
Di elusnya punggung sang ibu agar bisa menahan gejolak emosi. Kaina merasa tak ada gunanya sekarang menasehati Adit karena semua sudah terjadi. “Sudah, Bu, aku yakin Adit pasti tahu dimana kesalahannya.”
“Kamu selalu saja membela dia. Lihat sekarang akibatnya.”
Kepalanya mengangguk sambil menenangkan ibunda. “Dit, kamu gak mau menjelaskan sesuatu?” Menatap si adik yang masih betah menundukkan kepala. “Gak sakit lehernya lihat lantai terus?”
“Maaf, Kak.” Hanya kata itu yang mampu dilontarkan Adit.
Deru nafas panjang keluar dari mulut ibu si kembar.
“Aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku. Kakak, gak perlu cari pengacara untuk membebaskanku.”
“Ibu juga akan larang Kaina kalau dia sampai bantu kamu keluar dari sini,” kesal Dina.
“Bu, jangan ngomong gitu. Bagaimanapun Adit itu adik aku dan anak ibu. Adit memang salah, tapi dia berbuat seperti itu juga karena ingin memperjuangkan hak aku, Bu,” bela Kaina.
Dina hanya diam memalingkan muka dari putranya.
Seorang petugas tampak memperingatkan mereka kalau waktu sudah habis.
“Untuk saat ini Kakak belum tau harus apa, Dit. Semoga kamu betah di sini sampai Kakak mendapatkan solusi.”
“Terima kasih, Kak. Jangan merepotkan diri jika masalah aku ini terlalu sulit. Aku rela dipenjara asalkan Kakak dan ibu tak terbebani.”
Kaina hanya memeluk sang adik, kemudian ia bersama ibunda keluar dari kantor polisi.
...🥑🥑🥑🥑...
Selesai menidurkan Kalila di kamar, Kaina memilih duduk sendiri di ruang tengah bertemankan sepi dan gelap. Berharap semoga dia dapat menemukan jalan keluar untuk masalah sang adik. Bingung hal mana yang akan diutamakan terlebih dahulu, memperjuangkan hak asuh sang putra atau membantu Adit mendapatkan hukuman yang ringan.
Merasa kepalanya sakit dia memberikan pijatan ringan di bagian belakang. Bangkit dari kursi hendak meminta minyak angin pada sang ibu di kamar. Pintu diketuk tapi tak kunjung terbuka, Kaina pun memutuskan untuk masuk saja. Ditemukan si ibu sedang terlelap di atas sajadah lengkap dengan mukena.
Diguncang lah bahu wanita yang melahirkannya, hingga Kaina menyadari kalau ibunya dalam keadaan tak sadarkan diri. Panik dan cemas dia langsung berlari ke kamarnya mengambil ponsel di atas meja rias dan menelpon ambulan.
“Bu, sadar, Bu.” Menepuk pelan pipi sang ibu sambil di olesi minyak angin. Tetap saja tak ada tanda-tanda Dina akan sadarkan diri. Hingga akhirnya mobil ambulan datang, segera dilarikan ke rumah sakit. Kalila yang terlelap dalam tidurnya terpaksa digendong Kaina ikut bersamanya.
Bagaikan kata pepatah ‘sudah jatuh tertimpa tangga’ begitulah kehidupan Kaina kini. Ditambah dia harus menghadapi semuanya sendirian tanpa sandaran. Sungguh malang sekali nasib wanita itu. Semoga dia bisa kuat melalui cobaan hidup yang begitu berat meski harus berlinang air mata.
Tiba di Rumah Sakit, Dina langsung dilarikan ke UDG untuk segera ditangani. Kaina sambil mendekap sang putri menunggu ibunya di depan ruangan itu dengan perasaan yang tak karuan. Tak lupa di dalam hati kecil dia panjatkan doa pada yang maha esa agar sang ibu baik-baik saja.
“Bunda, Ibu gak papakan?” tanya Kalila.
“Berdoa, ya, sayang, semoga Ibu cepat sembuh.”
Pintu ruangan UGD terbuka, Kaina berdiri dan langsung menghampiri dokter yang keluar dari sana.
“Ibu, Anda, terkena serangan jantung,” terang Dokter.
Membuatnya terkejut tak menyangka. “Ibu saya gak ada riwayat penyakit jantung, Dok.”
__ADS_1
“Banyak faktor yang bisa membuat seseorang mengalami serangan jantung salah satunya usia.”
“Lalu bagaimana keadaan beliau sekarang? Apakah itu parah?”
“Beruntung beliau cepat dilarikan ke sini. Besok kita akan lakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan spesialis jantung. Setelah ini ibu, Anda, akan kami pindahkan ke ruang perawatan.”
“Baik, terima kasih, Dokter.”
“Sama-sama. Silahkan temui suster, mereka akan membantu Anda mengurus administrasi.”
Kepergian Dokter, Kaina menggendong putrinya melihat keadaan ibunda di dalam sana. Syukurnya suster membantunya dalam segala hal hingga Kaina merasa yakin bisa meninggalkan Dina sementara dia kembali pulang.
Tiba di rumah, ibu tunggal itu mengemasi beberapa pakaian Dina ke dalam tas berikut dengan pakaiannya juga. Kemudian pakaian Kalila juga dimasukkan ke dalam satu tas besar.
