Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 73


__ADS_3

Pagi ini, anak-anak terpaksa dilepas Kaina berangkat bersama Hugo. Dia percayakan si kembar pada pria itu karena dia harus beberes sebelum kembali pulang ke rumah sang ibu.


 “Tolong pastikan dulu mereka sudah masuk kelas. Jangan lupa titip sama wali kelasnya ketika kamu mau pergi,” pesan Kaina.


“Baik,” jawab Hugo.


Kaina melambaikan tangan ketika mobil melaju keluar dari rumah. Dia kembali masuk menuju kamar dan mendapati sang suami yang masih berpakai rumah. “Kamu gak ke kantor, Mas?”


“Hari ini saya akan bantu kamu berkemas.”


“Gak usah. Gak banyak juga kok. Jadi saya bisa sendiri.”


“Gak papa, sekalian nanti saya antar kamu pulang.”


“Ya sudah kalau begitu.” Kaina mengeluarkan kopernya dari sudut lemari dan Fatih membantu mengeluarkan baju-baju sang istri dari dalam lemari.


“Makasih, Mas.”


“Sama-sama, Kai.”


Keduanya tampak sedikit sibuk. Dari kamarnya, Kaina dan Fatih beralih ke bilik si kembar. 


“Setelah ini rumah bapak pasti bakalan sepi,”ujar Fatih.


“Kamu bisa minta Hugo jemput Kama dan Kalila buat main kesini.”


“Kenapa kamu gak ikut aja sekalian?”


“Saya akan mulai sibuk, Mas. Candra meminta saya untuk memantau showroom-nya.” Kaina menjawab sambil memasukkan pakaian Kama dan Kalila kedalam koper.


Fatih merasa kecewa. “Betah sekali kamu kerja sama dia.”


“Mau gimana lagi, Mas. Saya memang butuh buat biaya hidup kedepan. Apa lagi si kembar harus kontrol setiap beberapa bulan sekali.”


“Ada asuransi pemerintah. Kenapa gak pakai itu saja.”


“Saya lebih senang bayar pribadi, Mas.”


Akhirnya kegiatan mereka selesai juga. Keduanya duduk di ranjang Kama dan Kalila saling berhadapan.


“Mas.”


“Kai.”


Mereka memanggil di waktu yang bersamaan.


“Silahkan kamu duluan,” ujar Fatih.


Kaina terdiam sejenak kemudian diambilnya nafas dalam dan bicara. “Jangan lupa minum obat herbal yang saya belikan waktu itu, ya. Obatnya saya simpan di laci meja rias.”


Fatih mengangguk. 


“Sekarang giliran kamu yang bicara, Mas.”


“Kalau seandainya salah satu di antara kita gak datang di sidang putusan gimana?”


“Artinya gak ada yang perlu dipertahankan, Mas, walau salah satu di antara kita ingin bertahan.”


“Oke. Saya mengerti.”

__ADS_1


Kaina berdiri. “Kita jalan sekarang?”


“Ayo.”


Keduanya keluar dari kamar si kembar menuruni anak tangga.


Saya pamit sama bapak dulu,” pinta Kaina.


Fadilah sendiri sudah menunggu sang menantu di kursi yang biasa ia duduk depan teras. Setelah koper semuanya dimasukkan Fatih ke bagasi mobil, di temani sang istri untuk berpisah dengan sang ayah.


“Pak, terima kasih sudah menganggap saya layaknya anak sendiri. Selama saya tinggal disini saya merasakan kembali kasih sayang seorang ayah,” tutur Kaina.


“Bapak juga berterima kasih banyak karena kamu, rumah ini serasa hidup, berwarna dan Bapak bisa menikmati masa tua bersama cucu,” balas Fadilah.


Digenggamnya tangan sang ayah mertua sambil berkata, “Nanti anak-anak bisa main kesini kalau Bapak kangen sama mereka.” 


“Kamu juga. Bapak pasti rindu sama masakan kamu.”


“Insayaallah.” Kaina berusaha menahan embun matanya untuk tak jatuh. “Kapan-kapan telpon saja, saya akan kirimkan makanan buat Bapak.”


“Semoga setelah ini kamu hidup bahagia, ya, Nak.”


“Aamiin, Pak.”


“Kalau butuh sesutu jangan sungkan temui Bapak.”


“Tapi nanti gak minta nikah lagi sama anaknya kan, Pak,” kelakar Kaina.


