
"Untung tadi saya datang, kalau gak mungkin Kaina sudah pingsan di jalanan. “Hugo berkata pada Dina.
“Memangnya kamu mau kemana sih, Kai?” tanya Dina.
“Aku pusing, Bu, mau beli minyak angin di Minimarket dekat sekolahannya anak-anak. Tiba-tiba semua jadi gelap dan aku gak sadar,” terang Kaina.
“Makanya, Ibu sudah larang kamu buat pergi, tapi kamu masih ngotot mau antar si kembar. Kita periksa ke Rumah Sakit aja, ya.”
“Gak suah, Bu. Aku mau istirahat saja. “Kaina bangkit dari duduknya melangkah menuju kamar.
Dina menatap anaknya dengan rasa khawatir. “Abang sama adik ganti baju dulu sana. Habis itu temani bunda.”
“Iya, Bu.” Jawab si kembar.
“Nak Hugo, terima kasih sudah menolong Kaina dan mengantarkan cucu ibu pulang.”
Hugo tersenyum bangga bisa menjadi penolong bagi keluarga Dina. “Hanya itu yang bisa saya lakukan, Bu. Anggap saja sebagai penebus kesalahan yang pernah saya lakukan dulu.”
“Sekali lagi terima kasih. Maaf, ibu gak bisa menyuguhkan apa-apa.”
“Gak papa, Bu. Saya juga mau langsung balik ke kantor.” Hugo bangkit dari sofa. “Kalau begitu saya jalan.”
“Iya.” Dina mengantarkan ayah biologis cucunya itu hingga ke teras rumah.
...🥦🥦🥦🥦...
Kaina yang belum dapat memejamkan mata memilih duduk di dekat jendela kamarnya memandangi kelamnya langit.
“Ternyata aku kangen kamu, Mas,” gumamnya. “Aku sedih, karena aku pengen dekat kamu. Tapi kenapa rasanya sulit untuk mengakui hati ini? Apa karena aku takut kecewa?”
Kaina bicara dengan dirinya sendiri. Tiba-tiba sang ibu yang mendengar kesedihan anaknya masuk menghampiri.
“Kai?”
“Bu?” Kaina mengusap embun di matanya.
Dina duduk di pinggir kasur samping sang putri. “Kenapa gak coba bicara dengan suamimu? Kamu tau nomornya, tau alamat rumahnya, tau alamat kantornya, kenapa gak temui dia?”
“Aku takut, Bu?”
“Taku Fatih akan tetap menceraikan kamu?”
Kaina mengangguk pelan.
Dibelainya pipi sang putri yang tampak sedikit tirus. “Besok datanglah ke persidangan dan batalkan perceraian kalian,” ujar Dina
“Tapi, Bu-.”
“Coba dulu, Kai. Siapa tau Fatih juga merasakan apa yang kamu rasakan.”
Kaina mengangguk.
“Tidur gih. Ini sudah malam, gimana kamu mau sembuh kalau setiap malam selalu mikirin Fatih. Orang kalau kangen itu disamperin bukan ditangisi.”
“Ibu.” Kaina merajuk karena merasa malu.
“Apa? Kamu pikir ibu gak tau kalau belakangan kamu suka nangis sendiri.”
Istri Fatih itu tertunduk menyembunyikan merah mukanya.
“Besok pagi setelah antar anak-anak ke sekolah kamu langsung berangkat ke pengadilan.”
__ADS_1
“Iya, Bu.”
Dina pun berdiri. “Ibu ke kamar, ya.”
“Selamat malam, Bu.”
“Malam, Kai.” Dina menjawab sebelum menutup pintu kamar putrinya.
...🍥🍥🍥🍥...
Sebelum berangkat ke persidangan, Fatih tengah menyantap sarapan bersama bapaknya. Tak lama duduk di sana, saudara tirinya ikut bergabung.
“Tih,” sapa Fadilah.
“Ya, Pak,” sahutnya.
“Kamu yakin gak berusaha mempertahankan rumah tangga kamu dan Kaina.”
Fatih membuang nafas kasar. “Kalau Kaina nanti datang ke persidangan saya akan membatalkan perceraian.” Lelaki itu berkata sambil melirik Hugo. Ingin tahu seperti apa reaksi dari kakaknya itu.
“Kalau Kaina gak datang?”
“Artinya memang kami berpisah, Pak.”
“Apa kamu gak coba bicara dengan Kaina dulu?”
“Gak, Pak. Saya ingin melihat apakah Kaina ingin mempertahankan pernikahan kami atau gak. Itu bisa saya simpulkan dari kehadirannya nanti.”
Tiba-tiba Hugo berdiri. “Pak, aku jalan duluan.”
“Kenapa buru-buru?” tanya Fadilah.
