
Apa yang dikhawatirkan Kaina benar terjadi. Perlakukan Hugo pada putranya membuat Kalila merasa disisihkan padahal dia menyayangi pria itu sama seperti menyayangi Candra.
“Lihat kan! Aku sudah bilang dari awal pada kamu, tapi kayaknya kamu gak paham deh.” Kaina marah pada ayah biologis Kama.
“Gini aja, kita jalan bareng gimana?” usul Candra. “Demi kebahagiaan anak-anak.”
Sebenarnya Kaina bukan tak mau ikut. Dia hanya ingin putra dan putrinya bisa belajar mandiri dan lebih dekat dengan Ayah biologis mereka. Namun, karena kedatangan si Hugo semuanya jadi kacau.
“Sebaiknya kita semua masuk dulu, gak enak bicara di depan rumah,” sela Dina.
Setelah para tamu duduk kembali di sofa, Dina mengajak putrinya bicara di kamar.
“Menurut Ibu sebaiknya kamu ikut saja. Kasian Kalila kalau seandainya besok Hugo membawa Kama jalan-jalan, dia pasti pengen ikut. Kalaupun dibawa pasti bakalan diabaikan.”
Dipikir-pikir benar juga apa yang dikatakan Ibunya. “Ya sudah, Bu, bilang sama mereka aku ganti baju dulu.”
“Iya.”
Setengah jam berdandan, Kaina keluar dari kamarnya. Dia menatap Hugo dan Candra bergantian. “Kita naik mobil masing-masing saja.”
“Oke, gak masalah,” jawab Hugo.
“Kita sama Bunda, ya.” Si kembar menghampiri.
“Kama, sama Papa aja,” ajak Hugo. Namun, langsung ditolak dengan gelengan kepala.
Sedangkan Kalila menatap Candra.
“Gak papa, sayang. Ikut mobil Bunda aja.”
“Buk, kami berangkat, Assalamualaikum,” pamit Kaina diikuti si kembar dan Candra. Sedangkan Hugo sudah keluar duluan menuju mobilnya, membuat Kaina mengumpat dalam hati.
...🌳🌳🌳🌳...
Tiga mobil menuju satu taman bermain yang cukup besar di kota ini. Tiba di sana Kaina membiarkan anak-anaknya ditemani oleh ayah mereka sedangkan dia menunggu di restoran sambil memperhatikan dari jauh. Bukan tak mau ikut hanya saja dia merasa dua ayah itu butuh waktu bersama dengan anak biologisnya.
Brigita yang awalnya ikut bersama Candra dan Kalila memilih bergabung bersama Kaina. “Ternyata cape juga, ya,” keluhnya.
“Baru juga segitu,” sindir Kaina.
“Iya, aku tau kalau kamu selama ini bisa mengurus mereka berdua sendirian, Hebat!” Di acungkan jempol pada mantan pacar suaminya.
“Semua wanita yang sudah jadi ibu pasti hebat.”
“Oke, artinya aku belum hebat karena belum melahirkan.”
Kaina cuma mengangkat satu sudut bibirnya lalu menyeruput minuman yang di pesan.
“Mau pesan makanan?” Brigita menawarkan sambil melihat-lihat buku menu.
“Nanti aja. Aku makan bareng anak-anak.”
“Kenapa gak sekarang aja? Biar nanti kamu bisa bantu mereka.”
“Aku gak biasa makan sebelum anak-anak makan.”
“Begitu, ya.”
“Nanti kalau kamu punya anak pasti akan merasakan.”
Brigita menganggukkan kepala. “Kalau gitu aku juga nanti aja deh, pesan minuman dulu aja.”
__ADS_1
Pas jam makan siang, para ayah segera mengajak anak-anak mereka menuju restoran di mana ibu mereka sudah menunggu.Semuanya memesan menu makanan sesuai selera. Brigita yang sudah kelaparan dari tadi segera menyantap dengan lahap begitu pula dengan Hugo. Dia sampai lupa pada Kama yang duduk di sampingnya.
“Sayang, sini duduk dekat Bunda,” ajak Kaina.
Kama beralih duduk dekat Ibunya.
“Mau makan pake apa?”
“Ayam goreng aja, Bunda.”
“Bunda suapin atau Abang suap sendiri?”
“Abang suap sendiri aja, tapi ayamnya di suirin dulu.”
“Oke, tunggu bentar ya.”
Selagi mengambilkan makanan untuk Kama, Kalila pun merengek minta tolong di suapi karena dia takut makanannya tumpah.
“Bentar, ya, nak. Bunda bantu Abang dulu,” jawab Kaina.
“Biar aku aja yang suapin Kalila, Kai, kamu bantu Kama aja dan habis itu makan,” kata Candra.
“Terima kasih.”
