
“Sekarang waktunya Bunda tidur juga.” Fatih berkata sambil membaringkan sang istri ke atas kasur.
“Makasih, ya, Mas.”
“Aku bikin laporan bentar ya?”
“Di mana?”
“Di meja kecil itu.” Fatih menunjuk meja dekat ranjang.
“Disini aja,” rengek Kaina. “Biar aku tidurnya bisa peluk.”
“Ya udah aku gak jadi bikin laporan deh.” Fatih ikut masuk kedalam selimut. Membawa istrinya ke dalam dekapan.
“Mas?”
“Apa, Kai?”
“Setelah kejadian kemarin, Hugo ada pulang gak kesini?”
“Gak ada. Kenapa?”
“Bapak tau gak masalah dia sempat kurung aku di apartemennya?”
“Tau.”
“Terus bapak marah gak?”
Fatih membuang nafas panjang. “Aku gak tau. Setelah dari RS kita kan pulang ke rumah ibu dan baru tadi sore ketemu bapak. Jadi belum ada bicarakan soal itu.”
“Aku harap bapak gak marah, ya, Mas. Soalnya aku yakin Hugo mau berubah. Kalau gak, mungkin dia gak akan lepasin aku.”
“Mudah-mudahan. Jujur aku takut nanti dia sampai ganggu rumah tangga kita.”
Kaina mengangkat wajahnya untuk menatap sang suami. “Kenapa?”
“Ya aku takutlah kalau dia sampai ambil kamu dari aku.”
Ibu hamil itu mengulum senyumnya. “Tenang aja, aku gak akan berpaling ke dia.”
“Kalau aku di bikin mati gimana?”
“Hhuuss.” Dipukulnya dada Fatih oleh Kaina. “Jangan ngomong gitu.”
“Bisa aja kan. Apalagi dia udah benci sama aku dari dulu, ditambah sekarang kamu nolak dia gara-gara aku. Pasti makin benci dan sakit hati tuh si Hugo.”
“Gak boleh bicara gitu. Bagaimanapun dia saudara kamu, Mas. Doakan saja agar dia menjadi orang baik.”
“Aamiin.”
“Bobok yuk! Kalau kamu ngajak aku ngobrol terus yang ada nanti kita gulat. Aku gak mau sebelum kandungan kamu kuat.”
Kaina tertawa kecil. “Ya udah matiin lampu utamanya.”
Fatih menekan tombol yang ada di samping ranjang. Pasutri itu sama-sama memejamkan mata melewati malam menuju pagi.
...🦋🦋🦋🦋...
Fatih selalu menemani sang istri dalam menjalani kehamilannya. Hingga tak terasa waktu pun terus bergulir. Kini Kaina sudah bisa beraktifitas normal setelah kakinya dinyatakan sembuh oleh dokter. Fatih pun sudah kembali bekerja di kantor hanya saja dia akan pulang lebih awal dari biasanya. Si kembar pun semakin semangat belajar di sekolah dan mereka baru saja memenangkan perlombaan mewarnai antar sekolah lainnya.
__ADS_1
Hari ini tepat kehamilan Kaina memasuki usia tiga bulan. Ia dan sang suami tengah bersiap ke Rumah sakit untuk melakukan kontrol bulanan.
“Anak ayah gede baget sih.” Fatih berkata di depan perut istrinya yang buncit.
“Aku makannya banyak banget, ya, Mas. Baru juga tiga bulan si adek udah sebesar ini.”
“Gak papa, yang penting kalian sehat.”
“Aku kayak hamil empat bulan aja, ya, Mas.”
Fatih tertawa lalu mencium perut istri nya. “Berangkat sekarang?”
“Ayok.”
Mereka bergandengan keluar dari kamar menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah. Setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman, Fatih memutari mobil untuk berpindah ke sisi kemudi.
“Habis dari Rumah Sakit kita jemput anak-anak,” kata Kaina.
“Iya.”
“Habis itu ke rumah ibu.”
“Iya, sayang,” jawab Fatih. Di genggaman tangan sang istri sesekali dikecupnya.
“Nyetir aja yang benar, Mas.”
“Emang salah kalau aku mau cium tangan istri sendiri.”
“Gak, cuma ya jangan pas lagi bawa mobil gini.”
“Soalnya aku gemas sama kamu, Kai.”
“Iya, tapi aku suka dan makin sayang. Apa lagi lihat perut kamu makin besar.” Dielusnya perut Kaina. “Aku udah gak sabar pengen dia cepat-cepat lahir.”
“Sabar, ya, Mas. Tapi aku sekarang penasaran banget sama jenis kelaminnya.”
“Nanti udah ketahuan belum, ya?”
