
Dua mobil sedan sama-sama memasuki halaman rumah. Ternyata Fatih dan Fadilah pulang di waktu yang sama.
“Tumben Bapak pulang sore?” sapa Fatih ketika turun dari mobil.
“Bapak gak tenang kalau ada Hugo di rumah ini,” jelas Fadilah. “Kamu sendiri, kok juga tumben sudah pulang jam segini.”
“Janji sama anak-anak mau nemenin mereka main.”
“Ayo, masuk kalau gitu.”
Ayah dan anak itu sama-sama melangkah memasuki rumah.
...🐛🐛🐛🐛...
“Tujuan saya sangat jelas. Saya hanya ingin menjaga Kama dari kamu dan Fatih," terang Hugo.
“Menjaga dari apa sih?” Kaina menggeleng tak mengerti.
“Kama akan menjadi ahli waris Bapak dan saya akan menjaganya dari hasutan kalian berdua. Pasti nanti kalian akan bersenang-senang di atas hartanya bapak.”
Akhirnya Kaina menangkap apa yang menjadi tujuan utama Hugo mempertahankan anaknya. “Oh, jadi maksud kamu bersikukuh memisahkan saya dari Kama hanya karena harta, karena uang?! Begitu?” Kaina naik pitam. Suaranya mula meninggi. Dia tak terima hidup dia dan anaknya dipermainkan hanya karena warisan.
Plak …
Kelima jarinya yang selalu membelai lembut sang anak, kini mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi lelaki yang sudah memberikannya buah hati.
“Ternyata kamu lebih bajingan dari binatang yang sudah menghamili betina lain. Kalau memang kamu tak bisa menerima kehadirannya gak papa, tapi jangan lukai perasaannya. Hanya demi kepentingan pribadi, kamu rela membuat anak saya mengalami tekanan batin.”
“Kurang ajar! Berani kamu menampar saya,” geram Hugo. Tangannya sudah melayang di udara.
“Hugo!” bentak Fadilah. Suara pria tua itu menggelegar di seluruh ruangan. “Mau apa kamu?”
__ADS_1
Fatih mendekati istrinya sedangkan Fadilah berdiri di antara anak dan menantu.
“Bisa jelaskan ada apa di antara kalian berdua?” tanya Fadilah.
“Saya yang jawab atau kamu?” tantang Kaina.
Hugo tersenyum sinis. “Mentang-mentang suami kamu yang mandul ini sudah datang kamu makin berani sama saya.”
“Heh, bajingan! Itu mulut dijaga, ya. Mau ada dia atau gak, mau ada bapak atau gak di sini, saya gak akan pernah takut buat lawan laki-laki cemen macam kamu," cecar ibu si kembar. "Najis rasanya saya pernah tidur sama kamu.” Kaina tak mau kalah. Orang seperti Hugo harus dilawan agar tak seenaknya merendahkan orang lain. “Jangan pernah merendahkan suami saya karena kamu cuma laki-laki hina yang tak ada baiknya.”
“Kai, sudah,” larang Fatih.
“Mas, kamu kok diam aja sih di hina begitu sama dia.”
“Kita ke kamar saja, biar dia bicara sama bapak.”
“Pergi sana! Lo bawa tuh istri yang bekas gue pakai,” ujar Hugo.
“Hugo!” bentak Fadilah.
“Istri lo itu wanita murahan, bekas gue tiduri.” Hugo berkata tepat di depan wajah saudaranya.
Bugh…
Satu tumbukan tiba di perut lelaki sombong itu.
“Gue terima kapanpun lo hina gue, tapi jangan pernah lo hina ibu dan istri gue,” bisik Fatih.
Hugo yang menahan rasa nyeri di ulu hati tak dapat membalaskan rasa kesalnya. Setelah berkata, Fatih membawa Kaina menuju kamar mereka.
“Kamu, ikut Bapak,” tegas Fadilah pada putra pertamanya.
__ADS_1
...🍄🍄🍄🍄...
Kaina gegas masuk bilik air setibanya di kamar. Dia langsung menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya di bawah sana.
“Kai, kamu kenapa sih?” tanya Fatih.
“Benar kata Hugo, Mas, saya ini wanita murahan, bekas laki-laki lain dan saya ini najis.” Tangisnya sudah tak dapat dibendung. Dari dulu hal itu yang selalu jadi penyesalan terdalam bagi Kaina.
“Kamu kenapa termakan kata-katanya dia sih?” pria itu berkata di ambang pintu.
“Karena dari dulu sampai sekarang saya belum bisa memaafkan diri sendiri karena hal itu. Bahkan setiap cobaan hidup yang saya lalui, selalu saya anggap sebagai bentuk hukuman dari Tuhan. Sampai kapanpun dosa saya tak akan pernah terhapuskan.”
Dibuangnya nafas panjang, Fatih pun ikut berdiri di bilik kaca. Memeluk tubuh istrinya yang sudah basah. Tak masalah kalau dia ikut terkena guyuran air. “Setiap orang punya kesalahan, tapi kamu harus ingat gak semua kesalahan itu melahirkan hal yang buruk. Contohnya sekarang kamu punya Kama dan Kalila. Seharusnya kamu syukuri itu.”
“Tapi kamu juga jijikkan, Mas, sama saya.”
“Maksud kamu apa?” Fatih bertanya sambil mengurai pelukan mereka.
“Kamu aja sampai sekarang gak mau sentuh saya,” sendu Kaina.
“Kai, saya gak mau melakukan yang satu itu karena saya takut nanti kamu menyesal,” jelas Fatih lembut. “Saya gak mau nanti kamu merasa saya manfaatkan sebagai pemuas nafsu.”
Kaina mendongak menatap wajah sang suami yang dialiri air. “Tapi saya ikhlas, Mas. Saya memang menyesali masa lalu karena saya tahu itu dosa dan masih saya lakukan. Tapi sekarang tak ada alasan bagi saya untuk menyesalinya. Yang ada saya akan mendapatkan pahala karena sudah memenuhi kebutuhan batin kamu, Mas.”
Dijepitnya dagu sang istri lalu Fatih berkata, “Kamu yakin? Sedangkan di antara kita tak ada rasa.”
“Saya yakin, Mas. Kita bisa saling menikmati dan memuaskan satu sama lain,” jawab Kaina. “Jujur saya sempat tersinggung dan berpikir negatif belakangan ini karena kamu tak pernah tertarik dengan saya.”
“Kata siapa saya gak tertarik.” Fatih merangkum wajah sang istri untuk di bawanya lebih dekat. “Saya laki-laki normal pasti timbul hasrat untuk bisa melepaskan gelora. Tapi saya bukan seperti pria di luaran sana yang mengikuti hawa nafsu.”
“Kalau begitu boleh saya minta hak batin saya, Mas? Untuk meyakinkan diri ini kalau saya masih memiliki harga diri.”
__ADS_1
Tak perlu memberi jawaban, Fatih langsung mengangkat Kaina ke dalam pangkuan. Membelitkan bibir mereka yang basah. Membiarkan debar-debar gelora membakar hasrat nan mulai menggebu. Apa rasanya? Entahlah, yang pasti semua orang bisa menikmati tanpa harus adanya cinta, tapi cinta akan sulit tanpa hal itu.
Namun, bukan berarti ketika kamu mencintai seseorang dengan mudahnya mau melakukan hal itu tanpa adanya suatu hubungan yang sah di mata Tuhan.