Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 90


__ADS_3

Kaina menerima suapan itu dengan wajah berseri.


“Nah, gitu kan pintar," ujar Fatih.


“Besok kita ke rumah bapak, ya,” kata Kaina.


“Kenapa?”


“Kalau di sana ada Bi Ula yang bakalan masak. Disini aku gak enak bikin ibu repot ngurus anak-anak sama siapin sarapan buat kita semua.”


“Ya udah, nanti aku bilang sama bapak buat tambah satu ART lagi.”


“Terserah, Mas, aja. Cuma sampai aku sembuh, kok, nanti kalau aku udah sehat aku bisa urus kalian lagi.”


“Mau kamu sembuh tetap kamu gak boleh sibuk. Ingat, Kai, kamu lagi hamil.”


“Iya, Mas, tapi aku gak lagi sakit.”


“Pokoknya kamu harus banyak istirahat.”


“Ih, lebay banget sih, Mas.”


Fatih membuang nafas kasar “Terserah kamu mau bilang aku lebay atau over protektif. Aku cuma mau jaga kamu dan anak kita.” Dielusnya perut sang istri. “Kehamilan kamu ini berharga banget buat aku, Kai.”


Kaina merasa paham akan perasaan sang suami. “Oke, aku akan turuti semua apa yang kamu katakan.”


Fatih tersenyum lebar. “Makasih, ya.”


“Maaf kalau aku sempat protes.”


“Gak papa. Yuk, makan lagi!”


...🦋🦋🦋🦋...


“Dada Bunda, Ayah.” Si kembar melambaikan tangan dari dalam mobil. Mereka berangkat bersama Adit yang juga akan ke kampus menggunakan mobil Fatih.


“Da, sayang,” balas Kaina dan Fatih. Setelahnya pasutri itu masuk rumah.


“Kai, ibu jalan dulu,” pamit Dina.


“Kemana, Bu?” tanya Fatih.


“Ibu mau ke rumah saudara jauh, mereka lagi ada acara syukuran di sana. Gak enak kalau gak bantu.”


“Kenapa gak bareng Adit aja tadi?”


“Beda jalur.”


“Terus ibu berangkat sama apa?” Giliran Kaina yang bertanya.


“Pakai taxi aja. Kamu tolong pesankan, ya.”


Tak lama setelah taxi online dipesan Kaina. Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah.


“Kayaknya itu deh, Bu. Yuk, saya antar ke depan,” ajak Fatih.


Melepas mertuanya pergi, pria itu kembali masuk rumah.


“Seru nih cuma berdua di rumah.” kata Kaina


“Terus?” Fatih bertanya sambil mencari siaran di televisi.


“Enaknya ngapain, ya?”

__ADS_1


“Apa, ya, aku juga gak tau.”


“Ih, masak gak tau sih,” kesal Kaina.


“Ya, terus kamu mau apa, Kai.”


“Kamu tuh, ya, Mas, gak peka.” Ibu hamil itu cemberut. “Mesra-mesraan kek, apa kek. Ini gak santai-santai aja.”


“Hahaha,” Fatih memeluk istrinya. “Jadi istri aku ini pengen mesra-mesraan?”


Kaina mengangguk. “Kita ke kamar, yuk!”


“Ayuk.”


Tiba di kamar Fatih meletakkan sang istri di atas ranjang lalu dia ke kamar mandi dan kembali dengan bertelanjang dada. “Bantu aku cukuran.”


“Hah?” Kaina tak percaya. “Cukuran?”


“Iya, udah seminggu bulu-bulu di wajah tampan ini gak di bersihkan.”


“Haaa, Mas Fatih,” kelas Kaina. “Katanya mau mesra-mesraan, masak aku di ajak cukuran sih” rengek ibu hamil itu.


Fatih tak dapat menahan tawanya. “Ini termasuk mesra, sayang. Kapan lagi coba?! Lagian bukan aku gak mau mesra atau manja-manja sama istri. Kita tunda dulu, ya, kamu ingat kata dokter kemarin kan.”


“Tapi kan boleh, Mas, asal pelan-pelan.”


Fatih menggelang. “Aku takut nanti dia kenapa-kenapa, Kai. Please ngerti, ya.”


“Ya udah deh.”


“Ikhlas gak nih?” Dicoleknya dagu sang istri.


Kaina mengangguk. “Ternyata kamu bukan suami yang romantis, ya, Mas.”