“Kalila, sini Bunda mau bicara.” Menepuk pinggir kasur.
Yang dipanggil beranjak dari posisinya mendekati ibunya.
“Selama Ibu di rawat di Rumah Sakit, kamu tinggal di rumah Ayah, ya.”
“Kenapa, Bunda?”
“Kalila gak bisa ikut Bunda, sayang. Takutnya nanti kamu malah ikutan sakit. Kalila mau, ya?”
Kaina tahu kalau sebenarnya tanpa dijawab pun putrinya itu jelas tak mau.
“Aku tinggal sama Omdit aja deh, Bun,” manja Kalila. Dia belum tau kalau pamannya itu kini tengah menginap di hotel prodeo. “Suruh Omdit pulang.”
“Omdit belum tentu bisa pulang, sayang. Untuk semantara tinggal sama ayah aja dulu, ya.”
Gadis kecil itu akhirnya setuju. Kaina dapat bernafas lega karena sang putri mengerti juga. Selesai sholat subuh dia memasak makanan untuk diantar ke penjara sekalian bekal untuknya selama di rumah sakit nanti. Usai memasak tujuan pertama adalah ke rumah Candra.
“Masuk,” ajak Brigita.
“Maaf aku mengganggu pagi-pagi sekali.”
“Gak papa.”
“Candranya sudah ke kantor?”
“Belum. Tunggu sebentar aku panggilkan.” Brigita menuju kamarnya memanggil sang suami yang masih bersiap-siap. Membuat Candra melangkah cepat menghampiri mantannya.
“Ada apa? Kenapa datang pagi-pagi sekali.”
“Aku kesini mau titip Kalila beberapa hari kedepan. Ibu masuk rumah sakit dan Adit gak bisa pulang,” jelas Kaina. Dia sengaja menutupi masalah adiknya.
“Oh, tentu bisa. Brigita juga gak akan keberatan.”
“Santai aja, Kai. Kalila aman kok di sini,” timpal istri Candra itu.
__ADS_1
“Makasih, kalau begitu aku pergi ke Rumah Sakit dulu.” Kemudian menyerahkan tas besar yang di bawanya pada Candra. “Di dalam sini semua pakaian Kalila dan perlengkapannya.”
“Nanti pulang dari kantor kami akan ke sana.”
“Terima kasih, gak perlu repot-repot menjenguk. Kalian jaga Kalila saja aku sudah senang.”
“Kata siapa menjenguk neneknya Kalila itu repot.”
Kaina tersenyum tipis lalu menunduk agar sejajar dengan sang putri. “Bunda jaga ibu dulu, ya. Jangan rewel, dengar kata ayah sama tante. Jadi anak yang baik.”
“Iya, Bunda. Tapi kalau aku pengen ketemu Bunda gimana?”
“Kalau Bunda ada waktu luang, Bunda akan jemput kamu.”
“Nanti Ayah juga bisa antar,” sambung Candra.
“Nah, dengar kata ayah. Jadi, jangan sedih.”
“Bri, aku pamit, ya. Maaf banget harus buru-buru soalnya ibu pagi ini mau diperiksa lebih lanjut lagi.”
“Oke. Hati-hati di jalan,” balas Brigita.
...🍆🍆🍆🍆...
Tiba di kantor polisi, Kaina hanya menitipkan bekal untuk adiknya. Dia sengaja tak menemui Adit karena takut nanti mulutnya tak tahan untuk menyampaikan kabar soal kesehatan sang Ibu. Lanjut ke Rumah Sakit ternyata Dina baru saja selesai melakukan pemeriksaaan. Kini dia sedang menemui dokter spesialis jantung.
“Ibu, Anda, mengalami penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah. Secepatnya kita harus melakukan tindakan operasi Bypass jantung,” terang Dokter.
...----------------...
Mana dukungannya?
Masih sepi aja nih 🥺
like 👍 komen 💬 hadiah 🎁 vote 🔖 dan bintang ⭐ limanya jangan lupa, ya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Yuk, mampir di karya author yg satu ini.. ...
Demi mendapatkan biaya operasi sang ayah yang mengidap penyakit jantung, Nabila Kanaya terpaksa menikah dengan Sean Ibrahim, lelaki yang tak lain adalah suami dari sahabatnya.
Sandra Milea, seorang model terkenal yang
namanya sedang naik daun di dunia entertainment, terpaksa meminta sahabatnya untuk menikah dengan suami tercintanya demi mendapatkan seorang anak yang sudah lama didambakan oleh Sean dan juga mertuanya. Bukan karena Sandra tidak bisa mempunyai anak, tetapi, Sandra hanya belum siap kehilangan karirnya di dunia model jika dirinya tiba-tiba hamil dan melahirkan seorang anak.
Lalu, bagaimana nasib pernikahan Kanaya dengan suami sahabatnya itu? Akankah Kanaya menderita karena menikah tanpa cinta dan menjadi istri rahasia dari suami sahabatnya? Ataukah Kanaya justru bahagia saat mengetahui kalau suami dari sahabatnya itu ternyata adalah seseorang yang dulu pernah singgah di hatinya?
__ADS_1