
Semakin dekat ibu si kembar terkejut. Ternyata Fadillah yang di dapati.
“Loh, kamu?” tunjuk Fadillah kaget.
“Pak,” sapa Kaina.
“Kalian saling kenal?” tanya Suci.
“Dia yang sudah menolong saya saat kecelakaan waktu itu,” terang Fadilah.
Kama yang tadi sedang asik bermain dengan kembarannya langsung menghambur memeluk ibunda.
“Jadi kamu Ibunya?”
“Iya, Pak, dan Kalila kembarannya Kama.”
“Suci sudah cerita sama saya.”
Membuat Kaina menunduk merasa malu.
“Duduk, Kai, santai aja,” ajak Suci.
Kaina ikut duduk di sofa dan mereka bertiga terlibat obrolan tentang kecelakaan waktu itu. Mengalir begitu saja dan mereka pun sama-sama merasa nyaman hingga Hugo pun tiba memecah keseruan.
“Tumben, Papa, kesini,” celetuknya langsung menghampiri Kama.
“Terserah saya, mau kesini atau gak,” ketus Fadillah.
“Ngapain?”
“Cuma mau ketemu cucu.”
“Gimana? Kama dapat bagian warisan kan?” Hugo menaik turunkan alisnya.
“Kamu pikir dengan adanya dia, kamu bisa mendapatkan warisan dari saya?! Sebelum kamu benar-benar berubah dan bertanggung jawab, jangan harap!”
“Ya sudah kalau begitu, sana pulang ke rumah, Papa. Gak perlu ketemu sama anakku. Urus saja anak Papa yang mandul itu.”
“Hugo,” bentak Fadilah.
“Maaf,” sela Kaina. “Kalau mau bertengkar sebaiknya saya bawa anak-anak dari sini. Gak baik mereka mendengarnya.”
“Sudah sama-sama dewasa tapi sikap kayak anak kecil,” tambah Suci. “Sana, Kai, bawa aja Kama sama Kalila pulang.”
“Gak bisa!” larang Hugo.
“Kenapa?”
“Aku gak kasih izin Kama ikut dia.”
“Biarlah sekali-kali Kama tidur dengan ibunya. Kamu jangan egois dong, Go. Lagian kamu di rumah juga gak ngurus anak, apa-apa Mama, capek tau,” keluh Suci.
__ADS_1
“Biar dia bawa anaknya. Urusan kita belum selesai,” seru Fadilah dengan tegas.
Hugo tak dapat membantah jika sang Papa sudah menunjukkan taringnya. Kali ini dia membiarkan Kaina menang dan setelahnya jangan harap wanita itu bisa bertemu dengan anaknya. Ternyata dia tahu kalau selama ini Suci berpihak pada ibu yang sudah melahirkan benihnya. Pantang sekali kalau dia di kecoh begitu.
Dia akan memperlihatkan siapa Hugo sebenarnya karena sudah berani main-main di belakang. Mau sampai nangis darah jangan harap hatinya akan goyah sedikitpun nanti. Tak peduli mau dibilang laki-laki egois dan tak berperasaan.
...🌶🌶🌶🌶...
Kain membawa kedua anaknya mengendarai sepeda motor menuju rumah. Seharian ini mereka akan menghabiskan waktu bersama sebelum ibu tunggal itu kembali ke Rumah Sakit untuk menemani ibunda tercinta.
“Bun, kapan Abang bisa kembali tinggal sama Bunda dan adik,” tanya Kama. Mereka baru saja tiba di rumah yang sangat nyaman.
Di elus kepala sang putra sambil berkata, “ Sabara, ya, Nak. Sekarang Bunda lagi jagain ibu dulu, nanti kalau Ibu sudah sembuh Bunda akan usaha biar kita bisa kumpul lagi”
“Memang kenapa, Bang? Gak enak, ya, tinggal sama Papa?” Kalila menatap wajah sendu saudaranya.
“Abang nyesel pernah nanyain soal ayah kita. Ternyata punya ayah itu gak enak, kita jadi pisah gini.”
“Iya, aku juga merasa gitu. Tinggal sama ayah dan Tante Bri gak seenak kita tinggal di sini sama Bunda, Ibu, dan Omdit,” tambah Kalila.
Kaina membawa anak-anaknya ke dalam pelukan. “Sayang, kalian gak boleh ngomong begitu. Berkat ayah dan papa kalian sekarang bisa sembuh dan gak sakit lagi.”
“Tapikan sekarang kita jadi pisah-pisah gini, Bunda,” sela Kama. “Abang jadi gak ada teman mainnya.”
“Iya, aku juga.”
“Tapikan ayah atau papa baik dan sayang sama kalian.” Kaina menatap wajah anak-anaknya.