“Bukan beda, tapi aneh,” sungut Kaina. “Dimana-mana pengantin baru itu lagi mesra-mesranya.”


“Emang kita pengantin baru? Perasaan udah lama deh.” Fatih menjawab sambil menikmati kagiatan mencukur.


Semakin kesal, Kaina memukul perut suaminya. “Tuh, kan kamu ih, Mas, benar-benar gak peka.”


“Aku cuma bercanda, sayang.” Fatih pun tertawa. “Iya, nanti kita cari waktu yang pas buat bulan madu. Anggap aja aku bayar bulan madu kita yang tertunda.”


“Benar, ya?”


“Iya. Kamu maunya kemana?”


“Ke Bali aja.”


“Bawa anak-anak?”


“Hhmmm kalau bawa mereka artinya bukan bulan madu. Aku maunya kita berdua aja.”


“Ya udah, nanti pas mereka libur sekolah biar mereka pergi jalan-jalan sama Adit dan Ibu. Kita pergi bulan madu.”


“Serius?”


Fatih mengangguk.


Kaina mendaratkan sebuah kecupan di pipi suaminya.


“Sekarang lanjut lagi cukurnya. Habis itu jangan lupa di ketiak.”


“Ih, Mas Fatih, dasar suami aneh.”

__ADS_1


Fatih cuma tertawa sesekali menggoda istrinya yang masih saja cemberut.


...🐛🐛🐛🐛...


“Ini semua berkas yang Bapak minta semalam,” jelas Zuri. “Sekalian laptopnya.” Gadis itu mampir ke rumah Kaina sebelum jam makan siang. Mengantarkan barang-barang yang diminta atasannya.


“Kamu sudah atur jadwal saya kan?” tanya Fatih.


“Sudah, Pak. Satu bulan kedepan Bapak free. Beberapa persidangan yang akan datang sudah saya limpahkan ke yang lainnya. Cuma kalau ada yang mau konsultasi masih saya tahan dulu kalau memang mereka tetap maunya sama Bapak.”


“Bagus.” Fatih mengacungkan jempolnya.


“Terus kamu gak kerja, Mas?” tanya Kaina.


“Kerja tapi agak senggang, gak sibuk banget. Kenapa emangnya?”


“Gak cuma bingung aja kalau kamu gak kerja nanti kita makan apa.”


Zuri tertawa lepas. “Bu Kaina gak usah pusing. Pak Fatih leha-leha di rumah sekalipun uangnya bakalan tetap galir.”


“Maksudnya?” Ibu si kembar tampak bingung.


“Nanti aku cerita,” jawab Fatih. “Terus apa yang saya minta kemarin udah di cari?”


“Sudah Bos. Tinggal liat aja di laptopnya, saya sudah susun beberapa pilihan sesuai dengan yang Bos minta.”


Fatih mengangguk paham. “Oke, selama saya kerja dari rumah kamu bisa datang ke kantor agak siangan.”


Zuri merasa senang


“Tapi ingat, ya, kerjaan kamu itu banyak jangan santai kalau saya gak ada saya.”


“Iya, Pak. Oh, ya, ini ponsel yang tadi bapak minta." Zuri menyerahkan paper bag pada bosnya itu.


"Keluaran terbaru kan?"


"Sesuai sama apa yang Bapak minta."


“Ya udah kamu boleh pulang sana.”


“Saya diusir gitu? Gak ditawarin apa kek,” kesal si sekretaris.


“Aduh maaf ya Zuri, saya sampai lupa bikin minum buat kamu,” kata Kaina.


“Hehehe gak papa, Bu, saya cuma bercanda.”


Dikeluarkan lima lembar uang seratus ribu lalu di taruh di atas meja. “Ganti ongkos kamu dan buat makan siang,” kata Fatih.


“Asik.” Senyum sumringah merekah di bisir Zuri. “Makasih, ya, Pak.”


“Hhmm. Dah pulang sana.”


“Oke. Bu Kaina, saya pamit, ya.”


Kaina mengangguk.


“Eh, tapi selamat dulu buat kalian berdua karena gak jadi pisah. Artinya saya menang taruhan, ya, Pak.”


“Taruhan?” Kaina tak paham.


Mata Fatih langsung melotot. Seakan mengancam anak buahnya itu untuk segera pergi.


“Hehehe, Assalamualaikum.”

__ADS_1


“Waalaikumsalam,” jawab Fatih dan Kaina.


__ADS_2