Fadilah pun tertawa. “Gak! Kamu itu suduah Bapak anggap sebagai anak sendiri.”


“Alhamdulillah kalau begitu.” Ibu si kembar pun terseyum. “Saya jalan, ya, Pak, jaga kesehatan.”


“Apa itu,” sela Fatih.


“Apa pun itu Bapak berharap ada keajaiban.”


Fatih berdecak. “Apa sih, Pak?”


“Udah sana jalan. Kamu gak perlu tau apa itu.”


Kaina memeluk sang ayah mertua, setelahnya dia dan sang suami masuk kedalam mobil.


...🥑🥑🥑🥑...


“Kenapa suasananya terasa canggung begini, ya,” ungkap Fatih. “Gak kayak awal kita ketemu.”


“Mungkin aneh aja, Mas, rasanya setelah ini kita akan kembali menjadi asing,” jelas Kaina.


“Benar juga.”


“Oh, ya, Mas. ATM yang pernah kamu kasih ke saya sudah saya tinggalkan di atas meja rias. Maaf saya gak kasih langsung ke kamu.”


“It’s Oke.” Pria itu berusaha bersikap sesantai mungkin. Perjalanan yang biasanya cuma sebentar kini terasa sangat lama. “Saya juga mau ngucapin terima kasih karena selama kita menikah kamu sudah menjadi istri yang baik.”


“Sama-sama, Mas.” Kaina membalas diiringi senyuman tulus.


Hal itu membuat Fatih sedikit salah tingkah hingga dia memalingkan muka ke jendela.


“Saya juga mau minta maaf kalau belakangan sedikit memaksa kamu untuk memuaskan keinginan saya.”

__ADS_1


Kaina kembali tersyum. “Saya ikhlas, Mas.”


“Oke.” Fatih menaikkan volume AC mobilnya.


“Kenapa, Mas?”


“Gak tau, saya ngerasa gerah banget. Kamu kepanasan gak?”


Kaina terlihat bingung. “Gak, biasa aja.”


Fatih terlihat bodoh. 


“Kamu deg-degan kenapa, Mas?”


“Hah?” 


“Detak jantung kamu keras banget loh, saya sampai dengar,” ungkap Kaina.


“Masak sih?” elak Fatih. “Mungkin saya gugup mau ketemu ibu kali.”


Kaina membulatkan mulutnya. “Santai aja, Mas. Ibu gak akan marah.”


“Iya.”


Akhirnya kereta yang mereka naiki pun tiba di kediaman Dina. Adit langsung menyambut saudara dan iparnya itu. Membantu Fatih menurunkan dua koper besar.


“Masuk, Mas,” ajak Kaina.


Diikutinya langkah sang istri. Tiba di ruang tamu Fatih mendudukkan diri.


“Saya tinggal ke dapur mau bikin minum,” izin Kaina.


“Iya.”


“Maaf jadi merepotkan. Nak Fatih gak ke kantor deh hari ini,” lontar Dina.


“Gak papa, Bu. Lagian saya sudah janji mau pulang kan putri ibu baik-baik.”


“Terima kasih.”


Kaina pun tiba dengan tiga gelas minuman di atas baki. “Diminum, Mas.”


“Makasih, Kai.”


“Terus anak-anak gimana? Kalian sudah bicara sama mereka.” Dina kembali melanjutkan pembicaraan.


“Nanti biar saya saja yang jelaskan ke mereka, Bu,” jawab Kaina.


“Gak kamu kasih mereka waktu buat pisah sama Fatih.”


“Jangn, Bu. Saya gak mau mereka sedih,” tutur menantu. “Lebih baik seperti ini, mereka cukup paham dari ibunya saja.”


Dina menghela nafas panjang. “Ya sudah kalau gitu, Ibu setuju saja.”


Fatih meneguk minuman terakhir bikinan istrinya. Kemudian dia menatap Dina dan berkata, “Bu, saya antar Kaina kembali. Maaf kalau sebagai menantu saya tak memenuhi harapan Ibu. Insyaallah putri Ibu saya pulangkan dalam keadaan baik seperti waktu sebelum saya nikahi.”


Dina mengangguk. “Maafkan juga kalau perkataan Ibu pernah menyinggung perasaan kamu.”


“Apa yang Ibu sampaikan buat saya tak pernah membuat saya tersinggung atau sakit hati sedikitpun. Malahan saya senang sudah dinasehati dan di ingatkan.”

__ADS_1


“Alhamdulillah kalau begitu.”


__ADS_2