“Gak perlu, ini juga tugasku.”
Kaina tersenyum lalu memperhatikan dua orang nan tengah asik mengisi perut. “Kayaknya kalian cocok, deh. Sama-sama memikirkan diri sendiri.”
“Oh, jadi menurut kamu kita berdua cocok dan kamu juga cocok dengan Candra?!” balas Hugo.
“Gak juga. Tapi setidaknya perhatikan sekeliling dong. Orang lagi ribet sama anak-anak, kalian malah sibuk makan gak mau bantuin.”
“Maaf, bukan gitu. Aku tuh udah laper banget dari tadi cuma ga enak makan sendirian,” kilah Brigita.
“Ya udah sini, biar aku suapin Kama.” Hugo menyeka mulut lalu beralih duduk dekat putranya.
“Gak usah! Dia bisa sendiri. Kamu terusin aja habisin itu makanan. Dari tadi anaknya nungguin di ambilin makanan, eh malah di anggurin,” gerutu Kaina.
“Mas, sini aku yang gantiin. Kamu makan lagi.” Brigita berkata pada suaminya.
“Tanggung, Bri, Kalila juga udah mau habis ini makannya.”
“Ya udah kalau gitu, aku suapin, Mas, aja, ya!” Brigita menyodorkan sendok kedepan mulut Candra, tapi pria itu malah melirik mantannya.
“Gak usah, nanti biar aku makan sendiri.”
Merasa kesal, Brigita meletakkan sendok ke atas piring dengan kasar.
...🎍🎍🎍🎍...
Dari restoran mereka menuju mall. Hanya ingin membeli beberapa mainan untuk dibawa pulang oleh si kembar. Masing-masing anak berjalan dibimbing oleh ayah biologis mereka. Kaina hanya mengekor di belakang.
Hugo membelikan berbagai macam mainan untuk Kama meski sang putra tak memintanya. Begitu pula dengan Candra. Membuat Kaina menggelengkan kepala merasa tak suka dengan perlakuan mereka pada si kembar.
“Kita beli sepatu couple, yuk! Biar nanti pas jalan kita samaan, atau perlu sekalian sama baju dan celananya.” Hugo berkata pada Kama.
“Tanya Bunda dulu deh, Pa.”
“Gak papa. Kan bayarnya pakai uang Papa.”
“Ya udah deh.” Kama akhirnya mengikuti langkah sang Ayah.
__ADS_1
Candra tak mau kalah, dia mengajak sang putri menuju toko pakaian meski tak bisa membeli baju yang sama setidaknya bisa memilih warna yang senada.
“Kai,” panggil Candra.
Kaina mendekat.
“Pilikan baju buat Kalila nah nanti tolong juga pilihin baju buat aku yang senada warnanya.”
“Kenapa gak minta tolong sama istri kamu?”
“Dia kan gak tau ukurannya Kalila.”
“Ya udah deh.” Kaina memilih beberapa baju untuk putrinya kemudian dia mengajak Brigita mencarikan beberapa baju untuk Candra.
“Kamu pilih yang senada sama baju ini.” Menunjukkan beberapa helai baju Kalila.
“Aku bingung,” jawab Brigita.
“Tinggal ambil aja warna yang sama.”
“Takut nanti Mas Candra gak suka.”
Kaina memutar bola mata. Akhirnya dia juga yang turun tangan. Dapat beberapa pakaian yang pas untuk si mantan mereka menuju kasir.
“Kamu gak beli apa-apa?” tanya Candra.
“Gak ada yang suka,” jawab Kaina.
“Serius? Kalau mau pilih aja, biar aku yang bayarin.”
“Gak usah. Udah cepetan bayar biar bisa pulang.”
Empat kantong besar belanjaan untuk Kama dan Kalila di masukan ke dalam mobil sedan Kaina. Para ayah biologis berpisah di area parkiran dengan anak mereka.
“Nyampe rumah istirahat, ya,” pesan Candra.
“Iya,” jawab Kalila.
“Kamu juga Kama.”
“Iya, Ayah.”
“Kai, kamu pulang duluan. Hati-hati nyetirnya nanti kalau sampai rumah kabari.”
Kaina hanya tersenyum simpul dan mengangguk.
“Papa juga pulang, besok kita main lagi,” kata Hugo.
“Gak bisa. Besok mereka harus kontrol ke RS,” sela Kaina.
“Oh, ya udah deh, kalau gitu Papa telepon aja.”
“Iya,” jawab Kama.
“Da da kembar.”
“Dada papa,” balas Kama dan Kalila.
Kaina membantu anak-anaknya masuk mobil lalu dia pun segera duduk dibalik kemudi dan melajukan roda empat itu menuju kediaman.
...----------------...
__ADS_1
Mampir, yuk, dikarya satu ini 😊