembut perut Kaina.
Kaina menyambut kedatangan suaminya di bawah sana sambil meresapi rasa yang mampu membuatnya menggeliat. Perlahan tapi pasti Fatih memberikan dorongan lembut agar sang istri merasa nyaman dan tetap dapat menikmati permainan mereka. Hingga keduanya berhasil sampai di puncak nirwan dunia mereka sama-sama meledakkan cairan hangat penuh kepuasan.
BAB 97
Waktu berlalu begitu cepat dan kini Fadilah menggelar acara syukuran empat bulan kehamilan menantu kesayangan. Para tamu undangan sudah mulai hadir. Memberikan selamat pada pasangan yang berbahagia.
"Jadi rumor yang mengatakan kalau Fatih itu mandul cuma gosip aja, ya, Pak Fadilah," ujar salah satu rekan bisnis.
"Itu cuma isu yang gak mutu makanya dari awal saya gak mau menanggapi," jawab Fadilah.
"Beruntung banget Pak Fadilah ini mau dapat cucu langsung dua loh."
"Hahaha, Alhamdulillah. Saya bersyukur sekali sejak."
"Rencananya mau punya anak berapa, Tih," tanya teman Fadilah.
"Tergantung istri aja, Om, kan dia yang bakalan hamil," jelas Fatih.
"Kalau memungkinkan nanti tambah satu lagi," jawab Kaina.
"Semoga masih diizinkan dokter, ya," timpal istri dari teman Fadilah.
"Aamiin, Tante."
"Oh, iya, ini ada sedikit hadiah dari kami berdua."
"Eh, gak papa dong. Fatih itu dulu dekat sama anak Tante, udah kayak anak sendiri. Sekarang karena mereka sudah punya kesibukan masing-masing jarang ketemu."
"Maaf, Tan, lain kali kami main ke rumah," tutur Fatih.
"Tante tunggu."
Acara pun berlangsung dengan hikmat. Setelah selesai pengajian, semuanya di ajak untuk menyantap hidangan yang ada. Asik menyapa tamu yang lain, Fatih dan Kaina dikagetkan dengan kedatangan Hugo bersama mamanya.
"Selamat buat kalian berdua," ucap Hugo mengulurkan tangan.
Fatih menyambutnya. "Terima kasih."
Sejak masalah kemarin Hugo tak pernah datang menemui mereka. Baru kali ini ayah biologis Kama itu muncul.
"Selamat, ya, Kai, Fatih," tambah Suci.
"Terima kasih, Bu. Kok, terlambat?" tanya Kaina.
"Ibu sama Hugo cari kado dulu."
"Ayo, kita duduk dan makan, Bu," ajak Kaina.
__ADS_1
Suci pun setuju. Dua wanita itu pergi meninggalkan Fatih dan Hugo.
"Sekali lagi selamat," ujar Hugo. "Semoga kalian berdua hidup bahagia selamanya."
"Aamiin."
"Gue datang sekalian mau minta maaf sama lo, Tih."
"Soal?"
"Semua kesalahan yang pernah gue lakukan terhadap lo."
Fatih memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana lalu berjalan menjauh dari kerumunan para tamu. "Dari awal sudah gue maafkan. Karena bagaimanapun gue paham sama apa yang lo rasakan."
Hugo mengikuti langkah adik nya itu. "Tapi gak seharusnya gue melampiaskan rasa kecewa ini sama lo. Lo gak tau apa-apa dan lo gak salah."
"Sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu. Kenapa sekarang kita gak mulai dari awal? Menjadi saudara dengan hubungan yang baik."
"Gue setuju."
Keduanya saling berpelukan. Melepas rasa benci, amarah, iri, dengki, dan dendam yang ada lalu mengubahnya menjadi rasa saling sayang, cinta, dan saling menjaga.
"Gue akan mencoba jadi kakak yang baik buat lo meski gue akui lo yang sebenarnya pantas jadi kakak."
"Kita berdua sama-sama belajar untuk jadi saudara yang baik itu seperti apa." Fatih menepuk bahu saudaranya.
"Soal perasaan gue sama Kaina lo jangan khawatir. Meski kini hati gue hancur karena cinta gue bertepuk sebelah tangan apa lagi melihat kalian berdua happy, tapi ini bakalan jadi patah hati pertama yang bakalan selalu gue ingat. Ternyata hidup gak semudah yang gue kira.Sakit yang gue rasakan memberikan banyak pelajar hingga mampu membuat gue berubah jadi pribadi yang lebih baik."
Fatih terseyum simpul. "Gue gak tau harus bersikap seperti apa. Tapi yang pasti gue bersyukur kalau sekarang lo sudah sadar."
"Semua berkat istri lo. Dia wanita spesial yang pernah gue temui."
"Thank's."
"Jaga dan bahagiakan dia. Kalau sampai kaina sedih siap-siap gue datang merebutnya."
"Hahaha… pasti. Gak akan gue berikan lo kesempatan untuk itu."
Hugo pun tertawa lebar.
"Ayo, kita kembali ke sana." Fatih merangkul kakaknya menuju Kaina dan Fadilah bersama si kembar. "Lo pasti udah kangen banget sama Kama."
"Iya, hampir tiga bulan gue gak ketemu dia."
"Dia juga pasti kangen banget sama lo. Sampai kapanpun lo bakalan tetap jadi ayahnya. Gue cuma sekedar ayah sambung."
"Meski ayah sambung, lo pantas mengakui kalau lo ayah yang baik. Mendidik dan membesarkan anak itu jauh lebih sulit ketimbang membuatnya saja. Gue berterima kasih banyak karena lo sudah mendidik Kama jadi anak baik dan pintar."
"Mulai sekarang mari kita berdua bekerja sama dalam membesarkannya."
__ADS_1
Hugo mengangguk setuju.
Kakak beradik itu sudah berdamai dengan masa lalu dan kini mereka mencoba memperbaiki masa depan agar terjalinnya hubungan yang harmonis.