“Mereka berangkat sekolah masih satu jam lagi, Go.”
Hugo tak mempedulikan ayahnya. Dia terus melangkah keluar dari rumah.
Fatih menatap punggung saudaranya itu dengan rasa penuh curiga. “Kalau begitu saya juga jalan, Pak. Mau mampir ke kantor sebentar.”
“Iya. Bapak harap nanti ada kabar bahagia dari kamu dan Kaina.”
“Aamiin.”
...🧆🧆🧆🧆...
“Bu, doakan, ya semoga aku ketemu sama Mas Fatih di persidangan dan perceraian kami bisa dibatalkan,” kata Kaina pada ibunya.
“Aamiin.” Dina tersenyum lebar. “Semoga setelah ini kamu hidup bahagia, ya, Nak.”
Kaina mengangguk. “Kalau begitu aku jalan.” Ibu tunggal itu menghampiri putra dan putrinya. “Kalian berangkat sama Omdit aja, ya.”
“Oke, Bunda.” Kama membulatkan telunjuk dan jempolnya.
Tiba di teras rumah, mobil Hugo tampak memasuki halaman. Pria itu gegas turun dan menghampiri Kaina. “Mau ke pengadilan, Kai?”
“Iya,” jawab Kaina. “Kok tau?”
“Sebaiknya kamu ikut saya sebelum ke sana?”
“Kenapa?”
“Ada yang perlu kamu tahu soal Fatih.”
__ADS_1
Kening ibu tunggal itu mengernyit.
“Biar kamu gak menyesal nantinya,” ajak Hugo.
Kaina yang di landa penasaran memutuskan ikut dengan lelaki yang memberikannya seorang putra itu. “Tapi gak lama-lama. Aku gak mau terlambat.”
“Cuma sebentar.”
Mereka masuk ke dalam mobil dan Hugo menjalankan roda empatnya menuju suatu tempat.
...🍱🍱🍱🍱...
Fatih tiba di pengadilan tepat setengah jam sebelum persidangan perceraiannya dengan Kaina dimulai. Hatinya harap-harap cemas menantikan kedatangan sang istri. Hingga sidang dimulai tak ada tanda-tanda kemunculan dari yang dinanti. Hingga dia memasuki ruang persidangan didampingi pengacaranya.
Satu jam berlalu sidang berjalan dengan lancar dan Fatih keluar dari sana dengan penuh rasa kecewa. Dia kembali menuju kantor dan melanjutkan pekerjaan untuk menghalau kalutnya pikiran.
Tak terasa petang mulai menjelang, dilirknya ponsel tak ada panggilan masuk atau satu pesan pun dari Kaina. Hingga benda pipih itu berdering menunjukkan panggilan dari Adit.
📞Hallo, Dit
📞 ...
📞Oke. Saya segera ke rumah.
Dimatikannya sambungan itu dan Fatih gegas keluar dari balik meja kerjanya.
“Mau kemana, Pak?” tanya Zuri.
“Saya mau ke rumahnya Kaina.”
Sekretaris itu mengangguk.
Tiba di parkiran Fatih langsung masuk mobil dan menancap gas penuh menuju kediaman istrinya. Tiba di sana dia menemukan Dina dengan raut wajah cemas. “Assalamualaikum, Bu.”
“Waalaikumsalam,” jawab Dina. “Akhirnya kamu datang juga. Kamu ketemu istrimu, Nak?”
Fatih menggeleng. “Saya gak ketemu Kaina, Bu.”
“Lalu kemana dia sekarang? Dari pagi dia sudah berangkat ke persidangan ingin bertemu dengan kamu dan membatalkan pernikahan kalian.” Wanita tua itu bicara dengan wajah khawatir.
“Tapi Kaina gak datang sama sekali, Bu. Bahkan sampai persidangan selesai dia tetap gak tiba.”
“Ibu khawatir soalnya belakangan kondisi Kaina sedang tidak sehat. Ibu takut dia pingsan di jalanan dan ketemu sama orang jahat.”
Fatih jadi ikut khawatir.
“Ya Allah, kemana putriku?” Dina semakin resah. “Ponselnya gak aktif, Tih, dan sekarang Adit lagi coba nyusul kakaknya ke pengadilan.”
“Ibu gak usa khawatir. Saya akan coba cari Kaina.”
Dina mengangguk.
“Anak-anak gimana, Bu?”
“Mereka gak tau kalau Kaina belum pulang. Mereka cuma ibu kasih tau kalau bundanya lagi di supermarket.”
“Ya sudah, Kalau begitu saya jalan, Bu.”
“Iya, hati-hati. Temukan putri ibu, ya.”
Fatih mengangguk penuh keyakinan.
__ADS_1