Kalila juga berkata, “Ayah juga gitu. Aku di tinggal sama Tante Bri. Ya, walau dia baik, tapi aku lebih suka sama Bunda.”
Kaina hanya bisa menghela nafas panjang. “Yaudah, sekarang kita semua doain ibu biar cepat sembuh agar Bunda bisa berjuang bawa Kama kembali ke rumah ini.”
Si kembar mengangguk setuju. “Omdit kemana sih, Bun?” tanya Kama.
Bibir Kaina mengukir senyum palsu. “Omdit gak bisa pulang, sayang. Dia harus kerja lembur biar bisa dapat uang banyak untuk pengobatan Ibu.”
“Aku kangen Omdit.”
“Nanti kalau ada waktu kita ketemu.” Dikecupnya kening Kama dan Kalila. “Dah sana main, Bunda mau masak dulu.”
Si kembar segera turun dari sofa menuju kamar, mencari mainan dan membawanya ke ruang tengah tempat biasa mereka menghabiskan waktu.
...🍆🍆🍆🍆...
Sore harinya, Kaina mendapatkan kabar dari Rumah Sakit karena keadaan sang ibu tak stabil. Dia pusing sendiri harus mengantarkan anak-anaknya dulu atau langsung ke sana. Akhirnya, dia putuskan membawa si kembar. Sebelum berangkat dia sudah mengirim pesan pada Brigita dan Hugo untuk menjemput Kama dan Kalila ke sana.
Tiga puluh menit perjalanan, motor yang dikendarai sampai di parkiran. Dibimbing kedua anaknya, Kaina berjalan dengan gegas menuju ruang dokter yang menangani Dina.
“Kenapa ibu saya, Dok?” bertanya dengan wajah cemas.
“Secepatnya Bu Dina harus segera dipindahkan ke Rumah Sakit yang memadai agar di sana beliau bisa mendapatkan penanganan yang bagus. Saya sudah buatkan surat rujukan, kamu tinggal berangkat saja.”
__ADS_1
“Sekarang?” Kaina bingung karena dia tak memegang uang sedikitpun jika ibunya harus pindah saat ini juga.
“Iya, dokter kenalan saya sudah menyiapkan segala hal yang dibutuhkan Bu Dina.”
“Kalau memang itu yang terbaik untuk ibu saya, saya setuju.”
Dokter spesialis jantung itu tersenyum lebar lalu menghubungi bagian yang akan mengurus kepindahan Bu Dina.
Keluar dari sana, Kaina langsung menelpon Brigita.
(Bri, bisa kamu bawakan uang yang aku pinjam? Karena Ibu harus dirujuk sekarang juga)
( … )
(Oke, kita ketemu di RS X)
Panggilan di putus, ia membawa kedua anaknya menuju bagian administrasi untuk menyelesaikan beberapa urusan. Setelah semuanya beres, mereka menunggu di kursi tunggu selagi Dina dibawa perawat menuju mobil ambulan. Ketika hendak berangkat, Hugo tiba di sana menjemput putranya.
“Maaf, aku gak bisa antar tadi karena kondisi ibu sedang kritis,” jelas Kaina.
“Hhmm,” jawab Hugo cuek. Langsung meraih tangan kecil Kama.
“Bunda,” rengek Kama.
“Maaf, sayang, Bunda harap Abang mengerti keadaan kita, ya. Abang baik-baik sama papa nanti Bunda akan susul ke sana.”
Kama mengangguk sedih, dengan terpaksa dia mengikuti langkah Hugo. Sedangkan Kalila menatap punggung saudaranya dengan lelehan air mata.
Bersama mobil ambulan, Kaina dan putrinya menemani sang ibu menuju RS rujukan. Selama dalam perjalanan pikiran wanita itu melanglang buana kesana-kemari. Semua masalah yang datang menjadi benang kusut yang harus ia urai satu persatu. Membuatnya bingung harus mulai dari mana karena tak bisa menemukan ujungnya.
“Bunda,” panggil Kalila.
“Apa, sayang?”
“Ibu mau dibawa kemana?”
“Ibu cuma pindah Rumah Sakit, biar ibu bisa cepat sembuh ditangani dokter yang bagus.”
“Kayak Dokter Tina, ya, Bun.”
“Iya, anak Bunda pintar. Jangan sedih, ya, ibu baik-baik saja.”
Kalila tersenyum simpul dan melingkarkan tangannya ke pinggang sang Bunda.
Akhirnya mobil ambulan yang membawa mereka pun sampai di tempat tujuan. Kaina turun terlebih dahulu bersama putrinya. Langsung menuju bagian administrasi membawa surat rujukan. Ternyata disana Brigita sudah menunggu membuat ia merasa lega.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author bawa rekomendasi lagi nih. Jangan lupa mampir dan tinggalkan dukungannya di sana 😊
__ADS_1