“Kita tanya dokter aja.”
Fatih mengangguk setuju.
...🐛🐛🐛🐛...
Masuk ke ruangan dokter kandungan Kaina dan Fatih disambut ramah oleh Dokter bernama Biya. “Apa ada keluhan sekarang?”
“Gak ada sih, Dok,” jawab Kaina. “Cuma aku suka ngemil aja. Gak tentu mau itu pagi, siang, atau malam.”
“Kalau gitu Ibu Kaina ke ranjang dulu di bantu suster, ya.”
“Bisa lihat jenis kelaminnya sekarang gak, Dok?” tanya Fatih.
“Coba nanti kita lihat ya, Pak. Tapi biasanya akan lebih jelas di usia 18 minggu,” jelas Dokter Biya.
“Ooh, gak papa kalau belum bisa.”
Dokter pun mulai menggerakkan alat USG di perut Kaina yang sudah tampak besar dari usianya. “Pantes, ya, Ibu suka ngemil, ternyata anaknya kembar loh.”
“Hah kembar?” Kaina dan Fatih sama-sama kaget.
__ADS_1
“Iya, nih Bapak dan Ibu bisa lihat kalau kantongnya ada dua.” Dokter Biya memutar monitor USG ke arah Kaina lalu ke arah Fatih. “Dua-duanya sehat dan normal. Wwwaaahh selamat, ya.”
Fatih segera berdiri di samping ranjang lalu memeluk istrinya.
“Ada keturunan?” tanya Dokter Biya.
“Anak pertama saya kembar, Dok,” jawab Kaina.
“Wah, pasti mereka bakalan happy banget dapet dua adik.”
Kaina mengangguk.
“Untuk jenis kelaminnya belum terlihat, ya, Pak. Kita tunggu satu bulan lagi.”
“Gak papa, Dok. Dengar mereka kembar aja saya sudah senang banget,” kata Fatih.
“Oke, karena gak ada keluhan sama sekali dan dua janinnya berkembang sesuai dengan usianya jadi saya cuma resepkan vitamin, ya. Kalau untuk larangan kayaknya gak ada. Ibu Kaina boleh beraktifitas seperti biasa tapi kalau udah mulai capek harus istirahat,” jelas Dokter Biya.
Kaina dibantu suster membersihkan gel yang ada di perutnya. Kemudian Fatih membimbing sang istri turun dari ranjang.
“Saya dan suami boleh berhubungan gak, Dok?” tanya Kaina. “Solanya pas trimester pertama suami saya gak bernai katanya dia takut nanti anaknya kenapa-kenapa.”
“Untuk trimester kedua ini aman kok, Pak. Pokoknya kalian bicarakan berdua gimana nyamannya Ibu Kaina, ya.”
“Rencananya saya mau ajak istri jalan-jalan, boleh gak, Dok?” tanya Fatih.
“Boleh-boleh aja. Cuma kembali ke Ibu Kaina, soalnya hamil kembar ini memikul beban dua kali lebih berat dari hamil biasa. Ibu-nya kuat gak perjalanan jauh atau naik pesawat. Biasanya nanti keluhan pertama yang mulai dirasakan itu sakit punggung sama kaki bengkak dan sakit jika berjalan terlalu lama.”
Fatih menatap istrinya.
“Nanti kita pikirkan lagi. Yang penting kata Dokter gak masalah," kata Kaina.
“Sebaiknya memang begitu. Di pertimbangkan kembali, ya.”
“Terima kasih, Dok. Kalau begitu kami balik dulu.”
“Sama-sama. Satu bulan lagi kita ketemu.”
...🐽🐽🐽🐽...
Selama di perjalanan pulang, Fatih tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Bibirnya terus tersenyum lebar seraya mengusap perut sang istri. Sesekali di tatapnya Kaina dengan penuh cinta dan sayang lalu berkata,” Makasih, ya, kamu sudah hadir dalam hidupku. Membawa kebahagiaan yang tak pernah terduga.”
“Bersyukurlah pada Allah, Mas. Aku juga senang banget bisa dipertemukan dengan laki-laki sebaik kamu.”
“Itu pasti. Nanti pas empat bulan kita bikin acara syukuran dan undang anak yatim.”
“Aku setuju.”
“Nanti kita sampaikan kabar bahagia ini ke ibu dan bapak.”
“Mereka pasti ikut bahagia, Mas.”
“Sudah pasti. Terutama bapak, pasti senangnya berkali-kali lipat.”
“Anak-anak juga,” tambah Kaina.
“Mudah-mudahan anak kita sepsangan, ya, biar Kama dan Kalila gak rebutan.”
“Aamiin.”
__ADS_1